Frames, Green, Rustle and Sweet Tea

Dialog dengan Atheist

Terinspirasi oleh cerita tentang atheist di postingan Mbak Inda/Bunda Farrel, saya jadi teringat tentang dialog saya dengan seorang teman yang seorang atheist saat dulu saya di US.

Sebut saja Arthur, student kulit putih berasal dari salah satu negara Eropa Timur, berperawakan tinggi besar dan athletis, pandai ngedance, tetapi kemampuan Englishnya di bawah rata-rata, aksennya terdengar sedikit aneh. Tentu saja dia menyukai musik house (musik ajeb2 di night club), karena memang dia suka sekali ke night-club, untuk dance dan minum, whatever lha pastinya kesenangan duniawi.

Suatu sore saat itu saya lagi masak di dapur, Arthur lagi makan es krim dan ayam fillet di meja makan, seorang teman dari Brazil baru pulang dari tempat kerja memberikan paket berisi buku ke saya, hmmm, itu pasti buku tentang tanaman yang saya beli online. Yes, I am waiting for it! Arthur melihat saya begitu bahagia saat membuka paket berisi buku itu di meja makan, dan dia seperti “gubrak” saat melihat isi paket itu adalah buku!

*anggap saja dia dan saya berbicara dalam English*

“Buku lagi?”

Saya cuma tersenyum.

“Apa kamu bahagia dengan buku? apa umur kamu mau kamu habiskan dengan baca buku?”

“Of course!” jawab saya.

“Kalau kamu mau bahagia, pergi ke night-club, minum, dance, f*ck a girl, itulah kebahagiaan”

Saya cuma tersenyum dan melanjutkan masak saya.

“Prima! Kamu dengar saya tidak??”

“Apa??”

“Kamu jarang sekali ke night-club, alasan capek lha, baca buku lha, gak mood lha… “

Lagi-lagi saya cuma nyengir kuda, memang saya sering menolak daripada ikut hang-out di night-club bareng anak-anak tiap jumat dan sabtu.

“Lihat, kamu tersenyum lagi! Kamu sangat pendeta!”

“Apa maksudmu?”

“Cuma pendeta yang melakukan itu, kamu itu terlalu ramah, tersenyum setiap saat, terlalu baik, terlalu banyak baca buku, jarang bersenang-senang, come on!

“Tidak Arthur, aku sudah cukup senang kok…” Dalam hati saya, kayanya saya di Indo biasa aja deh, ustad gak, preman juga gak, wkakakkkaa…

“Apa yang kamu lakukan di negaramu untuk bersenang-senang?”

“Hmm… makan di resto atau cafe, jalan-jalan di mall, nonton, yah, semacam itu lha..”

“What??? Hahahhahaha… dan pergi ke perpustakaan kan?”

“Jadi apa masalahmu?”

“Prima, banyak kesenangan di luar sana, kamu harus coba… stop being priest!”

“Aku bukan pendeta dan aku tidak biasa melakukannya…”

“Kenapa? Agama? Tuhan?”

Saya selesai masak, dan sekarang duduk di hadapannya, membawa piring makan saya.

“Kamu percaya Tuhan?”

“Tentu saja”

“Dengar, Tuhan itu gak ada Prima, itu cuma doktrin agama yang masuk ke kepala kita semenjak dari kecil. Agama dibuat oleh manusia, manusia mengendalikan manusia lain atas dalih agama dan cerita-cerita tentang nabi, mereka menjadi Tuhan bagi orang lain, dan maaf, aku bukan orang bodoh…”

“Aku tidak butuh agama untuk percaya Tuhan, ini masalah percaya atau tidak…”

“Kamu tahu dulu aku siapa? Aku bermain piano di gereja! Aku membaca kitab setiap hari… tapi semua gak berpengaruh apa-apa, sudah cukup… mereka mempermainkan aku, menipu aku! Mereka, gereja, peace of sh*t! “

“Tuhan meminta kita mengerjakan hal baik, itu saja, tidak banyak, semua berakhir untuk kebaikan”

“Agama sudah ada dari jaman dulu, kemana Tuhan saat orang-orang berperang, anak-anak kelaparan dan mati di jalanan? Apa dunia ini menjadi lebih baik??? kebaikan yang mana? eh?”

“Tapi Tuhan melindungi orang-orang yang percaya, karena percaya itu lha kita merasa damai dan percaya akan masa depan yang lebih baik!” Saya sedikit mengeras.

“Orang-orang yang percaya Tuhan itu yang biasanya mati duluan, mereka lemah” Arthur tersenyum.

Saya diam, saya kehabisan kata.

“Kamu percaya akan roh?”

“Iya”

“Itu tidak ada, hidup cuma sekali, setelah mati, itulah akhir, habis!”

“Roh akan kembali ke Tuhan, ada janji, surga dan neraka.”

“Hahahah… aku tau jawabanmu, sudahlah roh itu tidak ada, janji-janji itu tidak ada, nikmati saja yang ada di depan mata”

Dahi saya makin berkerut.

“Prima, silahkan kamu percaya Tuhan, berdoa setiap hari, kelak kamu menikah, dan saat kamu asyik berdoa, istrimu akan sedang tidur dengan laki-laki lain, karena kamu terlalu sibuk berdoa dan baca buku!”

“F*ck NO!” Saya teriak.

“Itu lah yang terjadi!”

Arthur berdiri, dengan piring makannya.

“Lihat, God is chicken, I eat the chicken! Hhahahhahaha…” Potongan ayam itu masuk ke mulutnya.

“Arthur, kamu…!”

Arhtur meninggalkan saya di meja makan, percakapan di atas harusnya lebih panjang dan lebih mengenaskan, tapi hanya itulah poin yang saya ingat. Saya tertegun beberapa menit, entah bagaimana, ada sedikit air mata menggantung di mata saya. Saya menghela nafas, ada rasa sesak di dada, ada kekesalan, ada hati yang terluka, hati yang berusaha membela apa yang diyakininya. Tuhan sayaΒ  harus bagaimana?

Senja itu, di meja makan itu, ada setitik rasa syukur yang teramat sangat yang menyelimuti hati saya.

Terimakasih Tuhan sudah memilih saya, untuk menjadi mereka selalu percaya kepadaMu, dan selamatkanlah Athur…

Sahabat,

Di Indonesia, kita sibuk beradu opini, debat dan isu-isu antar agama yang tidak ada habisnya, tetapi di luar sana, saya dihadapkan pada debat yang lebih tragis, debat antara yang percaya dan tidak percaya, dan bagi saya itu jauh lebih berat. Jujur saya tidak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan Arthur dengan sebuah kemenangan, saya merasa terpojok dan lemah, saya tidak sanggup membela Tuhan di hadapan seorang atheist. Saya malu.

Sahabat, saya yakin sahabat siap membela agama, tapi sudah siapkah sahabat membela Tuhan?

*sebuah renungan untuk diri sendiri…

Happy Monday!

54 responses

  1. hm….makasih sharingnya ya pim….

    Setuju sekali denganmu….

    25 April 2011 at 8:25 AM

  2. In Hong Kong, a common question is “Are you Christian or Catholic?” I find that funny because (1)Catholics are Christian too, and (2) My answer would have to be the unexpected “No.”

    In mainland China, I became a teacher. I taught in its universities for nine semesters. In every one of those semesters, I would meet at least one new student who wanted me to be a Christian like him or her. I call that irony.

    25 April 2011 at 8:29 AM

    • Interesting story…πŸ™‚

      26 April 2011 at 1:42 PM

  3. perjuangan yg sangat berat ya, mas Prim.
    memang, kalo di Indonesia, puasa & sholat hal wajar, tp di negara lain, berat banget mempertahankannya.πŸ™‚

    25 April 2011 at 8:36 AM

    • πŸ˜€ cobain deh puasa disana… alamak!

      26 April 2011 at 1:41 PM

  4. Tapi pertanyaan saya, apakah Tuhan butuh dibela, Prim?πŸ™‚

    25 April 2011 at 8:56 AM

    • entah kenapa, mau ngomen apa bingung, tapi begitu baca komen mbak Niq, aku tergelitik [saaahhh…]
      tapi, yang aku baca dari postingannya mas prim, sebenarnya bukan Tuhan yang kita bela dalam debat. karena memang tanpa kita bela Dia akan tetap ada. namun yang kita bela adalah keyakinan kita akan hal tersebut.

      25 April 2011 at 8:39 PM

      • klo saya, akan saya biarkan dia dengan apa yang dia yakini, jika memang itu membuat dia nyaman, atheis atau tidak, toh kita harus melalui jalan setapak kita masing2, dan dalam perjalanan itu, masing2 yang akan menanggung segala konsekuensinya.πŸ™‚

        25 April 2011 at 9:13 PM

      • iya mbak…πŸ™‚

        26 April 2011 at 1:21 PM

      • Hehhehe… iya itu maksudnya… aku cuma mau bedakan membela agama dengan membela iman kepada Tuhan secara general…

        26 April 2011 at 1:22 PM

    • hihiihih… iya maksudnya membela iman, bukan tuhan…πŸ™‚

      26 April 2011 at 1:41 PM

  5. Allhamdulillah masih banyak orang yang percaya dengan Tuhannya ya.

    25 April 2011 at 9:02 AM

    • hmm…πŸ™‚

      26 April 2011 at 1:34 PM

  6. Mama seris

    Justru kita hrs kasihan kpdanya, dgn tatapan kasih sayang… Kita tahu sbenarnya dia haus dlm pencarian penciptaNya… Kosong jiwanya… Kenapa? Krn dlm rutinitas ibadah nashara …dlm perjuangannya mencari TuhanNya di agamanya yg terdahulu tidak ia temukan. Akalnya sbenarnya bekerja dgn baik krn menolak eksistensi TuhanNya dahulu yg batil… Ia akan dibuat bingung akan tritinitas..itu yg sy tahu dr para muallaf yg kritis akan agamanya shg mereka yakin bhw Islam adl Haq. Mengenai ketidakpercayaannya thd Tuhan… Coba saja ajak ia merenung… Jauh dr hiruk pikuk manusia…melihat akan kebesaranNya..Gunung yg menjulang kokoh dijadikanNya sbg pasak bumi, samudera lautan yg tersimpan kekayaan, siang malam, matahari, bulan… Semua berjalan teratur,sempurna,menakjubkan..orang yg brakal akan menyadari itu bukanlah sebuah kebetulan! Apakah km akan percaya sebuah kapal akan berjalan teratur menuju tujuan yg kita inginkan tanpa nahkoda?apakah bahan2 masakan akan seketika sekejap menjadi makanan yg siap disantap tanpa ada yg memasaknya? Mustahil! Hny org bodoh yg berfikir semua adl kebetulan.Bagaimana dgn segala yg ada dilangit dan dibumi berjalan dgn sgt teratur tanpa ada yg menciptakannya?semuanya adl hal-perkara yg lebih besar dr masakan tadi. Jika ia kebetulan,maka akan tdk teratur,antar planet bertabrakan, atau atau tanaman padi suatu saat berbuah mangga?Lihatlah bagaimana proses janin bs mejadi manusia… Dr sebuah mani ia menjadi segumpal darah-segumpal daging-dan akhirnya erlahir manusia…. Sungguh merugi org yg tersesat tdk menggunakan akalnya untuk bersyukur kpdNya…

    25 April 2011 at 9:04 AM

    • trimakasih mbak atas opininya…πŸ™‚

      26 April 2011 at 1:33 PM

  7. renungan di pagi hari ini sangat mengena…
    saya juga waktu SMA pernah diajak debat sama temen yg lain agama… tpi malah ga jadi…

    25 April 2011 at 9:06 AM

    • iya mendingan gak usah, malah makan ati ntar…

      26 April 2011 at 1:33 PM

  8. Wah…jadi teringat seorang teman yang memilih untuk menjadi seorang atheist Prim.. Nice shareπŸ˜‰

    25 April 2011 at 9:42 AM

    • waduh, bisa diceritain tuh mbak…

      26 April 2011 at 1:33 PM

  9. Wow, makasih atas posting-an ini, Mas Prim.πŸ™‚

    Para atheis selalu punya bantahan untuk dogma-dogma agama. Kita gak boleh kalah.😑 Simpel aja sebenarnya, tidak mungkin alam semesta seisinya ini terjadi begitu saja tanpa ada yang menciptakannya. Manusia, sel-sel tubuh hingga yang terkecil, beragam tanaman, jenis hewan, partikel2 makro, partikel2 nano, semua itu nggak bisa diciptakan manusia.

    25 April 2011 at 9:49 AM

    • Hhahahaha… gak bakal beres deh mas kalo diturutin, emang mendingan kabur aja!

      26 April 2011 at 1:32 PM

  10. setiap orang punya kepercayaannya sendiri2. mau percaya atau tidak kepada Tuhan itu urusan mereka sendiri, tapi nyebelin banget kalo sampe ngejelek2in kepercayaan orang lain ya.

    25 April 2011 at 10:28 AM

    • iya… kata2nya itu lho… bikin panas!

      26 April 2011 at 1:32 PM

  11. berat juga ya mas… huhuhu..
    aku juga mungkin bisa mati kutu, huhuhu

    25 April 2011 at 10:30 AM

    • hehehehe… apalagi aku… (- -‘)

      26 April 2011 at 1:31 PM

  12. Percakapan yang sangat menarik..
    Memang susah kalau sudah bicara mengenai kepercayaan!
    Jangankan dengan yang atheist, sesama yang beragama (mis. muslim dan non muslim) aja sering bantah-bantahan..

    Kita lebih sering melihat mukjizat dulu baru bisa sadar untuk berubah..πŸ˜†

    25 April 2011 at 11:00 AM

    • nah itu dia… aku jadi bingung, soalnya belum pernah ngomong sama atheist… *ternyata susah

      26 April 2011 at 1:31 PM

  13. Ann

    Kalau aku lebih memilih untuk tidak ikut terpancing dalam diskusi atau sekedar membicarakan urusan kepercayaan (agama), soalnya tidak akan pernah selesai.
    Daripada berdiskusi seperti itu, mendingan memperdalam keyakinan buat diri sendiri aja.

    25 April 2011 at 1:17 PM

    • Iya mas, dasar juga tuh si Arthur yang mulai duluan… *gak mau disalahin* hehehehhe

      26 April 2011 at 1:30 PM

  14. Agama adalah nama dan aliran yang kita ikuti, sebuah kepercayaan.

    Karena Tuhan, dengan melihat hidup adalah anugerah Tuhan, bersyukur, saling merangkul dan saling mencintai sesama manusia sudah mewujudkan ke-Tuhan-an Kita.

    Karena 5 Agama secara sempurna ada di tengah2 keluarga saya, maka saya katakan, kami adalah satu cinta tak perlu berdebat atau saling menuding

    makasih ya prim pencerahannya

    25 April 2011 at 1:30 PM

    • ikut mbak jum ah…πŸ˜€

      26 April 2011 at 1:26 PM

  15. agama = tidak kacau, jadi tak perlu merasa kacau atau mengacaukan bahkan membuat kacau

    Peaceeeeeeeeee

    25 April 2011 at 1:30 PM

    • peace juga!

      26 April 2011 at 1:26 PM

  16. Aku jadi ingat sebuah novel yang dulu pernah kubaca, judulnya ‘Atheis’.

    25 April 2011 at 1:31 PM

    • ceritanya mirip2 ya mbak?

      26 April 2011 at 1:25 PM

  17. serius sekali postingan kali ini mas prima. Saya pernah mendengarkan perdebatan panjang tentang hal ini dan masing-masing sepakat untuk tidak sepakat dalam menjelaskan Tuhan masing-masing. Sebentar, saya berganti rupa dulu untuk menjawab pertanyaan ini.

    25 April 2011 at 1:43 PM

    • Monggo diceritain mas…πŸ˜€

      26 April 2011 at 1:25 PM

  18. kalo udah ngomongin tentang agama, emg ga ada abisnya. harusnya si arthur itu nggak usah ngehina-hina ato apalah. yaa mungkin Allah emg udah bener2 nutup pendengaran, penglihatan, dan segalanya dari kebeneran ttg Allah. naudzubillah >.<

    25 April 2011 at 1:59 PM

    • iya, masalahnya dia itu bikin resah, padahal aku gak pernah nyeramahin dia… sial!

      26 April 2011 at 1:25 PM

  19. memang berat kalo ngadepin orang yang percaya sama tuhan…..

    25 April 2011 at 6:00 PM

  20. sebenarnya mereka itu percaya akan adanya Tuhan..
    tp mereka tidak percaya akan doktrin agama..
    gitu mungkin klo menurut sy sih….

    25 April 2011 at 8:03 PM

    • Nah itu beda kasus mas, ada temen saya yang begitu, dia malah masih mencari agama yang pas buat dia…πŸ˜€

      26 April 2011 at 1:23 PM

  21. ateis??? topiknya menarik… mnurut gue mungkin itu hnya pilihan seseorang utk mjadi ateis…dan selagi itu smua tdk mengusik org byk mah apa salahnya? ya ga?hehe… its just my little opinionπŸ˜€

    26 April 2011 at 12:00 AM

    • Nah, kira-kira si Arthur itu mengusik atau tidak?πŸ˜›

      26 April 2011 at 1:20 PM

  22. IMHO, Tuhan tidak perlu dibela. Tuhan itu Maha Kuasa. Buat apa membela Tuhan yang sudah Maha Kuasa? Apakah kita merasa kalau kita lebih hebat dari Tuhan?

    Justru Tuhan-lah yang membela kita, manusia yg lemah ini.

    GBU

    26 April 2011 at 9:44 AM

    • iya mas, aku salah tulis… harusnya yang dibela bukan tuhan, tetapi iman…πŸ™‚

      26 April 2011 at 1:19 PM

  23. Bang Prima kenapa nggak tinju aja si Arthur itu? Aku ikutan kesel nih sama dia, hehe…

    ah, bukankah semua benda di dunia itu ada penciptanya? kursi, meja, laptop, buku… nggak mungkin ada dengan sendirinya. Apa si Arthur mengira alam semesta ini nggak ada penciptanya? masak sih nggak ada yang nyiptain? Bodoh banget dia! Emangnya alam semesta ini ‘bimsalabim’ langsung ada? Emangnya si Arthur itu tiba-tiba ‘jelegedeg’ tau-tau sudah nongol di dunia? Hei, dia pasti lahir dari perut emaknya, emaknya lahir dari perut nenek lahir dari perut buyut… dst, sampai ke perut Hawa, bini Nabi Adam. Kalau bukan karena ciptaan Tuhan, lalu Hawa ciptaan siapa?

    26 April 2011 at 1:07 PM

    • Waduh, sabar2… kekerasan fisik itu urusannya hukum!πŸ˜€

      26 April 2011 at 1:16 PM

  24. ayo, para atheis, kalo mau debat si Icen siap melayani, wakwakwakwak….

    26 April 2011 at 1:30 PM

  25. gw sering juga dengar gini. gw bingung kasi tau nya apa. gw pengen temuin nih orang ama ustad yang sebenar nya. biar mereka tuh bisa terbuka pikiran. sesuatu itu pasti ada sebab dan akibat. pasti ada pencipta dan tercipta. masak sih hidup cuman hampa. udah mati masak cuma ilang gitu aja. ahhh kesel gw baca nya ama teman nya si bro

    26 April 2011 at 2:25 PM

  26. Tuhan gak pernah minta dipercaya atau dibela keberadaan NYA.
    kasihan sebenarnya manusia yg seperti Pim ceritakan diatas.
    bagaimanapun, Tuhan juga membebaskan manusia utk mempercayaiNYA atau tidak,
    manusia diberi kebebasan penuh utk hal itu, kenapa?
    karena Tuhan memberikan kelebihan akal pd manusia selain ciptaan NYA yang lain.
    salam

    26 April 2011 at 8:06 PM

  27. gw sampai speechless mau komentar apaan prim… tapi memang kita terpancing emosi sih namun sebenarnya itu bisa menjadi bahan instropeksi bagi kita…dan bersyukur kalau kita masih inget Tuhan dimanapun kita berada…

    27 April 2011 at 10:41 PM

  28. Mari senantiasa mengingat Tuhan 8)

    28 April 2011 at 6:35 PM

  29. ade

    kisah yang bagus… orang seperti itu gak usah diladenin

    17 February 2014 at 1:09 PM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s