Frames, Green, Rustle and Sweet Tea

Memory

TLPC : Pameran Foto Perdana

Ini tulisan dadakan!

Hi pembaca setia blog ini, hahaha… maaf ya sudah lama tidak menulis, alasannya akan saya ceritakan nanti di postingan selanjutnya, yang pasti saya menulis kali ini sifatnya dadakan tapi harus, karena ini bentuk apresiasi saya terhadap keberhasilan sesuatu, bentuk rasa bahagia dan juga rasa haru…

Hari ini TLPC (Tanah Laut Photo Club), komunitas fotografi di kabupaten tempat saya tinggal yang sempat saya ceritakan disini dan disini melaksanakan pameran foto perdananya! Bertajuk “Wajah Tanah Laut” mengangkat hal tentang sumber daya alam, wisata dan sosial budaya di kabupaten tersebut. Pameran foto ini tentu tidak hanya menguras tenaga dan pikiran, tetapi cukup menguras biaya dan juga perasaan tentunya. Ada sebuah perjuangan yang tidak mudah di balik kesuksesan acara ini, ada sebuah cerita dan ada sebuah lika-liku panjang sebuah organisasi baru yang mengawali langkahnya dengan bermodal sebuah tekad… “Kita harus tunjukkan bahwa ada TLPC di kabupaten Tanah Laut”

“Langkah pertama ini pasti akan sangat sulit, tetapi setelah ini langkah-langkah selanjutnya pasti akan lebih mudah” begitu saya pernah bilang ke teman-teman, dan untuk itu, kita butuh tangan dan kaki yang 100 kali lebih kuat untuk menjadikan acara ini terwujud. Dalam keterbatasan kekompakan, keterbatasan dana, dan keterbatasan waktu kami seperti para pemimpi kecil sederhana yang tak putus asa. Jatuh bangun dalam kegiatan ini dan masalah-masalah datang silih berganti memecut kami untuk berjuang lebih keras.

Kini semua berbuah manis, kegiatan pameran foto tersebut terbilang sukses.

Sebuah sms meluncur ke HP saya:

“Acara dibuka oleh Bupati dan unsur muspida, Kapolres mau ikut bergabung sebagai Pembina/ Penasihat, Ketua DPRD Tanah Laut akan jadi ketua kita, Bupati dan Wakil Bupati interest sekali sama hasil karya kita dan membeli salah satunya dengan harga fantastis, dan banyak orang yang datang untuk melihat..”

Bergetar hati saya membacanya, mengetahui perjuangan selama ini tidak sia-sia, ada genangan tipis di mata saya, “Selamat teman-teman atas kesuksesan kita”  dalam hati saya.

Hari ini saya hanya diam di kamar saya di Bogor, ribuan kilo dari tempat acara berlangsung. Hari ini saya menuliskan status di FB tentang suasana Bogor hari ini yang panas, kering dan barangin, mengingatkan saya tentang Pelaihari, tempat acara tersebut berlangsung, dan saya benar-benar ingin berada di sana hari ini.

Berbagai ucapan terimakasih, ungkapan syukur dan kebahagiaan datang silih berganti malam ini, seolah sudah cukup membuktikan kepada saya bahwa acara tersebut berjalan sukses meskipun saya tidak melihatnya dengan mata dan kepala sendiri. Hari pertama puasa ini seperti penuh dengan rahmat dan rasa syukur yang teramat, khususnya saya yang sedang jauh dari teman-teman seperjuangan. Hari ini hari pertama puasa ramadhan, hari ini hari ulang tahun anggota kami, Bagus, dan hari ini pula hari pameran perdana kami yang sukses. Tuhan sungguh perencana yang ulung. Alhamdulillah.

Sedikit flashback tentang saya dan TLPC…

Saya adalah “anak baru” di lingkungan Pelaihari, Kab. Tanah Laut, saya dipertemukan oleh anak-anak TLPC melalui sebuah grup di FB sekitar Januari 2011. TLPC berkembang pesat sampai akhirnya terbentuk organisasi dan rencana kegiatan, yaitu pameran pertama ini.

Saya yang seorang pengangguran tentu saja seperti menemukan tempat pelarian untuk mengamalkan kapasitas saya, semampu yang saya bisa. Berbekal sedikit ilmu dari bangku perkuliahan saya ikut aktif dalam persiapan kegiatan, mulai dari nol sampai sekarang, itulah mengapa saya tau persis betapa beratnya perjuangan kami.

Saya tahu bahwa saya tidak akan lama berdiam di tempat ini, maka saya pernah menolak saat ditunjuk untuk menjadi pengurus, saya tidak bisa menjamin sampai kapan saya masih ada di Pelaihari, sedangkan cepat atau lambat waktu perpisahan itu akan tiba, dan saya sadar akan itu.

Teman-teman di TLPC adalah orang-orang yang optimis dan penuh semangat, dan saya percaya itu, saya bisa merasakannya, dan saya memutuskan untuk “bergembira” bersama mereka, karena saya tau, ada potensi di dalamnya, ada cahaya kesuksesan yang belum tampak, maka dari itu saya tidak main-main di dalamnya. Saya bergembira, tetapi tidak main-main dalam bergembira 🙂

Persiapan pameran seperti  menuntut kami untuk lebih kreatif dan kritis mencari objek foto. Kegiatan hunting bersama seperti tidak ada habis-habisnya menghiasi hari-hari saya dua bulan terakhir, belum lagi kegiatan menyebarkan proposal yang kejar-kejaran dengan ketatnya waktu yang tersisa. Awalnya acara ini akan dilaksanakan sebelum bulan puasa, tapi sempat tertunda sampai akhirnya terlaksana hari ini (1 Agustus 2011). Kami melakukan yang terbaik yang kami bisa, sampai di hari-hari terakhir saya di sana…

Akhirnya kurang lebih satu minggu sebelum tanggal pelaksanaan acara pameran, saya harus meninggalkan Pelaihari, untuk kembali meniti karir saya kembali. Sebuah moment yang saya tunggu tetapi tidak saya inginkan.  Berat, tetapi harus. Ada rasa sedih dan “tanggung” karena harus meninggalkan acara yang hampir selesai ini. Saya terbang ke Jakarta dan stay di Bogor untuk sementara waktu. Maaf teman-teman, saya tidak bisa berpamitan ke setiap orang saat itu.

Sekarang,

Saya tahu ada senyum di setiap wajah teman-teman TLPC, hari ini, sebuah langkah pertama, sebuah langkah besar untuk keberlangsungan organisasi kita telah terlaksana. Doa dan air mata itu terjawab sudah. Harapan dan cita-cita semakin jelas terlihat.

Saya bangga pernah menjadi bagian dari kalian, dan saya jujur berat sekali harus meninggalkan TLPC, karena saya sudah merasa memiliki dan menemukan wadah yang membuat saya “berarti”. Kenangan dan persahabatan yang kita jalin selama ini tentu saja sangat terukir di ingatan saya, saya menghargainya dan tidak menyangkal bahwa semua sangat berarti bagi saya.

Sahabat dan rekan-rekan TLPC,

Saya mungkin akan berada jauh dan sangat jauh dari Pelaihari, tetapi saya tentu akan terus mendukung TLPC. Hehehhe, kan masih ada internet. Mohon jaga dan terus kembangkan komunitas ini menjadi komunitas yang baik, produktif dan berkualitas. Kekompakan, kerja keras, dan rasa memiliki adalah kunci keberhasilan langkah-langkah kita ke depan. Saya turut mendoakan dari sini.

Ah, sudah cukup menjadi sentimental! Mari bergembira atas kesuksesan ini! Saya terharu bahagia malam ini, karena kita berhasil! Well done! Terus semangat!

This slideshow requires JavaScript.

“Saya datang ke TLPC tanpa membawa apa-apa, tetapi saya pergi membawa ribuan kisah dan kenangan, terima kasih TLPC”

Salam Jepret!

Advertisements

Hobiku: Menggambar Anime

Ini bukan postingan tentang cara menggambar anime, tapi kisah masa kecil saya yang suka menggambar anime jepang.

Zaman saya kecil, keberadaan komik masih tidak sebanyak sekarang, bukan berarti keberadaan komik masih sedikit, hanya saja karena rumah masa kecil saya berada di sebuah daerah terpencil dan jauh dari kota besar, sehingga akses masuk komik dan majalah masih bisa terbilang lambat.

Pengetahuan saya tentang anime jepang sepertinya berawal dari anime di TV : Doraemon yang entah sejak kapan sudah ada semenjak masuknya siaran televisi swasta di Indonesia. Berbekal tontonan anime setiap hari minggu pagi, diam-diam saya selalu memperhatikan grafis dari film-film anime itu dan mulai menggambar-menggambar sendiri tokoh-tokoh tersebut semirip mungkin dan sejauh yang saya ingat. Bagi saya itu, seru sekali bisa menggambar tokoh-tokoh anime itu. Jika hari minggu datang, saya mencocokkan hasil gambaran saya dengan yang ada di TV. Sudah samakah?? apa yang kurang??

Anime dan komik semakin gencar membanjiri toko-toko buku. Satu demi satu teman-teman saya yang dari keluarga berkecukupan mulai mengoleksi komik. Saya ingat komik masih seharga Rp. 3000.-. Komik-komik yang banyak beredar juga adalah komik-komik dari serial anime yang ada di TV, seperti Doraemon, Astro Boy, Candy-Candy, Saint Saiya, Dragon Ball, dan lainnya. Lalu saya? Ya saya cuma modal pinjem saja, hahahahaha… Komik tentu saja mempermudah saya untuk meniru grafis pada komik, karena saya tidak perlu lagi menunggu setiap minggu hanya untuk “belajar menggambar”, tinggal pinjam komik teman dan mulai menggambar, bukan menjiplak lho ya :P. Hampir semua jenis gambar komik saya pernah coba, dari yang imut-imut, muka sangar sampai mata belok dan berkaca-kaca. Well, hasilnya tidak mengecewakan, at least lebih baik dari teman-teman seumuran saya, hahahahah…

Kebiasaan saya menggambar tentu saja membuat tangan gatel untuk terus menggoreskan pensil dimana-mana, tidak terkecuali di buku pelajaran. Hampir setiap bagian belakang buku tulis, tidak pernah lolos dari coretan-coretan saya. Saat kelas 2 SD, saya ingat guru saya bernama Bu Siti, beliau muda dan cantik. Siang itu kebosanan memenuhi pikiran saya, saya bukannya mendengarkan beliau menjelaskan pelajaran, eh malah diam-diam menggambar sosok wanita anime yang saya gambar seperti ciri-ciri Bu Siti, hahahaha… Naasnya, Bu Siti, mendekati saya dan mendapati saya sedang asik menggambar!

“Prima, kamu kok malah gambar???” muka Bu Siti agak geram. Satu kelas terdiam. Beliau meraih buku tulis yang saya gambar, dan menanyakan siapa wanita komik itu? Tentu saja saya malu dan berkata “Itu Ibu…” Bu Siti terdiam sebentar, saya bisa liat senyuman kecil di bibirnya dan beliau berkata, “Kalau menggambar lain kali jangan di buku tulis dan jangan di jam pelajaran”. Beliau mengembalikan buku saya. Hari itu saya malu. Maka, setiap kali saya habis menggambar di buku, saya akan merobek lembaran bagian belakang itu dengan penggaris untuk meninggalkan jejak, hahahhaha…

Kelas 4 SD, saya akhirnya bisa beli komik! Komik pertama hasil nabung sendiri: Asari-Chan, komik lucu yang grafisnya bagus sekali. Karakter gambar Asari ini yang sampai sekarang sedikit banyak mempengaruhi karakter gambaran anime-anime lucu yang saya buat, hihihihi…

Makin remaja, saya semakin getol menggambar, kata teman-teman saya gambar saya bagus. Jadi kadangkala mereka sengaja memberikan kertas kosong kepada saya unuk menggambar apa saja, atau tokoh kartun tertentu untuk dipajang di kamar, bahkan di laminating, hahahahaha… Tapi ada kejadian tidak menyenangkan saat saya SMP. Guru PPKn saya terkenal disiplin alias galak. Ya kok dilalah saya lupa merobek kertas belakang buku tugas PPKn saya, dan si Ibu galak itu memanggil saya ke depan kelas. Sudah kebayang kan? Ya, saya dimarahin habis-habisan di depan seluruh anak, sambil memperlihatkan gambaran saya di buku itu. Semua anak tertegun, tapi saya tau mereka tidak pernah ikut menyalahkan saya dan gambaran di buku itu. Mereka cuma takut, sama seperti saya. Si Ibu akhirnya menyuruh saya untuk minta tanda tangan orang tua tepat di gambar itu dan tentu saja tidak lupa mengancam anak-anak lain untuk tidak mencontoh tingkah konyol itu. Ada satu teman saya bilang: “Aku heran kok si Ibu bisa segitu marahnya liat gambaran sebagus ini” Ya sudahlah memang saya saja yang sedang sial… 🙂

Jaman SMP ini saya juga mengenal media warna: pastel (seperti crayon tetapi lebih lembut dan oily), saya sering ikut lomba-lomba gambar dan lumayan ada hasilnya. Tentu saja bukan menggambar anime. Di rumah sekarang banyak hasil gambaran saya dengan pastel berukuran besar, tetapi jika saya melihat sekarang, saya sedikit tersenyum, karena gambaran tersebut masih terlihat “anak-anak”, ya sangat anak-anak…garisnya sederhana, tetapi masih bisa dinikmati..  Si Bungsu pernah bilang ke Mama “Masa sih Ma, mas Prima gambar ini waktu masih SMP??” Hhihihii.. *si Bungsu emang gak bisa gambar kaya saya 😉

SMA saya malah jarang menggambar. Menggambar hanyalah iseng-iseng saja. Kotak Pastel itu tidak pernah lagi saya sentuh. Saya malah sibuk di kegiatan extra dan kegiatan akademis tentunya. Saya libur menggambar di kertas besar. Saya ingat hanya satu gambar yang saya buat semasa SMA, itupun karena pakde saya minta gambaran saya untuk di bingkai. Saya ingat saya bermaksud gambar ayam, tetapi menyerupai burung. Jadi seperti ayam hias! Mahluk apa itu ya? Hahahahah… whatever…

Saat kuliah, malah saya mulai menggambar lagi. Ya tau sendiri kan kuliah itu gak seperti sekolah, kadang waktu luang tiba-tiba banyak, kadang sibuk parah gak kira-kira. Saya masih di asrama TPB-IPB. Teman sekamar saya punya majalah komik yang terbit tiap bulan, berisi banyak gambar anime-anime masa kini yang sangat bagus. Iseng-iseng saya buka kotak pastel yang sudah berdebu. Beli karton putih. Dua hari saya sudah punya poster besar bergambar tokoh Cardcaptor Sakura! *sok cute banget, Wuakakakakah… Saya tempel di atas meja belajar! Mereka bilang bagus 😛

Dari situ saya menggambar poster Conan, Samurai X, dan banyak lagi. Sata saya meninggalkan asrama, saya bagikan saja gambar itu buat teman-teman saya, anggap saja buat kenang-kenangan. Ini adalah poster terakhir yang saya gambar saat kuliah, berukuran karton putih besar dan (semoga) masih disimpan oleh teman saya. Saya sempat motret pake kamera HP. Cuma ini gambar yang saya punya fotonya 😦

Di ambil dari karakter Tsubasa Reservoir Chronicle

*

Sekarang saya tidak lagi menggambar poster. Pastel sudah saya sumbangkan ke panti asuhan sewaktu selesai kuliah di Bogor. Ya, kadang-kadang pengen sekali menggambar poster lagi, mengenang saat-saat saya lagi gila gambar-gambar anime seperti ini, tapi entah kapan…

Jadi intinya apa prim? Ya gak ada, saya cuma mau bilang aja kalo saya dulu suka gambar anime dan bikin-bikin poster macam ini, hihihi… intinya sekedar curhat dan cerita masa kecil saja.. *sok melow* :mrgreen:

Selamat Berharpitnas!


Kisah Sebuah Nama

 

Dapat ide dari dailypost.wordpress bertajuk What is the story behind your given name?

Saya akan sedikit narsis dengan bercerita tentang arti dan cerita di balik nama saya, hehehehehe…

Di suatu siang tanggal 15 Januari tahun 198x :mrgreen: sekitar pukul 2 siang, di Rumah Sakit Lavalette, Kota Malang lahirlah seorang bayi laki-laki, anak pertama dari pasangan suami istri yang berlatar belakang suku yang berbeda, sang ayah blesteran Batak-Banjar, si Ibu blesteran Jawa, Sunda dan Madura.

Eh tanggal 15 Januari ini bukan murni hari lahir alami, itu tanggal yang bisa dipilih. Saya lahir operasi karena pinggul mama sempit. Jadi dokter bedah yang saat itu sehari-hari berbaju tentara (rumah sakitnya rumah sakit tentara) iseng bilang, “Ibu mau operasi kapan, sekarang?” Mama saya dengan lempeng bilang “OK, siapa takut!” wkakaakakka…

Singkatnya, operasi berjalan lancar dan seorang bayi merah lahir dengan suara tangis kenceng tanpa komando. Kata Mama yang saat itu dibius setengah badan, dia liat saya pertama kaya kodok raksasa, kaki dan tangnnya doang yang besar, wkakakakaka.. udah gitu baru lahir matanya langsung melek! *bikin kaget… wkakakakakakakaka…

Pemberian nama saya terlambat. Mama Papa sepertinya gak kepikiran buat kasih nama apa saat saya lahir. Gara-gara telat itulah urusan kasih nama dan bikin akte kelahiran sampai harus di bawa ke pengadilan segala. Haiyah! Akhirnya biar cepet Mama nyerahin usulan nama ke Mbah Putri aja. Prima Wahyu Kusuma. Jawa banget kan? 😛 Nama itupun diboyong ke pengadilan.

Falsafah terbentuknya nama tersebut (berdasarkan keterangan dari Mbah Putri)

“Prima” artinya pertama, yang pertama, utama. Karena saya anak pertama dari Papa dan Mama, sekaligus cucu pertama buat Mbah Putri. Lain-lain prima sendiri berkonotasi baik, sehat dan kuat. Belakangan saya mulai ngeh kalo Prima itu kebanyakan digunakan untuk nama perempuan. Prima sendiri berdasarkan info di internet berasal dari bahasa Latin berarti “pertama”, asal katanya “Primus”, dalam bahasa Inggris merujuk pada kata “Prime”. Lain lagi dengan Spanish, Prima berarti adalah sepupu perempuan, sedangkan Primo berarti sepupu laki-laki. Itulah kenapa Spanish dan Mexican dulu memanggil saya dengan Primo, hehehehe… *kirain mereka cuma sok-sok improve!

“Wahyu” berarti pemberian, ilham, utusan, berkah. Tetapi alasan utama pemberian nama ini bukan karena arti itu, tetapi karena Wahyu adalah nama dokter anak yang merawat saya pasca operasi, hahahahaah… *iseng aja si Mbah kasih nama. Katanya: biar tetap terkenang.

“Kusuma” adalah bahasa sansakerta berarti kembang, bunga. Sederhana saja, harapannya kelak saya bisa tumbuh menjadi anak yang baik, wangi dan indah namanya seperti bunga dan bermanfaat bagi orang banyak. Jiaaahh..

Nama sudah pas dan OK, semua sudah setuju. Lha kok dilalah sampe di pengadilan, jaksa-nya orang batak! dan dia kaget saat Papa saya punya marga Hutabarat. Marga adalah wajib diturunkan bagi orang batak!

“Bapak, saya bersedia menyetujui akta lahir ini asal nama anak ini diberi nama marga di akhirnya, bagaimana?” kira-kira begitu kata si Jaksa.

“Hutabarat” adalah marga batak Toba, turun dari Raja Hutabarat. Selebihnya saya kurang tahu. Huta berarti Desa, Barat artinya arah barat. Jadi kalo dibuat inggris jadinya: Westvillage. Hahahahaha… *plis deh prim!

Papa saya yang belagak pilon manggut-manggut karena gak ngerti apa-apa. Beliau cuma mikir yang penting urusan pengadilan itu segera beres. Akhirnya pulang-pulang akte kelahiran saya bertuliskan: Prima Wahyu Kusuma Hutabarat. Semua orang rumah cuma manggut-manggut sambil komen: “panjang bener namanya…” Mbah Putri jelas-jelas tiba-tiba kaya ketabrak tembok saat tau nama indah bernuansa jawa pemberiannya itu tiba-tiba ditimpa dengan marga batak! terdengar aneh katanya, Wakakakaka…

Nah gitu aja cerita asal-usul nama saya. Sewaktu SD saya mulai ngerasa marga Hutabarat itu benar-benar terdengar aneh di tengah-tengah masyarkat Jawa, jadi saya seringnya menyembunyikan nama itu, kalau bisa sampai tiba masa-masa ujian nasional, hahahaha… Meskipun tidak semua mengolok-ngolok, tapi emang ada aja yang usil mempergunjingkan nama marga itu, hahahahah… sekarang? Justru saya bangga menyebut nama saya Prima Hutabarat, kaya orang luar negeri gitu, nama depan dan nama keluarga, Jiaaahhh… Mantap!

Imut kan??? :mrgreen: * Biar narsis, yang penting eksis! 😀

Happy Monday!


Ada Apa dengan April?

Welcome May!

Dapet contekan dari Putri Usagi buat nulis tentang apa-apa yang terjadi sebulan kemarin, syukur-syukur bisa jadi evaluasi, pelajaran dan penambah semangat bulan-bulan ke depan. Time to flash back! *ssst..orang pelupa lagi mikir keras*

Awal-awal bulan April sempet dibikin tewas sesaat karena hectic ikutan lomba Kecubung 3 Warna di BlogCamp, maklum kita pada deadliners semua (Saya, Putri dan Irvan) jadinya jatuh bangun buat ngejar batas waktu lomba dan sempet pake acara demam segala pula. Fiuh, tapi akhirnya lumayan juga hasilnya, bisa jadi juara 5! Cihuy! Lumayan bisa nambahin tabungan plus dapat hadiah buku dari Pakde : “Seroja” *ternyata kita bertiga dapat buku yang sama lho, mau barter gak put? gakgakgakgakkk… Thanks Pakdhe!

Hmm.. Awal april ini juga saya resmi bergabung dengan Komunitas Fotografi di Kabupaten Tanah Laut, tempat saya tinggal sekarang, bernama Mata Lensa Tanah Laut, yang belakangan telah mengubah nama menjadi Tanah Laut Photo Club (TLPC), heheheh… maklum organisasi baru, suka masih galau, haiyah! Langsung juga ikutan hunting bareng di pantai Suarangan, dan mulai belajar portrait (pake model), ternyata susah juga.. hehehhe…

Bulan April ini juga TLPC mulai bergerak cepat, kami mulai bergerak untuk legalitas organisasi, pergi ke notaris dan kantor-kantor  pemerintah, bikin baju dan ID-card, ketik Profile organisasi dan proposal. Hmmm… Dari komunitas ini, saya lumayan dapat temen-temen baru, seneng juga berada di komunitas yang bisa belajar, bergaul dan having fun! Saya mendukung sekali keberlangsungan organisasi ini karena saya bisa melihat prospek yang bagus ke depannya. Semangat teman-teman!

Hmm, iya bulan April ini saya juga datang banyak banget paket buku, baik karena lomba ataupun gift dari blogger yang baik hati. Blog saya juga mulai dikunjungi oleh wajah-wajah baru *yang ngerasa baru say cheese! Wakakakakak… penuh warna warni, mulai dari blog ibu-ibu yang masih setia nyeritain tentang anak dan suaminya, blog anak muda galau yang suka nulis cerita panjang-panjang, sampai om-om satu almamater yang punya foto-foto keren! Gak lupa juga beberapa blogger lama yang mulai rajin update tulisan, join Post a Day 2011, join Weekly Photo Challenge *yes berhasil terhasut!, dan blogger pemusik yang lagi demen posting video-video keren+narsis dan para pengamen yang lucu2 ngeluarin album baru! Cool! You guys simply colored my life!

Bulan april ini Weekly Photo Challenge berhasil diikuti semua! Bagi teman-teman wordpress yang suka foto-foto *dengan kamera apapun, plis ikut program ini! Kenapa saya semangat menghasut? Karena program ini meningkatkan kreatifitas, relatif mudah, bisa nambah-nambahin postingan dan cerita tiap minggunya, dan tentunya traffic + persahabatan makin banyak, banyak lho blogger asing yang nyasar ke blog saya gara-gara foto. Hihihihiihih… Oh iya, program ini gak maksa kita bercerita tentang foto dalam bahasa Inggris kok, silahkan pakai bahasa kita aja, ntar kalo mereka pada bingung, itu sih derita bule-bule yang pengen baca, 😛 wkakakakak…

Mulai aktif lagi ikut di siaran radio bahasa Inggris tiap jumat malam di sebuah radio lokal dan sempet terkejut saat panitia sebuah kontes bercerita dalam bahasa inggris meminta saya jadi juri! *pasti ini kecelakaan! Wakakakakak… Pilihan yang baik dan buruk. Baik karena saya bisa sekalian jadi seksi dokumentasi dan buruk karena saya gak siap apa-apa, dari skill dan baju! *Kemeja gak disetrika pun dipake! hmm… bulan April ini target untuk baca novel Inggris belom selesai 🙄 Semoga bisa lebih lancar bulan ini! Yes!

Project bikin header pemenang kedua Lomba Header Impian, Grandis, berhasil dicancel karena ribet sama layout blogspot dan diganti dengan pengiriman benih Torenia yang saya kumpulkan selama sebulan, wkakakakaka… Since he likes gardening so much, I hope that could be a nice replacement and yet a challenge for him to grow Torenia! Chaiyo Grandis! Next one… header buat Bunda Lily, Bund, maafkan anakmu ini yang lelet banget ngerjainnya… I’ll do my best! *ngerayu 😀

Anyway, bulan ini selain dapet job buat foto-foto di nikahan yang sederhana itu, saya juga dapet job buat pemotretan dua ABG yang cantik-cantik, selama dua hari-dua lokasi, hihihihihi… Job ini pun memaksa saya untuk belajar foto portrait lebih baik lagi, meskipun amatir, tapi hasilnya cukup memuaskan mereka lho, bahkan mereka mau lagi for the next project! Cihuy! Sambil menyelam minum air, sambil jalan-jalan dan belajar moto, bisa dapet duit, hihihihihi… Kapan-kapan saya posting deh hasil job ini! 😀

Bulan ini juga dapat kucuran semangat untuk berbisnis dari blogger-blogger yang sudah memulai bisnisnya sendiri. Awalnya mereka hanya kirim email secara personal tentang hal-hal sederhana di postingan saya, tetapi malah berlanjut ke arah diskusi ke masalah bisnis dan masa depan. Nice! Saya salut sama mereka-mereka ini karena mampu berbagi hal-hal yang positif  dan semangat yang begitu membara! Oh iya, dapat juga E-book dari Mas Isro sebagai kado ultah blognya. Tapi belom  download karena internet masih lemot parah! Thanks ya Mas!

Nah, menjelang Ujian Nasional anak-anak SMP selama seminggu saya diminta ngelesin anak tetangga, hehehehe…  Bahasa Inggris dan Matematika oke lha bisa, nah pas IPA justru saya pusing gara2 banyak rumus fisika bertebaran, wkakakkakaak… susah juga ternyata! 😛 Mudah-mudahan lulus ya Dik Elsa. Maaf kalo guru lesnya suka manyun+jidat kerut-kerut agak lama kalo liat soal-soal fisika, hihihihi…

Lain-lain, kegiatan saya masih gitu-gitu aja, berenang rutin 2 kali seminggu, ubek-ubek tanaman di halaman belakang, nyuci baju, ngembat cemilan di dapur sampe nyikat kamar mandi, hehehehe… Oh iya, bulan april ini saya lagi nunggu kabar tentang kerjaan, eh dapat kabar ternyata masih harus menunggu lagi, ya sudah ternyata emang harus sabar… Mudah-mudahan impian saya balik ke Bogor bisa segera terlaksana. Amin. Jealous aja sama temen-temen yang pada doyan bolak-balik kopdar kaya orang ngemil, thus I need to make sure to arrange kopdar schedule properly! *sok iye banget kaya ada yang mau kopdaran aja! GakgakgaKKgakkk… 😀

Well, that’s all for April! So busy, So colorful and yet, So worthy!

Happy Monday!

PS: berhubung internet lagi lemot lebay, acara BW masih dalam suasana merayap dan tertatih! *haiyah!


Nacho & Portable Toilet

Setelah dulu saya pernah cerita tentang toilet flush, kali ini saya cerita tentang portable toilet. Terispirasi dari tulisan Mas Bayu yang tinggal di CA, tentang horornya toilet portable yang dia temui di arena balapan mobil. Saya juga jadi teringat sebuah kisah konyol yang berhubungan dengan toilet portable di tempat kerja.

Jadi, tempat kerja saya dulu adalah sebuah greenhouse besar yang sangat luas, di dekat office dan break-room memang ada banyak toilet permanen yang sangat nyaman, tetapi untuk pekerja yang tempat kerjanya jauh di ujung, tentu saja menimbulkan masalah jika gejala kebelet sudah melanda, mau tidak mau, hasrat melakukan ritual harus segera dituntaskan. Maka dari itulah ada beberapa toilet portable yang berjajar di beberapa titik di dalam greenhouse.

Bentuknya seperti kotak besar , umumnya berwarna biru atau abu-abu. Di tempat kerja saya itu, toilet portable itu punya jadwal untuk dibersihkan, yaitu hari rabu, jadi pada hari kamis, jumat, sabtu, toilet portable masih cukup bersih dan manusiawi, tetapi dari hari senin sampai rabu, toilet itu berubah menjadi horor dan berbau “kematian”, Hahahahah… jelas aja, toilet itu menampung benda-benda berbahaya selama berhari-hari, di dalamnya sebenernya ada larutan berwarna biru yang harumnya seperti karbol, mungkin sebagai penyerap bau. Tetapi tentu saja tidak akan bertahan lama. Jika sudah hari senin, selasa, rabu, saya lebih baik melakukan ritual kecil dan besar dengan mengayuh sepeda saya ke toilet office, daripada harus melakukannya di toilet itu, hiiiiiii…. :mrgreen:

Suatu hari, toilet portable masih cukup bersih, saya yang bekerja di echoes dengan tanaman basket, melihat dari ketinggian, Nacho, bapak-bapak blesteran mexican-jepang, rekan kerja saya di section sebelah sedang mengayuh sepedanya ke arah toilet portable, padahal saya juga sedang berjalan ke sana karena kebelet pipis.

Nacho melihat saya setengah berlari ke arah toilet, dasar dia emang aslinya usil, eh malah mempercepat sepedanya, seperti tidak mau kehilangan kesempatan untuk menggunakan toilet lebih dulu. Dia tahu saya juga sedang terburu-buru.

“No, Nacho, I am first!”

Nacho tersenyum karena berhasil meraih gagang pintu toilet lebih dulu, dan masuk ke dalam. Damn!

“Nacho! Please hurry!” Saya ngomel dari luar.

“I can’t, sorry prima! Hahahahah…” Nacho menjawab dari dalam.

Sebenarnya ada dua toilet portable, bersebelahan satu sama lain, tapi saya tidak biasa menggunakan toilet yang satunya, selain toilet itu bertuliskan LADIES, toilet itu bertanda merah, yang berarti ada orang di dalamnya.

“You can use another!” Nacho berteriak lagi dari dalam.

Saya tidak menjawab, saya kemudian iseng naik ke echoes tepat di atas toilet portbale itu, alih-alih mengecek tanaman sambil menunggu si usil Nacho melakukan ritual.

Lama juga ternyata si Nacho. Dari atas saya bisa melihat seorang Ibu keluar dari toilet sebelahnya, artinya toilet itu kosong, tidak sampai beberapa detik, seorang ibu-ibu tua dari arah barn berganti masuk ke dalam. Biarlah, aku tunggu Nacho keluar saja, saya pikir.

Beberapa detik kemudian Nacho keluar dari toilet dan merapihkan ikat pinggangnya. Kemudian otak usilnya segera bekerja! Tiba-tiba dia mengedor-gedor toilet sebelah dengan keras, menggoyang-goyangnya seperti gempa bumi, kemudian menggedor-gedornya lagi sambil tertawa puas. Saya kaget!

“NACHO! WHAT ARE YOU DOING!!??” saya berteriak dari atas.

Nacho sontak kaget melihat saya.

“WHATTTeee…” Nacho melihat toilet, kemudian melihat saya lagi, dan kemudian sadar dia salah sasaran! Dia pikir saya ada di dalam toilet sebelah!

Nacho tanpa banyak babibu, segera kabur dengan sepedanya. Saya di atas tidak berhenti menahan tawa. Setelah saya buang air kecil, saya iseng bersepeda ke section Nacho dengan wajah sedikit serius…

“Nacho!”

“Prima, what happen just now??” Muka Nacho polos-polos jaim.

“You’re bad Nacho…, you caused an old lady passed out inside the toilet!”

Kami berdua ngakak sejadi-jadinya. Saya bercerita, setelah Nacho kabur, ibu-ibu tua keluar dari toilet sambil celingak celinguk keringatan gara-gara keusilan Nacho, dan bisa dibayangkan bagaimana wajah si Ibu saat tragedi itu terjadi, wakakakakaka… :mrgreen:

Begitulah kejadian lucu tentang toilet portable, kenangan lucu antara saya dan Nacho yang tidak akan pernah terlupa.

So, hati-hati ya kalo mau usil, jangan sampe salah sasaran! 😀

Happy Blogging!

Sumber gambar di sini dan di sini


Seandainya Saya ke Bogor…

Hmmm.. judul di atas rasanya sudah bisa menjelaskan apa yang saya bakal tulis di sini… 😛 Sekali lagi ini hanya seandainya, hanya rencana, hanya angan-angan dan tidak ada indikasi bahwa saya akan segera ke Bogor atau apa, syukur-syukur kejadian, kalau tidak ya sudah… artinya bukan batal, tetapi hanya mundur saja waktunya…

Berprasangka baik saja, apa yang saya tulis di sini adalah doa, dan semoga Tuhan mendengar doa saya… amin.

Sudah hampir 8 bulan semenjak saya meninggalkan Bogor bulan Agustus 2010, tempat saya dulu pernah menimba ilmu, tempat saya dulu hidup di sebuah kecamatan di bagian barat kabupaten bogor, tempat teman-teman saya banyak berkumpul, dan tempat di mana saya merasa ada di rumah, dalam artian saya sudah biasa dengan makanan warung nasinya, sudah biasa dengan macetnya, sudah biasa dengan hujan setiap sore, dan sudah hafal dengan trayek angkotnya 😀

Seandainya saya balik ke Bogor, saya ingin…

1. Jalan-jalan di kampus Darmaga, makan siang di kantin Sapta, duduk menikmati pohon-pohon rindang di sekitar gedung GWW, jalan-jalan di Bara (sebuah jalan sebelah kampus tempat banyak penjual makanan) saat malam tiba *karena kalo siang panas! dan tentu saja wisata kuliner di tempat-tempat favorite saya… 🙂

2. Naik angkot dan Bis Pakuan, wuakakakaka…. bukan berarti saya kangen sama macetnya daerah garmen yang selalu bikin perjalanan 1 jam menjadi 2 jam, tetapi lebih kepada: melintasi jalanan-jalanannya, pemandangannya, dan segala sensasi yang selalu saya rasakan tiap kali naik angkot… termasuk duduk miring di deket pintu ketiup2 angin *haiyah!

3. Bertemu dengan sahabat-sahabat lama, ada yang sedang sibuk dengan S2 nya, ada yang masih sibuk dengan skripsi, ada yang sudah bekerja, ada yang baru saja memulai kuliah S2 nya, ada yang baru pulang dari luar negeri, Hmmm… Yuk reunian lagi! Saya siap jadi tukang fotonya! 😀

4. Jalan-jalan di Bogor, pastinya! hahahaha… dari mulai ke Botani Square, mall-nya IPB yang entah sudah seperti apa sekarang, terus lanjut ke Ekalokasari Plaza, yang kata temen udah jadi keren sekarang, sekeren apa ya??? terus pengen juga ke Kebun Raya, sekedar hunting foto dan nyobain jajanan di sekitar pasar Bogor, hmmm… berhubung saya sering baca kalo di Surya Kencana banyak kuliner khas Bogor. Saya aja belum pernah menjelajahi daerah situ, wkakakak… kalo lewat sih pernah, wkakakka… so, next time, wajib jalan-jalan ke sana!

5. Kopdar sama Trio Cumi, hihihihih… Kalo Irvan mungkin bisa ditemui di sekitar kampus, wkakakka…, nah kalo Putri karena dia di jakarta, jadi ada dua pilihan dia yang mau ke Bogor, atau kita yang ke Jakarta… Well, cuma sekedar berbagi kebahagiaan karena hasil susah payah kita menulis cerbung di kontes Kecubung 3 Warna ternyata membuahkan hasil yang lumayan… Si Putri katanya mau traktir saya es krim di Monas! Hore!  hihiihihhi… Monggo Putri dan Irvan silahkan direncanakan ya, tapi dengan catatan, saya sudah di Bogor, wuakakakaka… *keburu bulukan gak ya mereka???

6. Kopdar Bogor + Jakarta! Nah kalo ini saya sih belum ada rencana secara detail, yang pasti saya mau-mau saja kopdar dengan blogger kenalan saya di sekitar kampus *yang ngerasa ngacung! wkakakkakaa… dan beberapa blogger lain yang berdomisili di Bogor. Jika juga ada waktu dan biaya, karena Bogor gak terlalu jauh dari Jakarta, saya ingin sekali kopdar dengan blogger-blogger di Jakarta.. ya syukur-syukur ada yang mau kopdar sama saya *sok pede… Mulai dari yang sepuh, ibu-ibu, om-om, mbak-mbak, dan ababil-ababil, hayuk aja! Meskipun nomor urut antrian untuk Kopdar dengan Om NH adalah 629! 😯 wuakakakakaaakkk… *aduh, ada calo yang jual nomor lebih awal gak sih?!

7. Bersilahturahmi ke orang-orang yang saya hormati… Mudahan ada rejeki dan bisa mampir ke rumah orang tua sahabat saya di Purwakarta, di Lembang, Bandung dan tentunya Emak-Bapak di Kayumanis, tempat saya pernah tinggal beberapa bulan dengan gratisan… Hayuk Mak, kita berkebun lagi! 😀

Mungkin itu dulu kali ya… entar kalo kebanyakan malah bingung.. hehehehe… Silahkan para pembaca meng-aminkan, Amiinnnn… 😀

Happy Monday!

Today, I simply pray to my Almighty, I follow what You say, either granted or not, I believe the time is coming to me, I just can’t wait to see that and feel again Your blessing is overwhelming…


Pohon “Kitiran”

Masa kecil saya di Kalimantan, memang dekat dengan alam. Komplek Perumahan PG. Pelaihari memang berada di tengah rimba dan kebun tebu. Jadi wajar saja kalau saya dan teman-teman akrab sekali dengan kegiatan outdoor dan petualangan di alam bebas, kalau istilah jawanya: blasak-blasak!

Di belakang komplek saya dulu ada sebuah hutan, khas hutan hujan tropis kalimantan, yang ditumbuhi semak dan pohon besar. Beberapa titik tanah kosong di sekitar perumahan itu sudah mulai digarap oleh warga sebagai kebun, meskipun tidak banyak, dari ketela pohon, ubi jalar, jagung dan lain-lain. Sehingga saya dan teman-teman harus masuk lebih dalam ke hutan untuk bermain, soalnya kalau main di kebun orang bisa dimarahin, suka bikin rusuh dan porak poranda kebun, hahahaha…

Suatu hari saya mungkin masih duduk di kelas 2 atau 3 SD, teman-teman saya mengajak saya berpetualang ke dalam hutan. Iseng-iseng kami ingin mencari biji-bijian berwarna abu-abu kehitaman seperti manik-manik, yang bisa di bikin kalung dan gelang, uniknya biji-bijian itu punya lubang di tengahnya sehingga gampang untung dirangkai dengan benang…entah apa namanya. Ada yang tahu?

Banyak cerita tentang seramnya hutan itu, banyak anak-anak yang lebih besar mengatakan agar kami tidak masuk hutan terlalu jauh, karena bisa tersesat. Meskipun ragu-ragu, dengan dalih mencari sumber biji-biji itu lebih banyak, toh akhirnya saya ikut acara masuk hutan itu dengan berpesan pada diri kami untuk mengingat setiap jalan yang kami lalui agar bisa kembali pulang. Saya lupa, mungkin kami berjumlah sekitar 4-5 anak.

Petualangan itu di mulai setelah pulang sekolah. Diawali dengan melalui kebun-kebun, pisang-pisang, sampai alang-alang, dan aliran sungai kecil yang masih jernih… Tapi sampai sejauh itu, kami belum menemukan tanaman manik-manik itu. Kami mulai kelelahan. Kami memutuskan untuk istirahat di bawah pohon. Beberapa orang mengeluh dan mengajak pulang. Kami mulai makan buah rambusa dan ciplukan yang kami temukan di sepanjang perjalanan. Ada yang tau tanaman ini? 😀

Rambusa (Passiflora foetida) masih satu keluarga dengan markisa, buahnya kecil seukuran duku, rasanya asem-asem manis, katanya sih itu makanan ular, hehehehe…

Sedangkan ciplukan (Physalis angulata), sekarang dikenal sebagai salah satu tanaman herbal yang kaya manfaat dan unsur obat. Rasanya manis jika sudah masak, plus ada rasa khas yang ciplukan yang tidak bisa saya gambarkan dengan kata-kata 😆

Tiba-tiba seorang teman saya mengambil sesuatu dari tanah. Sebuah benda seperti kelereng kecil dan bersayap.

“Woy ini kan… biji pohon…pohon… apa ya namanya? Tau nggak?” tanya dia ke anak-anak yang lain.

Kami menggeleng-geleng tidak tahu.

“Ini biji kitiran!” kata dia asal.

“Kitiran???” kami melihat benda asing itu.

Teman saya kemudian melempar biji bersayap itu ke udara, dan biji itu kembali ke bumi sambil berputar seperti baling baling bambu doraemon. Persis kitiran juga. Kami takjub!

“Wowwww… bagus!”

Teman saya mengajak kami untuk mencari pohon kitiran yang pasti ada di dekat sini. Kami bersemangat untuk menemukan pohon yang kami beri nama pohon “kitiran”. Agak susah juga karena kita harus melihat ke atas dan kebawah, mencari tahu pohon manakah yang pohon kitiran??

****************************************************************************************************************************

 Stop Press!

Hopea odorata

Famili: Dipterocarpaceae
Nama umum: Merawan (nama dagang untuk kayu dari beberapa jenis kayu keras ringan Hopea spp).

Penyebaran dan habitat
Asli Asia Tenggara, menyebar mulai India (Pulau Andaman), Myanmar, Thailand dan Indocina dan ke selatan sampai semenanjung Malaysia utara. Pada kebanyakan sebaran alaminya, jenis ini tumbuh di hutan tropis dataran rendah dengan tanah subur sampai ketinggian 300 m dpl, lokasi tumbuhnya tidak jauh dari sungai. Namun, populasi di India tumbuh di hutan basah selalu hijau pada ketinggian, jauh dari sungai. Pertumbuhan terbaik pada daerah bercurah hujan tahunan lebih 1.200 mm dan suhu rata-rata 25 – 27°C. Dapat tumbuh pada habitat yang beragam serta mudah dibudidayakan.

Pemanfaatan
Kayunya keras, ringan dan kuat, digunakan untuk konstruksi berat dan  ringan,  mebel, vinir  dan  banyak kegunaan lainnya. Kerapatan kayu 0,5 – 0,98g/cm3 pada kadar air 15%. Cocok ditanam pada tanah yang telah terdegradasi, juga banyak ditanam sebagai tanaman hias dan penaung. Kulitnya mengandung tannin tinggi, dapat digunakan untuk penyamak kulit, juga menghasilkan getah bermutu rendah (damar batu).

****************************************************************************************************************************

Akhirnya kami menemukan juga pohon kitiran itu, letaknya agak berjauhan dengan pohon-pohon yang lain, pohonnya tinggi dan lebat. di bawahnya kami banyak menemukan biji kitiran tersebut, mungkin ratusan jumlahnya, saya segera  mengantongi biji kitiran itu dengan kantong plastik yang kami persiapkan dari rumah untuk dibawa pulang.

Beberapa orang terlihat bersenang-senang dengan melempar-lempar biji kitiran itu ke udara, sangat menyenangkan bagi kami yang pertama kali menemukan biji bersayap aneh itu. Seorang anak malah naik ke atas pohon dan melempar banyak sekali biji kitiran yang sengaja diambil dari bawah, hahahaha… Kami girang dan tak henti bersorak.

Sampai pada suatu momen, tiba-tiba angin bertiup kencang beberapa kali, dan ratusan biji kitiran jatuh dari pohonnya. Itu adalah satu keindahan yang pernah saya lihat seumur hidup saya. Kami bersorak! Kami tertawa dan melompat. Biji-biji kitiran berputar, dan terbang jauh di tiup angin siang yang hangat, menyebar, berputar, berakrobat di angkasa, seolah-olah sedang menghibur kami yang kelelahan.

Biji-biji kitiran terbang jauh. Mereka kelak akan tiba pada suatu tempat yang jauh dari induknya, dan menjadi pohon kitiran muda dan akan menghasilkan lebih banyak biji kitiran. Tuhan sungguh Maha Indah…

Kami pulang. Meskipun tidak mendapat biji manik-manik, kami pulang dengan sekantong biji kitiran. Tidak henti-hentinya saya bercerita kepada teman yang lain, bahwa di dalam hutan ada sebuah pohon ajaib yang punya biji yang bisa terbang dan berputar. Itulah pohon kitiran. Saya memberikan biji kitiran ke teman-teman saya yang lain seolah-oleh ingin berbagi kebahagiaan tentang pengalaman indah tersebut.

***

Literatur dan gambar:

http://www.rimbundahan.org/environment/plant_lists/dipterocarpaceae/Hopea-odorata.jpg

http://lekowala.blogspot.com/2005/06/hopea-odorata-in-botanic-gardens_1156.html

http://bpthbalinusra.net/isbseedleaflet/99-merawan-hopea-odorata-roxb.html

http://kumpulanspasi.wordpress.com/2010/09/10/mengendarai-khayalan/

http://wikipedia.org