Frames, Green, Rustle and Sweet Tea

Hobby

Satu Minggu di Bogor (part 2)

Melanjutkan tulisan tentang satu minggu saya di Bogor yang luar biasa. Ini bagian kedua dari yang sebelumnya.

3. Kopdar Semanggi (29 Juli 2011)

Kopdar kali ini kopdar yang diadakan oleh dua Bunda, yaitu dua Ibu yang asalnya dari minang, yaitu Bunda Lily dan Bunda Bukit aka Nakjadimande (eh bener gak ya?) dan satu penggembira yang kita sudah tau siapa, ya benar Putri Usagi (lagi) 😆

Awalnya setelah kopdar Pasaraya bersama para Bapak-bapak, Putri mengajak saya untuk ikut kopdar bersama para Bunda hari sabtu di minggu yang sama, saya cuma manggut-manggut, hihihiihi… untung saja hari sabtu tersebut saya memang kosong, jadi tidak ada alasan untuk tidak hadir, mengingat saya kenal baik dengan dua bunda tersebut.

Singkat cerita, lagi-lagi saya dijemput Putri di Gambir, kondisi macet Bogor di tambah KRL yang sekarang dengan cemerlangnya berhenti di setiap stasiun, membuat saya telat! Putri bolak-balik sms saya, dan akhirnya kita ketemu di depan café something, saya lupa, pokoknya masih di gambir, lha… ternyata dua bunda itu juga ada dibelakang putri! Ups! Maaf Bund, membuat para ibu-ibu berumur ini menunggu sampe dirubung semut, hihiihihihi…

Jadilah di moment tersebut saya bertemu dengan Bunda Lily dan Bunda Bukit, sensasinya luar biasa! Hmm, sempat terjadi  ombrolan, kalau ternyata saya tidak seperti yang dibilang putri, masa kata dia ke para Bunda, “Prima itu cuma pendek, cuma sebahu” wuakakaakka… sial banget gak tuh! Well, ya akhirnya terbukti kalo si Putri lebay, dan merasa semua orang pendek, fiuuhhh… Kita berempat melanjutkan pertemuan di Plaza Semanggi, di lantai paling atas, yang outdoor tapi masih terbilang nyaman, maklum kata Bunda Lily dia maunya yang nyaman, gak capek, ini, itu, maklum sudah tua, hahahahaha…

Dalam perjalanan, Bunda Lily ngasih buku (lagi) ke saya, hahahaha… Makasih banget ya Bund, nambah-nambahin berat koper aja, wuakakakak… 😛

1. Bunda Lily, a.k.a. Bunda Don’t Worry a.k.a. Lily Suhana, beliau sudah sering saya liat penampakannya di beberapa kopdar, jadi bagi saya tidak kaget lagi, suara beliau juga saya pernah dengar via telepon, sangat ramah, keibuan, dan tetap fungky dan spontan! Hahahahaha… Lebih asik bertemu langsung daripada membaca tulisannya, karena beliau ternyata jago bercerita dan humoris. Bunda Lily sering sekali beradu opini dan menimpali Putri, ah mereka memang benar-enar seperti Ibu dan anak. Lihat saya sampai ada kejadian berfoto extreme macam begini, hahahahaha…

*

2. Bunda Bukit, a.k.a Najadimande, terkahir saya memanggilnya “Emak”, sama seperti cara Putri memanggilnya, ini membuat lebih mudah bagi saya, daripada memanggil keduanya Bunda, hahahaha… Jujur saya tidak pernah tahu wujud Bunda Bukit, saya pernah melihat di beberapa foto Putri sewaktu dia ke Bukit Tinggi, tetapi saya lupa, ternyata Bunda Bukit itu terlihat lebih muda dan lebih cantik, hihihiihi… sangat kalem, dan gak banyak bicara, tapi sekali bicara dalem, apalagi kalo nyindir si Putri, hahahahaah… Emak ini memang sepertinya diam-diam menjadi silent reader blog saya –ge-er.com, pernah satu kali beliau komen dengan username yang saya tidak kenal bahkan unik, eh ternyata setelah saya googling emailnya, ketahuan dia adalah Bunda Bukit, hahahahah… Makasih ya Mak. Selain itu Beliau kini malah rajin mengikuti weekly photo challenge, katanya sih gara-gara mulai suka pake Lightroom seperti yang selama ini saya lakukan, hahahaha… wah senangnya bisa menajdi inspirasi banyak orang.. 🙂

3. Putri Usagi, kalau yang ini tidak perlu dijelaskan, karena sudah sering diulas, hahahaha… mari kita skip! 😛

Setelah kurang lebih 30 menit, menikmati makan dan minum, tiba-tiba datang satu lagi tamu! Tamu yang saya juga kenal, yang saya juga kagumi, dan saya ingin sekali bertemu! Yup betul Bunda Monda!

4. Bunda Monda, a.k.a Monda Siregar, Bunda yang satu ini memang juga terlihat sudah berumur, tetapi wajahnya cerah, dan jauh lebih muda daripada di foto, hahahahah…  Bunda Monda adalah gambaran dari tulisan-tulisannya yang lembut dan keibuan, sangat jauh dari bayangan saya yaitu seorang Ibu-ibu batak yang gagah dan toak, hahahahaha… Bunda Monda sempet bingung memilih makanan di menu, akhirnya dia memilih apa yang saya tadi makan: Kwetiau Siram Seafood! Dan ternyata habis! Enak katanya! Hahahaha…. Recommended memang kalo makan di S*laria 😛

Kami akhirnya berbaur dengan banyak cerita, tentu saja terutama cerita dari marching band kita, sodari Putri Usagi, hahahahah… Ntah saya lupa apa saja yang kami bicarakan, pokoknya kita juga sempat berfoto-foto, dan seperti biasa, saat para blogger berfoto-foto, para tamu lain akan melongok dan bergumam “ini acara apaan ya? Kok heboh banget??” hahahaha… Kita juga sempet pindah meja, dan membuat banyak nota pesanan, karena bolak balik pesan makanan dan minuman, dan paling rame sendiri pula! Seru banget pokoknya…

Setelah acara selesai, sambil melangkah keluar gedung, kami juga sempat berfoto-foto lagi, terutama si Putri yang sengaja ngilang ke kamar mandi buat memastikan penampilannya Okeh, gubrak! Ini oleh-olehnya…

*

*

*

*

Kami melanjutkan acara jalan-jalan ke Monas, jadi alesannya sambil nganter saya ke gambir, sklaina jalan-jalan ke Monas, padahal ini akal-akalannya si Putri aja biar jadi model foto-foto, hahahaha… akhirnya kami, minus Bunda Monda, terpaksa ikut ke Monas, hahahah…

Di Monas, dua bunda memutuskan untuk menunggu saja ddekat pintu keluar, sedangkan saya dan Putri lanjut ke arah Monas. Langsung deh liat sesi foto-foto Putri, hahahaha…

*

*

*

Akhirnya perpisahan pun tiba, saya berpamitan dengan duo Bunda, dan Putri, saya sangat senang bisa kopdar dengan mereka semua…

Oh iya, sebenernya banyak foto-foto extreme yang diambil di sesi ini, cuma atas nama kemanusiaan saya tidak tega menguploadnya, wuakakakakak…

sedikit curhat…

Saya merasa sangat beruntung, saat saya datang ke Bogor dan Jakarta, banyak blogger yang mengajak atau tidak sengaja terajak kopdar, jadi waktu yang cuma sedikit itu bisa dimanfaatkan dengan maksimal. Saya merasa ngeblog bukan cuma sekedar mengisi waktu luang, tetapi juga menjalin silahturahmi, meningkatkan pengetahuan dan tentunya persahabatan yang bernilai plus-plus. Kami tidak saling mengenal, hanya mengenal lewat tulisan, tetapi pertemuan seperti sudah sangat diharapkan dan penuh dengan cerita-cerita seru. Om NH selalu bilang, this is the Beauty of Blogging, dan itu benar adanya.

Selama setahun belakangan, saya seorang pengangguran yang mencoba mengisi waktu dengan hal-hal bermanfaat, berusaha sibuk dengan apapun yang bisa menyibukkan, termasuk ngeblog. Terimakasih Tuhan yang telah memberikan jalan saya untuk membuat Blog. Saya banyak mengalami banyak peningkatan dari segi mental dan pengetahuan. Blog telah membuat hari-hari saya lebih berharga, berarti, dan penuh warna. Saya merasa orang-orang menyanyangi saya, seperti saya menyayangi mereka. Ini ajaib, karena kami tidak pernah bertemu sebelumnya. Untuk setahun terakhir ini saya banyak mengucapkan terimakasih untuk semua blogger-blogger yang telah menghiasi hidup saya…

Ke depan saya mungkin tidak akan serjain dahulu menulis, karena sudah ada kesibukan tetap yang akan saya kerjakan, tetapi saya akan coba selalu menulis, disetiap ada kesempatan.

Duh, panjang juga ya curhatnya, hahahahaha… OK, Lha!

Sampai jumpa di tulisan saya berikutnya tentang perjalanan panjang saya ke sebuah tempat yang indah…

Happy Blogging!

 

 


Satu Minggu di Bogor (part 1)


Tada! Nah ini yang sebenarnya saya ingin tulis setelah tidur panjang plus kemalasan yang melanda saya dua bulan terakhir, hahahaha…

Sahabat pasti sudah tahu bahwa saya dua minggu kemarin sedang berada di Bogor. Hey dreams come true! Saya pernah menulis sebuah tulisan berjudul “Seandainya Saya ke Bogor”, alhamdulilah, sekarang sudah terealisasi. Di dalam tulisan tersebut saya punya keinginan untuk melakukan kopdar dengan blogger-blogger yang selama ini menghiasi kolom komentar  blog ini, dan mengejutkannya, semua di luar imajinasi saya, di luar rencana dan harapan saya. 1 minggu di Bogor menjadi sangat luar biasa!

1. Kopdar Pasaraya (24 Juli 2011)

Gaya sedakep eileykhan…

*

Mas Sus diam-diam ambil foto ini pake kamera saya 😀

*

Kopdar ini sudah banyak ditulis oleh blogger-blogger lain yang mengikuti kopdar ini. Ini adalah kopdar pertama saya, dan I’m the lucky one, saya bisa kopdar dengan blogger-blogger senior yang somehow, sangat diharapkan kehadirannya di setiap kopdar di seputar Jakarta. Tidak semua blogger pernah kopdar dengan beliau-beliau ini, dan saya beruntung menemui mereka di kopdar pertama saya.

Putri Rizkia, aka Putri Usagi, dia adalah blogger yang dekat dengan saya, kami chat dan sering sms, dan ternyata sehari setelah saya tiba di Bogor, saya sms dia, dan dia serta merta mengajak ke acara kopdar yang diadakan Uda Vizon dan Om NH di Pasaraya. Saya ragu, minder, dan gugup, gimana ya ntar? Thanks banget buat Putri yang dengan gigihnya memaksa saya untuk ikut, bolak-balik confirm, sampai mengajak Mas Sus aka Mandor Tempe untuk ikut. Hahahhaha… dalam kopdar ini Putri menjadi salah satu point of interest, karena selain riang dan kocak, suaranya yang emang bak petasan dan sifatnya yang flamboyan * (baca SKSD) wuakakakaka… pokoknya untuk tau cerita selengkapnya silahkan kujungi cerita kopdar pasaraya versi Putri. Kesan saya sama putri: tepat seperti yang saya pikir, hahahaha…

Om NH,  Trainer dan kakak kelas saya satu ini memang saya sudah tunggu kesempatannya untuk kopdar. Bagi saya, beliau ini tempat saya mendapat konsultasi “psikologi” dengan gratis kalo ketemu di chat, hahahaha…  Dan memang, belaiu eileykhan sekali! Saya suka gaya dia menyambut kami, dengan jabat tangan dan sapaan yang sangat “muda”, hahahaha… Memang sih, ternyata si Om, keliatan jauh lebih “berusia” dibandingkan apa yang saya pikirkan, hahaha.. tetapi gaya bicara dan kehangatannya sama seperti di blog, sangat belia! Ntah bagiamana ceritanya, belum apa-apa obrolan kami sudah dibuka dengan obrolan tentang gigi, hahahaha… ya ampun.. hahahahhaha…:D Cerita kopdar ini versi Om NH bisa di baca disini.

Mas Necky, ada yang aneh dulu sewaktu saya pertama mampir di blog mas necky, sepertinya saya sudah berkenalan dengan dia sebelumnya, Hahahah.. aneh, padahal tidak pernah, sampai saya menelusiri tulisan-tulisannya. Ah,  mungkin karena saya pernah liat dia sebagai penulis tamu di rumah Om NH, hehehehe…  mas necky seperti yang saya bayangkan, tapi lebih tepatnya dia ternyata lebih asyik, lebih rame dan lebih kocak daripada bayangan saya, dan satu lagi, tidak segemuk yang di foto. Hahahahaha.. Dia dan putrid tidak hentinya ngorol tentang kereta, dan mereka memang cocok sebagai narasumber tentang KRL, ibaratnya udah kaya KRL Ambassador, hahahaha… Cerita kopdar versi Mas Necky.

Mas Sus, aka Mandor Tempe, hahahha, saya sempat iseng nanya ke putri “Apa Mandor tempe ikut kopdar?” Lha kok dilalah si Putri ngajak dia! Hahahhaha… Saya dan Mandor sering terlibat chat di YM dan FB,  kami  sering tukar pendapat dan ide, bagi saya dia kakak yang penuh motivasi, terutama dalam bisnis, hahahaha… well, tapi di kopdar dia memang sangat pemalu! Terlalu pemalu malah. Cara bicaranya medog jawa, arek Malang gitu lho (eh kita satu tempat lahir lho) hahahah.. Mas Sus lebih banyak diam, dan sesekali tertawa lepas, belakangan saya baru tau kalau dia ternyata sempat didiagnosa gejala tipes oleh dokter, wah, makasih lho mas, sudah bela-belain jauh-jauh dari Cibitung buat nyamperin kita-kita di kopdar… Mas Sus sama seperti yang dia bilang, cungkring dan tinggi, hiihihihhi…

Akhirnya saya memperolah foto “normal”nya. Eits.. Tapi untuk menjaga kemisteriusannya saya kasih foto yg ini aja, hahahaha..

Uda Vizon, saya tidak dekat dengan Uda Vizon, tapi saya sempat mampir ke tulisan beliau tentang Surau yang dibangun di Riau, hasil rekomendasi tulisan Om NH, dan bagaimana Om NH sangat mengagumi Uda Vizon, ntah berapa kali Uda Vizon menjadi pembahasan di blog om NH, jadi saya pikir, Beliau pasti orang special. Uda Vizon, hangat, berkarisma, kalem dan lebih cakep dan imut aslinya daripada di foto, hahahaha… Uda Vizon ini terlihat awet muda, hahahaha.. *sirik 😛 Uda Vizon sempat menyinggung acara kopdar ini di tulisan ini.

Mbak Em, nah, tamu terakhir yang datang di kopdar adalah mbak Imelda dari jepang! Beliu yangs sedang liburan di Indo, sempat diajak uda Vizon untuk nyamperin kita, wah, wah, beliau sama seperti yang saya bayangkan, ibu-ibu dendi yang hangat dan seru. Saya dulu sekali pernah mampir ke blognya, dan membaca biografinya yang panjaaaaaannngg sekali, hahahaha.. Meskipun kami jarang bertemu di blog, tetapi Mbak Em, memang sudah blogger kelas kakap yang mampu menghadapi blogger anak kemarin sore seperti saya dan Putri, hahahaha… Mbak em, juga bawa kamera nya Nikon D80 dan lensanya yang f nya 2. sekian… fiiuhhh… bikin ngiri banget 😛 Mbak em juga dengan piawainya mengulas kopdar ini di sini.

Nah setelah kita ngobrol ngalur ngidul sampe kurang lebih 3 jam, akhirnya kita berpisah, Bapak-bapak naik ke atas untuk sholat. Saya, putri dan mbak Em, ke Ragusa Ice Cream, tempat Putri pernah janji bakal traktir saya dan kopdar pun berlanjut, hahahah…  Karena Mbak Em juga penasaran sama es krim “klasik” ini akhirnya kita pesen es krim yang berbeda biar bisa saling icip, hahahahah… Seru banget, karena di sini Putri dan Mbak Em sempet dengan cuek beybehnya bernarsis ria, hahahha.. Cerita lengkapnya ada di tulisan Mbak Em di sini .

*

*

*

Oh iya, Makasih mbak Em, atas traktirannya. Di sana saya sebenernya udah sempet ketar-ketir, karena takut kemaleman sampe Bogor.  Acara es krim pun berakhir, Mbak Em pulang dengan mobilnya, Putri mengantar saya ke Gambir. Eh bener, ternyata sampai bogor saya kemaleman, angkutan sudah jarang, sempet nunggu 20 menit tanpa tanda-tanda angkot dan bis yang saya mau, fiuhh akhirnya ada juga! Jam 12 baru sampai rumah… ckckckckc…

2. Kopdar Kementrian Keuangan (Lapangan Banteng)

Hhahaha.. judulnya agak lebay, tapi memang peserta kopdar ini semua — kecuali saya,  bekerja di kementrian keuangan yang letaknya bersebalahan dengan Lapangan Banteng. Saya hari itu kebetulan sudah menyelesaikan sedikit urusan di sekitar Gambir, terus nelpon Mbak Devi, dan akhirnya kita bisa kopdar di kantin kantornya Mbak Devi. Eh ternyata ada peserta kopdar lain, yaitu Mbak Dewi dan mbak Laily.

Mbak Devi, nah mbak saya yang satu ini memang akrab karena sering komen di blog saya, beliau juga sempet email-emailan dan sms-an. Mbak devi persis seperti yang saya bayangkan, dan tidak segendut yang dia sering pusingkan, hahahahah… *gendutan mama saya 😛 Bertemu mbak Devi seperti bertemu mbak sendiri, seperti sudah kenal sebelumnya, padahal kita baru pertama bertemu, tetapi semuanya berjalan seperti biasa dan tidak ada kecanggungan. Feels like home…

Mbak Dewi, kalo mbak yang satu ini saya pernah liat fotonya sebagai penulis tamu di blog om NH, ya saya ingat! Belaiu juga alumni IPB, sssttt.. kata Mbak Devi Mbak Dewi salah satu pejabat penting di kantor itu, hihihihi… lucky me ketemu dia, sama seperti alumni-alumni IPB pada umumnya *halah narsis, mbak Dewi supel dan gak jaim, hahahahaha…

Mbak Laily,kalau mbak ini saya bener-bener baru tau, hahahaha… salam kenal ya mbak…

Ya meskipun saya baru bertemu ketiganya tapi obrolan kita alhmadulillah mengalir  dan enjoyable. Setelah kita bubra, saya ikut mbak Devi keliling gedung dan lapangan banteng, terus lanjut ke gramed, dan ke sekolahnya anak-anaknya Mbak Devi: Syafa, Rafif dan Rahma di Basement Masjid Istiqlal, seru banget, sampe ada acara foto-foto depan mesjid, hahaha…  Cerita lengkapnya ada di versi mbak Devi 😀 Panjang dan membuat saya terharu, hahahahah…

Syafa gak mau di foto 😛

Rafif dan temannya..

*

*

Blogger cilik 🙂

Panjang juga tulisan ini, lanjut ke part 2 ya ntar… 😀

I love Kopdar!


TLPC : Pameran Foto Perdana

Ini tulisan dadakan!

Hi pembaca setia blog ini, hahaha… maaf ya sudah lama tidak menulis, alasannya akan saya ceritakan nanti di postingan selanjutnya, yang pasti saya menulis kali ini sifatnya dadakan tapi harus, karena ini bentuk apresiasi saya terhadap keberhasilan sesuatu, bentuk rasa bahagia dan juga rasa haru…

Hari ini TLPC (Tanah Laut Photo Club), komunitas fotografi di kabupaten tempat saya tinggal yang sempat saya ceritakan disini dan disini melaksanakan pameran foto perdananya! Bertajuk “Wajah Tanah Laut” mengangkat hal tentang sumber daya alam, wisata dan sosial budaya di kabupaten tersebut. Pameran foto ini tentu tidak hanya menguras tenaga dan pikiran, tetapi cukup menguras biaya dan juga perasaan tentunya. Ada sebuah perjuangan yang tidak mudah di balik kesuksesan acara ini, ada sebuah cerita dan ada sebuah lika-liku panjang sebuah organisasi baru yang mengawali langkahnya dengan bermodal sebuah tekad… “Kita harus tunjukkan bahwa ada TLPC di kabupaten Tanah Laut”

“Langkah pertama ini pasti akan sangat sulit, tetapi setelah ini langkah-langkah selanjutnya pasti akan lebih mudah” begitu saya pernah bilang ke teman-teman, dan untuk itu, kita butuh tangan dan kaki yang 100 kali lebih kuat untuk menjadikan acara ini terwujud. Dalam keterbatasan kekompakan, keterbatasan dana, dan keterbatasan waktu kami seperti para pemimpi kecil sederhana yang tak putus asa. Jatuh bangun dalam kegiatan ini dan masalah-masalah datang silih berganti memecut kami untuk berjuang lebih keras.

Kini semua berbuah manis, kegiatan pameran foto tersebut terbilang sukses.

Sebuah sms meluncur ke HP saya:

“Acara dibuka oleh Bupati dan unsur muspida, Kapolres mau ikut bergabung sebagai Pembina/ Penasihat, Ketua DPRD Tanah Laut akan jadi ketua kita, Bupati dan Wakil Bupati interest sekali sama hasil karya kita dan membeli salah satunya dengan harga fantastis, dan banyak orang yang datang untuk melihat..”

Bergetar hati saya membacanya, mengetahui perjuangan selama ini tidak sia-sia, ada genangan tipis di mata saya, “Selamat teman-teman atas kesuksesan kita”  dalam hati saya.

Hari ini saya hanya diam di kamar saya di Bogor, ribuan kilo dari tempat acara berlangsung. Hari ini saya menuliskan status di FB tentang suasana Bogor hari ini yang panas, kering dan barangin, mengingatkan saya tentang Pelaihari, tempat acara tersebut berlangsung, dan saya benar-benar ingin berada di sana hari ini.

Berbagai ucapan terimakasih, ungkapan syukur dan kebahagiaan datang silih berganti malam ini, seolah sudah cukup membuktikan kepada saya bahwa acara tersebut berjalan sukses meskipun saya tidak melihatnya dengan mata dan kepala sendiri. Hari pertama puasa ini seperti penuh dengan rahmat dan rasa syukur yang teramat, khususnya saya yang sedang jauh dari teman-teman seperjuangan. Hari ini hari pertama puasa ramadhan, hari ini hari ulang tahun anggota kami, Bagus, dan hari ini pula hari pameran perdana kami yang sukses. Tuhan sungguh perencana yang ulung. Alhamdulillah.

Sedikit flashback tentang saya dan TLPC…

Saya adalah “anak baru” di lingkungan Pelaihari, Kab. Tanah Laut, saya dipertemukan oleh anak-anak TLPC melalui sebuah grup di FB sekitar Januari 2011. TLPC berkembang pesat sampai akhirnya terbentuk organisasi dan rencana kegiatan, yaitu pameran pertama ini.

Saya yang seorang pengangguran tentu saja seperti menemukan tempat pelarian untuk mengamalkan kapasitas saya, semampu yang saya bisa. Berbekal sedikit ilmu dari bangku perkuliahan saya ikut aktif dalam persiapan kegiatan, mulai dari nol sampai sekarang, itulah mengapa saya tau persis betapa beratnya perjuangan kami.

Saya tahu bahwa saya tidak akan lama berdiam di tempat ini, maka saya pernah menolak saat ditunjuk untuk menjadi pengurus, saya tidak bisa menjamin sampai kapan saya masih ada di Pelaihari, sedangkan cepat atau lambat waktu perpisahan itu akan tiba, dan saya sadar akan itu.

Teman-teman di TLPC adalah orang-orang yang optimis dan penuh semangat, dan saya percaya itu, saya bisa merasakannya, dan saya memutuskan untuk “bergembira” bersama mereka, karena saya tau, ada potensi di dalamnya, ada cahaya kesuksesan yang belum tampak, maka dari itu saya tidak main-main di dalamnya. Saya bergembira, tetapi tidak main-main dalam bergembira 🙂

Persiapan pameran seperti  menuntut kami untuk lebih kreatif dan kritis mencari objek foto. Kegiatan hunting bersama seperti tidak ada habis-habisnya menghiasi hari-hari saya dua bulan terakhir, belum lagi kegiatan menyebarkan proposal yang kejar-kejaran dengan ketatnya waktu yang tersisa. Awalnya acara ini akan dilaksanakan sebelum bulan puasa, tapi sempat tertunda sampai akhirnya terlaksana hari ini (1 Agustus 2011). Kami melakukan yang terbaik yang kami bisa, sampai di hari-hari terakhir saya di sana…

Akhirnya kurang lebih satu minggu sebelum tanggal pelaksanaan acara pameran, saya harus meninggalkan Pelaihari, untuk kembali meniti karir saya kembali. Sebuah moment yang saya tunggu tetapi tidak saya inginkan.  Berat, tetapi harus. Ada rasa sedih dan “tanggung” karena harus meninggalkan acara yang hampir selesai ini. Saya terbang ke Jakarta dan stay di Bogor untuk sementara waktu. Maaf teman-teman, saya tidak bisa berpamitan ke setiap orang saat itu.

Sekarang,

Saya tahu ada senyum di setiap wajah teman-teman TLPC, hari ini, sebuah langkah pertama, sebuah langkah besar untuk keberlangsungan organisasi kita telah terlaksana. Doa dan air mata itu terjawab sudah. Harapan dan cita-cita semakin jelas terlihat.

Saya bangga pernah menjadi bagian dari kalian, dan saya jujur berat sekali harus meninggalkan TLPC, karena saya sudah merasa memiliki dan menemukan wadah yang membuat saya “berarti”. Kenangan dan persahabatan yang kita jalin selama ini tentu saja sangat terukir di ingatan saya, saya menghargainya dan tidak menyangkal bahwa semua sangat berarti bagi saya.

Sahabat dan rekan-rekan TLPC,

Saya mungkin akan berada jauh dan sangat jauh dari Pelaihari, tetapi saya tentu akan terus mendukung TLPC. Hehehhe, kan masih ada internet. Mohon jaga dan terus kembangkan komunitas ini menjadi komunitas yang baik, produktif dan berkualitas. Kekompakan, kerja keras, dan rasa memiliki adalah kunci keberhasilan langkah-langkah kita ke depan. Saya turut mendoakan dari sini.

Ah, sudah cukup menjadi sentimental! Mari bergembira atas kesuksesan ini! Saya terharu bahagia malam ini, karena kita berhasil! Well done! Terus semangat!

This slideshow requires JavaScript.

“Saya datang ke TLPC tanpa membawa apa-apa, tetapi saya pergi membawa ribuan kisah dan kenangan, terima kasih TLPC”

Salam Jepret!


Fotografer atau Photoshoper?

Sudah lama rasanya saya tidak menulis, dan minggu ini saya sedikit ingin menulis tentang ganjalan yang ada di hati… *halah lebay 😀

Langsung saja, di sebuah forum fotografi saya terperanjat pada sebuah topik atau thread yang bertajuk “Sejauh mana olah digital diterima?” dengan pertanyaan awal sebagai berikut:

“Hampir semua foto yang dipublikasikan di sini hasil olahan, bahkan sedemikian rupa sehingga kekuatan alami gambar tersamarkan oleh keindahan artistik bikinan photoshop. Apa iya, harus diolah sampai sejauh itu? Saya sendiri berdisiplin hanya sebatas cropping, dan penajaman warna (optimized color). Bagaimana menurut Anda? Pilih alami atau olah digital yang all out?” (A. Sofyan)

Kemudian saya teringat dulu sekali, ada sebuah komentar seorang blogger di blog saya, saya lupa persisnya, kira-kira begini:

“Saya suka fotografi, tapi saya ingin jadi fotografer handal, dan bukan seorang photoshoper yang handal mengedit foto”

Ya dengan kata lain, bisa dibilang saya bukan fotografer, tapi hanya seorang ahli photoshop atau software edit gambar yang selama ini memanipulasi gambar menjadi bagus. Kemudian saya berpikir, apa yang salah? bagaimana sebenarnya?

Berbicara tentang foto yang tampil di blog ini selama ini. Ya, saya mengakui, sebagian besar telah melaui proses editing, ntah itu warna, brightness, kontras, dan kawan-kawan. Lalu apakah saya bisa disebut Photoshoper (pengguna Photoshop) atau Lightroomer (pengguna lightroom)? Ya itu benar. Lalu apakah saya bukan fotografer?

Saya tidak bisa menjawab ini. “Fotografer”, kata itu terdengar terlalu berat. Saya cuma tahu saya suka memotret dan kebetulan saya punya kamera DSLR (yang hanya) entry level. Jika saya disebut fotografer, rasanya saya bukan ahli, dan saya sendiri tidak menghasilkan uang dengan fotografi atau hasil karya saya bukan maha karya yang dikenal oleh para pakar fotografi di negeri ini. Intinya sejauh ini saya cuma seorang hobiis. It saja mungkin.

Jadi bisa dikatakan saya seorang picture editor yang suka memotret, atau photoshoper yang suka fotografi *bingung kan?

Pertanyaan selanjutnya: Apa menjadi photoshoper itu “hina” dalam dunia fotografi? Pertanyaan ini hakikatnya hampir sama dengan pertanyaan di forum yang saya kutip di atas. berikut beberapa jawaban-jawaban dari anggota forum.

“Memang oldig dan photography tidak bisa dipisahkan dan sudah menjadi satu kesatuan. Tapi saya masih percaya bahwa oldig adalah nomer urut kesekian. No 1 adalah belajar membuat foto sebaik mungkin, dengan minimal Oldig (olah digital). Toh kita kan fotografer, buka photoshoper.” (Widjaja)

“Jauh sebelum ada photoshop, banyak pencetak yang menerima jasa mengolah foto di kamar gelap dengan hasil yang tidak kalah ekstrim dibanding sekarang. Toh hasilnya diakui sebagai karya sang fotografer, lalu di era digital, dengan sedikit belajar, kita semua menjadi bisa karena dimudahkan oleh teknologi, bukankah seharusnya lebih diterima” (Johntefon)

“Buat saya tidak penting apakah foto itu diolah atau tidak,
tetapi lebih kepada apakah foto itu indah dan bisa dinikmati atau tidak..
karena pada akhirnya orang lain menilai hasil akhir sebuah foto, bukan prosesnya…ya ngga?” (Iskandar)

 

“Batasan oldig susah dijelaskan ya .. tapi OLDIG kalo dari persepsi saya, adalah suatu pengolahan pada foto yang tidak mempengaruhi mata .. artinya …. dalam arti orang tidak tahu kalau foto ini telah melewati proses olah digital .. itu batasannya menurut saya ^^”(agoes)”

Nah ternyata banyak pro kontra juga ya.

Istilah “fotografer” cenderung menyangkut hal yang berkenaan dengan teknis memotret dan seni dalam menciptakan foto. Lalu bagaimana dengan photoshoper dan kawan-kawan? Kalo menurut saya, seorang photoshoper, atau lightroomer, atau Olah digitaler, dan kawan-kawannya itu tidak hina. Siapa bilang mereka unskill? gak pake teknis, atau gak pake seni?

Seperti tulisan saya di “Cuma Masalah Selera“, ternyata gak cuma fotografer yang punya selera, tapi photoshoper juga butuh selera dan seni tentunya. Katakanlah dua orang photoshoper diberikan foto yang sama dan software yang sama, apakaha hasilnya sama? tentu tidak kan? apakah dua supir angkot menyetir angkot yang sama akan sama enaknya? tentu tidak.

Photoshoper yang baik mengetahui elemen-elemen seni dalam grafis. Mengetahui warna dan perpaduannya, mengetahui cahaya dan pengaturannya, mengetahui apa yang salah dari suatu foto dan bagaamana memperbaikinya, dan pastinya mengetahui apakah foto mentahan yang dia akan edit itu bagus atau tidak untuk diedit. Nah lho! 🙄

Software hanya sebuah alat, saya pernah membaca tulisan: Jangan pernah berpikir photoshop bisa “menyelamatkan” foto kita, photoshop hanya “memperbaiki” atau “menyempurnakan”. Jujur saya juga merasa, selalu liat-liat dulu apakah foto saya ini “layak” edit atau tidak. Saya tidak pernah berpikir untuk mengubah foto blur menjadi super tajam, atau foto jelek menjadi foto yang luar biasa. Intinya apa? Hasil edit photoshop sangat tergantung kualitas foto mentahnya, jika foto mentahnya sudah tidak menjanjikan, contoh: tidak focus, atau blur, maka tidak akan menghasilkan hasil edit yang bagus. Saya jamin! Saya sendiri sering mengalami situasi dimana saya menyerah untuk mengedit foto hasil jepretan sendiri. Awalnya saya pikir saya bisa melakukan ini-itu terhadap foto tersebut, ternyata tidak. Saya akhirnya lebih baik tidak menampilkannya daripada menampilkan hasil foto yang “cacat” (at least di mata saya).

Ternyata menjadi seorang photoshoper juga tidak sembarangan kan? Di luar kekuatan teknis digital, mereka juga harus dibekali ilmu-ilmu fotografi yang memadai, foto-foto yang memang baik (mentahnya), dan tentunya kelihaian dalam melihat kelebihan dan kekurangan suatu foto.

Lalu sampai mana batas olah digital atau editing foto itu?

Tidak ada yang membatasi. Ada yang typical hanya mengedit “apa yang ada”, tetapi ada juga yang typical  “membuat ada”, atau mereka menyebutnya digital imaging. Itu lho, yang suka mengabungkan beberapa image/gambar jadi kesatuan foto yang terlihat alami, tetapi umumnya kita bisa masih bisa melihat kalau foto itu adalah manipulasi, dari yang “luwes” nan alami sampai yang “extreme” nan ajaib seperti kuda bersayap, gadis bersayap malaikat, pelangi dan peri-peri yang muncul di kebun bunga, atau tiba-tiba ada sepasang kekasih berbaju pengantin jawa dengan background menara eiffel, hahahahah… semua lumrah. Boleh-boleh saja. Tapi saya adalah typical “apa yang ada”, apa yang saya tampilkan di blog ini semua adalah asli / apa adanya. Tidak ada penambahan atau penggabungan dengan foto lain.

Seperti foto di atas. Meskipun hal itu bisa terjadi, jangan pernah berpikir saya menggabungkan foto sampah dan foto ayam, kemudian menghasilkan gambar seperti ini. Hehehhe… Jika pun saya nanti melakukannya, saya pasti bilang. 😀

Saya sendiri menyukai foto editan yang sedemikan rupa sealami mungkin. Meskipun memang terkadang ada editan yang tidak sempurna alami, tetapi saya ingin foto editan saya tidak “menganggu” mata yang melihat atau dengan kata lain mereka yang melihat merasa foto saya wajar dan bisa diterima oleh akal. Tidak ada celetukan “kok aneh ya?” atau “kok lebay sih”? Saya sendiri masih belajar untuk itu dan akan terus belajar.

Jadi intinya apaan?

Ya, apapun cara mengolah foto kita, mau tanpa editing atau dengan editing, yang terpenting adalah hasil akhir dan bagaimana orang lain bisa menikmatinya. Karena tujuan kita memotret pasti ingin berbagi dengan orang lain, ingin orang lain melihat sisi indah suatu objek yang kita lihat. Syukur-syukur hasil akhir itu disukai oleh orang lain.

Sekali lagi ini hanya pendapat saya, tidak ada tujuan mengajari atau mencari pembenaran. Saya hanya mengungkapkan apa yang saya pikir. Maklum aja kalo ada salah, namanya juga pemula, hihiihih.. Semoga bisa memberikan pencerahan dan bermanfaat buat pembaca.

Hihiihih… masih alami kan? 😀 😀 😀

Salam Jepret!


Sedikit Kata…

Pembaca dan sahabat blogger,

Mungkin sahabat-sahabat blogger sedikit banyak bertanya mengapa saya sekarang sudah jarang menulis dan melakukan blogwalking. Ya, saya sibuk akhir-akhir ini di dunia offline, ada kesibukan yang menuntut waktu saya sedikit lebih banyak dari biasanya, sehingga draft-draft tulisan hanya tersimpan di otak saya.

Saya juga mohon maaf tidak bisa membalas komen-komen yang selalu setia mengisi halaman-halaman postingan saya. Saya ucapkan terimakasih. Saya tentu membaca semua komen dan membalasnya dalam hati, tetapi jika saya rasa sangat urgen, maka saya baru akan menuliskannya. Saya juga akan blogwalking satu dua kali di waktu-waktu senggang saya.

Untuk mengisi kekosongan postingan saya, dan sekaligus mengurangi kejenuhan menulis, saya sengaja memposting foto-foto hasil karya saya. Syukur-syukur bisa tetap dinikmati. Apakah saya ingin mengubah blog ini menjadi Photoblog? Saya rasa tidak, kelak saya akan menulis lagi, bagi saya rumah ini hanyalah tempat saya bercerita dan berbagi, satu waktu bisa dalam bentuk tulisan, lain waktu berupa gambar…

Photo by Ipunk DJ (mesinketik.com)

Pembaca,

Ya, hanya inilah yang saya punya. Semoga bisa bermanfaat 🙂

Salam,

Prima

*

PS: mau tau itu foto di mana? Nantikan laporan hunting foto bareng TLPC 🙂


Pengantin diarak Ontel

Ya, itulah Bagus, teman saya yang diarak oleh para ontelis, para pecinta sepeda ontel di kabupaten Tanah Laut yang tergabung dalam WASIAT TALA (Wadah Sapida Tuha Tanah Laut). Bagus sendiri adalah anggota WASIAT sekaligus anggota TLPC (Tanah Laut Photo Club), komunitas fotografi dimana saya bergabung.

Sebuah Kartu Ucapan

Minggu. 15 Mei 2011, pukul 9 pagi, arak-arakan dimulai dari rumah Bapak Ibnu, ketua komunitas ontel, dan berakhir di rumah mempelai tempat berlangsungnya acara resepsi pernikahan. Rutenya? Keliling kota Pelaihari! Hahahahahah… Arak-arakan ini mengikutsertakan anggota WASIAT sendiri, beberapa penggemar ontel Banjarbaru dan Banjarmasin, plus beberapa anggota komunitas fotografi. Sedangkan anggota TLPC yang lain menyebar di beberapa titik untuk mengabadikan gambar moment yang unik dan jarang terjadi tersebut, termasuk saya.

Mempelai diarak menggunakan becak yang dihias dan diikuti oleh peserta arak-arakan yang lengkap dengan baju-baju retro-vintage dan baju tradisional, aaahh… seru sekali, benar-benar seperti kembali jaman tempo dulu! Acara unik ini tentu saja menjadi perhatian masyarakat sekitar, selain karena jarang terjadi, kemacetan sempat terjadi di beberapa titik, belum lagi bunyi bel sepeda yang khas sekali 🙂 Menghibur sekali. Di tengah rute, arak-arakan berhenti sejenak di Taman Tugu di pusat kota untuk melakukan sesi foto-foto bersama. Sungguh suatu kejutan dan apresiasi tersendiri bagi Bagus dan Ifeh pada hari pernikahan mereka tersebut. Acara ini juga menjadi ajang pembuktian eksistensi penggemar ontel dan fotografi di wilayah kabupaten Tanah Laut.

Di akhir rute, arak-arakan sempat berteduh ditepi jalan, karena tiba-tiba hujan turun dengan derasnya. Tetapi acara berjalan dengan sukses, setelah acara arak-arakan selesai, acara resepsi diteruskan seperi biasa. Kami para peserta dan pendukung acara arak-arakan makan bersama di sana.

Berfoto dengan TLPC

*

Seperti biasa nih, saya kasih foto-foto acaranya…

This slideshow requires JavaScript.

Simply edited with Lightroom 3.3 as usual…

*

Buat Mas Bagus dan Ifeh, Selamat menempuh hidup baru, dan Semoga menjadi keluarga idaman dan rame rumahnya sama anak-anak, hahahaha…:mrgreen:

PS: Mas Isro, ini lho acara yang saya pernah singgung kapan hari itu… 😀

Salam Jepret!


Belajar Prewedding

Hmmm… kira-kira 3 atau 4 bulan yang lalu, teman saya, tepatnya kakak kelas SD saya sekaligus tetangga dekat sewaktu kecil meminta saya untuk membuat foto prewed sederhana. Saya dengan (sedikit) pede menyanggupinya. Itung-itung bantuin teman sekaligus bisa belajar moto prewed lagi (dulu udah pernah sekali).

Foto-foto berikut diambil di 3 lokasi yang berbeda, mengambil waktu 2 hari. Di sawah, di sawah dekat gunung, dan di pantai. Dilema saya selama pemotretan, saya belum bisa mengambil ekspresi yang “pas” dari mereka. Selain karena saya kurang cepat dan cekatan mengambil gambar, saya juga paling gak bisa mengarahkan gaya... 😦 *I am tired of this. Jadilah banyak ekspresi yang saya pikir seharusnya bisa lebih baik. That’s okey, I am learning anyway.. 🙂

Lagi-lagi saya bermain warna dengan Lightroom 3.3, jadi jangan heran kalau ada beda suasana/warna dengan foto yang sama. Maksud hati semoga yang melihat tidak bosan dengan bermcam-macam warna yang saya buat disini. I am happy with this project! 😀 rasanya semakin lama semakin cinta dengan Lightroom, hehehehe…

Watch out for more than 50 pictures coming! Enjoy!

This slideshow requires JavaScript.

Buat Mbak Nurul dan Mas Harto, saya ucapkan selamat menempuh hidup baru, semoga langgeng terus ya sampai kakek-nenek dan aku segera dapet ponakan, hihihihhi…

Salam Jepret!


Hobiku: Menggambar Anime

Ini bukan postingan tentang cara menggambar anime, tapi kisah masa kecil saya yang suka menggambar anime jepang.

Zaman saya kecil, keberadaan komik masih tidak sebanyak sekarang, bukan berarti keberadaan komik masih sedikit, hanya saja karena rumah masa kecil saya berada di sebuah daerah terpencil dan jauh dari kota besar, sehingga akses masuk komik dan majalah masih bisa terbilang lambat.

Pengetahuan saya tentang anime jepang sepertinya berawal dari anime di TV : Doraemon yang entah sejak kapan sudah ada semenjak masuknya siaran televisi swasta di Indonesia. Berbekal tontonan anime setiap hari minggu pagi, diam-diam saya selalu memperhatikan grafis dari film-film anime itu dan mulai menggambar-menggambar sendiri tokoh-tokoh tersebut semirip mungkin dan sejauh yang saya ingat. Bagi saya itu, seru sekali bisa menggambar tokoh-tokoh anime itu. Jika hari minggu datang, saya mencocokkan hasil gambaran saya dengan yang ada di TV. Sudah samakah?? apa yang kurang??

Anime dan komik semakin gencar membanjiri toko-toko buku. Satu demi satu teman-teman saya yang dari keluarga berkecukupan mulai mengoleksi komik. Saya ingat komik masih seharga Rp. 3000.-. Komik-komik yang banyak beredar juga adalah komik-komik dari serial anime yang ada di TV, seperti Doraemon, Astro Boy, Candy-Candy, Saint Saiya, Dragon Ball, dan lainnya. Lalu saya? Ya saya cuma modal pinjem saja, hahahahaha… Komik tentu saja mempermudah saya untuk meniru grafis pada komik, karena saya tidak perlu lagi menunggu setiap minggu hanya untuk “belajar menggambar”, tinggal pinjam komik teman dan mulai menggambar, bukan menjiplak lho ya :P. Hampir semua jenis gambar komik saya pernah coba, dari yang imut-imut, muka sangar sampai mata belok dan berkaca-kaca. Well, hasilnya tidak mengecewakan, at least lebih baik dari teman-teman seumuran saya, hahahahah…

Kebiasaan saya menggambar tentu saja membuat tangan gatel untuk terus menggoreskan pensil dimana-mana, tidak terkecuali di buku pelajaran. Hampir setiap bagian belakang buku tulis, tidak pernah lolos dari coretan-coretan saya. Saat kelas 2 SD, saya ingat guru saya bernama Bu Siti, beliau muda dan cantik. Siang itu kebosanan memenuhi pikiran saya, saya bukannya mendengarkan beliau menjelaskan pelajaran, eh malah diam-diam menggambar sosok wanita anime yang saya gambar seperti ciri-ciri Bu Siti, hahahaha… Naasnya, Bu Siti, mendekati saya dan mendapati saya sedang asik menggambar!

“Prima, kamu kok malah gambar???” muka Bu Siti agak geram. Satu kelas terdiam. Beliau meraih buku tulis yang saya gambar, dan menanyakan siapa wanita komik itu? Tentu saja saya malu dan berkata “Itu Ibu…” Bu Siti terdiam sebentar, saya bisa liat senyuman kecil di bibirnya dan beliau berkata, “Kalau menggambar lain kali jangan di buku tulis dan jangan di jam pelajaran”. Beliau mengembalikan buku saya. Hari itu saya malu. Maka, setiap kali saya habis menggambar di buku, saya akan merobek lembaran bagian belakang itu dengan penggaris untuk meninggalkan jejak, hahahhaha…

Kelas 4 SD, saya akhirnya bisa beli komik! Komik pertama hasil nabung sendiri: Asari-Chan, komik lucu yang grafisnya bagus sekali. Karakter gambar Asari ini yang sampai sekarang sedikit banyak mempengaruhi karakter gambaran anime-anime lucu yang saya buat, hihihihi…

Makin remaja, saya semakin getol menggambar, kata teman-teman saya gambar saya bagus. Jadi kadangkala mereka sengaja memberikan kertas kosong kepada saya unuk menggambar apa saja, atau tokoh kartun tertentu untuk dipajang di kamar, bahkan di laminating, hahahahaha… Tapi ada kejadian tidak menyenangkan saat saya SMP. Guru PPKn saya terkenal disiplin alias galak. Ya kok dilalah saya lupa merobek kertas belakang buku tugas PPKn saya, dan si Ibu galak itu memanggil saya ke depan kelas. Sudah kebayang kan? Ya, saya dimarahin habis-habisan di depan seluruh anak, sambil memperlihatkan gambaran saya di buku itu. Semua anak tertegun, tapi saya tau mereka tidak pernah ikut menyalahkan saya dan gambaran di buku itu. Mereka cuma takut, sama seperti saya. Si Ibu akhirnya menyuruh saya untuk minta tanda tangan orang tua tepat di gambar itu dan tentu saja tidak lupa mengancam anak-anak lain untuk tidak mencontoh tingkah konyol itu. Ada satu teman saya bilang: “Aku heran kok si Ibu bisa segitu marahnya liat gambaran sebagus ini” Ya sudahlah memang saya saja yang sedang sial… 🙂

Jaman SMP ini saya juga mengenal media warna: pastel (seperti crayon tetapi lebih lembut dan oily), saya sering ikut lomba-lomba gambar dan lumayan ada hasilnya. Tentu saja bukan menggambar anime. Di rumah sekarang banyak hasil gambaran saya dengan pastel berukuran besar, tetapi jika saya melihat sekarang, saya sedikit tersenyum, karena gambaran tersebut masih terlihat “anak-anak”, ya sangat anak-anak…garisnya sederhana, tetapi masih bisa dinikmati..  Si Bungsu pernah bilang ke Mama “Masa sih Ma, mas Prima gambar ini waktu masih SMP??” Hhihihii.. *si Bungsu emang gak bisa gambar kaya saya 😉

SMA saya malah jarang menggambar. Menggambar hanyalah iseng-iseng saja. Kotak Pastel itu tidak pernah lagi saya sentuh. Saya malah sibuk di kegiatan extra dan kegiatan akademis tentunya. Saya libur menggambar di kertas besar. Saya ingat hanya satu gambar yang saya buat semasa SMA, itupun karena pakde saya minta gambaran saya untuk di bingkai. Saya ingat saya bermaksud gambar ayam, tetapi menyerupai burung. Jadi seperti ayam hias! Mahluk apa itu ya? Hahahahah… whatever…

Saat kuliah, malah saya mulai menggambar lagi. Ya tau sendiri kan kuliah itu gak seperti sekolah, kadang waktu luang tiba-tiba banyak, kadang sibuk parah gak kira-kira. Saya masih di asrama TPB-IPB. Teman sekamar saya punya majalah komik yang terbit tiap bulan, berisi banyak gambar anime-anime masa kini yang sangat bagus. Iseng-iseng saya buka kotak pastel yang sudah berdebu. Beli karton putih. Dua hari saya sudah punya poster besar bergambar tokoh Cardcaptor Sakura! *sok cute banget, Wuakakakakah… Saya tempel di atas meja belajar! Mereka bilang bagus 😛

Dari situ saya menggambar poster Conan, Samurai X, dan banyak lagi. Sata saya meninggalkan asrama, saya bagikan saja gambar itu buat teman-teman saya, anggap saja buat kenang-kenangan. Ini adalah poster terakhir yang saya gambar saat kuliah, berukuran karton putih besar dan (semoga) masih disimpan oleh teman saya. Saya sempat motret pake kamera HP. Cuma ini gambar yang saya punya fotonya 😦

Di ambil dari karakter Tsubasa Reservoir Chronicle

*

Sekarang saya tidak lagi menggambar poster. Pastel sudah saya sumbangkan ke panti asuhan sewaktu selesai kuliah di Bogor. Ya, kadang-kadang pengen sekali menggambar poster lagi, mengenang saat-saat saya lagi gila gambar-gambar anime seperti ini, tapi entah kapan…

Jadi intinya apa prim? Ya gak ada, saya cuma mau bilang aja kalo saya dulu suka gambar anime dan bikin-bikin poster macam ini, hihihi… intinya sekedar curhat dan cerita masa kecil saja.. *sok melow* :mrgreen:

Selamat Berharpitnas!


Cuma Masalah Selera

Seorang teman saya, saya memanggilnya Kue Ber-fla, menanyakan pertanyaan simpel bertubi-tubi seputar foto-foto saya:

“Kok bisa bagus begitu warnanya?”

“Aku gak ngerti tentang foto dan warna-warna”

“Apa itu warna, komposisi warna, dan kontras?”

Haduh! Kue Ber-fla sangat curious sekali dengan apa yang ada di kepala saya saat mengolah foto-foto saya. Seolah-olah Kue Ber-fla ingin sekali belajar banyak dari saya dan ingin punya foto-foto seperti saya.

Saya sendiri suka bingung jika dihadapkan pada pertanyaan-pertanyaan sejenis itu. Apalagi sempat ada komen yang bisa dikatakan sangat “wah” di postingan saya sebelum ini, hahahahaha… Saya malah merasa biasa saja dengan foto-foto saya, dari dulu sampe sekarang ya begitu-begitu saja, naik turun seputar itu, menurut saya belum ada pencapaian yang signifikan. Bahkan teman-teman fotografer saya di sini meresponnya biasa-biasa saja, ya karena memang biasa.

Bagi teman-teman blogger yang sudah mengikuti blog saya lama, mungkin melihat memang foto saya ya begitu-begitu saja. Bagi yang mungkin sering melihat lama-lama terlihat biasa, beberapa menyebutnya bagus, bahkan mungkin saya gak tahu aja, kalau ada yang gak suka, dan saya tau itu pasti ada. Whatever shot! Saya hanya memotret dengan hati. Masalah suka gak suka itu masalah biasa. Saya punya selera dan pembaca juga punya selera. Urusan selera ini yang mau saya ceritakan sedikit.

Pertanyaan Kue Ber-fla menyadarkan saya bahwa ada satu titik dimana saya tidak bisa menjelaskan sesuatu dibalik semua pertanyaannya. Saya stuck dan ingin rasanya memindahkan isi kepala saya ke kepalanya, hingga dia bisa membaca apa yang saya rasa. Itu lah selera. Selera memang bisa dirasakan atau “sampai” pada orang lain, tapi hampir tidak mungkin diduplikasi dengan identik. Selera bisa mirip, tapi tidak bisa sama persis. Saya juga kurang tau apakah selera ini berkaitan dengan “talent” yang memang dibawa semenjak lahir? Whatever

Selera ini ternyata mempengaruhi saya dan mungkin sebagian besar orang saat melihat sebuah benda visual, contohnya gambar atau foto. Saat saya memotret: komposisi, focus, pencahayaan dan angle sangat dipengaruhi selera. Meskipun banyak teknik-tekni fotografi di luar sana, tetap selera itu sangat berpengaruh buat saya. Pada saat yang sama, kamera yang sama, suasana yang sama dan objek yang sama, dua fotografer bisa menghasilkan dua gambar yang nyata beda. Mereka bilang: depend on the man behind camera, dan itu benar menurut saya.

Berlanjut pada olah gambar atau editing. Software adalah sekedar alat yang membantu, sekali lagi tergantung siapa yang menggunakannya. Sama mobilnya bisa beda rasa saat beda sopirnya. Saat saya mengedit gambar, saya menjadi Photoshopper, atau Lightroomers dan sejenisnya, saya sangat dipengaruhi oleh selera. Saya mengajari Kue Ber-fla untuk mengerjakan foto-fotonya dengan alat-alat atau software yang saya pakai. Terus apakah hasilnya akan sama? tentu tidak. Meskipun pada akhirnya Kue Ber-fla sudah expert menggunakan software itu, apakah kemudian selera dia akan sama dengan saya? tentu tidak. Saya yakin dia akan berdiri sendiri dengan seleranya sendiri.

Menurut saya selera bisa dipengaruhi tetapi tidak bisa dibohongi. Saat kita melihat gambar atau foto yang kita suka, kita terpengaruh untuk membuatnya seperti itu. Saat teman saya memberikan ide kepada saya untuk mengubah warna ini dan itu, menggelapkannya, menerangkannya, sedikit ini dan itu, bisa jadi selera teman saya itu mempengaruhi saya, tetapi pada akhirnya saya sendiri yang akan memutuskan pada titik mana saya merasa “selesai”, dan berkata “OK, saya suka yang ini” dan rasa suka itu gak bisa dibohongi. Ya kan? 🙂

Selera itu punya basic, tetapi juga bisa dieksplorasi dan bisa ditemukan. Semakin banyak kita melihat atau mendapat referensi foto orang lain, kemudian banyak mencoba menemukan kecocokannya. Selera kita berkembang dan akhirnya kita menemukan “selera basic” kita seperti apa. Warna seperti apa yang saya suka, karakter foto seperti apa yang saya suka, tipe pencahayaan seperti apa yang saya suka. Tentu saja selera akan sedikit banyak berubah dan terus berkembang seiring waktu, tetapi selalu ada selera basic yang mempengaruhi kita dari waktu ke waktu.

Pada akhirnya. Semua orang punya selera masing-masing dalam melihat suatu gambar atau foto. Tidak ada selera yang baik atau buruk. Yang ada disukai dan tidak disukai. Bisa jadi selera foto saya tergolong selera “rendah” di mata satu orang, tetapi tergolong selera “tinggi” di mata yang lain. Selalu, ini masalah yang relatif. Tidak suka bukan berarti harus menghujat, atau menjudge, apalagi menyakiti hati orang lain. Jika ternyata suka dan kemudian memuji, itu adalah hak manusia untuk berekspresi. Syukur-syukur kita bisa saling membahagiakan.Ya kan? Perbedaan selera adalah hal yang wajar dan tidak perlu dipikirkan terlalu pelik. Ini seleraku. Ini seleramu. Kita berbeda tetapi kita tetap indah.

Kue Ber-fla mungkin sekarang sedang asik-asiknya berpetualang dengan seleranya. Saya senang bisa membantu banyak orang untuk mengeksplorasi selera mereka. Karena saya sendiri masih asik belajar mengenal selera saya dengan lebih baik, mengasahnya agar semakin tajam dan kelak bisa membuat orang bahagia dengan selera saya. Hey Kue Ber-fla, saya tidak akan mengajari kamu ini-itu terlalu strict, sama seperti seorang ayah yang melihat anaknya belajar naik sepeda, You’ll find the way! 🙂

I love this pic, Cute!

Salam Jepret!

PS: Ya ampun, saya nulis ini udah kaya fotografer besar aja, wkakakakakaka… maaf para fotografer senior, ini cuma pendapat dari anak kemarin sore yang tentu masih jauh dari sempurna… 🙂


Kaktus “Captain Hook”

Seperti janji saya di postingan sebelumnya, saya akan ceritakan tentang kaktus yang durinya menyerupai pengait ini.

Kaktus ini tumbuh di sebuah pot di halaman samping rumah saya. Mama sangat benci ke kaktus ini karena seperti yang saya ceritakan, kaktus ini selain punya duri keras yang pendek dan berwarna putih itu, dia punya beberapa duri panjang berwarna gelap di bagian tengah yang ujungnya menyerupai pengait atau kail.

Kail atau pengait ini mudah sekali mengait tangan, kulit, dan benda-benda yang berpori atau berserat seperti kain, benang, bahkan daun tanaman lain. Selain menyebabkan nyeri karena durinya nyangkut, jika kita tidak hati-hati melepaskannya, maka pengait-pengait disebelahnya bisa ikut-ikutan nyangkut! Repot banget!

Lha kok dilalah, kaktus ini sengaja dicuekin, tapi pertumbuhannya gak juga merana, anakannya malah tumbuh banyak seperti kumpulan kue bulat-bulat kecil dan akhirnya membentuk bola besar yang penuh pengait. Sampai akhirnya Mama pernah menyuruh saya untuk membuang kaktus ini, karena lebih banyak menimbulkan mudharat daripada manfaat, hehehehe… tapi berhubung saya ngerasa eman-eman, saya simpan aja di daerah tersembunyi yang jarang dilalui orang, jadi tidak menggangu kan?

Satu hari saya iseng menggunting duri-duri pengait itu, dengan tujuan biar kaktus itu terlihat sedikit “ramah”. Berhasil untuk hari itu aja. Setelahnya duri pengait itu akan tumbuh lagi dan lagi. Saya jadi berpikir, apa sebenarnya manfaat duri pengait itu ya?

Lihat bagaimana benang, daun kering, kerikil dan benda-benda lain bisa tersangkut disana.

**

Suatu hari saya melihat ini

Bangkai apakah itu?

Itu bangkai katak malang yang terjebak oleh duri pengait si kaktus.

**

Dari sedikit observasi akhirnya saya bisa mengambil kesimpulan manfaat dari duri pengait itu. Hipotesis saya kira-kira seperti ini, bisa jadi benar-bisa jadi salah, tapi cukup realistis, imho  😛

  1. Duri pengait kaktus digunakan sebagai perangkap hewan kecil yang singgah pada tubuh kaktus. Contohnya katak malang di atas. Tentu saja semakin gesit sang katak mencoba meloloskan diri, semakin banyak duri pengait yang menangkapnya, sehingga katak tersebut tidak dapat bergerak dan mati pelan-pelan di atasnya. Terus apa untungnya bagi si kaktus? Tentu saja, sari-sari makanan dari tubuh katak akan terurai dan akhirnya diserap oleh kaktus, sehingga kaktus secara tidak langsung mendapat zat hara. Bisa jadi ini kaktus karnivora! *hihihihi.. lebay
  2. Duri itu adalah alat penyebaran populasi kaktus. Satu kali saya tersangkut oleh duri pengait kaktus yang ukurannya kecil, dengan mudahnya si kaktus ikut tercabut dan ikut di tangan saya, saya tentu berusaha mencabut dan melemparkannya ke tempat lain. Nah! Justru dengan teknik “nyangkut” itu, kaktus kecil itu akan mulai berkembang di tempat baru dan membentuk koloni barunya. Jadi, jika ada hewan besar atau manusia yang tidak sengaja tersangkut durinya, si kaktus bisa ikut dan berpindah tempat dan beranak pinak di tempat baru itu. Saya sudah lihat beberapa anakan yang jatuh di tanah disekitar induknya sekarang mulai tumbuh.

Hampir sama dengan teknik penyebaran tanaman “rumput bujang” yang duri-duri lunaknya suka nyangkut di celana atau kaos kaki kalau kita melewatinya. Yang nyangkut itu kan sebenarnya biji-bijinya, dan saat kita melepaskannya, si biji sudah berada di tempat yang jauh dari induknya. Mungkin pembaca ingat cerita tentang pohon “kitiran“? Nah kalau itu teknik penyebarannya dengan cara terbang! 😀

**

Sungguh Maha Besar Tuhan yang menciptakan segala hal dengan sebuah alasan dan manfaat, bahkan untuk sebuah duri pengait yang kita kira sebuah “musibah”, ternyata mempunyai tugas mulia bagi si kaktus.

Semoga pengetahuan ini tidak hanya memperluas wawasan kita tentang tanaman, tetapi juga mengandung renungan tentang hikmah sebuah penciptaan.

Salam Kebun!


Weekly Photo Challenge: Round

Round? It could be the easiest theme of Weekly Photo Challenge so far since I have a bunch of photos merely supported this theme. But for some reasons,  I really wanted to take the challenge by capturing new photos I would take this week. Should be easy I thought.

In fact, I didn’t get any good photo in the first 3 days 😦 What a lame! It had occupied my thought in couple past days, even a busy days couldn’t distract me from this “roundness”. In the middle, kind of admitting it’s quite hard to get “round” photo in (only) a week. It was simple yet sounded easy, but no more.

Thanks God, I found them at last!

Wheel, might be the popular chosen for the theme. I had checked out some of the participant’s and it is! 😆

On Tuesday, I was in the middle of shooting an high school anniversary parade for documentation purpose. There were some cops along the route since the parade obviously took more than a quarter of the road width, and caused traffic at the moment! 😛   I stood on the edges of the road and found a motorcycle of traffic cop parked in the middle of the road. Looks cool! I’ve never been that close with that motorcycle, and suddenly thought to approach and capture it. Hey! Round wheels! I got one! 😀

**

I found this cactus beside my house. This is actually my Mom most hated cactus. That’s why my Mom doesn’t look after this cactus very well and just put the pot in any hidden place, somewhat abandoned. Fortunately, this cactus is so vigorous one and used to raise abounding shoots turned them into a “giant thorn ball”.

Can you guess why my Mom hates this cactus terribly? This cactus has so many short-tough white thorns PLUS long-dark thorns like hook worsen it’s performance. If you see carefully, in the middle of every round, you can find “the hooks”. That hooks easily hook your hand, skin, or anything with pores when be touched, surely it’s a bit hurt, and when you start to release the hook  carelessly, I guarantee another hook already caught you! My Mom simply said: Annoying cactus!

In the next post, I will tell you about this special cactus, those special hooks and the reason I found behind why they have hooks! Hmm, It’s interesting!

Happy Blogging!

PS: Mulai besok internet sudah lancar lagi! Cihuy!


Ada Apa dengan April?

Welcome May!

Dapet contekan dari Putri Usagi buat nulis tentang apa-apa yang terjadi sebulan kemarin, syukur-syukur bisa jadi evaluasi, pelajaran dan penambah semangat bulan-bulan ke depan. Time to flash back! *ssst..orang pelupa lagi mikir keras*

Awal-awal bulan April sempet dibikin tewas sesaat karena hectic ikutan lomba Kecubung 3 Warna di BlogCamp, maklum kita pada deadliners semua (Saya, Putri dan Irvan) jadinya jatuh bangun buat ngejar batas waktu lomba dan sempet pake acara demam segala pula. Fiuh, tapi akhirnya lumayan juga hasilnya, bisa jadi juara 5! Cihuy! Lumayan bisa nambahin tabungan plus dapat hadiah buku dari Pakde : “Seroja” *ternyata kita bertiga dapat buku yang sama lho, mau barter gak put? gakgakgakgakkk… Thanks Pakdhe!

Hmm.. Awal april ini juga saya resmi bergabung dengan Komunitas Fotografi di Kabupaten Tanah Laut, tempat saya tinggal sekarang, bernama Mata Lensa Tanah Laut, yang belakangan telah mengubah nama menjadi Tanah Laut Photo Club (TLPC), heheheh… maklum organisasi baru, suka masih galau, haiyah! Langsung juga ikutan hunting bareng di pantai Suarangan, dan mulai belajar portrait (pake model), ternyata susah juga.. hehehhe…

Bulan April ini juga TLPC mulai bergerak cepat, kami mulai bergerak untuk legalitas organisasi, pergi ke notaris dan kantor-kantor  pemerintah, bikin baju dan ID-card, ketik Profile organisasi dan proposal. Hmmm… Dari komunitas ini, saya lumayan dapat temen-temen baru, seneng juga berada di komunitas yang bisa belajar, bergaul dan having fun! Saya mendukung sekali keberlangsungan organisasi ini karena saya bisa melihat prospek yang bagus ke depannya. Semangat teman-teman!

Hmm, iya bulan April ini saya juga datang banyak banget paket buku, baik karena lomba ataupun gift dari blogger yang baik hati. Blog saya juga mulai dikunjungi oleh wajah-wajah baru *yang ngerasa baru say cheese! Wakakakakak… penuh warna warni, mulai dari blog ibu-ibu yang masih setia nyeritain tentang anak dan suaminya, blog anak muda galau yang suka nulis cerita panjang-panjang, sampai om-om satu almamater yang punya foto-foto keren! Gak lupa juga beberapa blogger lama yang mulai rajin update tulisan, join Post a Day 2011, join Weekly Photo Challenge *yes berhasil terhasut!, dan blogger pemusik yang lagi demen posting video-video keren+narsis dan para pengamen yang lucu2 ngeluarin album baru! Cool! You guys simply colored my life!

Bulan april ini Weekly Photo Challenge berhasil diikuti semua! Bagi teman-teman wordpress yang suka foto-foto *dengan kamera apapun, plis ikut program ini! Kenapa saya semangat menghasut? Karena program ini meningkatkan kreatifitas, relatif mudah, bisa nambah-nambahin postingan dan cerita tiap minggunya, dan tentunya traffic + persahabatan makin banyak, banyak lho blogger asing yang nyasar ke blog saya gara-gara foto. Hihihihiihih… Oh iya, program ini gak maksa kita bercerita tentang foto dalam bahasa Inggris kok, silahkan pakai bahasa kita aja, ntar kalo mereka pada bingung, itu sih derita bule-bule yang pengen baca, 😛 wkakakakak…

Mulai aktif lagi ikut di siaran radio bahasa Inggris tiap jumat malam di sebuah radio lokal dan sempet terkejut saat panitia sebuah kontes bercerita dalam bahasa inggris meminta saya jadi juri! *pasti ini kecelakaan! Wakakakakak… Pilihan yang baik dan buruk. Baik karena saya bisa sekalian jadi seksi dokumentasi dan buruk karena saya gak siap apa-apa, dari skill dan baju! *Kemeja gak disetrika pun dipake! hmm… bulan April ini target untuk baca novel Inggris belom selesai 🙄 Semoga bisa lebih lancar bulan ini! Yes!

Project bikin header pemenang kedua Lomba Header Impian, Grandis, berhasil dicancel karena ribet sama layout blogspot dan diganti dengan pengiriman benih Torenia yang saya kumpulkan selama sebulan, wkakakakaka… Since he likes gardening so much, I hope that could be a nice replacement and yet a challenge for him to grow Torenia! Chaiyo Grandis! Next one… header buat Bunda Lily, Bund, maafkan anakmu ini yang lelet banget ngerjainnya… I’ll do my best! *ngerayu 😀

Anyway, bulan ini selain dapet job buat foto-foto di nikahan yang sederhana itu, saya juga dapet job buat pemotretan dua ABG yang cantik-cantik, selama dua hari-dua lokasi, hihihihihi… Job ini pun memaksa saya untuk belajar foto portrait lebih baik lagi, meskipun amatir, tapi hasilnya cukup memuaskan mereka lho, bahkan mereka mau lagi for the next project! Cihuy! Sambil menyelam minum air, sambil jalan-jalan dan belajar moto, bisa dapet duit, hihihihihi… Kapan-kapan saya posting deh hasil job ini! 😀

Bulan ini juga dapat kucuran semangat untuk berbisnis dari blogger-blogger yang sudah memulai bisnisnya sendiri. Awalnya mereka hanya kirim email secara personal tentang hal-hal sederhana di postingan saya, tetapi malah berlanjut ke arah diskusi ke masalah bisnis dan masa depan. Nice! Saya salut sama mereka-mereka ini karena mampu berbagi hal-hal yang positif  dan semangat yang begitu membara! Oh iya, dapat juga E-book dari Mas Isro sebagai kado ultah blognya. Tapi belom  download karena internet masih lemot parah! Thanks ya Mas!

Nah, menjelang Ujian Nasional anak-anak SMP selama seminggu saya diminta ngelesin anak tetangga, hehehehe…  Bahasa Inggris dan Matematika oke lha bisa, nah pas IPA justru saya pusing gara2 banyak rumus fisika bertebaran, wkakakkakaak… susah juga ternyata! 😛 Mudah-mudahan lulus ya Dik Elsa. Maaf kalo guru lesnya suka manyun+jidat kerut-kerut agak lama kalo liat soal-soal fisika, hihihihi…

Lain-lain, kegiatan saya masih gitu-gitu aja, berenang rutin 2 kali seminggu, ubek-ubek tanaman di halaman belakang, nyuci baju, ngembat cemilan di dapur sampe nyikat kamar mandi, hehehehe… Oh iya, bulan april ini saya lagi nunggu kabar tentang kerjaan, eh dapat kabar ternyata masih harus menunggu lagi, ya sudah ternyata emang harus sabar… Mudah-mudahan impian saya balik ke Bogor bisa segera terlaksana. Amin. Jealous aja sama temen-temen yang pada doyan bolak-balik kopdar kaya orang ngemil, thus I need to make sure to arrange kopdar schedule properly! *sok iye banget kaya ada yang mau kopdaran aja! GakgakgaKKgakkk… 😀

Well, that’s all for April! So busy, So colorful and yet, So worthy!

Happy Monday!

PS: berhubung internet lagi lemot lebay, acara BW masih dalam suasana merayap dan tertatih! *haiyah!


Jajanan Rumah

Weekend begini kayanya enak kalo ngomongin kuliner, hehehehe…

Mama saya di rumah emang hobi bikin cemilan-cemilan yang enak dan sehat. Enak karena rasanya emang maknyus  dan bisa ambil lagi kalo kurang :P, dan sehat karena terjamin bersih dan bahan-bahannya terjamin aman. Pada dasarnya cemilan si Mama adalah cemilan-cemilan yang biasa kita temui di pinggir jalan, kaya singkong goreng, pisang goreng, tahu isi, bala-bala/bakwan, dan kawan-kawannya, tetapi kadang ada cemilan atau jajanan yang relatif “baru” buat saya. Nah, Kalau dulu saya pernah cerita tentang kedelai rebus, kali ini saya akan cerita tentang 3 jajanaan atau cemilan unik di rumah…

1. Ubi Goreng Keju!

Sebenarnya hanya ubi goreng biasa yang digoreng dengan cara biasa, cuma yang bikin special adalah parutan keju dan susu kental manis sebagai garnishnya. Rasanya? Tentu tidak biasa, apalagi kalau ubinya yang empuk dan berwarna orange, paduan rasa manis ubi, susu yang lembut, dan gurihnya keju yang melting di mulut… ihihiihhihi… lebay!

*

2. Pilus Ubi

Kirain tadinya si Mama ngasal ngasih namanya: Pilus! Bukannya pilus itu snack yang bulet putih kecil itu ya??? 😆 Eh ternyata beneran ada! wkakakakaka… Ini masih sama bahan utamanya: ubi. Contoh resepnya ada di website majalah Nova, rasanya enak, empuk-menul-menul gitu pas digigit, lembut dan manis di dalam… hati-hati ini juga addictive, alias gak bisa satu makannya, wkakakakakak…

Kecium gak aromanya sampai sana? masih anget lhooo…. mau? 😛

*

3. Gorengan Kelapa

Hihihihi… ini favorite banget!

Jadi awalnya si Mama dapet hibah beberapa kelapa muda dari tetangga, setelah dicek, kelapa-kelapa itu gak semuanya muda, ada yang menjelang tua, tapi dijadikan es kelapa keras, diparut untuk santan pun gak bisa. Tring! Tiba-tiba mama punya ide bikin gorengan. Kelapa tanggung itu diserut seperti biasa panjang-panjang, kemudian diadon dengan adonan tepung pisang goreng, tetapi sedikit lebih kental. Digoreng dan jadi deh! Rasanya enak banget, manis, tepungnya lembut, dan bagian kelapanya kriuk-kriuk saat di kunyah… gak bikin bosen lho! 😀

Hehehehehe…Nah bagi yang merasa lapar mendadak, dipersilahkan mencoba sendiri di dapur masing-masing ya… 😀

Happy Weekend!

**

Oh iya, mumpung ngomongin tentang makanan, beberapa hari yang lalu, Si Mama dikasih buah yang katanya manjur mengobati tekanan darah tinggi. Rasanya kaya melon/timun, tapi manisnya dikit. Saya jujur gak tahu namanya, heheheheh… *anak-pertanian-durhaka.com 😳

Ini penampakannya!

Ada yang tahu?


Pohon “Kitiran”

Masa kecil saya di Kalimantan, memang dekat dengan alam. Komplek Perumahan PG. Pelaihari memang berada di tengah rimba dan kebun tebu. Jadi wajar saja kalau saya dan teman-teman akrab sekali dengan kegiatan outdoor dan petualangan di alam bebas, kalau istilah jawanya: blasak-blasak!

Di belakang komplek saya dulu ada sebuah hutan, khas hutan hujan tropis kalimantan, yang ditumbuhi semak dan pohon besar. Beberapa titik tanah kosong di sekitar perumahan itu sudah mulai digarap oleh warga sebagai kebun, meskipun tidak banyak, dari ketela pohon, ubi jalar, jagung dan lain-lain. Sehingga saya dan teman-teman harus masuk lebih dalam ke hutan untuk bermain, soalnya kalau main di kebun orang bisa dimarahin, suka bikin rusuh dan porak poranda kebun, hahahaha…

Suatu hari saya mungkin masih duduk di kelas 2 atau 3 SD, teman-teman saya mengajak saya berpetualang ke dalam hutan. Iseng-iseng kami ingin mencari biji-bijian berwarna abu-abu kehitaman seperti manik-manik, yang bisa di bikin kalung dan gelang, uniknya biji-bijian itu punya lubang di tengahnya sehingga gampang untung dirangkai dengan benang…entah apa namanya. Ada yang tahu?

Banyak cerita tentang seramnya hutan itu, banyak anak-anak yang lebih besar mengatakan agar kami tidak masuk hutan terlalu jauh, karena bisa tersesat. Meskipun ragu-ragu, dengan dalih mencari sumber biji-biji itu lebih banyak, toh akhirnya saya ikut acara masuk hutan itu dengan berpesan pada diri kami untuk mengingat setiap jalan yang kami lalui agar bisa kembali pulang. Saya lupa, mungkin kami berjumlah sekitar 4-5 anak.

Petualangan itu di mulai setelah pulang sekolah. Diawali dengan melalui kebun-kebun, pisang-pisang, sampai alang-alang, dan aliran sungai kecil yang masih jernih… Tapi sampai sejauh itu, kami belum menemukan tanaman manik-manik itu. Kami mulai kelelahan. Kami memutuskan untuk istirahat di bawah pohon. Beberapa orang mengeluh dan mengajak pulang. Kami mulai makan buah rambusa dan ciplukan yang kami temukan di sepanjang perjalanan. Ada yang tau tanaman ini? 😀

Rambusa (Passiflora foetida) masih satu keluarga dengan markisa, buahnya kecil seukuran duku, rasanya asem-asem manis, katanya sih itu makanan ular, hehehehe…

Sedangkan ciplukan (Physalis angulata), sekarang dikenal sebagai salah satu tanaman herbal yang kaya manfaat dan unsur obat. Rasanya manis jika sudah masak, plus ada rasa khas yang ciplukan yang tidak bisa saya gambarkan dengan kata-kata 😆

Tiba-tiba seorang teman saya mengambil sesuatu dari tanah. Sebuah benda seperti kelereng kecil dan bersayap.

“Woy ini kan… biji pohon…pohon… apa ya namanya? Tau nggak?” tanya dia ke anak-anak yang lain.

Kami menggeleng-geleng tidak tahu.

“Ini biji kitiran!” kata dia asal.

“Kitiran???” kami melihat benda asing itu.

Teman saya kemudian melempar biji bersayap itu ke udara, dan biji itu kembali ke bumi sambil berputar seperti baling baling bambu doraemon. Persis kitiran juga. Kami takjub!

“Wowwww… bagus!”

Teman saya mengajak kami untuk mencari pohon kitiran yang pasti ada di dekat sini. Kami bersemangat untuk menemukan pohon yang kami beri nama pohon “kitiran”. Agak susah juga karena kita harus melihat ke atas dan kebawah, mencari tahu pohon manakah yang pohon kitiran??

****************************************************************************************************************************

 Stop Press!

Hopea odorata

Famili: Dipterocarpaceae
Nama umum: Merawan (nama dagang untuk kayu dari beberapa jenis kayu keras ringan Hopea spp).

Penyebaran dan habitat
Asli Asia Tenggara, menyebar mulai India (Pulau Andaman), Myanmar, Thailand dan Indocina dan ke selatan sampai semenanjung Malaysia utara. Pada kebanyakan sebaran alaminya, jenis ini tumbuh di hutan tropis dataran rendah dengan tanah subur sampai ketinggian 300 m dpl, lokasi tumbuhnya tidak jauh dari sungai. Namun, populasi di India tumbuh di hutan basah selalu hijau pada ketinggian, jauh dari sungai. Pertumbuhan terbaik pada daerah bercurah hujan tahunan lebih 1.200 mm dan suhu rata-rata 25 – 27°C. Dapat tumbuh pada habitat yang beragam serta mudah dibudidayakan.

Pemanfaatan
Kayunya keras, ringan dan kuat, digunakan untuk konstruksi berat dan  ringan,  mebel, vinir  dan  banyak kegunaan lainnya. Kerapatan kayu 0,5 – 0,98g/cm3 pada kadar air 15%. Cocok ditanam pada tanah yang telah terdegradasi, juga banyak ditanam sebagai tanaman hias dan penaung. Kulitnya mengandung tannin tinggi, dapat digunakan untuk penyamak kulit, juga menghasilkan getah bermutu rendah (damar batu).

****************************************************************************************************************************

Akhirnya kami menemukan juga pohon kitiran itu, letaknya agak berjauhan dengan pohon-pohon yang lain, pohonnya tinggi dan lebat. di bawahnya kami banyak menemukan biji kitiran tersebut, mungkin ratusan jumlahnya, saya segera  mengantongi biji kitiran itu dengan kantong plastik yang kami persiapkan dari rumah untuk dibawa pulang.

Beberapa orang terlihat bersenang-senang dengan melempar-lempar biji kitiran itu ke udara, sangat menyenangkan bagi kami yang pertama kali menemukan biji bersayap aneh itu. Seorang anak malah naik ke atas pohon dan melempar banyak sekali biji kitiran yang sengaja diambil dari bawah, hahahaha… Kami girang dan tak henti bersorak.

Sampai pada suatu momen, tiba-tiba angin bertiup kencang beberapa kali, dan ratusan biji kitiran jatuh dari pohonnya. Itu adalah satu keindahan yang pernah saya lihat seumur hidup saya. Kami bersorak! Kami tertawa dan melompat. Biji-biji kitiran berputar, dan terbang jauh di tiup angin siang yang hangat, menyebar, berputar, berakrobat di angkasa, seolah-olah sedang menghibur kami yang kelelahan.

Biji-biji kitiran terbang jauh. Mereka kelak akan tiba pada suatu tempat yang jauh dari induknya, dan menjadi pohon kitiran muda dan akan menghasilkan lebih banyak biji kitiran. Tuhan sungguh Maha Indah…

Kami pulang. Meskipun tidak mendapat biji manik-manik, kami pulang dengan sekantong biji kitiran. Tidak henti-hentinya saya bercerita kepada teman yang lain, bahwa di dalam hutan ada sebuah pohon ajaib yang punya biji yang bisa terbang dan berputar. Itulah pohon kitiran. Saya memberikan biji kitiran ke teman-teman saya yang lain seolah-oleh ingin berbagi kebahagiaan tentang pengalaman indah tersebut.

***

Literatur dan gambar:

http://www.rimbundahan.org/environment/plant_lists/dipterocarpaceae/Hopea-odorata.jpg

http://lekowala.blogspot.com/2005/06/hopea-odorata-in-botanic-gardens_1156.html

http://bpthbalinusra.net/isbseedleaflet/99-merawan-hopea-odorata-roxb.html

http://kumpulanspasi.wordpress.com/2010/09/10/mengendarai-khayalan/

http://wikipedia.org


Pedas!

Habis baca artikel kuliner Om Iksa tentang Nasi Goreng Kambing pake Rawit saya langsung keliyeng-keliyeng atau bahasa ngetrendnya sekarang, cenat-cenut :P. Mungkin bagi sahabat yang suka pedas ini bisa jadi salah satu kuliner yang patut dicoba di daerah kebayoran. Sebagai bocoran nih saya kasih satu contoh penampakannya! *minjem fotonya ya om.. 🙂

Chili Lovers! Here we go!

 

Saya sendiri gak suka pedes! Itulah kenapa saya takjub dengan makanan ini… Kok kuat ya??? 😯 Semenjak kecil mama sudah hafal sama gelagat saya yang standar pedesnya di bawah rata-rata. Pada dasarnya saya masih bisa makan pedes, cuma memang gak bisa banyak dan akan stop pada “level” tertentu. Level dimana orang lain masih anteng dan adem ayem sambil bilang: kurang pedes nih! *halah

 

Waktu kecil saya pernah maksain ikutan rujakan buah, entah kenapa nafsu saya seperti tak terbendung, saya bolak balik makan, tanpa peduli lagi rasa pedas itu, alias ketagihan… hingga pada suatu titik tertentu zat-zat capsaicin dalam cabe itu seperti terakumulasi di mulut dan kerongkongan pastinya, dan saya seperti mendidih! Muka merah, keringat tidak berhenti mengalir, hidung meler dan yang terparah, telinga saya sakit bukan main. Saya lari ke kamar dan menangis sejadi-jadinya… berguling-guling di kasur seperti orang gila, nahan sakit di telinga yang teramat sakit! terdengar lebay ya? tapi memang gitu kejadiannya.

 

Mamah sampe shock, dan tidak menyangka “efek”nya bakal sesadis itu, hahahahah… sampai sempat mau di bawa ke mantri, terus diminumin air panas, sampe dijejelin gula pasir, tapi telinga tetep sakit. Sejak itu saya tau diri, saya akan stop jika merasa pada “level itu” sebelum “terlanjur”. Intinya saat orang lain belum merasa pedas, saya sudah pedas duluan, dan saat orang lain sudah kepedesan, saya pasti sudah pingsan! :mrgreen:

 

Kelemahan ini tentu berpengaruh pada hidangan di rumah. Tentu saja, sayur-sayur akan dikurangi tingkat pedasnya, bumbu kacang dan sejenisnya juga tidak terlalu pedas. Kalaupun ada, pasti sudah ada yang spesial buat yang gak suka pedes, heheheh… Thanks Mom!

 

Kalau jaman di kampus, Mbak warnas sebelah kostan sudah hafal kalo saya beli nasi gak perlu pake sambel, kalaupun ada, tentu saja teman kostan saya yang akan dapat hibah sambel tersebut. 😀

 

Pernah satu kali saya  bertamu ke rumah teman yang orang Palembang, dan entah kenapa rendang yang dihidangkan super pedas! Melihat gelagat ini, dengan sopan saya minta piring kecil, meletakkan rendang itu di piring kecil, memisahkan bumbunya sedikit-sedikit dari dagingnya, dan sedikit disiram dengan kuah sayur, wkakakaak… aman deh! konyol sih tapi at least tidak sepedas awalnya.

 

Kisah lain lagi saat di Brunei, teman saya Hady yang juga orang Indo, mengajak saya makan gado-gado di sebuah resto kecil, mirip warung, cuma agak luas dengan beberapa meja. Di sana ada beberapa masakan Indonesia, dan makan basic khas di sana, seperti Nasi Katok (nasi, ayam goreng dan sambel yang tidak terlalu pedas). Tentu saja saya memesan yang khas indo, gado-gado! Tanpa curiga saya tidak memberi komando “jangan pedas” karena saya pikir standar pedas orang lokal di sana juga gak sedasyat orang indo.

 

Ya, ternyata saya salah! Gado-gadonya pedes, pedes banget malah! Hady saja yang doyan pedas bilang: “pedes juga ya” tapi masih santai..

 

Saya mulai prasangka buruk, tapi tetap stay cool. Memasukkan sedikit demi sedikit gado-gado ke mulut, dalam hati saya: sudah tanggung, mau gak mau harus habis, lagian saya lapar, tahan aja bentar! Saya melirik es teh manis saya yang tinggal 1/4, alamak! Meskipun di depan saya ada teko air tapi itu ternyata bukan air putih sodara-sodara! Itu kobokan! *nunjuk gambar… 😆

Sumber gambar di sini

 

Whatever, intinya saya gak bisa minum air itu, dan saya mencoba mengirit es teh manis yang tersisa. Waktu berjalan, saya coba untuk sok kuat, telinga saya mulai cenat-cenut dan saya merasa tidak bisa lagi melanjutkan penderitaan ini.

 

Hady kaget saat menyadari muka saya penuh keringat. “Buset! Lu kenapa prim??? Kaya mau mati!”

“Iya nih, pedes, gue butuh minum…” saya kelabakan, tolah-toleh mencari mbak pelayannya, gak ada satupun yang terlihat!

Saya langsung lari ke arah dapur kaya orang kesetanan, dan meminta air putih. Si Pelayan bukannya cepet keluar, malah lama di dapur, ntah lagi ngapain.

 

“Waduh mas, kepedesan ya??? Kok sampe begitu??? Bentar-bentar…” Si Mbak kaget liat muka saya!

 

Si Mbak memberikan saya satu botol besar air mineral yang langsung saya minum setengahnya. Si Mbak, sampai bolak balik minta maaf karena dia tidak tahu kalau pedasnya gado-gado itu sampai membuat saya mau nangis, hahahha…

Gado-gadonya baru termakan 1/3, dan saya mengganti menu makan saya dengan yang lebih normal, Nasi Katok!

 

Yang bikin lebih konyol lagi, semua tamu tentu melihat adegan ini, semua mata terdiam, menatap ke muka saya, menatap ke arah gado-gado beracun dan meja makan saya yang dipenuhi tisu-tisu bergelimpangan bekas keringat dan ingus. Hahahahah… Jadi gak enak juga kan sama resto itu, kalo semua tamu berpikir: Gila, gado-gadonya bikin orang itu sampe kaya gitu, saya gak bakal milih menu gado-gado! Padahal saya aja yang lebay 😀

 

Pelajaran buat saya untuk selalu memastikan makanan yang saya pesan sudah di wanti-wanti: “jangan pedes” atau ntar malah bikin repot orang lain dan diri sendiri.

 

Jadi kalau ada yang tanya: Suka pedas?

saya jawab: Sedikit! Hheehehehe…

 

Ada yang juga seperti saya? 🙂

 

Happy Blogging!


Misteri Blogging

 

Hikmah: Dunia Blog adalah dunia maya yang penuh misteri, tidak seorangpun bisa menjamin kebenaran tokoh dan tulisan di dalamnya. Jangan cepat-cepat menjudge status, gender, sifat, dan apapun sebelum kita benar-benar membuktikannya dengan info yang akurat. Tidak semua yang kita baca dan kita lihat seperti itu adanya. Take it easy! :mrgreen:


Torenia yang Rajin Berbunga

Masih ingat dengan tampilan gambar ini?

Entah siapa, dulu saya pernah ditanya oleh seorang blogger “Prim, kalau mau nanam bunga yang gak repot ngerawatnya dan berbunga banyak apa ya?” Jawabannya salah satu mungkin adalah ini: Torenia! dan seperti janji saya di postingan sebelumnya Pinching Bunga Yuk! saya akan bahas tanaman berbunga ungu yang saya tampilkan gambarnya sekilas di atas 😀 Yah, jawabannya adalah TORENIA.

 

Cerita sedikit asal muasal tanaman ini ada di rumah saya. Awalnya saya berkunjung ke kantor teman untuk main internet di sana saat sore. Kantor instansi pemerintah yang wifi-nya gratis dan kenceng parah, well, tiba-tiba diantara rimbunnya rumput dan semak belukar di bagian belakang gedung, saya ngeliat bunga-bunga kecil warna ungu dan pink. Dasar saya yang emang bakat ngutil, eh maksudnya mungut tanaman liar, saya belasak-belasak ke daerah rerumputan itu… Lho kok ada torenia!? Liar, kurus, daunnya kuning, pokoknya merana sekali kondisinya, dan tersebar menjadi beberapa spot.

Tanpa basa-basi saya bilang ke temen saya, boleh saya ambil gak tanaman itu?, dia bilang: Bukannya itu gulma ya? wkakakakaka… sembari mulai nyongkel-nyongkel tanaman itu pake piso dapur, saya berkata dalam ati: Gundulmu gulma, ini tanaman hias, dan berharga sekali! Kemudian saya simpan di kantong kresek kasih air dikit dan bawa pulang.

Sampai rumah saya, saya potong seluruh tangkainya kurang lebih setengah! Heheheh, sadis emang, karena melihat kondisi tanaman yang “kurang gizi” itu, saya pangkas tangkai, bunga dan daunnya, dengan harapan, cabang baru akan tumbuh dengan daun yang lebih sehat! dan akhirnya sebulan mereka sudah tumbuh segar plus berbunga TANPA HENTI! 😀 Mama sempet bilang: “Itu bunga yang ungu beli minta di mana? kok bagus?” dengan bangganya saya jawab: “cuma mungut di semak-semak”

Beruntungnya saya. Seminggu setelah saya pungut si torenia dari kejamnya alam liar, halaman tempat saya memungut torenia itu telah bersih-sih tanpa ada rumput sedikitpun. Wak! asli kaget! kata temen: Iya, kapan itu, ada tukang yang disuruh bersihin halaman.., jadi sekarang bersih… rumput, semak, dan sisa torenia itu telah habis! Fiuhh… hampir aja saya kalah start! 😛

 

OK, langsung aja saya cerita tentang tanaman berbunga cantik ini.

Torenia adalah jenis tanaman ground-cover yang menyebar dengan cepat karena dapat berkembang dengan geragih (itu lho batang yang rebah, kemudian tumbuh akar dan menjalar ke samping). Mereka masih satu saudara dengan Snapdragons, pasti kalo pecinta bunga potong tau. Bunganya kecil, banyak dan berwarna, dari warna ungu, biru, putih, pink, dengan kombinasi kuning di bagian dalam petalnya. Ukuran tanamannya tidak terlalu tinggi, hanya sekitar 20-30 cm, sangat cocok untuk mengisi taman atau ditanam di pot untuk sekedar penghias meja.

Torenia memerlukan dua hal penting dalam pertumbuhannya: Sinar matahari dan zat hara. Tanaman ini berbunga dengan rajin pada kondisi cerah, jadi letakkan pada tempat full-sun atau dengan sedikit bayangan. Untuk hara, silahkan memberikan pupuk kandang atau pupuk apa saja. Torenia akan memberikan respon cepat, daunnya akan lebat dan bunganya akan semakin ramai. Mereka bukan penyuka air banyak atau becek, jadi siramlah setelah mereka melalui satu hari yang panas. Oh iya, ini bukan tanaman dataran tinggi, di tempat sejuk dan panas torenia bisa tumbuh, kebayang aja kalimantan panasnya gimana, dan mereka tumbuh dengan gembira di sini. Intinya, perawatan tanaman ini super gampang! Cocok bagi sahabat yang sibuk tetapi senang melihat tanaman rajin berbunga.

Ini adalah kuncup-kuncup torenia yang akan segera mekar. Bersyukurlah negeri kita mendapat sinar matahari sepanjang tahun yang membuat bunga ini akan terus berbunga sepanjang tahun! 😀

 

 

Jika sudah layu, bunga ini akan membentuk Buah yang didalamnya mengandung banyak biji-biji kecil.

 

 

Biji torenia dalam buah. hehehehe, ini saya buka paksa.. 😛

 

 

Ini adalah contoh buah yang sudah tua, dan pecah, entah bijinya pergi kemana, hehehehe… Biji torenia adalah biji yang tumbuh dengan lambat, jadi saya lebih suka memperbanyak dan memisahkan dengan memotong tangkainya (geragih) daripada menunggu bijinya tumbuh.

 

 

Nah ini contohnya. Saya akan potong di bagian putih itu, dan memisahkannya pada pot lain sehingga membentuk tanaman baru. Hampir mirip dengan strawberry kan? Saya rasa ini gampang sekali, semua pasti sudah tahu 🙂

 

Sejauh ini saya belum menemukan penyakit aneh yang merusak tanaman, kecuali hama yang satu ini.

Pak belalang ini rupanya yang membuat pola-pola pada daun torenia. Tapi tak apalah, selama masih dalam batas kewajaran… kecuali mereka membuat daun torenia menjadi botak, dah itu baru deh saya akan bertindak 😀

 

Nah, sampai di sini dulu info berkebun kali ini. Semoga bisa menambah pengetahuan sahabat semua dan menambah list tanaman buat di halaman rumah kita. Kalau ada tanaman yang perawatannya gampang, kenapa harus milih yang repot!

 

Salam Kebun!

 

 


Weekly Photo Challenge: Home

This is my first participation in Weekly Photo Challange! Hopefully I can follow this “festivity” consistently every week. I am excited, yet tempted by this easy- creativity still required- challenge! Would you  like to join me? This week theme is HOME!

 

Sunset in Bogor

It’s been 7 months since I left this city, Bogor. A humid and peaceful city where I spent my years in university. They call it Rain City which requires you not forget to bring umbrella wherever you go 🙂

 

The picture was taken from my balcony of my (ex) rent room in Darmaga, it’s quite often finding moments like this after afternoon rains… It’s silently beautiful…

 

Another home…

Home sweet home, I’ll be back I said, I won’t lie…

Damn, I just simply miss it…


Header buat Jasmineamira

Hmmm… sahabat, maaf baru muncul sekarang. Saya sibuk banget akhir-akhir ini, apalagi weekend kemarin, kayanya kerjaan gak berhenti datang dan pergi *sok sibuk… Ya beginilah jadi photographer amatiran, suka cari side job yang cukup bikin kelimpungan sendiri, hehehehee…

 

 

Well, di antara kesibukan saya kemarin, masih sempet ngerjain header para pemenang KUIS Header Impian si juara pertama: Putri Jasmine yang relatif baru saya kenal tetapi syukurnya tidak menimbulkan kesusahan dalam komunikasi, mungkin juga karena dia ternyata junior saya di IPB, hehehehee…

Putri ini penyuka kupu-kupu dan warna pink. Keputusannya mengubah theme kira-kira seminggu yang lalu juga atas masukan saya jika dia ingin header dan backgroundnya diganti, harus cari theme yang mendukung keduanya, eh dia ganti beneran, sebenernya ini juga lebih memudahkan kerja saya nantinya.

Informasi tentang ukuran dan segala tetek bengek header+background sudah saya dapat! Saya mulai bekerja dan sempat menghasilkan satu header!

 

 

Hmmm.. setelah satu hari berpikir, saya batalkan draft ini, this is just too dreamy, too cartoony… 😀 Gak mature banget! wakakakakaak…  Terkadang agak sulit juga untuk menyamakan atau mendekatkan seperti apa selera dan karakter sesorang, sekaligus pada saat yang sama tetap menjaga mood saya sendiri untuk tetap stabil pada selera itu. Intinya ya gak asal kita suka, tapi dia juga oke. Makanya saya bolak-balik bilang ke Putri untuk jangan ragu-ragu untuk kritik dan kasih saran kalau ada sesuatu yang gak kena di hati.

Akhirnya saya email ke Putri dan memutuskan bahwa saya akan merombak habis headernya.

 

Saya focus pada sosok Putri dan karakternya yang saya dapat dari beberapa info di blognya dan di blog Pakdhe Cholik! Ternyata mempelajari seseorang itu gak mudah juga ya… Tapi saya akhirnya dapat idenya! Saya pun mulai bekerja lagi!

Setelah melalui banyak revisi ini itu, sms dan email bolak-balik ke putri *thanks ya put, akhirnya selesai juga header yang fix!

ini headernya:

 

Saya akan jelaskan sedikit cerita tentang header ini…

Warna bau-abu ini dipilih untuk menyamakan beberapa warna theme asli itu sendiri, warna abu-abu juga terlihat netral dengan pink dan merah. Abu-abu juga terlihat lebih modern dan minimalis.

Kupu-kupu itu tentunya menggambarkan sosok putri sendiri yang senang menelaah cinta dan kehidupan.. *halah, dan sebagai penyuka anak-anak, saya masukkan unsur anak-anak dan unsur cinta di dalamnya… Not bad combination!

Header ini perpaduan dari beberapa gambar dan brush di photoshop, jadi saya jamin ini bukan cropping dari foto orang lain, jadi mudahan this is original editing by me! 🙂

 

Bergerak ke background, saya masukkan 3 warna yang mungkin cocok di padukan, yaitu pink, abu-abu dan putih. Dengan sentuhan gaya minimalis dan tetap memasukkan unsur kupu-kupu pink, saya rasa ini akan sangat berkarakter! Awalnya jumlah kupu-kupunya sedikit, tetapi Putri request untuk membuatnya lebih banyak mungkin agar terlihat lebih ceria, dan ini hasil akhirnya!

 

dan ini penampakan setelah dipasang pada theme:

Wuaaaahhhhhh!!! It’s done!

Thanks to Putri atas kerja samanya sejauh ini. Akhirnya selesai juga! Please enjoy!

 

 

Banyak hikmah tersirat dalam pembuatan header ini..

Mempelajari karakter…

Komunikasi…

Kesabaran…

Persahabatan…

Seperti kata Om NH, this is the Beauty of Blogging! Ada banyak hikmah dalam setiap peristiwa dalam blogging…

 

Sahabat, how do you like it?

 

Happy Blogging!

 


Pinching Bunga yuk!

Wah, lama sudah gak posting tentang berkebun, semoga bisa terus semangat  ngutak-ngatik taneman.. 🙂

Hari minggu ini, cuaca lagi cerah di rumah… ngapain yah? saya ambil gunting tua punya si mamah. Sebenarnya itu gunting buat kain, tetapi karena dah usang, si mamah ngijinin saya buat pake berkebun. Hore! hari ini pinching bunga!

 

Mungkin sebagian besar dari kita berpikir bahwa munculnya bunga seperti klimaks dari menanam tanaman berbunga. Ya iya lha, apa lagi yang ditunggu selain kemunculan si bunga yang berwarna indah itu? Tetapi terkadang kita juga perlu melihat kondisi tanaman itu saat berbunga. Tidak selamanya bunga itu muncul pada saat yang tepat!

OK, begini teorinya. Bunga adalah modifikasi daun yang terbentuk sebagai alat perkembangbiakan, pada umumnya bunga akan berubah menjadi buah. Ibaratnya manusia, pasti akan “berat” banget saat mengandung. Sama halnya dengan tanaman, saat berbunga, energi dan segala nutrisi terfokus pada bunga, apalagi saat bunga sudah dibuahi dan menjadi buah, perkembangan buah seperti menjadi penyedot utama nutrisi tanaman sama halnya janin dalam perut ibu yang perlu dikasih nutrisi terbaik, ya kan?

 

Munculnya bunga secara alami dipengaruhi oleh nutrisi dalam tanah dan kondisi cuaca (suhu, cahaya, kelembaban, dsb). Terkadang saat tanaman masih berukuran kecil, karena satu dan lain hal, tanaman sudah berbunga, lebat lagi! Padahal daun masih sedikit, cabang masih bisa diitung jari, lha si taneman sudah berbunga banyak. Cantik memang, tetapi belum cukup umur! Jadi dengan sangat terpaksa, saya akan aborsi bunga-bunga itu alias pangkas! Kejam memang, tetapi ini untuk kebaikan bersama… 😀

 

Kali ini saya memangkas bunga dan bakal bunga Lantan camara yang saya baru tanam di halaman, daun-daunya masih sangat sedikit, tetapi bunganya tiba-tiba rajin bermunculan.

Saya pinching (potek/pangkas ringan) semua bentuk bunga dan calon bunga. Dengan harapan, pertumbuhan bunga akan terpusat apda pembentukan cabang dan daun sehingga tanaman menjadi rimbun daunnya kemudian baru berbunga dengan lebih lebat. Jadi lebih indah kan? Pengorbanan di awal ini untuk mendapatkan hasil lebih baik di kemudian hari.

Ini adalah contoh Lantana camara yang rajin saya pangkas bunganya. Sekarang sudah mulai lebat dan saya masih perlu memangkasnya sampai daunnya benar-benar lebat dan ukurannya sudah cukup cantik jika berbunga kelak.

 

Jadi, jika sahabat mempunya tanaman kecil yang berbunga, tidak ada salahnya memangkas bunganya sekarang. Karena penampilan bunga dengan daun atau badan yang terlampau kecil akan terlihat tidak segar dan memberatkan tugas si tanaman sindiri. Jadi jangan ragu untuk memangkas bunga! 😀 Tapi jangan tiba-tiba pangkas bunga tetangga lho ya… 😆

 

Kapan-kapan saya akan tulis bagaimana memangkas/pruning cabang tanaman untuk meningkatkan jumlah cabang atau membentuk badan tanaman! 🙂

 

Oh iya, masih ingat dengan stek tanaman saya, di postingan ini: Easy Cutting sebulan yang lalu? saya mencoba stek Pseudarentemum jessica dan Lantana camara. Sekarang mereka sudah siap dipindahkan!

 

Meskipun stek Lantana camara gak berhasil 100%, tetapi masih oke lha. Sedangkan si jessica 100% berhasil. Sekarang tinggal cari tempat dimana saya akan pindahkan tanaman ini. 🙂

 

Hmmm… satu lagi, tanaman yang saya tanaman dengan geragihnya, dapat minta di kantor teman sekarang sudah berbunga! Seneng nya! Sebulan aja sudah pada rame bunganya!

Coba tebak apa nama tanaman ini? Next posting tentang gardening saya akan bahas tanaman ini dan bagaimana saya menanamnya, Okeh! 😀

 

Salam Kebun!


Kuis Header Impian: Announcement!

Hore!

Akhirnya bisa posting pengumuman pemenang! Maaf ya semua, entah kenapa internet dari tadi malam mendadak jadi lemot, sekarang pun masih seperti merayap, bahkan kadang stop sama sekali… Mungkin ada burung bangau lagi terbang nabrak menara pemancar Indosat? Whatever…  :mrgreen:

Oke, langsung saja, hari kamis minggu lalu saya mengadakan kuis berjudul : Kuis Header Impian yang berhadiah desain header (plus background, if applicable) yang di desain oleh saya sesaui dengan kriteria atau permintaan sang pemenang. Peserta berkewajiban menjawab judul dan penyanyi sebuah intro lagu berikut:

 

Nah, entah kenapa sedikit sekali blogger yang berminat ikut kuis ini 😥 , mungkin saya juga yang kepedean kali ya sok artis bikin kuis-kuis segala, wkakakaakakak… mana katanya soalnya sulit! Lho? padahal petunjuk saya atau clue yang saya berikan sudah sangat jelas, tinggal di googling pasti ketemu! Apalagi yang emang tau jawabannya terus gak mau ikutan… ups! 🙄

Ya sudahlah, meskipun hanya berhasil menjaring 9 peserta (dikit kan??? ), tetapi niat sharing dan beramal tetap harus lanjut! 😀

 

Ok lha langusng saja, jawaban dari Kuis Header Impian adalah:

 

Alika – Sahabat Tersayang

>>>yang mau download lagu lengkapnya download di sini<<<

 

Dan syukurnya 9 peserta tersebut semua menjawab dengan benar! dan undian dilakukan oleh sang dewan juri, yaitu adik saya sendiri, jadi mudah-mudahan kuis ini bersih dari nepotisme dan keinginan pribadi saya, wkakakakkkaa…

 

Ini penampakan si juri kuis, Si Bungsu yang endut!

 

Sang Juri Kuis

 

dan ini hasil undiannya:

 

 

1. Husfani A. Putrihttp://jasmineamira.wordpress.com/,

Di lembar undian saya sengaja menulis PUTRI IPB, karena dia memang mahasiswa IPB, saya relatif baru mengenalnya di dunia blog ini, tetapi tulisan-tulisannya yang bagus membuat saya betah di sana. Apalagi di tambah foto-fotonya di sekitar kampus, wah bikin kangen kampus. Ketauan deh kalo kita satu almamater! 😆

2. Grandis zendy s., www.mipequenosanctuario.blogspot.com

Grandis a.k.a Peres, blogger satu ini sekarang sedang bekerja di Papua, saya mengenalnya di dunia blog karena blognya yang mengetengahkan topik gardening. Selain itu meskipun cowok, Grandis sangat kreatif membuat kerajinan dan soal masakan? Jangan tanya! Yang cewek bisa kebakaran jenggot 😀

3.  Lily Suhana, bundadontworry.wordpress.com

Bunda Lily a.k.a Bunda Dont Worry, siapa sih yang gak kenal beliau? Tulisan-tulisannya yang penuh tips dan manfaat patut ditengok setiap hari, karena saya sendiri banyak belajar di dalamnya… Bocoran nih, emang si Bunda ini lucky banget ya, ini pertama kalinya dia ikut-ikut kuis lho! Ternyata menang! 😀

 

SELAMAT BAGI YANG BERUNTUNG!

 

Buat yang belum beruntung, jangan berkecil hati ya…  Jujur pengennya saya, 9 peserta itu saya bikinin semua, cuma saya takut malah gak bisa nepatin janji. Jadi belum bisa sekarang untuk memberikan hadiah kepada semua peserta itu. Satu lagi, ini bukan masalah bagus atau gak, ini cuma undian! Faktor keberuntungan 🙂

Terimakasih kepada semua sahabat yang berpartisipasi di kuis pertama saya ini. Meskipun sepi peserta, semoga tidak mengurangi kegembiaraan saya sendiri, wkakakakkaa… lain kali semoga kuisnya lebih rame ya 😀 Amin

Happy Blogging!

 

 

PS: Pemenang akan saya hubungi langsung lewat email. Thanks!

 

 


(Whatever) Shoot!

Sahabat,

Saya sering mendapat pertanyaan, Kamu pakai kamera apa? Pasti bagus dan mahal kan?

Wah pantes saja hasilnya bagus-bagus, kamu pake DSLR?

Ada saran gak kamera yang bagus apa?

 

Saya biasanya secara simple akan memberikan jawaban praktis tentang merk dan pandangan saya terhadap suatu produk sepengetahuan saya. Tetapi tidak lupa juga saya selalu memasukkan “pandangan” saya terhadap dunia photo-photo ini secara emosional. Lho maksudnya apa?

Saya biasanya akan mengangkat masalah apa yang selama ini orang pikir tentang dunia photo-photo dengan padangan pribadi atau dari “hati”. Terinspirasi dari postingan seorang photo-blogger, Odee, yang mengangkat masalah “memotret dengan hati” yang sangat menarik sekali! Saya akan sedikit memadukan pemikiran saya dan pemikirannya, dan berharap bisa menginspirasi sahabat juga.

 

 

Sahabat,

Memotret itu adalah kegiatan yang pada dasarnya disukai oleh setiap manusia. Kita ingin mengambil banyak gambar di berbagai kesempatan adalah wajar. Tidak heran harga kamera semakin murah dan beragam. Kamera tidak lagi menjadi barang mewah. Bahkan di handphone pun kita bisa menemukan kamera. Angkat tangan siapa yang hape-nya mempunyai kamera? 😀

Nah, semua kamera pada dasarnya di setiap levelnya adalah baik –kecuali kamera rusak. Tidak ada yang buruk atau lebih buruk. Tinggal sebanyak apa kamu menekan shutternya dan sesenang apa kamu melakukannya. Beberapa orang terkesan malas-malasan karena merasa tidak berbakat, meskipun mempunyai hape berkamera yang ditenteng kemana-mana. Beberapa orang merasa tidak percaya diri menampilkan hasil kamera hapenya di blog atau di sebuah halaman di internet. Beberapa orang menunggu untuk memiliki DSLR untuk kemudian baru akan belajar dan rajin memotret. Kenapa tidak sekarang??? TIDAK BAGUS?

 

Break the rules! Mengapa harus berpatokan pada suatu pemahaman dan aturan bahwa photo hasil DSLR adalah bagus? Mengapa kita terpatok pada aturan teknis, penggunaan mode ini mode itu, pencahayaan ini, pencahayaan itu, iso ini iso itu? Mengapa kita diam dan melihat saja hanya karena alasan malu dan tidak pede? Lalu kita seperti tertinggal jauh dari mereka-mereka yang dengan riangnya memotret apa saja?

 

 

Sahabat,

Di luar dunia bisnis photography yang komersial, renungkanlah apa yang sebenarnya kalian inginkan saat memotret? Apakah hanya ingin pengakuan dan penyetujuan? Apa sekedar menyenangkan orang saja? Hmmm, cobalah memotretlah dengan hati. Memotretlah karena kalian mau. Memotretlah karena kalian bahagia melakukannya. Tidak perlu kita memikirkan apa yang orang sedang pikir, apa pendapat orang jaman dahulu, aturan teknis memotret, aturan-aturan klasik yang mencengkram kita dari kebebasan. Memotret itu adalah dari kita dan untuk kita, tidak ada aturannya! Mereka menyebutnya Expressive Photography. Be free and happy!

 

Langkah selanjutnya dari pelarian kita ini adalah “Sharing”! Yah, berbagilah dengan bahagia dan tanpa beban. Tidak semua orang percaya diri berbagi hasil jepretannya dengan orang di luar sana. Kenapa harus ragu? Photo adalah bahasa universal di seluruh dunia, bercerita dengan photo, berbagi kebahagiaan dengan photo, dan rasakan sensasinya saat kita menerima kejutan-kejutan dari yang mereka katakan! Berbagi bukan berarti pamer. Berpeganglah pada prinsip bahwa kita memotret dengan hati dan bahagia melakukannya, jika nanti ada yang menjudge buruk hasil karyamu, tidak perlu sedih! Hey itu wajar kok, this is my expressive photography. Setiap orang punya selera dan pendapat. Kenapa harus sedih dengan selera kita sendiri? Tidak ada yang salah dengan setiap langkah yang kita ambil ke depan. Yang salah adalah yang tidak melangkah! Percayalah semakin sering kita melangkah ke depan, semakin kita tahu bagaimana melangkah dengan lompatan paling jauh! 😀

 

Sahabat,

Memotret bukan milik para photographer saja. Siapapun boleh berbagi gambar dan foto. Jika sekarang sahabat bingung ingin posting apa, mengapa tidak mencoba berbagi photo hari ini? DSLR, Compact, phone-camera, semua adalah sama-sama kamera. Do your (whatever) shoots! Tunjukkan pada dunia bahwa kita sedang bahagia, bahwa kita melihat sesuatu di luar sana, bahwa kita ingin mereka tahu apa yang hati kita rasakan. Tidak takut memotret adalah modal awal. Saya sendiri dulu tidak takut memotret meskipun hanya dengan kamera hp, lihat apa yang saya ambil! Foto-foto ini hanya diambil dengan kamera hp 2 MPix tanpa editing!

 

Ada cerita di baliknya, ada ekspresi dan ada rasa ingin berbagi…


Saat saya kursus menyetir…

 

 


Kursi-kursi di sebuah kondangan di Jakarta…

 

 

 


Lantai angkot di Bogor…

 

 

Abang pisang keju…

 

 

 


Bersantai di kamar kostan temen di Bogor…

 

 


Saat sebuah nama tertulis di pallet kayu di Amerika

 

 


Genteng kostan di pagi hari…

 

 


Antena tivi di senja hari…

 

 


Saya suka sepatu ini, sangat nyaman untuk bekerja!

 

 


Berapa lama baju kotor ini tidak dicuci??

 

 


Ssssttt… ini di Brunei!

 

 

Ada yang tahu apa nama kacang ini? ini saya temukan di bawah pohonnya…

 

 

Kamera itu seperti perpanjangan mata dan hati kita. Mereka menunggu jari-jari kita menekan shutternya. Jadi apa yang kita tunggu? Keep going, keep shooting, keep sharing! It’s free!

 

Salam Jepret!

 

PS: jangan lupa ikuti KUIS HEADER IMPIAN ya!


Kuis Header Impian

Hello!

Akhirnya kuis yang saya bilang kemarin bisa launching hari ini…

 

Semenjak saya posting tentang header yang saya buat untuk Mbak Devi di postingan : Header untuk Sahabat, banyak sekali respon positive yang mengatakan hasil karya saya itu lumayan dan tidak mengecewakan, dan banyak komen yang meminta saya dengan senang hati membuatkan header untuk rumahnya…

Jujur saya kelimpungan, karena tidak mungkin rasanya mengiyakan semua request tersebut, tetapi rasanya juga tidak adil jika mengabulkan beberapa permintaan dan menolak yang lain, maka dari itu, saya berinisiatif untuk mengabulkan permintaan itu dengan membuat kuis. Yah, tentu saja 3 orang pemenang kuis ini akan mendapat header spesial saya akan buat untuk ketiga pemenang tersebut, tentu saja sesuai dengan kriteria yang mereka inginkan. Tertarik?

 

 

OK, caranya gampang, dengarkan intro lagu di bawah ini, dari intro ini sebenarnya sudah tampil melodi dari syair awal dan sedikit reffnya…

 

 

Nah, ada yang masih bingung lagu apakah ini?

BACA PETUNJUKNYA:

Lagu ini adalah lagu anak-anak. Lagu ini membawa penyanyinya berjaya di AMI awards 2006 dalam tiga kategori sekaligus! Musisi sekaligus pencipta lagu ini baru saja wafat bulan Januari 2011 . Beliau juga sebelumnya pernah melahirkan seorang penyanyi cilik terkenal yang kini telah dewasa dan masih menyanyi. Penyanyi lagu ini pertama kali muncul dalam ajang pencarian bakat: AFI Junior.

Pasti sekarang bisa kan???

 

Sahabat cukup menjawab siapa penyanyi dan judul lagunya, dengan cara mengirimkan jawaban berformat:

 

Nama: _____________ (Nama Asli)

Email:  _____________( Email yang aktif dan selalu dipantau)

URL Blog: ___________ (Alamat Blog)

Jawaban: ____________ (Penyanyi dan Judul Lagu)

ke EMAIL saya : prima_wkh@yahoo.com, dengan subject:  KUIS HEADER IMPIAN


Oh iya, kuis ini di tutup Minggu, tanggal 27 Februari 2011, pukul 24.00. Jadi cuma ada 4 hari waktunya, hehehehe… Pengumuman pemenang pada Rabu, 2 Maret 2011.

 

PS: Sahabat akan mendapatkan konfirmasi melalui email jika jawaban telah masuk ke email saya. Jika jawaban benar, maka sahabat berhak mengikuti undian untuk merebutkan posisi sebagai 3 pemenang. Saya akan hubungi melalui email kepada tiga pemenang untuk melakukan diskusi tentang teknis pembuatan header tersebut. 🙂

 

Sahabat tersayang, selamat menebak dan mengikuti kuis sederhana ini… Good Luck!

 

 

Happy Blogging!

 

Hmmm… penyanyi asli lagu ini gak boleh ikutan kuis ini ya… *gubrak!


Cerita Lucu di balik Bintang Radio

Hehehehehehee… cerita ini ditulis karena Mbak Devi tiba-tiba menuliskan pernyataan di blognya bahwa saya dulu juara bintang radio, walah-walah gossip cepat beredar, serius saya bukan mau pamer bintang radionya tapi cerita lucu di baliknya… 😀

 

“Prim, anterin gue yuk daftar bintang radio!” seorang teman saya mengajak saya dengan penuh antusias. Dia adalah teman kuliah saya, juga teman satu kostan, dan juga teman satu paduan suara. Saya lupa kapan tepatnya, mungkin sekitar tahun 2007. Saya masih kuliah di Bogor pastinya.

Saya sempet bertanya sama teman saya, Bintang Radio apaan sih?

“Itu lho kaya ajang pencarian bakat, tapi di radio, sudah ada sejak jaman dahulu kala. Rio febrian, Titik Puspa, Ruth Sahanaya kan jebolan bintang radio!”

Saya cuma ngangguk-ngangguk. Membayangkan acara itu bakal rame dan dipenuhi ababil yang antusias ikut audisi seperti acara idol-idolan di tv 😀

Singkat cerita saya mengantar teman saya ke RRI Bogor. Jujur itu pertama kali saya ke radio milik pemerintah yang tertua itu. Ternyata suasana di sana tidak seramai yang saya kira. Teman saya buru-buru menanyakan di mana tempat pendaftarannya, dan sampailah kami di tempat pendaftaran.

Ternyata seleksi bintang radio di bogor ini adalah seleksi bintang radio untuk kawasan Bogor, Cianjur, dan Sukabumi, juara pertama akan beradu di Jakarta di tingkat Nasional. Si Ibu pendaftaran dengan antusias menjelaskan prosedur dan aturan mainnya kepada kami.

“Itu temennya gak sekalian daftar” seru si Ibu tiba-tiba menunjuk saya. Saya menoleh sambil pamer gigi: *maaf ye bu, saya cuma pengantar! 😛

“Prim, hayuk, ikut aja, sepi tau yang daftar!” teman saya seperti mendapat angin.

“Iya saya yakin pasti menang deh… “ Si Ibu makin giat merayu.

Akhirnya dengan menimbang kata : sepi pendaftar, saya mendaftar dan melayanglah duit Rp. 20.000.-. Oh iya, lagu wajib yang harus dibawakan peserta pria: Dealova – Once DEWA, dan sebagai lagu pilihan saya milih: Kejujuran Hati – Kerispatih. Eits, bukan saya ngoyo pilih lagu itu ya, lha dari 7 lagu pilihan yang saya tau cuma lagu itu! *gubrak 😀

**

 

Hari audisi telah tiba. Peserta yang datang banyak, yang pasti cewek dan cowok lebih dari 100, peserta pria saja kalau tidak salah sekitar 80 orang. Jangan tanya dandanan mereka, ngartis banget! Saya? Mahasiswa banget, kemeja, jeans, plus ransel yang digendong kemana-mana 😀

Saya juga malah lupa nomor peserta saya berapa, hahahahaha… Tiap peserta masuk ke dalam ruangan dan kemudian menyanyikan sepenggal lagu di depan 3 juri yang masing-masing mewakili profesi dalam bisnis entertainment *halah, katanya sih begitu. Yang saya ingat ada juri AMI Award di antaranya 😛 Ruangannya sih bener kedap suara, cuma corong speakernya ke luar! Wkaakakka… jelas kita bisa mendengar peserta di dalam yang sedang berdendang, alamak! Saya nervous! Dalam ati, sialan tuh teman gue ngajak-ngajak ikut audisi, bisa malu 7 turunan nih gue kalo false!

Nomor saya akhirnya dipanggil masuk ruangan. Saya masuk ke dalam, melihat 3 juri, dan dipersilahkan menyanyi. Kesalahan pertama saya adalah saya tidak hafal lirik dan mencatat liriknya di selembar notes, dan saya dengan lugunya nanya, “Boleh baca liriknya?” Seorang juri berkata dengan agak judes, “Kamu siap ikut audisi tidak?” Ya sudah, saya cuma berbekal ingatan, dan mulai menyanyi lagu kerispatih itu sampai reff pertama. Yes, beres!

Pengumuman hasil audisi dilaksanakan hari itu juga, 15 menit setelah semua peserta selesai audisi. Untuk penghematan waktu, mereka memutuskan langsung memilih 10 finalis, tidak seperti prosedur awal yang memilih 20 peserta pria, dan 20 wanita untuk semi final. Sehingga semua pserta mendengarkan pengumuman itu dengan hati cenat-cenut. Saya? Saya sih lempeng aja, karena emang gak ngarep apa-apa, coba-coba berhadiah aja.

Astaga! Nomor saya masuk 10 besar! Kok bisa? Teman saya yang ngajak saya malah gak masuk. Oh iya, dari 10 orang itu, ada vokalis band kampus juga, dari mukanya aja saya sudah kenal, dan kaget aja bisa kepilih satu final sama dia! Hihihihihiii.. mungkin suara saya gak jelek-jelek amat ya… 😀

Hari itu juga kita melakukan take nada dasar, konsul ke pianis dan guru vocal, pemotretan, plus ada latihan satu kali sebelum final, hahahahhaa… asyik juga lho pernah ngerasain jadi artis-artisan begini 😀

**

 

Seminggu berlalu, hari final itu tiba. Hotel Salak, Bogor menjadi saksi malam itu, manggung perdana saya, hahahahaa… saya cuma pake jas hitam, kaos garis-garis, jeans hitam ,dan sepatu putih. Dari semua yang saya pakai itu, cuma kaos yang memang asli punya saya, sisanya minjem! 😀

Para finalis menyanyikan lagu wajib dan pilihan secara bergantian antara pria-wanita. Saya nomor 6 kalau tidak salah. Oke lha, intinya saya tampil dengan memukau– sampe saya terpukau mengingat diri sendiri, ngapain aja tadi? Muter-muter di panggung tanpa tujuan, tangan kesana –kemari, mata ke langit-langit ruangan, hahahahhaa… bener-bener gak gaya! Amatir abis! Sudah lha, yang penting berani, ya kan… 😛

Oh iya supporter saya cuma dua teman kampus, Anto dan Ema, hahahahaa… gak kurang gak lebih! Seketika saya beres menyanyi, saya sudah yakin tidak menang, dan mengajak Anto dan Ema untuk cabut dari Hotel Salak, lokasi lomba.

“Serius lu mau balik, gak nunggu pengumuman??”

“Iya, gue dah lapar, kita cari makan dulu, terus balik ke kampus” Saya tanpa basi-basi melenggang meninggalkan ruangan bersama dua teman saya itu. Oh iya, sebelum pergi saya sempet pamit sama seorang finalis lain, kalau saya balik dulu, terus dia tanya, kenapa? Saya jawab sekenanya: Gue laper!

Seafood pinggiran jalan akhirnya menemani makan malam kami, entah kenapa saya jadi laper banget setelah adegan uji nyali di atas panggung itu. Saya dan dua teman saya itu sempat foto-foto, membahasa penampilan “autis” saya, dan becanda seperti biasa. Kita pun naik angkot dan pulang ke kampus Darmaga.

Tiba-tiba saat saya di atas angkot, teman sya menelepon.

“Cuy, Selamat lu juara 5, Gile keren, keren…, gue dengerin barusan di radio!”

Saya sempet bengong… beneran tuh?

Saya dengan lugunya bilang, “Cuy, gue di angkot lho mau pulang ke kostan”

“Haaaaahhhhh??? Gila lu!”

 

Sodara-sodara ternyata saya juara 5 dari 10 finalis itu, hahahahahaaa.. dan juara yang mendapat hadiah adalah juara satu sampai enam. Artinya nama saya dipanggil dan maju ke depan menerima piagam, hadiah, dan foto bareng. Tapi semua terlewatkan, karena saya dengan antengnya sudah duduk manis di dalam angkot! *Gubrak

Tidak lama, teman finalis yang tadi saya pamitin, menelepon saya.

“Prima! kamu pulang? Nama kamu di panggil, aku juara 3, kamu juara 5”

“Aku dah di angkot tuh, hahahahahaha”

“Oh, iya tadi aku bilang, kamu dah balik duluan, cari makan, wakkakakaka, akhirnya kamu diwakilin juri”

“Hahahahahahaha” alasan yang sempurna banget kan, sempurna dodolnya… 😀

**

 

Besoknya saya ke RRI untuk ambil hadiah. Semua tim melihat saya seperti geregetan campur bingung karena tadi malam saya tiba-tiba kabur. Mereka menyayangkan ketidakhadiran saya, padahal banyak acara ini itu setelah final itu. Jangan tanya deh gimana mereka mewawancarai saya kesana –kemari. Saya cuma jawab, saya gak yakin menang, makanya pulang duluan 😛 HUffff… Emang saya lagi gak rejeki waktu itu, jadi gak ikut merasakan indahnya panggung juara  😛

Meskipun cuma juara 5, hadiah souvenir dan tabungannya lumayan bisa bikin tersenyum. Saya pun pulang bersama mobil teman saya, dengan membawa trophy berbentuk mic itu dengan mata tidak percaya, ya ampun, kok bisa ya???

BTW, si vokalis band yang ikut final malah gak juara lho… Hahahahahah… *nyombong colongan. Oh iya, saya sekarang malah kangen pengen nyanyi-nyanyi lagi, cuma kok makin hari suara makin seret dan gak jelas lagi… *kayanya kebanyakan makan gorengan bikinan mama, gak gak gak… 😀

Anyway, Thanks ya RRI Bogor yang sudah memberikan kenangan lucu ini 😀

Happy Blogging!


PS: Akan ada kuis lho di blog ini dalam waktu dekat, tunggu pengumamannya ya! ^^