Frames, Green, Rustle and Sweet Tea

Photography

TLPC : Pameran Foto Perdana

Ini tulisan dadakan!

Hi pembaca setia blog ini, hahaha… maaf ya sudah lama tidak menulis, alasannya akan saya ceritakan nanti di postingan selanjutnya, yang pasti saya menulis kali ini sifatnya dadakan tapi harus, karena ini bentuk apresiasi saya terhadap keberhasilan sesuatu, bentuk rasa bahagia dan juga rasa haru…

Hari ini TLPC (Tanah Laut Photo Club), komunitas fotografi di kabupaten tempat saya tinggal yang sempat saya ceritakan disini dan disini melaksanakan pameran foto perdananya! Bertajuk “Wajah Tanah Laut” mengangkat hal tentang sumber daya alam, wisata dan sosial budaya di kabupaten tersebut. Pameran foto ini tentu tidak hanya menguras tenaga dan pikiran, tetapi cukup menguras biaya dan juga perasaan tentunya. Ada sebuah perjuangan yang tidak mudah di balik kesuksesan acara ini, ada sebuah cerita dan ada sebuah lika-liku panjang sebuah organisasi baru yang mengawali langkahnya dengan bermodal sebuah tekad… “Kita harus tunjukkan bahwa ada TLPC di kabupaten Tanah Laut”

“Langkah pertama ini pasti akan sangat sulit, tetapi setelah ini langkah-langkah selanjutnya pasti akan lebih mudah” begitu saya pernah bilang ke teman-teman, dan untuk itu, kita butuh tangan dan kaki yang 100 kali lebih kuat untuk menjadikan acara ini terwujud. Dalam keterbatasan kekompakan, keterbatasan dana, dan keterbatasan waktu kami seperti para pemimpi kecil sederhana yang tak putus asa. Jatuh bangun dalam kegiatan ini dan masalah-masalah datang silih berganti memecut kami untuk berjuang lebih keras.

Kini semua berbuah manis, kegiatan pameran foto tersebut terbilang sukses.

Sebuah sms meluncur ke HP saya:

“Acara dibuka oleh Bupati dan unsur muspida, Kapolres mau ikut bergabung sebagai Pembina/ Penasihat, Ketua DPRD Tanah Laut akan jadi ketua kita, Bupati dan Wakil Bupati interest sekali sama hasil karya kita dan membeli salah satunya dengan harga fantastis, dan banyak orang yang datang untuk melihat..”

Bergetar hati saya membacanya, mengetahui perjuangan selama ini tidak sia-sia, ada genangan tipis di mata saya, “Selamat teman-teman atas kesuksesan kita”  dalam hati saya.

Hari ini saya hanya diam di kamar saya di Bogor, ribuan kilo dari tempat acara berlangsung. Hari ini saya menuliskan status di FB tentang suasana Bogor hari ini yang panas, kering dan barangin, mengingatkan saya tentang Pelaihari, tempat acara tersebut berlangsung, dan saya benar-benar ingin berada di sana hari ini.

Berbagai ucapan terimakasih, ungkapan syukur dan kebahagiaan datang silih berganti malam ini, seolah sudah cukup membuktikan kepada saya bahwa acara tersebut berjalan sukses meskipun saya tidak melihatnya dengan mata dan kepala sendiri. Hari pertama puasa ini seperti penuh dengan rahmat dan rasa syukur yang teramat, khususnya saya yang sedang jauh dari teman-teman seperjuangan. Hari ini hari pertama puasa ramadhan, hari ini hari ulang tahun anggota kami, Bagus, dan hari ini pula hari pameran perdana kami yang sukses. Tuhan sungguh perencana yang ulung. Alhamdulillah.

Sedikit flashback tentang saya dan TLPC…

Saya adalah “anak baru” di lingkungan Pelaihari, Kab. Tanah Laut, saya dipertemukan oleh anak-anak TLPC melalui sebuah grup di FB sekitar Januari 2011. TLPC berkembang pesat sampai akhirnya terbentuk organisasi dan rencana kegiatan, yaitu pameran pertama ini.

Saya yang seorang pengangguran tentu saja seperti menemukan tempat pelarian untuk mengamalkan kapasitas saya, semampu yang saya bisa. Berbekal sedikit ilmu dari bangku perkuliahan saya ikut aktif dalam persiapan kegiatan, mulai dari nol sampai sekarang, itulah mengapa saya tau persis betapa beratnya perjuangan kami.

Saya tahu bahwa saya tidak akan lama berdiam di tempat ini, maka saya pernah menolak saat ditunjuk untuk menjadi pengurus, saya tidak bisa menjamin sampai kapan saya masih ada di Pelaihari, sedangkan cepat atau lambat waktu perpisahan itu akan tiba, dan saya sadar akan itu.

Teman-teman di TLPC adalah orang-orang yang optimis dan penuh semangat, dan saya percaya itu, saya bisa merasakannya, dan saya memutuskan untuk “bergembira” bersama mereka, karena saya tau, ada potensi di dalamnya, ada cahaya kesuksesan yang belum tampak, maka dari itu saya tidak main-main di dalamnya. Saya bergembira, tetapi tidak main-main dalam bergembira 🙂

Persiapan pameran seperti  menuntut kami untuk lebih kreatif dan kritis mencari objek foto. Kegiatan hunting bersama seperti tidak ada habis-habisnya menghiasi hari-hari saya dua bulan terakhir, belum lagi kegiatan menyebarkan proposal yang kejar-kejaran dengan ketatnya waktu yang tersisa. Awalnya acara ini akan dilaksanakan sebelum bulan puasa, tapi sempat tertunda sampai akhirnya terlaksana hari ini (1 Agustus 2011). Kami melakukan yang terbaik yang kami bisa, sampai di hari-hari terakhir saya di sana…

Akhirnya kurang lebih satu minggu sebelum tanggal pelaksanaan acara pameran, saya harus meninggalkan Pelaihari, untuk kembali meniti karir saya kembali. Sebuah moment yang saya tunggu tetapi tidak saya inginkan.  Berat, tetapi harus. Ada rasa sedih dan “tanggung” karena harus meninggalkan acara yang hampir selesai ini. Saya terbang ke Jakarta dan stay di Bogor untuk sementara waktu. Maaf teman-teman, saya tidak bisa berpamitan ke setiap orang saat itu.

Sekarang,

Saya tahu ada senyum di setiap wajah teman-teman TLPC, hari ini, sebuah langkah pertama, sebuah langkah besar untuk keberlangsungan organisasi kita telah terlaksana. Doa dan air mata itu terjawab sudah. Harapan dan cita-cita semakin jelas terlihat.

Saya bangga pernah menjadi bagian dari kalian, dan saya jujur berat sekali harus meninggalkan TLPC, karena saya sudah merasa memiliki dan menemukan wadah yang membuat saya “berarti”. Kenangan dan persahabatan yang kita jalin selama ini tentu saja sangat terukir di ingatan saya, saya menghargainya dan tidak menyangkal bahwa semua sangat berarti bagi saya.

Sahabat dan rekan-rekan TLPC,

Saya mungkin akan berada jauh dan sangat jauh dari Pelaihari, tetapi saya tentu akan terus mendukung TLPC. Hehehhe, kan masih ada internet. Mohon jaga dan terus kembangkan komunitas ini menjadi komunitas yang baik, produktif dan berkualitas. Kekompakan, kerja keras, dan rasa memiliki adalah kunci keberhasilan langkah-langkah kita ke depan. Saya turut mendoakan dari sini.

Ah, sudah cukup menjadi sentimental! Mari bergembira atas kesuksesan ini! Saya terharu bahagia malam ini, karena kita berhasil! Well done! Terus semangat!

This slideshow requires JavaScript.

“Saya datang ke TLPC tanpa membawa apa-apa, tetapi saya pergi membawa ribuan kisah dan kenangan, terima kasih TLPC”

Salam Jepret!


Weekly Photo Challenge: Refreshing

Refreshing?

This…

or this…

or this one?

😀

Salam Jepret!


Weekly Photo Challenge: Worn

I found the wooden bench under a big tree on my way to a remote village nearby, no one sit on it anymore, since it’s worn and decayed…

A worn helm with my reflection on it. It’s fun! coz the reflection such a fish eye lens result! 😀


Jump!

😀

Let’s have fun in photography!

*

#hasil iseng rotate badan lanjut rotate gambar…


Next time

 

I’ll catch you next time…

 


Fotografer atau Photoshoper?

Sudah lama rasanya saya tidak menulis, dan minggu ini saya sedikit ingin menulis tentang ganjalan yang ada di hati… *halah lebay 😀

Langsung saja, di sebuah forum fotografi saya terperanjat pada sebuah topik atau thread yang bertajuk “Sejauh mana olah digital diterima?” dengan pertanyaan awal sebagai berikut:

“Hampir semua foto yang dipublikasikan di sini hasil olahan, bahkan sedemikian rupa sehingga kekuatan alami gambar tersamarkan oleh keindahan artistik bikinan photoshop. Apa iya, harus diolah sampai sejauh itu? Saya sendiri berdisiplin hanya sebatas cropping, dan penajaman warna (optimized color). Bagaimana menurut Anda? Pilih alami atau olah digital yang all out?” (A. Sofyan)

Kemudian saya teringat dulu sekali, ada sebuah komentar seorang blogger di blog saya, saya lupa persisnya, kira-kira begini:

“Saya suka fotografi, tapi saya ingin jadi fotografer handal, dan bukan seorang photoshoper yang handal mengedit foto”

Ya dengan kata lain, bisa dibilang saya bukan fotografer, tapi hanya seorang ahli photoshop atau software edit gambar yang selama ini memanipulasi gambar menjadi bagus. Kemudian saya berpikir, apa yang salah? bagaimana sebenarnya?

Berbicara tentang foto yang tampil di blog ini selama ini. Ya, saya mengakui, sebagian besar telah melaui proses editing, ntah itu warna, brightness, kontras, dan kawan-kawan. Lalu apakah saya bisa disebut Photoshoper (pengguna Photoshop) atau Lightroomer (pengguna lightroom)? Ya itu benar. Lalu apakah saya bukan fotografer?

Saya tidak bisa menjawab ini. “Fotografer”, kata itu terdengar terlalu berat. Saya cuma tahu saya suka memotret dan kebetulan saya punya kamera DSLR (yang hanya) entry level. Jika saya disebut fotografer, rasanya saya bukan ahli, dan saya sendiri tidak menghasilkan uang dengan fotografi atau hasil karya saya bukan maha karya yang dikenal oleh para pakar fotografi di negeri ini. Intinya sejauh ini saya cuma seorang hobiis. It saja mungkin.

Jadi bisa dikatakan saya seorang picture editor yang suka memotret, atau photoshoper yang suka fotografi *bingung kan?

Pertanyaan selanjutnya: Apa menjadi photoshoper itu “hina” dalam dunia fotografi? Pertanyaan ini hakikatnya hampir sama dengan pertanyaan di forum yang saya kutip di atas. berikut beberapa jawaban-jawaban dari anggota forum.

“Memang oldig dan photography tidak bisa dipisahkan dan sudah menjadi satu kesatuan. Tapi saya masih percaya bahwa oldig adalah nomer urut kesekian. No 1 adalah belajar membuat foto sebaik mungkin, dengan minimal Oldig (olah digital). Toh kita kan fotografer, buka photoshoper.” (Widjaja)

“Jauh sebelum ada photoshop, banyak pencetak yang menerima jasa mengolah foto di kamar gelap dengan hasil yang tidak kalah ekstrim dibanding sekarang. Toh hasilnya diakui sebagai karya sang fotografer, lalu di era digital, dengan sedikit belajar, kita semua menjadi bisa karena dimudahkan oleh teknologi, bukankah seharusnya lebih diterima” (Johntefon)

“Buat saya tidak penting apakah foto itu diolah atau tidak,
tetapi lebih kepada apakah foto itu indah dan bisa dinikmati atau tidak..
karena pada akhirnya orang lain menilai hasil akhir sebuah foto, bukan prosesnya…ya ngga?” (Iskandar)

 

“Batasan oldig susah dijelaskan ya .. tapi OLDIG kalo dari persepsi saya, adalah suatu pengolahan pada foto yang tidak mempengaruhi mata .. artinya …. dalam arti orang tidak tahu kalau foto ini telah melewati proses olah digital .. itu batasannya menurut saya ^^”(agoes)”

Nah ternyata banyak pro kontra juga ya.

Istilah “fotografer” cenderung menyangkut hal yang berkenaan dengan teknis memotret dan seni dalam menciptakan foto. Lalu bagaimana dengan photoshoper dan kawan-kawan? Kalo menurut saya, seorang photoshoper, atau lightroomer, atau Olah digitaler, dan kawan-kawannya itu tidak hina. Siapa bilang mereka unskill? gak pake teknis, atau gak pake seni?

Seperti tulisan saya di “Cuma Masalah Selera“, ternyata gak cuma fotografer yang punya selera, tapi photoshoper juga butuh selera dan seni tentunya. Katakanlah dua orang photoshoper diberikan foto yang sama dan software yang sama, apakaha hasilnya sama? tentu tidak kan? apakah dua supir angkot menyetir angkot yang sama akan sama enaknya? tentu tidak.

Photoshoper yang baik mengetahui elemen-elemen seni dalam grafis. Mengetahui warna dan perpaduannya, mengetahui cahaya dan pengaturannya, mengetahui apa yang salah dari suatu foto dan bagaamana memperbaikinya, dan pastinya mengetahui apakah foto mentahan yang dia akan edit itu bagus atau tidak untuk diedit. Nah lho! 🙄

Software hanya sebuah alat, saya pernah membaca tulisan: Jangan pernah berpikir photoshop bisa “menyelamatkan” foto kita, photoshop hanya “memperbaiki” atau “menyempurnakan”. Jujur saya juga merasa, selalu liat-liat dulu apakah foto saya ini “layak” edit atau tidak. Saya tidak pernah berpikir untuk mengubah foto blur menjadi super tajam, atau foto jelek menjadi foto yang luar biasa. Intinya apa? Hasil edit photoshop sangat tergantung kualitas foto mentahnya, jika foto mentahnya sudah tidak menjanjikan, contoh: tidak focus, atau blur, maka tidak akan menghasilkan hasil edit yang bagus. Saya jamin! Saya sendiri sering mengalami situasi dimana saya menyerah untuk mengedit foto hasil jepretan sendiri. Awalnya saya pikir saya bisa melakukan ini-itu terhadap foto tersebut, ternyata tidak. Saya akhirnya lebih baik tidak menampilkannya daripada menampilkan hasil foto yang “cacat” (at least di mata saya).

Ternyata menjadi seorang photoshoper juga tidak sembarangan kan? Di luar kekuatan teknis digital, mereka juga harus dibekali ilmu-ilmu fotografi yang memadai, foto-foto yang memang baik (mentahnya), dan tentunya kelihaian dalam melihat kelebihan dan kekurangan suatu foto.

Lalu sampai mana batas olah digital atau editing foto itu?

Tidak ada yang membatasi. Ada yang typical hanya mengedit “apa yang ada”, tetapi ada juga yang typical  “membuat ada”, atau mereka menyebutnya digital imaging. Itu lho, yang suka mengabungkan beberapa image/gambar jadi kesatuan foto yang terlihat alami, tetapi umumnya kita bisa masih bisa melihat kalau foto itu adalah manipulasi, dari yang “luwes” nan alami sampai yang “extreme” nan ajaib seperti kuda bersayap, gadis bersayap malaikat, pelangi dan peri-peri yang muncul di kebun bunga, atau tiba-tiba ada sepasang kekasih berbaju pengantin jawa dengan background menara eiffel, hahahahah… semua lumrah. Boleh-boleh saja. Tapi saya adalah typical “apa yang ada”, apa yang saya tampilkan di blog ini semua adalah asli / apa adanya. Tidak ada penambahan atau penggabungan dengan foto lain.

Seperti foto di atas. Meskipun hal itu bisa terjadi, jangan pernah berpikir saya menggabungkan foto sampah dan foto ayam, kemudian menghasilkan gambar seperti ini. Hehehhe… Jika pun saya nanti melakukannya, saya pasti bilang. 😀

Saya sendiri menyukai foto editan yang sedemikan rupa sealami mungkin. Meskipun memang terkadang ada editan yang tidak sempurna alami, tetapi saya ingin foto editan saya tidak “menganggu” mata yang melihat atau dengan kata lain mereka yang melihat merasa foto saya wajar dan bisa diterima oleh akal. Tidak ada celetukan “kok aneh ya?” atau “kok lebay sih”? Saya sendiri masih belajar untuk itu dan akan terus belajar.

Jadi intinya apaan?

Ya, apapun cara mengolah foto kita, mau tanpa editing atau dengan editing, yang terpenting adalah hasil akhir dan bagaimana orang lain bisa menikmatinya. Karena tujuan kita memotret pasti ingin berbagi dengan orang lain, ingin orang lain melihat sisi indah suatu objek yang kita lihat. Syukur-syukur hasil akhir itu disukai oleh orang lain.

Sekali lagi ini hanya pendapat saya, tidak ada tujuan mengajari atau mencari pembenaran. Saya hanya mengungkapkan apa yang saya pikir. Maklum aja kalo ada salah, namanya juga pemula, hihiihih.. Semoga bisa memberikan pencerahan dan bermanfaat buat pembaca.

Hihiihih… masih alami kan? 😀 😀 😀

Salam Jepret!


Weekly Photo Challenge: Morning

Yiiaaayyy! Morning is easy theme of weekly photo challenge this week! Let’s see morning view in the places I had ever been…

 Morning in Bogor, West Java (Salak Mountain as background)

*

Morning in Bondowoso, East Java

*

Morning in Pelaihari, South Kalimantan

*

Morning in Tabanio/Takisung, South Kalimantan

*

Morning in Kepulauan Seribu, Jakarta

*

Morning in Bandar, Brunei

*

Morning in Apopka, Florida

*

Morning in Huntersville, North Carolina

*

Morning in New York City, NY

*

*

*

😀

That’s all!

This slideshow requires JavaScript.

PS: Ternyata sebelum kenal Om NH, aku juga bisa gaya sedakep! *ngeles padahal aslinya kedinginan 😛