Frames, Green, Rustle and Sweet Tea

Competition

Satu Minggu di Bogor (part 2)

Melanjutkan tulisan tentang satu minggu saya di Bogor yang luar biasa. Ini bagian kedua dari yang sebelumnya.

3. Kopdar Semanggi (29 Juli 2011)

Kopdar kali ini kopdar yang diadakan oleh dua Bunda, yaitu dua Ibu yang asalnya dari minang, yaitu Bunda Lily dan Bunda Bukit aka Nakjadimande (eh bener gak ya?) dan satu penggembira yang kita sudah tau siapa, ya benar Putri Usagi (lagi) 😆

Awalnya setelah kopdar Pasaraya bersama para Bapak-bapak, Putri mengajak saya untuk ikut kopdar bersama para Bunda hari sabtu di minggu yang sama, saya cuma manggut-manggut, hihihiihi… untung saja hari sabtu tersebut saya memang kosong, jadi tidak ada alasan untuk tidak hadir, mengingat saya kenal baik dengan dua bunda tersebut.

Singkat cerita, lagi-lagi saya dijemput Putri di Gambir, kondisi macet Bogor di tambah KRL yang sekarang dengan cemerlangnya berhenti di setiap stasiun, membuat saya telat! Putri bolak-balik sms saya, dan akhirnya kita ketemu di depan café something, saya lupa, pokoknya masih di gambir, lha… ternyata dua bunda itu juga ada dibelakang putri! Ups! Maaf Bund, membuat para ibu-ibu berumur ini menunggu sampe dirubung semut, hihiihihihi…

Jadilah di moment tersebut saya bertemu dengan Bunda Lily dan Bunda Bukit, sensasinya luar biasa! Hmm, sempat terjadi  ombrolan, kalau ternyata saya tidak seperti yang dibilang putri, masa kata dia ke para Bunda, “Prima itu cuma pendek, cuma sebahu” wuakakaakka… sial banget gak tuh! Well, ya akhirnya terbukti kalo si Putri lebay, dan merasa semua orang pendek, fiuuhhh… Kita berempat melanjutkan pertemuan di Plaza Semanggi, di lantai paling atas, yang outdoor tapi masih terbilang nyaman, maklum kata Bunda Lily dia maunya yang nyaman, gak capek, ini, itu, maklum sudah tua, hahahahaha…

Dalam perjalanan, Bunda Lily ngasih buku (lagi) ke saya, hahahaha… Makasih banget ya Bund, nambah-nambahin berat koper aja, wuakakakak… 😛

1. Bunda Lily, a.k.a. Bunda Don’t Worry a.k.a. Lily Suhana, beliau sudah sering saya liat penampakannya di beberapa kopdar, jadi bagi saya tidak kaget lagi, suara beliau juga saya pernah dengar via telepon, sangat ramah, keibuan, dan tetap fungky dan spontan! Hahahahaha… Lebih asik bertemu langsung daripada membaca tulisannya, karena beliau ternyata jago bercerita dan humoris. Bunda Lily sering sekali beradu opini dan menimpali Putri, ah mereka memang benar-enar seperti Ibu dan anak. Lihat saya sampai ada kejadian berfoto extreme macam begini, hahahahaha…

*

2. Bunda Bukit, a.k.a Najadimande, terkahir saya memanggilnya “Emak”, sama seperti cara Putri memanggilnya, ini membuat lebih mudah bagi saya, daripada memanggil keduanya Bunda, hahahaha… Jujur saya tidak pernah tahu wujud Bunda Bukit, saya pernah melihat di beberapa foto Putri sewaktu dia ke Bukit Tinggi, tetapi saya lupa, ternyata Bunda Bukit itu terlihat lebih muda dan lebih cantik, hihihiihi… sangat kalem, dan gak banyak bicara, tapi sekali bicara dalem, apalagi kalo nyindir si Putri, hahahahaah… Emak ini memang sepertinya diam-diam menjadi silent reader blog saya –ge-er.com, pernah satu kali beliau komen dengan username yang saya tidak kenal bahkan unik, eh ternyata setelah saya googling emailnya, ketahuan dia adalah Bunda Bukit, hahahahah… Makasih ya Mak. Selain itu Beliau kini malah rajin mengikuti weekly photo challenge, katanya sih gara-gara mulai suka pake Lightroom seperti yang selama ini saya lakukan, hahahaha… wah senangnya bisa menajdi inspirasi banyak orang.. 🙂

3. Putri Usagi, kalau yang ini tidak perlu dijelaskan, karena sudah sering diulas, hahahaha… mari kita skip! 😛

Setelah kurang lebih 30 menit, menikmati makan dan minum, tiba-tiba datang satu lagi tamu! Tamu yang saya juga kenal, yang saya juga kagumi, dan saya ingin sekali bertemu! Yup betul Bunda Monda!

4. Bunda Monda, a.k.a Monda Siregar, Bunda yang satu ini memang juga terlihat sudah berumur, tetapi wajahnya cerah, dan jauh lebih muda daripada di foto, hahahahah…  Bunda Monda adalah gambaran dari tulisan-tulisannya yang lembut dan keibuan, sangat jauh dari bayangan saya yaitu seorang Ibu-ibu batak yang gagah dan toak, hahahahaha… Bunda Monda sempet bingung memilih makanan di menu, akhirnya dia memilih apa yang saya tadi makan: Kwetiau Siram Seafood! Dan ternyata habis! Enak katanya! Hahahaha…. Recommended memang kalo makan di S*laria 😛

Kami akhirnya berbaur dengan banyak cerita, tentu saja terutama cerita dari marching band kita, sodari Putri Usagi, hahahahah… Ntah saya lupa apa saja yang kami bicarakan, pokoknya kita juga sempat berfoto-foto, dan seperti biasa, saat para blogger berfoto-foto, para tamu lain akan melongok dan bergumam “ini acara apaan ya? Kok heboh banget??” hahahaha… Kita juga sempet pindah meja, dan membuat banyak nota pesanan, karena bolak balik pesan makanan dan minuman, dan paling rame sendiri pula! Seru banget pokoknya…

Setelah acara selesai, sambil melangkah keluar gedung, kami juga sempat berfoto-foto lagi, terutama si Putri yang sengaja ngilang ke kamar mandi buat memastikan penampilannya Okeh, gubrak! Ini oleh-olehnya…

*

*

*

*

Kami melanjutkan acara jalan-jalan ke Monas, jadi alesannya sambil nganter saya ke gambir, sklaina jalan-jalan ke Monas, padahal ini akal-akalannya si Putri aja biar jadi model foto-foto, hahahaha… akhirnya kami, minus Bunda Monda, terpaksa ikut ke Monas, hahahah…

Di Monas, dua bunda memutuskan untuk menunggu saja ddekat pintu keluar, sedangkan saya dan Putri lanjut ke arah Monas. Langsung deh liat sesi foto-foto Putri, hahahaha…

*

*

*

Akhirnya perpisahan pun tiba, saya berpamitan dengan duo Bunda, dan Putri, saya sangat senang bisa kopdar dengan mereka semua…

Oh iya, sebenernya banyak foto-foto extreme yang diambil di sesi ini, cuma atas nama kemanusiaan saya tidak tega menguploadnya, wuakakakakak…

sedikit curhat…

Saya merasa sangat beruntung, saat saya datang ke Bogor dan Jakarta, banyak blogger yang mengajak atau tidak sengaja terajak kopdar, jadi waktu yang cuma sedikit itu bisa dimanfaatkan dengan maksimal. Saya merasa ngeblog bukan cuma sekedar mengisi waktu luang, tetapi juga menjalin silahturahmi, meningkatkan pengetahuan dan tentunya persahabatan yang bernilai plus-plus. Kami tidak saling mengenal, hanya mengenal lewat tulisan, tetapi pertemuan seperti sudah sangat diharapkan dan penuh dengan cerita-cerita seru. Om NH selalu bilang, this is the Beauty of Blogging, dan itu benar adanya.

Selama setahun belakangan, saya seorang pengangguran yang mencoba mengisi waktu dengan hal-hal bermanfaat, berusaha sibuk dengan apapun yang bisa menyibukkan, termasuk ngeblog. Terimakasih Tuhan yang telah memberikan jalan saya untuk membuat Blog. Saya banyak mengalami banyak peningkatan dari segi mental dan pengetahuan. Blog telah membuat hari-hari saya lebih berharga, berarti, dan penuh warna. Saya merasa orang-orang menyanyangi saya, seperti saya menyayangi mereka. Ini ajaib, karena kami tidak pernah bertemu sebelumnya. Untuk setahun terakhir ini saya banyak mengucapkan terimakasih untuk semua blogger-blogger yang telah menghiasi hidup saya…

Ke depan saya mungkin tidak akan serjain dahulu menulis, karena sudah ada kesibukan tetap yang akan saya kerjakan, tetapi saya akan coba selalu menulis, disetiap ada kesempatan.

Duh, panjang juga ya curhatnya, hahahahaha… OK, Lha!

Sampai jumpa di tulisan saya berikutnya tentang perjalanan panjang saya ke sebuah tempat yang indah…

Happy Blogging!

 

 

Advertisements

Antara Kita

Sosok itu beranjak dari samping jendela dan berdiri tepat di sampingku. Kami tidak bergerak, tidak pula berkata-kata. Aku masih tertunduk di titik yang sama. Bergeming tanpa mampu menatap wajahnya.

 “Nand…”

Aku menolehkan wajahku perlahan. Sekelebat bayangan bergerak cepat di depanku, tanpa isyarat, bersemayam dan menghempas riuh tepat di kiri wajahku.  Gemanya bersahutan mengisi sudut-sudut  lorong sekolah.

Aku masih di titik yang sama. Menatap kosong ke arah lantai. Merasakan perih yang teramat sangat di wajahku.

Kami berdiri sangat dekat. Lututnya lemas menghempas di lantai yang bisu. Tangannya mengepal dan bergetar. Satu dua tetes kepiluan meninggalkan jejak basah di dekat sepatuku. Tak terbendung, bersaing dengan isak tangisnya.

Aku mengelus lembut rambutnya. Dia tahu aku mengerti, aku adalah orang yang paling berdosa yang berani mencintai orang yang dia cintai. Air mataku tak tertahan lagi.

Hanya lorong sunyi dan semburat sinar senja yang menembus barisan jendela menjadi saksi persahabatan kami yang indah.


Story-Telling Contest

Selasa kemarin saya berkesempatan menghadiri Story-telling Contest tingkat kabupaten Tanah Laut, Kal-Sel yang diikuti kurang lebih 15 perwakilan dari SMP-SMP di seluruh kabupaten.

Apa itu story-telling? Jadi kontes bercerita sebuah cerita atau dongeng dalam Bahasa Inggris. Tidak hanya kelancaran bercerita dan cuap-cuap dalam bahasa Inggris, mereka juga dinilai dari penampilan, alat bantu bercerita, ekspresi dan komunikasi dengan pendengar. Seru juga lho! Selain karena tiap orang punya gaya masing-masing dalam bercerita, mereka juga saya nilai sangat baik berbicara dalam English, ya at least mereka cukup percaya diri di umur mereka yang masih muda.

Yuk liat-liat jalan acaranya…

Kata Sambutan

Doa

Sharing pengalaman pemenang 2 tahun yang lalu

Wait! Hhihiihihih… Tulisan WELCOME di spanduk itu salah cetak. 😛 Entah karena salah panitia atau salah percetakanya… 🙄

Dalam kontes ini setiap peserta membawakan dua cerita, meskipun ada peserta yang hanya menyiapkan satu cerita…

Ambil Nomor Urut

Niat, dengan kostum dan gambar bikinan sendiri

Gerak tubuh memukau!

Totalitas!

Full of expression

Beberapa peserta sangat berbakat, saya merasa sedang menonton acara mendongeng di TVRI..hihihihi… tetapi ada pula peserta yang nervous dan harus meninggalkan panggung acara karena tidak bisa meneruskan ceritanya… Semoga tahun depan lebih siap lagi ya!

Putri Raja?

bawang merah bawang putih

Kisah Seekor Buaya

Peserta ini suaranya mantap!

yang hadir...

Greedy Shark!

Pengumuman pemenang oleh Juri 1

Tegang semua!

Si Juara Pertama!

5 besar!

Pemenang dan guru-guru

Selamat bagi para pemenang!

Si Juara Pertama akan diikutsertakan dalam Story-Telling contest Tingkat Propinsi di Banjarmasin, dan jika menang akan lanjut ke Tingkat Nasional! Semangat semua! 😀

Ada suatu hikmah tersirat dalam setiap acara kontes-kontes seperti ini. Selalu ada kalah dan menang, itu wajar. Bahkan terkadang penilaian kita untuk seseorang bisa jadi terpengaruhi oleh penilaian subyektif, meskipun juri tentu berusaha untuk se-obyektif mungkin, semua akan kembali pada kriteria penilaian, bobot dan jumlah nilai yang terkumpul.

Sehingga terkadang ada omongan: “Lho saya pikir dia yang seharusnya juara kedua?!” Selalu ada pro-kontra, tetapi ada baiknya mengevaluasi diri sendiri dan mencoba untuk lebih baik di kemudian hari. *sok bijak mode: on

This slideshow requires JavaScript.

Happy Blogging!


Di Balik Layar: Bukan Bang Toyyib

What a lazy weekend!

Wuah, akhirnya nulis lagi setelah libur panjang, pasca kontes menulis : Kecubung 3 Warna yang cukup menyita waktu dan pikiran, *halah.. OK, berhubung banyak blogger yang menuliskan cerita mereka di balik sepak terjang mengikuti lomba ini, Trio Cumi juga punya cerita yang mungkin bisa dijadikan panutan, hmm.. mungkin lebih tepatnya “pelajaran” wuakakakak… karena sebenernya justru hikmah dan sensasinya itu yang emang bener-bener bikin kita gak bakal lupa! *bisa banget emang si Pakdhe bikin lomba ginian, ckckckckck…

 

Semua berawal dari kedatangan sms dari Putri yang tiba-tiba mengajak saya untuk satu grup dengan saya. Saya sempet bingung, maksudnya apaan ya?? Hmm, setelah inget-inget, baru nyadar kalau Pakdhe Cholik emang ada rencana mau bikin lomba kaya cerita Dasrun. Sudah digelar ya lombanya???

Saya sms balik Putri: Maaf put, gw dah segrup sama Mr. xxx dan Mr. yyy, wkakakaak…

 

Putri jelas mencak-mencak, dia gak tau aja saya becanda, ya iya lha, justru saya baru tau lomba itu dah digelar dari sms dia, hihihihiii… OK lha, intinya saya sama Putri sudah deal jadi satu grup, berarti lamaran Putri ke saya saya sambut dengan tarian hula-hula dan kata :YES! Artinya kita tinggal cari satu orang lagi, ini yang agak-agak repot.

 

 

Jujur saya udah curiga pasti genre tulisan Putri me-refer pada masa lalunya sebagai perintis Nting, emak-emak bawel di cerbung Dasrun beberapa bulan silam, dan as you know, that might be her specialty, dan emang ujung-ujungnya dia ngajak saya untuk menghidupkan cerita Nting lagi, tuh kan! Artinya tulisan ini bakal kaya komedi situasi khas betawi, saya seperti langsung ganti midset semenjak itu:  NO mellow, No sinetron, NO serius!  *padahal awalnya saya udah kebayang ceritanya bakal menusuk-nusuk hati.. 😛

 

Saya dan Putri sempet berdiskusi tentang siapakah orang ketiga yang bakal jadi anggota terakhir kita, karena artinya kita harus melayangkan lamaran. Lamaran ini lalu dilayangkan kepada seorang blogger terkenal, hihihihiii… nekat emang! Putri menuliskan lamaran ini dengan sangat apik, dan email pun terkirim. Beberapa hari belum ada balasan! Dan saya sempat bilang sama si Putri, well, itu artinya NO!

 

Memang iya, setelah beberapa hari menunggu – kombinasi harap2 cemas dan termehek-mehek, email balasan menyatakan bahwa yang bersangkutan  tidak bersedia karena perbedaan genre or kind of that. Emang kita juga sih yang nekat, tapi di situlah sensasi dan hikmahnya: Melamar orang itu deg-degan sodara-sodara…, takut ditolak, takut kecewa, takut nyari orang lagi! Plus acara lamar-melamar ini juga membuat kita harus bisa mempelajari karakter blogger lain, jangan asal comot, banyak pertimbangan ini dan itu, tetapi emang di balik itu satu yang pasti: Jangan takut mencoba! Nekat! Kalo kita malu atau jaim malah gak dapat dapat temen! 😛

 

OK, jeda waktu begitu hampa, gak ada lagi lamaran lain yang kita layangkan, kita emang harus bener-bener nyari orang yang pikirannya bisa “seirama” sama pikiran kita, lebih tepatnya seirama dengan pikiran Putri 😆  *nyari-aman.com. Seorang blogger sepuh juga sempet kasih saran untuk melamar blogger A dan B. Ok, kita coba, kali ini sms melayang. Lagi-lagi ditolak, alasannya klise: sudah lengkap grup mereka, wuakakakaka… apes-apes!

 

Belum lagi ditambah salah satu juri bilang, kalo gak ikut lomba ini artinya cemen banget! Masa lomba gak ikut? Apa kata dunia! Beliau bolak balik manas-manasin kita buat buruan cari grup dan daftar. Hufff, dasar provokator banget, akhirnya saya dan Putri kembali pada keriwehan nyari-nyari orang. Ada dua calon. Dua-duanya kemungkin besar belum punya pasangan, atau bahkan gak tau ada lomba ini, wuakakaka… dan saya mencoba ke satu blogger dulu, yaitu teman satu almamater saya: Irvan!  😀

Irvan setahu saya tipe blogger yang gak nulis tiap hari, dan emang gak pernah saya liat sliwar-sliwir di rumah pakdhe, tetapi saya tahu dia blogger lama, dan aktif dalam komunitas blogger Bogor. Sebelum saya punya blog, saya dulu sempet nyasar ke blog dia, sempet baca-baca juga. Tulisanya rapih! Alasan utama kenapa saya milih dia: Saya tau dia kocak! Saya bisa lihat dari status-statusnya di FB, hahahah… harapannya Irvan bisa menyeimbangkan karakter Putri yang setengah pede dengan karakter saya yang setengah jayus, hihihihi… Alhamdulilah, keberanian saya bagai gayung bersambut durian, Irvan setuju! Lengkap lha kita bertiga, Putri, Irvan dan saya.

 

Masalah lain muncul, saat kita chatting di skype, kita malah bingung ide ceritanya apaan, saya sih waktu itu justru punya ide untuk cerita-cerita mellow yang penuh air mata, *halah! Sedangkan Irvan bilang ada baiknya mengangkat hal-hal yang lagi in sekarang, salah satunya tentang si NH dan masalah bolanya. Kalau Putri tetep dengan draft awal, ceritanya harus betawian dimana ada emak-emak riweh yang bawel! Wuakakakak… Pusing kan?, yang ada malah kita akhirnya diskusi tentang isu tentang PSSI yang langsung di moderatori oleh saudara Irvan, wuakakakaka… Woy idenya jadi apaan??? (- -‘)

 

Janji untuk bikin masing-masing ide cerita dan draft malah tinggal janji, masing-masing malah gak saling menghubungi, boro-boro draft, chatting bareng lagi udah gak pernah! Hingga akhirnya deadline udah kurang seminggu. Suasana mulai tegang, blog pakdhe mulai koar-koar bahwa lomba akan segera ditutup. Tapi Putri dan Irvan lempeng-lempeng aja kaya gak punya dosa, wuaakakaka… saya malah kepikiran! Mood saya yang tadinya udah mau bikin cerita kocak, ngebaca cerita peserta lain, kok malah berubah ikutan mellow! Si Putri bukannya ngasih ide apa kek, malah bolak-balik ngancem kalo dia gak mau ceritanya kaya sinetron atau serial cantik! Dengan berat hati, bakat sutradara drama dalam diri saya harus dikubur dulu 😆

 

Hari-hari berlalu semakin cepat, tapi ide belum juga datang, Putri malah koar-koar dirinya mau ada acara meeting di Singapore. Kamis lomba ditutup, dia pergi Selasa! Sempurna banget! Irvan? Nah lho, tuh anak kemana ya? No hp-nya aja gak tau! Saya segera cari tau nomor Irvan pake link pribadi, link pribadinya ada di amerika lho, wkakakakaka… yes dapet! Dan segera komfirm ke Irvan, just make sure dia masih inget kalo kita pernah berjanji sehidup semati di lomba ini, wkakakaka…

 

OK, setelah melaui proses bangun tidur, merem melek di atas kasur, saya dapat ide untuk mengangkat masalah kecil, simple, tapi bisa di improve-improve jadi lebay! Yup! Cobek dan gosip! Simply Indonesia! Saya langsung skak-mat Putri dan Irvan dengan ide saya, membaginya jadi 3 bagian, dan mengaharap mereka setuju dan mengerjakannya segera. Saya bilang ke mereka kalau cerita ini adalah hasil pikiran saya yang udah mentok dan mepet, dan so far gak ada ide lagi, kecuali mereka punya ide lain yang lebih oke. Hayo? Ada gak??? *ngancem! 😛

 

Intinya sih mau-gak mau harus dikerjain. Hehehehe… Apa mereka setuju begitu saja? Tentu tidak! Saya yakin Irvan masih bingung dalam hati “Cobek? Yakin lu prim?” belum lagi Putri ketauan banget gak fokus, bolak-balik di chat, dia malah tanya, emang lagunya apaan? Ceritanya gimana? Ibarat guru di sekolah, saya merasa gagal mengajar Putri! Padahal semua dah jelas saya tulis berbusa-busa di pesan FB. Wajar aja sih, si Putri sibuk juga nyiapin performanya buat ke Singapore, gak cuma brain lho tapi tentu saja beautyhaiyah! kalo behave, saya bantu doa aja… wuakakakaka…*pening mendadak

 

Satu hari sebelum berangkat, si Putri nyempetin diri ke salon, ubek-ubek rambut, dari yang tadinya ikal sampe lempeng-peng, wuakakakka.. serius deh itu rambut kaya agen rahasia yang di film-film, dan untuk alasan itu kayanya dia gak bisa ngerjain sebelum berangkat. Intinya Putri baru bisa ngerjain pasca pulang Singapore. Parahnya Putri kebagian episode pertama yang full of gossip emak-emak-yang udah ditakdirkan jadi bagian yang wajib dia kerjain-, so jadi kita baru bisa focus hari rabu! H-1!

 

Untungnya cerita sudah dibagi, Irvan kebagian bagian kedua dan saya yang ketiga. Rabu siang kami bertiga sempet chat.  Irvan juga lagi banyak tugas nulis, dia akan coba buat bikin sore. Siang itu Si Putri yang paling cepet jadinya, emang sih gw dah ngira bagian pertama ini emang special buat dia dan emang dia banget, jadi gak bakal susah “memuntahkannya” dalam bentuk tulisan, wkakakakka… Saya sudah sempat menulis setengah, Irvan belum sama sekali. Dalam chat ini saya bener-bener ngerasa kaya manager atau sutradara, ngatur ini itu, ngomel sampe berbusa, mengarahkan Irvan tentang cerita yang ada di kepala saya, intinya improve wajib, tapi keep on the track! Cerita kita akan punya ciri khas masing-masing, tanpa harus kehilangan alur cerita.

 

Belum lagi penat kepala saya ngatur alur cerita Putri biar nyambung sama Irvan, plus nyelesein bagian saya sendiri, Putri udah merengek minta dibikin gambar ilustrasi buat ceritanya! Kalo di kartun, pasti saya dah jedotin pala saya ke tembok! Wauakakakak…

 

Saya mulai ngerjain sore itu, bukan tulisan saya, tapi gambar! Pertama nyiapin gambar buat daftar jadi peserta yang baris 3 orang itu lho.. lanjut 3 gambar ilustrasi sekaligus! Gambar, scan, edit, kirim! Lanjut nulis cerita bagian saya, ngatur-ngatur di dashboard dan siap untuk diposting. Sampe jam 2 malem cuma buat ngoreksi dan ngatur ini itu di tampilan blog. Mata dah cenat-cenut parah, tapi demi kelangsungan ke-eksis-an di negeri blogging, saya melek!

 

 

Paginya Putri dah kirim lagi tuh hasil koreksinya dan format fix bagian dia. Oke lha dia dah beres! Dia juga saya kasih tugas buat daftar dan urus segala bentuk adminsitrasi. Irvan? Dia belom kirim draftnya! Mati dah kita! Cuma ada waktu beberapa jam, mudahan sempet!

Ada kejadian gak banget tapi penting, saya dropped! Jam 10 pagi badan saya kaya anget dan keringat dingin, liat monitor kaya maju mundur, mungkin masuk angin. Saya bahkan sempet ijin ke Putri untuk tidur dan istirahat sebentar, dia bukannya percaya malah koar-koar nyuruh saya bangun, bahkan sempet nelpon cuma mau ngasih tau, dia dah siap publish! Haiyah!… saya lanjut tidur, soalnya badan kaya abis dipukuli…

 

Siang jam 2 -an, badan saya dah mendingan, Irvan kirim tulisannya, saya baca, dan langsung okeh!  Anyway, kenapa malah gak ada yang ngoreksi tulisan saya ya? Padahal sempet detik terakhir saya malah banyak melakukan edit sana sini, nasib-nasib… Ah! Putri sempet ngoreksi beberapa logat betawi di tulisan saya yang kurang pas! Thanks put!

 

Seperti biasa saya ingatkan untuk jangan lupa menuliskan bahwa artikel ini diikut-sertakan dalam lomba K3W, jangan sampe di diskualifikasi gara-gara hal kecil, hihihihi… dan akhirnya sore sekitar pukul 3, saya lupa tepatnya, postingan Putri publish, Irvan publish, dan kemudian saya publish! Putri daftar lomba ke rumah pakdhe, well done!


Terbilang cepat sekali proses ini, emang sih kebanyakan kita kalau sudah detik-detik terakhir baru pada semangat semua, wkakakaka… padahal coba dari dulu dikerjain, kan bisa dicicil pelan-pelan… gak perlu grasak-grusuk! well, tapi alhmadulillah juga, as you see, kita beres juga! 😆

 

Thanks to Putri dan Irvan buat kerja samanya! Semoga Trio Cumi bisa masuk 5 besar! Amin…

 

 

***

 

PS: Nama Trio Cumi, terinspirasi dari si Putri yang suka bolak-balik manggil saya “Cumi”, padahal “Cumi” itu kan panggilannya Irvan di dunia nyata, wuakakakaka… dan secara rambut kita pada ikal—meskipun si Putri sempet ngelurusin rambutnya sampe jadi cumi murtad–, jadilah kita kaya cumi semua, saya sodorin aja: TRIO CUMI! Pas kan? Eh masa si Putri ngusulin nama: Tiga Serangkai!  Apa gak sekalian Tut Wuri Handayani??? 🙄

 

 


Cobek Misterius

Ini adalah bagian ketiga dari cerita bersambung “Aku Bukan Bang Toyyib”. Bagian pertama ada di rumahnya Putri Usagi, dan bagian kedua ada di rumah Irvan. Silahkan ke TKP kalau belum baca. Enjoy!

**

 

Nting nyantai di ruang tamu rumahnya sambil ngitung-ngitung duit sisa belanjaan tadi pagi. Matanya sempet ngelirik ke arah rumah Marlina. Biar dia tahu siape Nting binti Haji Mahmud, jangan harap bisa main-main ma gue! Biar tahu rasa! Masih untung cuma cobek gue belah, belum ubun-ubun lu! Nting bergumam sambil tersenyum puas.

 

Beres ngitung duit sisa belanja, Nting pindah duduk di meja riasnya. Tangannya mulai lincah moles mukanya dengan segala peralatan riasnya mulai dari bedak sampai lipstik merah delima made in Dubai dapet minta dari Mpok Rodiyeh. Gue harus tampil cantik terus, biar Bang Toyyib kagak jelalatan ke Marlina mulu, gumamnya mengingat nasihat Mpok Rodiyeh  tentang cara ngobatin suami selingkuh. Jam dinding udah nunjukin pukul 4 teng, artinya Bang Toyyib bentar lagi pulang.

 

Nggak lama, sayup-sayup terdengar deru halus mesin mobil berhenti di depan rumah Nting. Nting sontok loncat dari kursi menuju jendela, ngintip siapa yang datang. Jangan bilang Bang Toyyib pulang bawa avanza, bisa pingsan kesenengan gue! Seorang laki-laki berumur dengan kumis tebal turun dari avanza merah marun melangkah ke halaman rumah Nting. Nting yang baru beres dandan malah salah tingkah. Siape sih om-om dendi itu? Mau ngapain dia ke mari?


“Permisi…” suara om-om dendi terdengar dari arah pintu depan yang emang nggak ditutup.

Nting tergopoh-gopoh keluar kamar “Iye, ada ape ye?”

“Eh.., anu Mpok, mau tanya.., rumahnya Marlina di sini?” om-om dendi sedikit kaget lihat wanita yang nyambut dia dalam keadaan menor ala emak-emak mau kondangan, lanjut sunatan.

“Oh, bukan bang, Noh yang ntu… yang atepnya biru norak noh” Nting nunjuk rumah Marlina di seberang rumahnya.

“Makasih ye mpok” Om-om dendi itu pergi melangkah ke rumah Marlina.

 

JELASSSS  Nting langsung kebakaran jenggot. Aje gile tuh Marlina, abis laki gue digodain, sekarang om-om dendi diembat juga! Nting menutup pintunya setengah sambil terus mantau gerak-gerik si om-om dendi dari pantat sampe ke jidat.

 

“Abaaaannnggg….” Marlina teriak kegirangan persis kaya waktu dia menang togel.

Om-om dendi itu senyum-kumis-naik-turun- berjalan masuk ke halaman rumah Marlina.

“Kok lama sih Bang??? Nyasar ya?” suara cempreng Marlina seolah mecahin ketenangan kampung cerewet sore itu. Ibarat dua sejoli lama gak bertemu, keduanya saling belai dan cubit.

 

 

Mata Nting semakin liar ngeliat detail adegan mesra-mesraan yang hadir di depan mata. Kupingnya cenat-cenut seketika, berusaha ngedengar setiap kata pembicaraan mereka. Nggak cuma Nting, ibu-ibu tetangga lain juga nggak kalah ribetnya abis ngedenger ada bahan gosipan baru : Marlina kedatangan tamu om-om! seperti biasa mereka akan saling telepon dan SMS nista.

 

Jeung Nting, tolong pantau rumahnya Jeung Marlina agar nggak terjadi hal yang tidak-tidak! satu SMS setengah nista barusan masuk dari Bu RT.

 

Mpok, hapdetin aye yah. satu SMS nista masuk dari Maimunah, tetangga baru belakang rumah.

 

Nting, lu tau kan yang harus lu lakuin??? Kiss, Ameh. Haiyah!

 

Nting kembali fokus pada target: Marlina, janda gatel seberang rumah.

Nggak lama, Marlina yang sedang asik ngobrol sama si om-om sampe monyong-monyong di teras rumahnya tiba-tiba terpaku sedetik ngeliat dari kejauhan Nting mencuri pandang ke arah mereka dah kaya mata-mata FBI, Forum Bibir Indonesia.

Astajim! Nting keki ketahuan.

“Eh, Mpok??? Mpok! Mpok Nting!” seru Marlina sambil bergegas ke arah rumah Nting.

Om-om dendi ngikutin Marlina ngetuk pintu rumah Nting.

“Mpooook, aye kagak ngajak berantem sumpah! Aye baik-baik mau ngasih tau sesuatu…”

Nting keluar rumah dengan pandangan super judes ngebuka pintu. “Ade perlu ape lagi lu?”

“Eh Mpok, sebelumnya aye mau ngucapin makasih ni ye, tadi ngasih tau calon laki aye ini rumah aye..” wajah Marlina dipenuhi oleh bunga-bunga kebahagiaan, nggak ada sedikitpun mimik benci-benci tahi kucing terhadap Nting yang udah mecahin cobeknya. Dendam itu seolah lunas dengan kehadiran si om-om dendi, tempat dia kini bergelanyut mesra kaya monyet nemu tiang.

 

“Ohh… jadi ini calon laki lu?” Nting masih sinis -idung kembang kempis.

“He-eh.., namanya Bang Oyyib, lengkapnya Muhammad Toyyib! Sama kaya laki Mpok, hihiihihii..”

DEG!

Nting sontak kaget! Jadi gossip itu ternyata?? Oyyib itu? Terus laki gue?

“Nah, Mpok Nting ini bininya Abang Toyyib, ntuh supir angkot nyang aye certain, nyang aye suka naekin saban hari, bang. Lumayan, aye bayar ongkos sebulan sekalian, jatohnya lebih murah, ye kan Mpok??” Marlina sumringah, masih bergelanyut.

 

Nting makin bengong. Jadi itu alasan Marlina naik angkot laki gue saban hari?? Oh May Jod!

 

Marlina permisi pulang sambil masih cengar-cengir bersama om-om dendi bernama Oyyib itu. Nting diem melempem, lemes kaya balon kempes. Pucet kaya abis ngeliat kunti. Ya Allah, gue udah fitnah Marlina…

 

 

“Nyak! Diem aje? Kata Pak Ustad jangan suka diem, ntar kesurupan! Hiiii….” Ntong tiba-tiba muncul dari kamarnya sambil ngebawa benda bulat warna item buluk.

Nting kaget ngelihat Ntong gotong-gotong cobek. “Heh, cobek siape tuh??”

“Ya elah Nyak pikun! ya punya Ncing Marlina lha. Kan Ntong pinjem kapan itu, telat dikembaliin, ini baru mau Ntong anterin.” Ntong berlalu, meraih sandal dan bergegas ke rumah seberang.

“Ntong, bentar, ntooonggg… “ Nting kebingungan ngedengar penjelasan Ntong.

 

Cobek Marlina? Terus cobek yang pecah? Aneh amat?

 

Belum sempat Nting mencegah Ntong yang keburu lari, Bang Toyyib, laki Nting manggil Nting dari samping rumah.

“Nting sayang, abang dah pulang nih… laper!”

Nting masih tertegun di depan teras, mendadak bego campur budek.

“Kok diem aja nih bini abang, masak ape hari ini?” Bang Toyyib ngelus-ngelus bahu Nting dari belakang.

Nting noleh. Liat lakinya, masih sama. Liat angkotnya, sama juga, kagak ganti avanza.

 

Bang Oyyib, bukan Bang Toyyib.

Cobek Marlina, bukan cobek pecah.

Terus punya siape ye?

 

“Seneng nggak sama cobek barunya?” lanjut Bang Toyyib cengar-cengir sambil kedip-kedip genit.

 

Nting keselek.

 

“HHHAAAAAAAAAAAAHHHH!!!! Abang yang beli????”

“Lha, emang kenape?” Bang Toyyib ikutan keselek kaget.

 

Sayup-sayup terdengar dari rumah Marlina.

…sabar sayang, sabarlah sebentar

aku pasti pulang

karna aku bukan

aku bukan bang toyyib…


Nting pingsan seketika.

 

***

 

Artikel ini diikutsertakan dalam Pagelaran Kecubung 3 Warna di newblogcamp.com.



Super Sister – Best Brother

Tada!

Dimana-mana orang pada masang photo kakak adik buat ikutan Giveaway Mama Calvin: Maret Ceria, setelah menengok ke TKP, rasanya jadi pengen ikutan juga. Setelah ubek-ubek album foto jadul, akhirnya terkumpul juga beberapa foto yang mungkin bisa ikutan. Ini dia!

Hheheheheh… ini bukan saya memang, ini adik-adik saya.

 

Perkenalkan:

Super Sister: Ega. Ega adalah anak kedua dari Papa dan mama saya, adik perempuan saya satu-satunya, lahir 1993 di Malang, sama seperti saya, di rumah sakit yang sama dengan saya lahir. Karakternya keras kepala dan cerdas, kata Mama, paling cerdas di antara kami bertiga. Semenjak kecil suaranya toak (keras) dan matanya bolak dan serem kalo melotot.Hahahahha…

Kulitnya nurun si Papa, lebih gelap dari saya dan si bungsu (bisa dilihat di atas). Sewaktu kecil dia pernah mengeluh: Kenapa sih aku cewek sendiri tapi malah item? Kata Mama: Setiap orang punya kelebihan dan kekurangan, dan kekurangan itu agar manusia tidak sombong.

Adik saya ini salah satu yang berprestasi di sekolah, kritis dan jago matematika, nilainya sewaktu SMP pernah tertinggi kedua se-kabupaten! Cool! Sekarang dia lagi lagi duduk di bangku SMA di sebuah kota di Jawa Timur… Sukses ya Ga!

 

 

Best Brother: Danang, si bungsu, lahir 1999 di Martapura. Tampilannya cenderung tenang, santai dan gak neko-neko. Normal dalam bidang akademis, cerdas dalam hal game dan gadget! a.k.a. oprek-oprek! Haduh! dalam waktu tidak lebih dari satu-dua menit, dia bisa mengerti bagaimana memainkan suatu game atau bagaimana suatu gadget bekerja. Sifatnya yang manja (mungkin karena bungsu) dan menggampangkan hal-hal penting kadang membuat Mama stres, kalau sudah musim ujian, maka Mama adalah orang yang stres, jauh lebih stres dibandingkan dia sendiri.

Pemalu dan gak pede tampil di muka umum sudah rahasia umum, tetapi aslinya sanguin sejati, ramah dan banyak temennya. “Mamaaaa…makaaaannnn..” adalah kata-kata permanent- by default yang diucapkan setiap pulang sekolah, gak heran badannya gembul. Fiuh!

Cita-citanya simple, mau jadi koki yang jago masak kaya Mama! 😀 Sekarang dia lagi duduk di kelas 6, dan bentar lagi mau Ujian Nasional. Good Luck Bro!

 

 

Itu dia profile dua adik saya yang tampil di foto. Kenapa mereka berdua? Kenapa gak bertiga sama saya? Setelah saya telusuri, ternyata saya sulit menemukan foto kami bertiga! Wajar saja karena umur saya dan Ega, berjarak cukup jauh, apalagi dengan Danang. Jadi yang ada kalau foto bareng hasilnya menjadi dua anak-anak, dan satu om-om, wkakakakaka… *gak banget!

Jadi demi kepentingan bersama dan ke-imut-an yang harus ditampakkan dalam foto adik-kakak ini, saya memilih mereka berdua aja. Foto-foto diambil dari album foto jaman mereka masih balita sampai SD. Beberapa sudah rusak termakan usia, dan alhamdulillah berhasil di scan, 🙂  Mudahan selain bisa narsis di Maret Cerianya Mama Calvin, juga sebagai salah satu perwujudan sayang saya ke mereka, Jiaaahhhh…

 

 

For my SUPER SISTER and BEST BROTHER, love you both!


Kisah Desktop dan Laptop

Alkisah tersebutlah sebuah komputer tua yang tinggal di sebuah rumah. Komputer tua itu terdiri dari monitor, keyboard, mouse, CPU (mesin computer) dan kabel-kabel yang menghubungkannya. Mereka memanggilnya Desktop. Tepat di sebelah rumah itu, tersebutlah sebuah rumah lain yang dihuni oleh sebuah komputer model baru yang lebih praktis, berukuran kecil dan mudah dibawa kemana-mana. Mereka memanggilnya Laptop. Si Desktop dan Si Laptop hidup bertetangga.

 

Suatu hari Si Desktop dan Si Laptop bercakap-cakap dari jendela rumah.

“Hey, Laptop! Mujur benar nasibmu kawan.” Seru Si Desktop.

Si Laptop tidak mengerti “Mengapa kau berkata begitu, Desktop?”

“Jelas saja, lihat dirimu, indah, menarik, cerdas, badanmu juga ringan sehingga sering diajak jalan-jalan oleh pemilikmu.” Jelas Si Desktop dengan pandangan iri.

“Lalu apa bedanya?” Si Laptop rupanya masih kurang puas dengan penjelasan Si Desktop.

“Lihatlah diriku, aku sudah tua sekali, kerjaku agak lambat, badanku kusam dan penuh debu, banyak lecet dimana-mana, keyboardku saja sudah hampir hilang tulisannya, belum lagi badanku yang berat dan penuh kabel ini, tidak mungkin ikut jalan-jalan dengan pemilikku. Aku bosan diam di sini. Aku iri kepadamu, Leptop.”

“Aku ingin menjadi sepertimu…” Lanjut Si Desktop bergumam.

 

Si Laptop tiba-tiba terdiam sambil menunduk. Wajahnya mengisyaratkan kesedihan. Si Desktop merasa heran dan bertanya.

“Mengapa kau bersedih Laptop? Bukankah hidupmu bahagia?”

“Aku justru iri padamu Desktop, setiap hari aku lihat kau bekerja dengan pemilikmu, siang malam pemilikmu menggunakanmu dengan penuh semangat. Dia menulis blog, menulis cerita dan mengedit foto untuk lomba-lomba, mencari informasi dan ilmu pengetahuan di internet, mengerjakan tugas kantor, membantu mengerjakan PR anak-anak dan kadang menuliskan artikel untuk surat kabar. Lebih jauh lagi pemilikmu terkadang mengajarkan tentang komputer dan internet kepada tamu-tamu yang datang, sehingga ilmu yang dia punya bermanfaat untuk orang lain.” Laptop menjelaskan dengan mata berkaca-kaca.

 

“Bagaimana dengan pemilikmu, Laptop?” Tanya Si Desktop lagi.

“Pemilikku sering mendiamkan aku saja. Dia hanya sering bermain game berjam-jam dan menggunakan internet hanya untuk bersenang-senang dan melihat situs-situs yang tidak berguna. Belum lagi dia selalu memamerkan diriku di depan teman-temannya. Aku hanyalah barang pameran yang sering di bawa kemana-mana hanya untuk kepuasan semu belaka, tanpa ada manfaat yang berarti. Padahal aku mampu melakukan lebih banyak daripada itu. Aku ingin sepertimu, Desktop” Jawab Si Laptop lirih.

 

Desktop tertegun mendengar penjelasan Laptop. Ia termenung membayangkan kondisi Si Laptop.

“Sekarang, apakah kau mau menjadi seperti aku?” Tanya Laptop, memecah lamunan Desktop.

 

“Tidak, Laptop. Aku kini bersyukur bahwa ternyata pemilikku menggunakan aku dengan sangat baik, meskipun aku sudah tua dan lambat, tetapi aku sering melakukan hal-hal bermanfaat dan banyak membantu orang.” Desktop tersenyum.

 

“Kau benar Desktop, apalah arti sebuah penampilan, merk, dan segala kecanggihan yang aku punya, jika ternyata tidak mampu bermanfaat bagi banyak orang. Aku tidak lebih baik darimu.” Kata Laptop dengan bijaksana.

 

Si Desktop kini tersenyum. Komputer tua itu kini menyadari, yang terpenting bukanlah sebaik apa penampilannya, melainkan sebesar apa manfaat yang bisa dia lakukan.

**

 

Pesan moral:

1.       Gunakanlah dan hargailah suatu barang bukan semata-mata karena penampilan fisik belaka, tetapi karena manfaatnya bagi diri sendiri dan orang lain.

2.       Lebih baik menjadi seperti alat sederhana yang berguna bagi orang lain, daripada menjadi seperti alat canggih yang tidak berguna.

 

Cerita ini diikutsertakan dalam Lomba Menulis Cerita Anak Sarikata.com 2011.