Frames, Green, Rustle and Sweet Tea

Cerita dari Angkot

Pagi itu, aku pulang ke darmaga dengan perasaan hampa. Harapanku bekerja sebagai freelance di salah satu restorant cepat saji lenyap sudah, aku tidak memenuhi syarat terang mereka. Matahari masih belum terik saat itu, pukul 10.00 kira-kira, aku berada di dalam angkot yang membawaku pulang.

Ada perasaan kesal dan sedih saat melalui beberapa restoran-restoran cepat saji lain yang dulu pernah aku masuki juga… hasilnya cuma nol besar… Sudah saatnya menghentikan angan-angan, toh aku sudah mendapat pekerjaan full time yang hanya tinggal menunggu waktu…

Angkot tiba-tiba berhenti di depan sekolah dasar, banyak anak-anak dan ibu-ibu berhamburan keluar, beberapa ada yang berjalan, mengendari motor, dan ada juga yang naik ke dalam angkot… Aku merapatkan dudukku yang tepat dibelakang supir, angkot sebenarnya tidak terlalu penuh, namun tiba-tiba dari samping kiri ku, seperti ada badan yang menubruk, ternyata anak laki-laki berseragam SD, badannya cukup besar, pasti sudah kelas 6 SD aku pikir, aku hanya mengerutkan dahi gara-gara tubrukan tadi, anak ini terlalu bersemangat atau apa??

Selang dua menit setelah angkot berjalan aku mendegar suara aneh dari sebelahku, anak SD tadi berbicara ke ibunya yang duduk di sebelahnya, di sebelah ibu itu ada anak yang lebih kecil lagi tidak berseragam, mungkin itu adiknya, kira-kira anak umur 4 -5 tahun. Tidak ada yang salah dengan mereka, yang terdengar aneh adalah cara berbicara anak SD di sebelahku… berbicara seperti ada bola pimpong di dalam mulutnya, tidak jelas, terbata-bata, tapi masih bisa dimengerti… Anak itu, cacat.

Entah apa masalahnya, kemampuan verbalnya sangat buruk jika dibandingkan dengan ukuran badannya, bahkan lebih buruk dari anak kecil yang aku pikir adiknya, adiknya justru berbicara jauh lebih normal untuk anak seumurannya… Anak itu berbicara seperti sedang merasa senang dengan pelajaran yang baru ia dapat, ibunya sangat interaktif dan tanpa risih berbicara dengan anaknya yang menjawab sekenanya dan seperti penuh usaha… ibu-ibu didepannya bertanya apakah ia sudah bisa membaca, anak SD itu menjawab dengan penuh gembira, mengeja A-I-U-E-O, seolah-olah puas hanya dengan sekedar menghafal 5 huruf itu… Anak ini sudah kelas berapa aku pikir? Bukankah ia seharusnya sudah bisa membaca? Apakah kecerdasannya di bawah rata-rata?

10 menit berlalu, ibu lain turun dari angkot bersama anak perempuan kecil berseragam SD, sangat kecil dengan tas lucu berwarna pink, aku pikir ia masih kelas 1 SD, seketika mereka pergi, anak SD di sebelah ku mengucapakan “Da-Da” dengan gaya bicara yang khas… Anak ini tidak merasa aneh dengan dirinya, mungkin anak kecil yang tadi turun adalah teman sekelasnya… yang jelas-jelas masih sangat kecil, dibanding dirinya..

Ibu sang anak terlihat sangat menyayangi anaknya tersebut, beberapa kali ia menyuapkan potongan kue dan dimasukkan ke mulut anaknya dan adiknya… tanpa beban, tanpa risih, dan tanpa isyarat kesedihan…

Saat mereka turun di terminal Bubulak, aku berjalan dibelakang mereka, anak itu… ternyata berjalan dengan sangat aneh.. seperti lambat dan setengah lumpuh… tapi masih berjalan, kemampuan motoriknya juga tidak bagus, aku sudah menyangka sejak di dalam angkot, gerakan tangan si anak terkadang terlihat aneh dan gagu…

Teman, mungkin kita sering melihat hal seperti ini di TV, tetapi akan jauh berbeda rasanya jika melihat secara langsung. Bagaimana anak itu bersekolah, mengenakan seragam layaknya anak-anak lain, tetapi berbicara dengan begitu sulitnya, berjalan dengan anehnya, tetapi begitu gembira dengan apa yang dijalaninya…

Mampukah kita menerima sebuah keadaan yang mungkin kita tidak bayangkan menimpa kita, mampukah kita menjadi ayah atau ibu seorang anak yang tidak sempurna, siapkah kita meladeninya berbicara di depan umum, menyuapinya dengan penuh sabar di tengah badanya yang beranjak remaja, mengenyampingkan padangan jijik orang-orang terhadap anaknya, menuntunya dan berjalan lebih pelan, mampukah kita tetap tersenyum dengan tegar dan memperlakukan anak tersebut seperti anak normal lain…

Mampukah kita bertukar roh dengan si anak, ikhlaskah diri kita terjebak di dalam tubuhnya yang lemah dan terbatas… Di kala diri kita sibuk melihat diri kita dan sekitar kita, penuh dengan surga dunia dan kesibukan mencari harta dan cinta, tersentak pikiran ini ke sebuah pertanyaan yang mungkin nanti akan ditanyakan oleh anak itu di masa depan… Apakah ia akan menikah suatu hari? Adakah seorang gadis tulus hati yang mau menikah dengannya?

Dari kejauhan, aku masih melihat ibu itu menuntun pelan anaknya… Wajah sang ibu masih sama, penuh kasih dan tanpa khawatir tentang sebuah pertanyaan yang mungkin tidak akan pernah mampu ia jawab…

16 responses

  1. Dengan harapan tidak ada yang mustahil

    16 November 2010 at 10:43 AM

    • Hiks…aku masih suka terharu baca tulisan ini, padahal tulisanku sendiri, hahahahah…lebay… Thanks mbak jum dah nyasar sampe ke sini..😛

      16 November 2010 at 10:51 AM

      • saya gak nyasar, saya mencari…

        16 November 2010 at 11:20 AM

      • 🙂 berarti thanks mbak jum dah nyari dan tulis komen disini… :bowing:

        16 November 2010 at 11:29 AM

  2. ” Mampukah kita bertukar roh dengan si anak, ikhlaskah diri kita terjebak di dalam tubuhnya yang lemah dan terbatas… Di kala diri kita sibuk melihat diri kita dan sekitar kita, penuh dengan surga dunia dan kesibukan mencari harta dan cinta, tersentak pikiran ini ke sebuah pertanyaan yang mungkin nanti akan ditanyakan oleh anak itu di masa depan… Apakah ia akan menikah suatu hari? Adakah seorang gadis tulus hati yang mau menikah dengannya? ”

    Kata-kata ini tepat sekali dengan apa yang dipikirkan anak tersebut mas,,,,
    sangat berat mas…
    terimakasih mas sudah mewakili suara hati ‘anak’ tersebut…

    5 December 2010 at 11:58 AM

    • Sama-sama ya…duh saya lupa ini mbak atau mas ya???😀
      Ini semua notes di facebook yg saya tulis sebelum saya bikin blog🙂

      5 December 2010 at 12:07 PM

      • Kok lupa sich mas…??
        saya mas bukan mba…. hehee..
        kisah di atas benar2 mewakili mas…
        pernah kasi koment di blog saya bagian tentang saya kan mas..??🙂

        5 December 2010 at 7:56 PM

      • iyaaaaa…. saya ingat setelah nulis komen diatas, mas rey kan. dikomen selanjutna saya ingat kok mas. sori ya😀

        Rasanya tidak akan pernah mewakili mas, rasanya saya akan malu jika harus bertanggung jawab atas tulisan saya di atas. Saya sendiri terlahir sebagai manusia normal, tidak akan eprnah merasakan sakitnya menjadi “istimewa”

        Saya senang jika bisa menjadi “tali penyambung” hati orang-orang tsb, meskipun hanya sampai sebatas ini…

        plis jgn sedih ya mas ;D hahahahahah…

        5 December 2010 at 8:18 PM

  3. hahhaaaaaa…
    kenapa harus sedih sich mas..
    setiap individu punya porsi nya masing2 dalam jalani kehidupan ini…
    tinggal di syukuri dan dijalani saja kan mas..??🙂

    6 December 2010 at 12:39 AM

    • see… mas lebih bijaksana daripada saya.. hahahhahaha…
      Padahal saya tau bahwa memang semua sudah digariskan, tinggal bagaimana orang menjalaninya dengan cara terbaik. Saya memang masih jauh mengenal ilmu ikhlas, taunya cuma haha-hehe, tapi Tuhan tahu bahwa saya belajar, dan berusaha menjadi lebih baik.
      Seperti mas rey yang tidak henti untuk produktif. Saya sering bilang ke temen, bukan masalah bagaimana inputnya, yang terpenting outputnya. Dari situlah orang mengenalmu.

      Maaf ya mas kalau saya sok tau🙂 Ilmu masih sempit. Hati masih dangkal.

      Salam saya mas rey.

      6 December 2010 at 6:44 AM

      • Saya setuju dengan input dan output itu mas…
        Mas Prim terlalu merendah,, persis padi, makin berisi makin menunduk…
        Kita sama2 masih belajar mas…🙂

        senang bisa berkenalan dengan mas Prim.

        6 December 2010 at 9:41 AM

  4. nana

    ceritamu mengingatkanku sm murid2ku di PAUD Prim🙂
    kita justru byk belajar dr anak-anak yg unik itu, belajar bersyukur…belajar ikhlas…belajar mencintai dg tulus…
    orangtuanya…Subhanallah…luar biasa… ^_^

    21 January 2011 at 3:47 PM

  5. anak SDnya pasti naek dari gunung batu yah? di situ kan emg ada SLB, mas. tiap hari (kalo ke kampus) aku ngelewatin. kadang2 jg aku seangkot sm anak2 berkebutuhan khusus, dari mulai yg cacat fisik sampe autis atau ADHD. orang tua yg sabar kayak cerita mas prima di atas jarang aku temuin, yg lebih menyedihkan kalo orang tuanya malah marah2 ke anak itu😦

    tp emg bener, pertanyaannya adalah: kalo kita dikasih cobaan kayak gitu, apakah kita akan bersabar kayak orang tua di cerita mas prima itu? hehehe jd sedih ahh😦

    11 March 2011 at 10:14 AM

  6. Ayu Lesthary

    Baguz bnget…….
    Ceritanya mengharukan….😉
    ;(

    7 April 2013 at 2:46 PM

  7. Hikhikhik…..

    3 January 2014 at 4:32 PM

  8. Hikhikhik..

    3 January 2014 at 4:34 PM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s