Frames, Green, Rustle and Sweet Tea

Hobby

Satu Minggu di Bogor (part 2)

Melanjutkan tulisan tentang satu minggu saya di Bogor yang luar biasa. Ini bagian kedua dari yang sebelumnya.

3. Kopdar Semanggi (29 Juli 2011)

Kopdar kali ini kopdar yang diadakan oleh dua Bunda, yaitu dua Ibu yang asalnya dari minang, yaitu Bunda Lily dan Bunda Bukit aka Nakjadimande (eh bener gak ya?) dan satu penggembira yang kita sudah tau siapa, ya benar Putri Usagi (lagi) 😆

Awalnya setelah kopdar Pasaraya bersama para Bapak-bapak, Putri mengajak saya untuk ikut kopdar bersama para Bunda hari sabtu di minggu yang sama, saya cuma manggut-manggut, hihihiihi… untung saja hari sabtu tersebut saya memang kosong, jadi tidak ada alasan untuk tidak hadir, mengingat saya kenal baik dengan dua bunda tersebut.

Singkat cerita, lagi-lagi saya dijemput Putri di Gambir, kondisi macet Bogor di tambah KRL yang sekarang dengan cemerlangnya berhenti di setiap stasiun, membuat saya telat! Putri bolak-balik sms saya, dan akhirnya kita ketemu di depan café something, saya lupa, pokoknya masih di gambir, lha… ternyata dua bunda itu juga ada dibelakang putri! Ups! Maaf Bund, membuat para ibu-ibu berumur ini menunggu sampe dirubung semut, hihiihihihi…

Jadilah di moment tersebut saya bertemu dengan Bunda Lily dan Bunda Bukit, sensasinya luar biasa! Hmm, sempat terjadi  ombrolan, kalau ternyata saya tidak seperti yang dibilang putri, masa kata dia ke para Bunda, “Prima itu cuma pendek, cuma sebahu” wuakakaakka… sial banget gak tuh! Well, ya akhirnya terbukti kalo si Putri lebay, dan merasa semua orang pendek, fiuuhhh… Kita berempat melanjutkan pertemuan di Plaza Semanggi, di lantai paling atas, yang outdoor tapi masih terbilang nyaman, maklum kata Bunda Lily dia maunya yang nyaman, gak capek, ini, itu, maklum sudah tua, hahahahaha…

Dalam perjalanan, Bunda Lily ngasih buku (lagi) ke saya, hahahaha… Makasih banget ya Bund, nambah-nambahin berat koper aja, wuakakakak… 😛

1. Bunda Lily, a.k.a. Bunda Don’t Worry a.k.a. Lily Suhana, beliau sudah sering saya liat penampakannya di beberapa kopdar, jadi bagi saya tidak kaget lagi, suara beliau juga saya pernah dengar via telepon, sangat ramah, keibuan, dan tetap fungky dan spontan! Hahahahaha… Lebih asik bertemu langsung daripada membaca tulisannya, karena beliau ternyata jago bercerita dan humoris. Bunda Lily sering sekali beradu opini dan menimpali Putri, ah mereka memang benar-enar seperti Ibu dan anak. Lihat saya sampai ada kejadian berfoto extreme macam begini, hahahahaha…

*

2. Bunda Bukit, a.k.a Najadimande, terkahir saya memanggilnya “Emak”, sama seperti cara Putri memanggilnya, ini membuat lebih mudah bagi saya, daripada memanggil keduanya Bunda, hahahaha… Jujur saya tidak pernah tahu wujud Bunda Bukit, saya pernah melihat di beberapa foto Putri sewaktu dia ke Bukit Tinggi, tetapi saya lupa, ternyata Bunda Bukit itu terlihat lebih muda dan lebih cantik, hihihiihi… sangat kalem, dan gak banyak bicara, tapi sekali bicara dalem, apalagi kalo nyindir si Putri, hahahahaah… Emak ini memang sepertinya diam-diam menjadi silent reader blog saya –ge-er.com, pernah satu kali beliau komen dengan username yang saya tidak kenal bahkan unik, eh ternyata setelah saya googling emailnya, ketahuan dia adalah Bunda Bukit, hahahahah… Makasih ya Mak. Selain itu Beliau kini malah rajin mengikuti weekly photo challenge, katanya sih gara-gara mulai suka pake Lightroom seperti yang selama ini saya lakukan, hahahaha… wah senangnya bisa menajdi inspirasi banyak orang.. 🙂

3. Putri Usagi, kalau yang ini tidak perlu dijelaskan, karena sudah sering diulas, hahahaha… mari kita skip! 😛

Setelah kurang lebih 30 menit, menikmati makan dan minum, tiba-tiba datang satu lagi tamu! Tamu yang saya juga kenal, yang saya juga kagumi, dan saya ingin sekali bertemu! Yup betul Bunda Monda!

4. Bunda Monda, a.k.a Monda Siregar, Bunda yang satu ini memang juga terlihat sudah berumur, tetapi wajahnya cerah, dan jauh lebih muda daripada di foto, hahahahah…  Bunda Monda adalah gambaran dari tulisan-tulisannya yang lembut dan keibuan, sangat jauh dari bayangan saya yaitu seorang Ibu-ibu batak yang gagah dan toak, hahahahaha… Bunda Monda sempet bingung memilih makanan di menu, akhirnya dia memilih apa yang saya tadi makan: Kwetiau Siram Seafood! Dan ternyata habis! Enak katanya! Hahahaha…. Recommended memang kalo makan di S*laria 😛

Kami akhirnya berbaur dengan banyak cerita, tentu saja terutama cerita dari marching band kita, sodari Putri Usagi, hahahahah… Ntah saya lupa apa saja yang kami bicarakan, pokoknya kita juga sempat berfoto-foto, dan seperti biasa, saat para blogger berfoto-foto, para tamu lain akan melongok dan bergumam “ini acara apaan ya? Kok heboh banget??” hahahaha… Kita juga sempet pindah meja, dan membuat banyak nota pesanan, karena bolak balik pesan makanan dan minuman, dan paling rame sendiri pula! Seru banget pokoknya…

Setelah acara selesai, sambil melangkah keluar gedung, kami juga sempat berfoto-foto lagi, terutama si Putri yang sengaja ngilang ke kamar mandi buat memastikan penampilannya Okeh, gubrak! Ini oleh-olehnya…

*

*

*

*

Kami melanjutkan acara jalan-jalan ke Monas, jadi alesannya sambil nganter saya ke gambir, sklaina jalan-jalan ke Monas, padahal ini akal-akalannya si Putri aja biar jadi model foto-foto, hahahaha… akhirnya kami, minus Bunda Monda, terpaksa ikut ke Monas, hahahah…

Di Monas, dua bunda memutuskan untuk menunggu saja ddekat pintu keluar, sedangkan saya dan Putri lanjut ke arah Monas. Langsung deh liat sesi foto-foto Putri, hahahaha…

*

*

*

Akhirnya perpisahan pun tiba, saya berpamitan dengan duo Bunda, dan Putri, saya sangat senang bisa kopdar dengan mereka semua…

Oh iya, sebenernya banyak foto-foto extreme yang diambil di sesi ini, cuma atas nama kemanusiaan saya tidak tega menguploadnya, wuakakakakak…

sedikit curhat…

Saya merasa sangat beruntung, saat saya datang ke Bogor dan Jakarta, banyak blogger yang mengajak atau tidak sengaja terajak kopdar, jadi waktu yang cuma sedikit itu bisa dimanfaatkan dengan maksimal. Saya merasa ngeblog bukan cuma sekedar mengisi waktu luang, tetapi juga menjalin silahturahmi, meningkatkan pengetahuan dan tentunya persahabatan yang bernilai plus-plus. Kami tidak saling mengenal, hanya mengenal lewat tulisan, tetapi pertemuan seperti sudah sangat diharapkan dan penuh dengan cerita-cerita seru. Om NH selalu bilang, this is the Beauty of Blogging, dan itu benar adanya.

Selama setahun belakangan, saya seorang pengangguran yang mencoba mengisi waktu dengan hal-hal bermanfaat, berusaha sibuk dengan apapun yang bisa menyibukkan, termasuk ngeblog. Terimakasih Tuhan yang telah memberikan jalan saya untuk membuat Blog. Saya banyak mengalami banyak peningkatan dari segi mental dan pengetahuan. Blog telah membuat hari-hari saya lebih berharga, berarti, dan penuh warna. Saya merasa orang-orang menyanyangi saya, seperti saya menyayangi mereka. Ini ajaib, karena kami tidak pernah bertemu sebelumnya. Untuk setahun terakhir ini saya banyak mengucapkan terimakasih untuk semua blogger-blogger yang telah menghiasi hidup saya…

Ke depan saya mungkin tidak akan serjain dahulu menulis, karena sudah ada kesibukan tetap yang akan saya kerjakan, tetapi saya akan coba selalu menulis, disetiap ada kesempatan.

Duh, panjang juga ya curhatnya, hahahahaha… OK, Lha!

Sampai jumpa di tulisan saya berikutnya tentang perjalanan panjang saya ke sebuah tempat yang indah…

Happy Blogging!

 

 


Satu Minggu di Bogor (part 1)


Tada! Nah ini yang sebenarnya saya ingin tulis setelah tidur panjang plus kemalasan yang melanda saya dua bulan terakhir, hahahaha…

Sahabat pasti sudah tahu bahwa saya dua minggu kemarin sedang berada di Bogor. Hey dreams come true! Saya pernah menulis sebuah tulisan berjudul “Seandainya Saya ke Bogor”, alhamdulilah, sekarang sudah terealisasi. Di dalam tulisan tersebut saya punya keinginan untuk melakukan kopdar dengan blogger-blogger yang selama ini menghiasi kolom komentar  blog ini, dan mengejutkannya, semua di luar imajinasi saya, di luar rencana dan harapan saya. 1 minggu di Bogor menjadi sangat luar biasa!

1. Kopdar Pasaraya (24 Juli 2011)

Gaya sedakep eileykhan…

*

Mas Sus diam-diam ambil foto ini pake kamera saya 😀

*

Kopdar ini sudah banyak ditulis oleh blogger-blogger lain yang mengikuti kopdar ini. Ini adalah kopdar pertama saya, dan I’m the lucky one, saya bisa kopdar dengan blogger-blogger senior yang somehow, sangat diharapkan kehadirannya di setiap kopdar di seputar Jakarta. Tidak semua blogger pernah kopdar dengan beliau-beliau ini, dan saya beruntung menemui mereka di kopdar pertama saya.

Putri Rizkia, aka Putri Usagi, dia adalah blogger yang dekat dengan saya, kami chat dan sering sms, dan ternyata sehari setelah saya tiba di Bogor, saya sms dia, dan dia serta merta mengajak ke acara kopdar yang diadakan Uda Vizon dan Om NH di Pasaraya. Saya ragu, minder, dan gugup, gimana ya ntar? Thanks banget buat Putri yang dengan gigihnya memaksa saya untuk ikut, bolak-balik confirm, sampai mengajak Mas Sus aka Mandor Tempe untuk ikut. Hahahhaha… dalam kopdar ini Putri menjadi salah satu point of interest, karena selain riang dan kocak, suaranya yang emang bak petasan dan sifatnya yang flamboyan * (baca SKSD) wuakakakaka… pokoknya untuk tau cerita selengkapnya silahkan kujungi cerita kopdar pasaraya versi Putri. Kesan saya sama putri: tepat seperti yang saya pikir, hahahaha…

Om NH,  Trainer dan kakak kelas saya satu ini memang saya sudah tunggu kesempatannya untuk kopdar. Bagi saya, beliau ini tempat saya mendapat konsultasi “psikologi” dengan gratis kalo ketemu di chat, hahahaha…  Dan memang, belaiu eileykhan sekali! Saya suka gaya dia menyambut kami, dengan jabat tangan dan sapaan yang sangat “muda”, hahahaha… Memang sih, ternyata si Om, keliatan jauh lebih “berusia” dibandingkan apa yang saya pikirkan, hahaha.. tetapi gaya bicara dan kehangatannya sama seperti di blog, sangat belia! Ntah bagiamana ceritanya, belum apa-apa obrolan kami sudah dibuka dengan obrolan tentang gigi, hahahaha… ya ampun.. hahahahhaha…:D Cerita kopdar ini versi Om NH bisa di baca disini.

Mas Necky, ada yang aneh dulu sewaktu saya pertama mampir di blog mas necky, sepertinya saya sudah berkenalan dengan dia sebelumnya, Hahahah.. aneh, padahal tidak pernah, sampai saya menelusiri tulisan-tulisannya. Ah,  mungkin karena saya pernah liat dia sebagai penulis tamu di rumah Om NH, hehehehe…  mas necky seperti yang saya bayangkan, tapi lebih tepatnya dia ternyata lebih asyik, lebih rame dan lebih kocak daripada bayangan saya, dan satu lagi, tidak segemuk yang di foto. Hahahahaha.. Dia dan putrid tidak hentinya ngorol tentang kereta, dan mereka memang cocok sebagai narasumber tentang KRL, ibaratnya udah kaya KRL Ambassador, hahahaha… Cerita kopdar versi Mas Necky.

Mas Sus, aka Mandor Tempe, hahahha, saya sempat iseng nanya ke putri “Apa Mandor tempe ikut kopdar?” Lha kok dilalah si Putri ngajak dia! Hahahhaha… Saya dan Mandor sering terlibat chat di YM dan FB,  kami  sering tukar pendapat dan ide, bagi saya dia kakak yang penuh motivasi, terutama dalam bisnis, hahahaha… well, tapi di kopdar dia memang sangat pemalu! Terlalu pemalu malah. Cara bicaranya medog jawa, arek Malang gitu lho (eh kita satu tempat lahir lho) hahahah.. Mas Sus lebih banyak diam, dan sesekali tertawa lepas, belakangan saya baru tau kalau dia ternyata sempat didiagnosa gejala tipes oleh dokter, wah, makasih lho mas, sudah bela-belain jauh-jauh dari Cibitung buat nyamperin kita-kita di kopdar… Mas Sus sama seperti yang dia bilang, cungkring dan tinggi, hiihihihhi…

Akhirnya saya memperolah foto “normal”nya. Eits.. Tapi untuk menjaga kemisteriusannya saya kasih foto yg ini aja, hahahaha..

Uda Vizon, saya tidak dekat dengan Uda Vizon, tapi saya sempat mampir ke tulisan beliau tentang Surau yang dibangun di Riau, hasil rekomendasi tulisan Om NH, dan bagaimana Om NH sangat mengagumi Uda Vizon, ntah berapa kali Uda Vizon menjadi pembahasan di blog om NH, jadi saya pikir, Beliau pasti orang special. Uda Vizon, hangat, berkarisma, kalem dan lebih cakep dan imut aslinya daripada di foto, hahahaha… Uda Vizon ini terlihat awet muda, hahahaha.. *sirik 😛 Uda Vizon sempat menyinggung acara kopdar ini di tulisan ini.

Mbak Em, nah, tamu terakhir yang datang di kopdar adalah mbak Imelda dari jepang! Beliu yangs sedang liburan di Indo, sempat diajak uda Vizon untuk nyamperin kita, wah, wah, beliau sama seperti yang saya bayangkan, ibu-ibu dendi yang hangat dan seru. Saya dulu sekali pernah mampir ke blognya, dan membaca biografinya yang panjaaaaaannngg sekali, hahahaha.. Meskipun kami jarang bertemu di blog, tetapi Mbak Em, memang sudah blogger kelas kakap yang mampu menghadapi blogger anak kemarin sore seperti saya dan Putri, hahahaha… Mbak em, juga bawa kamera nya Nikon D80 dan lensanya yang f nya 2. sekian… fiiuhhh… bikin ngiri banget 😛 Mbak em juga dengan piawainya mengulas kopdar ini di sini.

Nah setelah kita ngobrol ngalur ngidul sampe kurang lebih 3 jam, akhirnya kita berpisah, Bapak-bapak naik ke atas untuk sholat. Saya, putri dan mbak Em, ke Ragusa Ice Cream, tempat Putri pernah janji bakal traktir saya dan kopdar pun berlanjut, hahahah…  Karena Mbak Em juga penasaran sama es krim “klasik” ini akhirnya kita pesen es krim yang berbeda biar bisa saling icip, hahahahah… Seru banget, karena di sini Putri dan Mbak Em sempet dengan cuek beybehnya bernarsis ria, hahahha.. Cerita lengkapnya ada di tulisan Mbak Em di sini .

*

*

*

Oh iya, Makasih mbak Em, atas traktirannya. Di sana saya sebenernya udah sempet ketar-ketir, karena takut kemaleman sampe Bogor.  Acara es krim pun berakhir, Mbak Em pulang dengan mobilnya, Putri mengantar saya ke Gambir. Eh bener, ternyata sampai bogor saya kemaleman, angkutan sudah jarang, sempet nunggu 20 menit tanpa tanda-tanda angkot dan bis yang saya mau, fiuhh akhirnya ada juga! Jam 12 baru sampai rumah… ckckckckc…

2. Kopdar Kementrian Keuangan (Lapangan Banteng)

Hhahaha.. judulnya agak lebay, tapi memang peserta kopdar ini semua — kecuali saya,  bekerja di kementrian keuangan yang letaknya bersebalahan dengan Lapangan Banteng. Saya hari itu kebetulan sudah menyelesaikan sedikit urusan di sekitar Gambir, terus nelpon Mbak Devi, dan akhirnya kita bisa kopdar di kantin kantornya Mbak Devi. Eh ternyata ada peserta kopdar lain, yaitu Mbak Dewi dan mbak Laily.

Mbak Devi, nah mbak saya yang satu ini memang akrab karena sering komen di blog saya, beliau juga sempet email-emailan dan sms-an. Mbak devi persis seperti yang saya bayangkan, dan tidak segendut yang dia sering pusingkan, hahahahah… *gendutan mama saya 😛 Bertemu mbak Devi seperti bertemu mbak sendiri, seperti sudah kenal sebelumnya, padahal kita baru pertama bertemu, tetapi semuanya berjalan seperti biasa dan tidak ada kecanggungan. Feels like home…

Mbak Dewi, kalo mbak yang satu ini saya pernah liat fotonya sebagai penulis tamu di blog om NH, ya saya ingat! Belaiu juga alumni IPB, sssttt.. kata Mbak Devi Mbak Dewi salah satu pejabat penting di kantor itu, hihihihi… lucky me ketemu dia, sama seperti alumni-alumni IPB pada umumnya *halah narsis, mbak Dewi supel dan gak jaim, hahahahaha…

Mbak Laily,kalau mbak ini saya bener-bener baru tau, hahahaha… salam kenal ya mbak…

Ya meskipun saya baru bertemu ketiganya tapi obrolan kita alhmadulillah mengalir  dan enjoyable. Setelah kita bubra, saya ikut mbak Devi keliling gedung dan lapangan banteng, terus lanjut ke gramed, dan ke sekolahnya anak-anaknya Mbak Devi: Syafa, Rafif dan Rahma di Basement Masjid Istiqlal, seru banget, sampe ada acara foto-foto depan mesjid, hahaha…  Cerita lengkapnya ada di versi mbak Devi 😀 Panjang dan membuat saya terharu, hahahahah…

Syafa gak mau di foto 😛

Rafif dan temannya..

*

*

Blogger cilik 🙂

Panjang juga tulisan ini, lanjut ke part 2 ya ntar… 😀

I love Kopdar!


TLPC : Pameran Foto Perdana

Ini tulisan dadakan!

Hi pembaca setia blog ini, hahaha… maaf ya sudah lama tidak menulis, alasannya akan saya ceritakan nanti di postingan selanjutnya, yang pasti saya menulis kali ini sifatnya dadakan tapi harus, karena ini bentuk apresiasi saya terhadap keberhasilan sesuatu, bentuk rasa bahagia dan juga rasa haru…

Hari ini TLPC (Tanah Laut Photo Club), komunitas fotografi di kabupaten tempat saya tinggal yang sempat saya ceritakan disini dan disini melaksanakan pameran foto perdananya! Bertajuk “Wajah Tanah Laut” mengangkat hal tentang sumber daya alam, wisata dan sosial budaya di kabupaten tersebut. Pameran foto ini tentu tidak hanya menguras tenaga dan pikiran, tetapi cukup menguras biaya dan juga perasaan tentunya. Ada sebuah perjuangan yang tidak mudah di balik kesuksesan acara ini, ada sebuah cerita dan ada sebuah lika-liku panjang sebuah organisasi baru yang mengawali langkahnya dengan bermodal sebuah tekad… “Kita harus tunjukkan bahwa ada TLPC di kabupaten Tanah Laut”

“Langkah pertama ini pasti akan sangat sulit, tetapi setelah ini langkah-langkah selanjutnya pasti akan lebih mudah” begitu saya pernah bilang ke teman-teman, dan untuk itu, kita butuh tangan dan kaki yang 100 kali lebih kuat untuk menjadikan acara ini terwujud. Dalam keterbatasan kekompakan, keterbatasan dana, dan keterbatasan waktu kami seperti para pemimpi kecil sederhana yang tak putus asa. Jatuh bangun dalam kegiatan ini dan masalah-masalah datang silih berganti memecut kami untuk berjuang lebih keras.

Kini semua berbuah manis, kegiatan pameran foto tersebut terbilang sukses.

Sebuah sms meluncur ke HP saya:

“Acara dibuka oleh Bupati dan unsur muspida, Kapolres mau ikut bergabung sebagai Pembina/ Penasihat, Ketua DPRD Tanah Laut akan jadi ketua kita, Bupati dan Wakil Bupati interest sekali sama hasil karya kita dan membeli salah satunya dengan harga fantastis, dan banyak orang yang datang untuk melihat..”

Bergetar hati saya membacanya, mengetahui perjuangan selama ini tidak sia-sia, ada genangan tipis di mata saya, “Selamat teman-teman atas kesuksesan kita”  dalam hati saya.

Hari ini saya hanya diam di kamar saya di Bogor, ribuan kilo dari tempat acara berlangsung. Hari ini saya menuliskan status di FB tentang suasana Bogor hari ini yang panas, kering dan barangin, mengingatkan saya tentang Pelaihari, tempat acara tersebut berlangsung, dan saya benar-benar ingin berada di sana hari ini.

Berbagai ucapan terimakasih, ungkapan syukur dan kebahagiaan datang silih berganti malam ini, seolah sudah cukup membuktikan kepada saya bahwa acara tersebut berjalan sukses meskipun saya tidak melihatnya dengan mata dan kepala sendiri. Hari pertama puasa ini seperti penuh dengan rahmat dan rasa syukur yang teramat, khususnya saya yang sedang jauh dari teman-teman seperjuangan. Hari ini hari pertama puasa ramadhan, hari ini hari ulang tahun anggota kami, Bagus, dan hari ini pula hari pameran perdana kami yang sukses. Tuhan sungguh perencana yang ulung. Alhamdulillah.

Sedikit flashback tentang saya dan TLPC…

Saya adalah “anak baru” di lingkungan Pelaihari, Kab. Tanah Laut, saya dipertemukan oleh anak-anak TLPC melalui sebuah grup di FB sekitar Januari 2011. TLPC berkembang pesat sampai akhirnya terbentuk organisasi dan rencana kegiatan, yaitu pameran pertama ini.

Saya yang seorang pengangguran tentu saja seperti menemukan tempat pelarian untuk mengamalkan kapasitas saya, semampu yang saya bisa. Berbekal sedikit ilmu dari bangku perkuliahan saya ikut aktif dalam persiapan kegiatan, mulai dari nol sampai sekarang, itulah mengapa saya tau persis betapa beratnya perjuangan kami.

Saya tahu bahwa saya tidak akan lama berdiam di tempat ini, maka saya pernah menolak saat ditunjuk untuk menjadi pengurus, saya tidak bisa menjamin sampai kapan saya masih ada di Pelaihari, sedangkan cepat atau lambat waktu perpisahan itu akan tiba, dan saya sadar akan itu.

Teman-teman di TLPC adalah orang-orang yang optimis dan penuh semangat, dan saya percaya itu, saya bisa merasakannya, dan saya memutuskan untuk “bergembira” bersama mereka, karena saya tau, ada potensi di dalamnya, ada cahaya kesuksesan yang belum tampak, maka dari itu saya tidak main-main di dalamnya. Saya bergembira, tetapi tidak main-main dalam bergembira 🙂

Persiapan pameran seperti  menuntut kami untuk lebih kreatif dan kritis mencari objek foto. Kegiatan hunting bersama seperti tidak ada habis-habisnya menghiasi hari-hari saya dua bulan terakhir, belum lagi kegiatan menyebarkan proposal yang kejar-kejaran dengan ketatnya waktu yang tersisa. Awalnya acara ini akan dilaksanakan sebelum bulan puasa, tapi sempat tertunda sampai akhirnya terlaksana hari ini (1 Agustus 2011). Kami melakukan yang terbaik yang kami bisa, sampai di hari-hari terakhir saya di sana…

Akhirnya kurang lebih satu minggu sebelum tanggal pelaksanaan acara pameran, saya harus meninggalkan Pelaihari, untuk kembali meniti karir saya kembali. Sebuah moment yang saya tunggu tetapi tidak saya inginkan.  Berat, tetapi harus. Ada rasa sedih dan “tanggung” karena harus meninggalkan acara yang hampir selesai ini. Saya terbang ke Jakarta dan stay di Bogor untuk sementara waktu. Maaf teman-teman, saya tidak bisa berpamitan ke setiap orang saat itu.

Sekarang,

Saya tahu ada senyum di setiap wajah teman-teman TLPC, hari ini, sebuah langkah pertama, sebuah langkah besar untuk keberlangsungan organisasi kita telah terlaksana. Doa dan air mata itu terjawab sudah. Harapan dan cita-cita semakin jelas terlihat.

Saya bangga pernah menjadi bagian dari kalian, dan saya jujur berat sekali harus meninggalkan TLPC, karena saya sudah merasa memiliki dan menemukan wadah yang membuat saya “berarti”. Kenangan dan persahabatan yang kita jalin selama ini tentu saja sangat terukir di ingatan saya, saya menghargainya dan tidak menyangkal bahwa semua sangat berarti bagi saya.

Sahabat dan rekan-rekan TLPC,

Saya mungkin akan berada jauh dan sangat jauh dari Pelaihari, tetapi saya tentu akan terus mendukung TLPC. Hehehhe, kan masih ada internet. Mohon jaga dan terus kembangkan komunitas ini menjadi komunitas yang baik, produktif dan berkualitas. Kekompakan, kerja keras, dan rasa memiliki adalah kunci keberhasilan langkah-langkah kita ke depan. Saya turut mendoakan dari sini.

Ah, sudah cukup menjadi sentimental! Mari bergembira atas kesuksesan ini! Saya terharu bahagia malam ini, karena kita berhasil! Well done! Terus semangat!

This slideshow requires JavaScript.

“Saya datang ke TLPC tanpa membawa apa-apa, tetapi saya pergi membawa ribuan kisah dan kenangan, terima kasih TLPC”

Salam Jepret!


Fotografer atau Photoshoper?

Sudah lama rasanya saya tidak menulis, dan minggu ini saya sedikit ingin menulis tentang ganjalan yang ada di hati… *halah lebay 😀

Langsung saja, di sebuah forum fotografi saya terperanjat pada sebuah topik atau thread yang bertajuk “Sejauh mana olah digital diterima?” dengan pertanyaan awal sebagai berikut:

“Hampir semua foto yang dipublikasikan di sini hasil olahan, bahkan sedemikian rupa sehingga kekuatan alami gambar tersamarkan oleh keindahan artistik bikinan photoshop. Apa iya, harus diolah sampai sejauh itu? Saya sendiri berdisiplin hanya sebatas cropping, dan penajaman warna (optimized color). Bagaimana menurut Anda? Pilih alami atau olah digital yang all out?” (A. Sofyan)

Kemudian saya teringat dulu sekali, ada sebuah komentar seorang blogger di blog saya, saya lupa persisnya, kira-kira begini:

“Saya suka fotografi, tapi saya ingin jadi fotografer handal, dan bukan seorang photoshoper yang handal mengedit foto”

Ya dengan kata lain, bisa dibilang saya bukan fotografer, tapi hanya seorang ahli photoshop atau software edit gambar yang selama ini memanipulasi gambar menjadi bagus. Kemudian saya berpikir, apa yang salah? bagaimana sebenarnya?

Berbicara tentang foto yang tampil di blog ini selama ini. Ya, saya mengakui, sebagian besar telah melaui proses editing, ntah itu warna, brightness, kontras, dan kawan-kawan. Lalu apakah saya bisa disebut Photoshoper (pengguna Photoshop) atau Lightroomer (pengguna lightroom)? Ya itu benar. Lalu apakah saya bukan fotografer?

Saya tidak bisa menjawab ini. “Fotografer”, kata itu terdengar terlalu berat. Saya cuma tahu saya suka memotret dan kebetulan saya punya kamera DSLR (yang hanya) entry level. Jika saya disebut fotografer, rasanya saya bukan ahli, dan saya sendiri tidak menghasilkan uang dengan fotografi atau hasil karya saya bukan maha karya yang dikenal oleh para pakar fotografi di negeri ini. Intinya sejauh ini saya cuma seorang hobiis. It saja mungkin.

Jadi bisa dikatakan saya seorang picture editor yang suka memotret, atau photoshoper yang suka fotografi *bingung kan?

Pertanyaan selanjutnya: Apa menjadi photoshoper itu “hina” dalam dunia fotografi? Pertanyaan ini hakikatnya hampir sama dengan pertanyaan di forum yang saya kutip di atas. berikut beberapa jawaban-jawaban dari anggota forum.

“Memang oldig dan photography tidak bisa dipisahkan dan sudah menjadi satu kesatuan. Tapi saya masih percaya bahwa oldig adalah nomer urut kesekian. No 1 adalah belajar membuat foto sebaik mungkin, dengan minimal Oldig (olah digital). Toh kita kan fotografer, buka photoshoper.” (Widjaja)

“Jauh sebelum ada photoshop, banyak pencetak yang menerima jasa mengolah foto di kamar gelap dengan hasil yang tidak kalah ekstrim dibanding sekarang. Toh hasilnya diakui sebagai karya sang fotografer, lalu di era digital, dengan sedikit belajar, kita semua menjadi bisa karena dimudahkan oleh teknologi, bukankah seharusnya lebih diterima” (Johntefon)

“Buat saya tidak penting apakah foto itu diolah atau tidak,
tetapi lebih kepada apakah foto itu indah dan bisa dinikmati atau tidak..
karena pada akhirnya orang lain menilai hasil akhir sebuah foto, bukan prosesnya…ya ngga?” (Iskandar)

 

“Batasan oldig susah dijelaskan ya .. tapi OLDIG kalo dari persepsi saya, adalah suatu pengolahan pada foto yang tidak mempengaruhi mata .. artinya …. dalam arti orang tidak tahu kalau foto ini telah melewati proses olah digital .. itu batasannya menurut saya ^^”(agoes)”

Nah ternyata banyak pro kontra juga ya.

Istilah “fotografer” cenderung menyangkut hal yang berkenaan dengan teknis memotret dan seni dalam menciptakan foto. Lalu bagaimana dengan photoshoper dan kawan-kawan? Kalo menurut saya, seorang photoshoper, atau lightroomer, atau Olah digitaler, dan kawan-kawannya itu tidak hina. Siapa bilang mereka unskill? gak pake teknis, atau gak pake seni?

Seperti tulisan saya di “Cuma Masalah Selera“, ternyata gak cuma fotografer yang punya selera, tapi photoshoper juga butuh selera dan seni tentunya. Katakanlah dua orang photoshoper diberikan foto yang sama dan software yang sama, apakaha hasilnya sama? tentu tidak kan? apakah dua supir angkot menyetir angkot yang sama akan sama enaknya? tentu tidak.

Photoshoper yang baik mengetahui elemen-elemen seni dalam grafis. Mengetahui warna dan perpaduannya, mengetahui cahaya dan pengaturannya, mengetahui apa yang salah dari suatu foto dan bagaamana memperbaikinya, dan pastinya mengetahui apakah foto mentahan yang dia akan edit itu bagus atau tidak untuk diedit. Nah lho! 🙄

Software hanya sebuah alat, saya pernah membaca tulisan: Jangan pernah berpikir photoshop bisa “menyelamatkan” foto kita, photoshop hanya “memperbaiki” atau “menyempurnakan”. Jujur saya juga merasa, selalu liat-liat dulu apakah foto saya ini “layak” edit atau tidak. Saya tidak pernah berpikir untuk mengubah foto blur menjadi super tajam, atau foto jelek menjadi foto yang luar biasa. Intinya apa? Hasil edit photoshop sangat tergantung kualitas foto mentahnya, jika foto mentahnya sudah tidak menjanjikan, contoh: tidak focus, atau blur, maka tidak akan menghasilkan hasil edit yang bagus. Saya jamin! Saya sendiri sering mengalami situasi dimana saya menyerah untuk mengedit foto hasil jepretan sendiri. Awalnya saya pikir saya bisa melakukan ini-itu terhadap foto tersebut, ternyata tidak. Saya akhirnya lebih baik tidak menampilkannya daripada menampilkan hasil foto yang “cacat” (at least di mata saya).

Ternyata menjadi seorang photoshoper juga tidak sembarangan kan? Di luar kekuatan teknis digital, mereka juga harus dibekali ilmu-ilmu fotografi yang memadai, foto-foto yang memang baik (mentahnya), dan tentunya kelihaian dalam melihat kelebihan dan kekurangan suatu foto.

Lalu sampai mana batas olah digital atau editing foto itu?

Tidak ada yang membatasi. Ada yang typical hanya mengedit “apa yang ada”, tetapi ada juga yang typical  “membuat ada”, atau mereka menyebutnya digital imaging. Itu lho, yang suka mengabungkan beberapa image/gambar jadi kesatuan foto yang terlihat alami, tetapi umumnya kita bisa masih bisa melihat kalau foto itu adalah manipulasi, dari yang “luwes” nan alami sampai yang “extreme” nan ajaib seperti kuda bersayap, gadis bersayap malaikat, pelangi dan peri-peri yang muncul di kebun bunga, atau tiba-tiba ada sepasang kekasih berbaju pengantin jawa dengan background menara eiffel, hahahahah… semua lumrah. Boleh-boleh saja. Tapi saya adalah typical “apa yang ada”, apa yang saya tampilkan di blog ini semua adalah asli / apa adanya. Tidak ada penambahan atau penggabungan dengan foto lain.

Seperti foto di atas. Meskipun hal itu bisa terjadi, jangan pernah berpikir saya menggabungkan foto sampah dan foto ayam, kemudian menghasilkan gambar seperti ini. Hehehhe… Jika pun saya nanti melakukannya, saya pasti bilang. 😀

Saya sendiri menyukai foto editan yang sedemikan rupa sealami mungkin. Meskipun memang terkadang ada editan yang tidak sempurna alami, tetapi saya ingin foto editan saya tidak “menganggu” mata yang melihat atau dengan kata lain mereka yang melihat merasa foto saya wajar dan bisa diterima oleh akal. Tidak ada celetukan “kok aneh ya?” atau “kok lebay sih”? Saya sendiri masih belajar untuk itu dan akan terus belajar.

Jadi intinya apaan?

Ya, apapun cara mengolah foto kita, mau tanpa editing atau dengan editing, yang terpenting adalah hasil akhir dan bagaimana orang lain bisa menikmatinya. Karena tujuan kita memotret pasti ingin berbagi dengan orang lain, ingin orang lain melihat sisi indah suatu objek yang kita lihat. Syukur-syukur hasil akhir itu disukai oleh orang lain.

Sekali lagi ini hanya pendapat saya, tidak ada tujuan mengajari atau mencari pembenaran. Saya hanya mengungkapkan apa yang saya pikir. Maklum aja kalo ada salah, namanya juga pemula, hihiihih.. Semoga bisa memberikan pencerahan dan bermanfaat buat pembaca.

Hihiihih… masih alami kan? 😀 😀 😀

Salam Jepret!


Sedikit Kata…

Pembaca dan sahabat blogger,

Mungkin sahabat-sahabat blogger sedikit banyak bertanya mengapa saya sekarang sudah jarang menulis dan melakukan blogwalking. Ya, saya sibuk akhir-akhir ini di dunia offline, ada kesibukan yang menuntut waktu saya sedikit lebih banyak dari biasanya, sehingga draft-draft tulisan hanya tersimpan di otak saya.

Saya juga mohon maaf tidak bisa membalas komen-komen yang selalu setia mengisi halaman-halaman postingan saya. Saya ucapkan terimakasih. Saya tentu membaca semua komen dan membalasnya dalam hati, tetapi jika saya rasa sangat urgen, maka saya baru akan menuliskannya. Saya juga akan blogwalking satu dua kali di waktu-waktu senggang saya.

Untuk mengisi kekosongan postingan saya, dan sekaligus mengurangi kejenuhan menulis, saya sengaja memposting foto-foto hasil karya saya. Syukur-syukur bisa tetap dinikmati. Apakah saya ingin mengubah blog ini menjadi Photoblog? Saya rasa tidak, kelak saya akan menulis lagi, bagi saya rumah ini hanyalah tempat saya bercerita dan berbagi, satu waktu bisa dalam bentuk tulisan, lain waktu berupa gambar…

Photo by Ipunk DJ (mesinketik.com)

Pembaca,

Ya, hanya inilah yang saya punya. Semoga bisa bermanfaat 🙂

Salam,

Prima

*

PS: mau tau itu foto di mana? Nantikan laporan hunting foto bareng TLPC 🙂


Pengantin diarak Ontel

Ya, itulah Bagus, teman saya yang diarak oleh para ontelis, para pecinta sepeda ontel di kabupaten Tanah Laut yang tergabung dalam WASIAT TALA (Wadah Sapida Tuha Tanah Laut). Bagus sendiri adalah anggota WASIAT sekaligus anggota TLPC (Tanah Laut Photo Club), komunitas fotografi dimana saya bergabung.

Sebuah Kartu Ucapan

Minggu. 15 Mei 2011, pukul 9 pagi, arak-arakan dimulai dari rumah Bapak Ibnu, ketua komunitas ontel, dan berakhir di rumah mempelai tempat berlangsungnya acara resepsi pernikahan. Rutenya? Keliling kota Pelaihari! Hahahahahah… Arak-arakan ini mengikutsertakan anggota WASIAT sendiri, beberapa penggemar ontel Banjarbaru dan Banjarmasin, plus beberapa anggota komunitas fotografi. Sedangkan anggota TLPC yang lain menyebar di beberapa titik untuk mengabadikan gambar moment yang unik dan jarang terjadi tersebut, termasuk saya.

Mempelai diarak menggunakan becak yang dihias dan diikuti oleh peserta arak-arakan yang lengkap dengan baju-baju retro-vintage dan baju tradisional, aaahh… seru sekali, benar-benar seperti kembali jaman tempo dulu! Acara unik ini tentu saja menjadi perhatian masyarakat sekitar, selain karena jarang terjadi, kemacetan sempat terjadi di beberapa titik, belum lagi bunyi bel sepeda yang khas sekali 🙂 Menghibur sekali. Di tengah rute, arak-arakan berhenti sejenak di Taman Tugu di pusat kota untuk melakukan sesi foto-foto bersama. Sungguh suatu kejutan dan apresiasi tersendiri bagi Bagus dan Ifeh pada hari pernikahan mereka tersebut. Acara ini juga menjadi ajang pembuktian eksistensi penggemar ontel dan fotografi di wilayah kabupaten Tanah Laut.

Di akhir rute, arak-arakan sempat berteduh ditepi jalan, karena tiba-tiba hujan turun dengan derasnya. Tetapi acara berjalan dengan sukses, setelah acara arak-arakan selesai, acara resepsi diteruskan seperi biasa. Kami para peserta dan pendukung acara arak-arakan makan bersama di sana.

Berfoto dengan TLPC

*

Seperti biasa nih, saya kasih foto-foto acaranya…

This slideshow requires JavaScript.

Simply edited with Lightroom 3.3 as usual…

*

Buat Mas Bagus dan Ifeh, Selamat menempuh hidup baru, dan Semoga menjadi keluarga idaman dan rame rumahnya sama anak-anak, hahahaha…:mrgreen:

PS: Mas Isro, ini lho acara yang saya pernah singgung kapan hari itu… 😀

Salam Jepret!


Belajar Prewedding

Hmmm… kira-kira 3 atau 4 bulan yang lalu, teman saya, tepatnya kakak kelas SD saya sekaligus tetangga dekat sewaktu kecil meminta saya untuk membuat foto prewed sederhana. Saya dengan (sedikit) pede menyanggupinya. Itung-itung bantuin teman sekaligus bisa belajar moto prewed lagi (dulu udah pernah sekali).

Foto-foto berikut diambil di 3 lokasi yang berbeda, mengambil waktu 2 hari. Di sawah, di sawah dekat gunung, dan di pantai. Dilema saya selama pemotretan, saya belum bisa mengambil ekspresi yang “pas” dari mereka. Selain karena saya kurang cepat dan cekatan mengambil gambar, saya juga paling gak bisa mengarahkan gaya... 😦 *I am tired of this. Jadilah banyak ekspresi yang saya pikir seharusnya bisa lebih baik. That’s okey, I am learning anyway.. 🙂

Lagi-lagi saya bermain warna dengan Lightroom 3.3, jadi jangan heran kalau ada beda suasana/warna dengan foto yang sama. Maksud hati semoga yang melihat tidak bosan dengan bermcam-macam warna yang saya buat disini. I am happy with this project! 😀 rasanya semakin lama semakin cinta dengan Lightroom, hehehehe…

Watch out for more than 50 pictures coming! Enjoy!

This slideshow requires JavaScript.

Buat Mbak Nurul dan Mas Harto, saya ucapkan selamat menempuh hidup baru, semoga langgeng terus ya sampai kakek-nenek dan aku segera dapet ponakan, hihihihhi…

Salam Jepret!