Frames, Green, Rustle and Sweet Tea

Indonesia

Satu Minggu di Bogor (part 2)

Melanjutkan tulisan tentang satu minggu saya di Bogor yang luar biasa. Ini bagian kedua dari yang sebelumnya.

3. Kopdar Semanggi (29 Juli 2011)

Kopdar kali ini kopdar yang diadakan oleh dua Bunda, yaitu dua Ibu yang asalnya dari minang, yaitu Bunda Lily dan Bunda Bukit aka Nakjadimande (eh bener gak ya?) dan satu penggembira yang kita sudah tau siapa, ya benar Putri Usagi (lagi) 😆

Awalnya setelah kopdar Pasaraya bersama para Bapak-bapak, Putri mengajak saya untuk ikut kopdar bersama para Bunda hari sabtu di minggu yang sama, saya cuma manggut-manggut, hihihiihi… untung saja hari sabtu tersebut saya memang kosong, jadi tidak ada alasan untuk tidak hadir, mengingat saya kenal baik dengan dua bunda tersebut.

Singkat cerita, lagi-lagi saya dijemput Putri di Gambir, kondisi macet Bogor di tambah KRL yang sekarang dengan cemerlangnya berhenti di setiap stasiun, membuat saya telat! Putri bolak-balik sms saya, dan akhirnya kita ketemu di depan café something, saya lupa, pokoknya masih di gambir, lha… ternyata dua bunda itu juga ada dibelakang putri! Ups! Maaf Bund, membuat para ibu-ibu berumur ini menunggu sampe dirubung semut, hihiihihihi…

Jadilah di moment tersebut saya bertemu dengan Bunda Lily dan Bunda Bukit, sensasinya luar biasa! Hmm, sempat terjadi  ombrolan, kalau ternyata saya tidak seperti yang dibilang putri, masa kata dia ke para Bunda, “Prima itu cuma pendek, cuma sebahu” wuakakaakka… sial banget gak tuh! Well, ya akhirnya terbukti kalo si Putri lebay, dan merasa semua orang pendek, fiuuhhh… Kita berempat melanjutkan pertemuan di Plaza Semanggi, di lantai paling atas, yang outdoor tapi masih terbilang nyaman, maklum kata Bunda Lily dia maunya yang nyaman, gak capek, ini, itu, maklum sudah tua, hahahahaha…

Dalam perjalanan, Bunda Lily ngasih buku (lagi) ke saya, hahahaha… Makasih banget ya Bund, nambah-nambahin berat koper aja, wuakakakak… 😛

1. Bunda Lily, a.k.a. Bunda Don’t Worry a.k.a. Lily Suhana, beliau sudah sering saya liat penampakannya di beberapa kopdar, jadi bagi saya tidak kaget lagi, suara beliau juga saya pernah dengar via telepon, sangat ramah, keibuan, dan tetap fungky dan spontan! Hahahahaha… Lebih asik bertemu langsung daripada membaca tulisannya, karena beliau ternyata jago bercerita dan humoris. Bunda Lily sering sekali beradu opini dan menimpali Putri, ah mereka memang benar-enar seperti Ibu dan anak. Lihat saya sampai ada kejadian berfoto extreme macam begini, hahahahaha…

*

2. Bunda Bukit, a.k.a Najadimande, terkahir saya memanggilnya “Emak”, sama seperti cara Putri memanggilnya, ini membuat lebih mudah bagi saya, daripada memanggil keduanya Bunda, hahahaha… Jujur saya tidak pernah tahu wujud Bunda Bukit, saya pernah melihat di beberapa foto Putri sewaktu dia ke Bukit Tinggi, tetapi saya lupa, ternyata Bunda Bukit itu terlihat lebih muda dan lebih cantik, hihihiihi… sangat kalem, dan gak banyak bicara, tapi sekali bicara dalem, apalagi kalo nyindir si Putri, hahahahaah… Emak ini memang sepertinya diam-diam menjadi silent reader blog saya –ge-er.com, pernah satu kali beliau komen dengan username yang saya tidak kenal bahkan unik, eh ternyata setelah saya googling emailnya, ketahuan dia adalah Bunda Bukit, hahahahah… Makasih ya Mak. Selain itu Beliau kini malah rajin mengikuti weekly photo challenge, katanya sih gara-gara mulai suka pake Lightroom seperti yang selama ini saya lakukan, hahahaha… wah senangnya bisa menajdi inspirasi banyak orang.. 🙂

3. Putri Usagi, kalau yang ini tidak perlu dijelaskan, karena sudah sering diulas, hahahaha… mari kita skip! 😛

Setelah kurang lebih 30 menit, menikmati makan dan minum, tiba-tiba datang satu lagi tamu! Tamu yang saya juga kenal, yang saya juga kagumi, dan saya ingin sekali bertemu! Yup betul Bunda Monda!

4. Bunda Monda, a.k.a Monda Siregar, Bunda yang satu ini memang juga terlihat sudah berumur, tetapi wajahnya cerah, dan jauh lebih muda daripada di foto, hahahahah…  Bunda Monda adalah gambaran dari tulisan-tulisannya yang lembut dan keibuan, sangat jauh dari bayangan saya yaitu seorang Ibu-ibu batak yang gagah dan toak, hahahahaha… Bunda Monda sempet bingung memilih makanan di menu, akhirnya dia memilih apa yang saya tadi makan: Kwetiau Siram Seafood! Dan ternyata habis! Enak katanya! Hahahaha…. Recommended memang kalo makan di S*laria 😛

Kami akhirnya berbaur dengan banyak cerita, tentu saja terutama cerita dari marching band kita, sodari Putri Usagi, hahahahah… Ntah saya lupa apa saja yang kami bicarakan, pokoknya kita juga sempat berfoto-foto, dan seperti biasa, saat para blogger berfoto-foto, para tamu lain akan melongok dan bergumam “ini acara apaan ya? Kok heboh banget??” hahahaha… Kita juga sempet pindah meja, dan membuat banyak nota pesanan, karena bolak balik pesan makanan dan minuman, dan paling rame sendiri pula! Seru banget pokoknya…

Setelah acara selesai, sambil melangkah keluar gedung, kami juga sempat berfoto-foto lagi, terutama si Putri yang sengaja ngilang ke kamar mandi buat memastikan penampilannya Okeh, gubrak! Ini oleh-olehnya…

*

*

*

*

Kami melanjutkan acara jalan-jalan ke Monas, jadi alesannya sambil nganter saya ke gambir, sklaina jalan-jalan ke Monas, padahal ini akal-akalannya si Putri aja biar jadi model foto-foto, hahahaha… akhirnya kami, minus Bunda Monda, terpaksa ikut ke Monas, hahahah…

Di Monas, dua bunda memutuskan untuk menunggu saja ddekat pintu keluar, sedangkan saya dan Putri lanjut ke arah Monas. Langsung deh liat sesi foto-foto Putri, hahahaha…

*

*

*

Akhirnya perpisahan pun tiba, saya berpamitan dengan duo Bunda, dan Putri, saya sangat senang bisa kopdar dengan mereka semua…

Oh iya, sebenernya banyak foto-foto extreme yang diambil di sesi ini, cuma atas nama kemanusiaan saya tidak tega menguploadnya, wuakakakakak…

sedikit curhat…

Saya merasa sangat beruntung, saat saya datang ke Bogor dan Jakarta, banyak blogger yang mengajak atau tidak sengaja terajak kopdar, jadi waktu yang cuma sedikit itu bisa dimanfaatkan dengan maksimal. Saya merasa ngeblog bukan cuma sekedar mengisi waktu luang, tetapi juga menjalin silahturahmi, meningkatkan pengetahuan dan tentunya persahabatan yang bernilai plus-plus. Kami tidak saling mengenal, hanya mengenal lewat tulisan, tetapi pertemuan seperti sudah sangat diharapkan dan penuh dengan cerita-cerita seru. Om NH selalu bilang, this is the Beauty of Blogging, dan itu benar adanya.

Selama setahun belakangan, saya seorang pengangguran yang mencoba mengisi waktu dengan hal-hal bermanfaat, berusaha sibuk dengan apapun yang bisa menyibukkan, termasuk ngeblog. Terimakasih Tuhan yang telah memberikan jalan saya untuk membuat Blog. Saya banyak mengalami banyak peningkatan dari segi mental dan pengetahuan. Blog telah membuat hari-hari saya lebih berharga, berarti, dan penuh warna. Saya merasa orang-orang menyanyangi saya, seperti saya menyayangi mereka. Ini ajaib, karena kami tidak pernah bertemu sebelumnya. Untuk setahun terakhir ini saya banyak mengucapkan terimakasih untuk semua blogger-blogger yang telah menghiasi hidup saya…

Ke depan saya mungkin tidak akan serjain dahulu menulis, karena sudah ada kesibukan tetap yang akan saya kerjakan, tetapi saya akan coba selalu menulis, disetiap ada kesempatan.

Duh, panjang juga ya curhatnya, hahahahaha… OK, Lha!

Sampai jumpa di tulisan saya berikutnya tentang perjalanan panjang saya ke sebuah tempat yang indah…

Happy Blogging!

 

 


Satu Minggu di Bogor (part 1)


Tada! Nah ini yang sebenarnya saya ingin tulis setelah tidur panjang plus kemalasan yang melanda saya dua bulan terakhir, hahahaha…

Sahabat pasti sudah tahu bahwa saya dua minggu kemarin sedang berada di Bogor. Hey dreams come true! Saya pernah menulis sebuah tulisan berjudul “Seandainya Saya ke Bogor”, alhamdulilah, sekarang sudah terealisasi. Di dalam tulisan tersebut saya punya keinginan untuk melakukan kopdar dengan blogger-blogger yang selama ini menghiasi kolom komentar  blog ini, dan mengejutkannya, semua di luar imajinasi saya, di luar rencana dan harapan saya. 1 minggu di Bogor menjadi sangat luar biasa!

1. Kopdar Pasaraya (24 Juli 2011)

Gaya sedakep eileykhan…

*

Mas Sus diam-diam ambil foto ini pake kamera saya 😀

*

Kopdar ini sudah banyak ditulis oleh blogger-blogger lain yang mengikuti kopdar ini. Ini adalah kopdar pertama saya, dan I’m the lucky one, saya bisa kopdar dengan blogger-blogger senior yang somehow, sangat diharapkan kehadirannya di setiap kopdar di seputar Jakarta. Tidak semua blogger pernah kopdar dengan beliau-beliau ini, dan saya beruntung menemui mereka di kopdar pertama saya.

Putri Rizkia, aka Putri Usagi, dia adalah blogger yang dekat dengan saya, kami chat dan sering sms, dan ternyata sehari setelah saya tiba di Bogor, saya sms dia, dan dia serta merta mengajak ke acara kopdar yang diadakan Uda Vizon dan Om NH di Pasaraya. Saya ragu, minder, dan gugup, gimana ya ntar? Thanks banget buat Putri yang dengan gigihnya memaksa saya untuk ikut, bolak-balik confirm, sampai mengajak Mas Sus aka Mandor Tempe untuk ikut. Hahahhaha… dalam kopdar ini Putri menjadi salah satu point of interest, karena selain riang dan kocak, suaranya yang emang bak petasan dan sifatnya yang flamboyan * (baca SKSD) wuakakakaka… pokoknya untuk tau cerita selengkapnya silahkan kujungi cerita kopdar pasaraya versi Putri. Kesan saya sama putri: tepat seperti yang saya pikir, hahahaha…

Om NH,  Trainer dan kakak kelas saya satu ini memang saya sudah tunggu kesempatannya untuk kopdar. Bagi saya, beliau ini tempat saya mendapat konsultasi “psikologi” dengan gratis kalo ketemu di chat, hahahaha…  Dan memang, belaiu eileykhan sekali! Saya suka gaya dia menyambut kami, dengan jabat tangan dan sapaan yang sangat “muda”, hahahaha… Memang sih, ternyata si Om, keliatan jauh lebih “berusia” dibandingkan apa yang saya pikirkan, hahaha.. tetapi gaya bicara dan kehangatannya sama seperti di blog, sangat belia! Ntah bagiamana ceritanya, belum apa-apa obrolan kami sudah dibuka dengan obrolan tentang gigi, hahahaha… ya ampun.. hahahahhaha…:D Cerita kopdar ini versi Om NH bisa di baca disini.

Mas Necky, ada yang aneh dulu sewaktu saya pertama mampir di blog mas necky, sepertinya saya sudah berkenalan dengan dia sebelumnya, Hahahah.. aneh, padahal tidak pernah, sampai saya menelusiri tulisan-tulisannya. Ah,  mungkin karena saya pernah liat dia sebagai penulis tamu di rumah Om NH, hehehehe…  mas necky seperti yang saya bayangkan, tapi lebih tepatnya dia ternyata lebih asyik, lebih rame dan lebih kocak daripada bayangan saya, dan satu lagi, tidak segemuk yang di foto. Hahahahaha.. Dia dan putrid tidak hentinya ngorol tentang kereta, dan mereka memang cocok sebagai narasumber tentang KRL, ibaratnya udah kaya KRL Ambassador, hahahaha… Cerita kopdar versi Mas Necky.

Mas Sus, aka Mandor Tempe, hahahha, saya sempat iseng nanya ke putri “Apa Mandor tempe ikut kopdar?” Lha kok dilalah si Putri ngajak dia! Hahahhaha… Saya dan Mandor sering terlibat chat di YM dan FB,  kami  sering tukar pendapat dan ide, bagi saya dia kakak yang penuh motivasi, terutama dalam bisnis, hahahaha… well, tapi di kopdar dia memang sangat pemalu! Terlalu pemalu malah. Cara bicaranya medog jawa, arek Malang gitu lho (eh kita satu tempat lahir lho) hahahah.. Mas Sus lebih banyak diam, dan sesekali tertawa lepas, belakangan saya baru tau kalau dia ternyata sempat didiagnosa gejala tipes oleh dokter, wah, makasih lho mas, sudah bela-belain jauh-jauh dari Cibitung buat nyamperin kita-kita di kopdar… Mas Sus sama seperti yang dia bilang, cungkring dan tinggi, hiihihihhi…

Akhirnya saya memperolah foto “normal”nya. Eits.. Tapi untuk menjaga kemisteriusannya saya kasih foto yg ini aja, hahahaha..

Uda Vizon, saya tidak dekat dengan Uda Vizon, tapi saya sempat mampir ke tulisan beliau tentang Surau yang dibangun di Riau, hasil rekomendasi tulisan Om NH, dan bagaimana Om NH sangat mengagumi Uda Vizon, ntah berapa kali Uda Vizon menjadi pembahasan di blog om NH, jadi saya pikir, Beliau pasti orang special. Uda Vizon, hangat, berkarisma, kalem dan lebih cakep dan imut aslinya daripada di foto, hahahaha… Uda Vizon ini terlihat awet muda, hahahaha.. *sirik 😛 Uda Vizon sempat menyinggung acara kopdar ini di tulisan ini.

Mbak Em, nah, tamu terakhir yang datang di kopdar adalah mbak Imelda dari jepang! Beliu yangs sedang liburan di Indo, sempat diajak uda Vizon untuk nyamperin kita, wah, wah, beliau sama seperti yang saya bayangkan, ibu-ibu dendi yang hangat dan seru. Saya dulu sekali pernah mampir ke blognya, dan membaca biografinya yang panjaaaaaannngg sekali, hahahaha.. Meskipun kami jarang bertemu di blog, tetapi Mbak Em, memang sudah blogger kelas kakap yang mampu menghadapi blogger anak kemarin sore seperti saya dan Putri, hahahaha… Mbak em, juga bawa kamera nya Nikon D80 dan lensanya yang f nya 2. sekian… fiiuhhh… bikin ngiri banget 😛 Mbak em juga dengan piawainya mengulas kopdar ini di sini.

Nah setelah kita ngobrol ngalur ngidul sampe kurang lebih 3 jam, akhirnya kita berpisah, Bapak-bapak naik ke atas untuk sholat. Saya, putri dan mbak Em, ke Ragusa Ice Cream, tempat Putri pernah janji bakal traktir saya dan kopdar pun berlanjut, hahahah…  Karena Mbak Em juga penasaran sama es krim “klasik” ini akhirnya kita pesen es krim yang berbeda biar bisa saling icip, hahahahah… Seru banget, karena di sini Putri dan Mbak Em sempet dengan cuek beybehnya bernarsis ria, hahahha.. Cerita lengkapnya ada di tulisan Mbak Em di sini .

*

*

*

Oh iya, Makasih mbak Em, atas traktirannya. Di sana saya sebenernya udah sempet ketar-ketir, karena takut kemaleman sampe Bogor.  Acara es krim pun berakhir, Mbak Em pulang dengan mobilnya, Putri mengantar saya ke Gambir. Eh bener, ternyata sampai bogor saya kemaleman, angkutan sudah jarang, sempet nunggu 20 menit tanpa tanda-tanda angkot dan bis yang saya mau, fiuhh akhirnya ada juga! Jam 12 baru sampai rumah… ckckckckc…

2. Kopdar Kementrian Keuangan (Lapangan Banteng)

Hhahaha.. judulnya agak lebay, tapi memang peserta kopdar ini semua — kecuali saya,  bekerja di kementrian keuangan yang letaknya bersebalahan dengan Lapangan Banteng. Saya hari itu kebetulan sudah menyelesaikan sedikit urusan di sekitar Gambir, terus nelpon Mbak Devi, dan akhirnya kita bisa kopdar di kantin kantornya Mbak Devi. Eh ternyata ada peserta kopdar lain, yaitu Mbak Dewi dan mbak Laily.

Mbak Devi, nah mbak saya yang satu ini memang akrab karena sering komen di blog saya, beliau juga sempet email-emailan dan sms-an. Mbak devi persis seperti yang saya bayangkan, dan tidak segendut yang dia sering pusingkan, hahahahah… *gendutan mama saya 😛 Bertemu mbak Devi seperti bertemu mbak sendiri, seperti sudah kenal sebelumnya, padahal kita baru pertama bertemu, tetapi semuanya berjalan seperti biasa dan tidak ada kecanggungan. Feels like home…

Mbak Dewi, kalo mbak yang satu ini saya pernah liat fotonya sebagai penulis tamu di blog om NH, ya saya ingat! Belaiu juga alumni IPB, sssttt.. kata Mbak Devi Mbak Dewi salah satu pejabat penting di kantor itu, hihihihi… lucky me ketemu dia, sama seperti alumni-alumni IPB pada umumnya *halah narsis, mbak Dewi supel dan gak jaim, hahahahaha…

Mbak Laily,kalau mbak ini saya bener-bener baru tau, hahahaha… salam kenal ya mbak…

Ya meskipun saya baru bertemu ketiganya tapi obrolan kita alhmadulillah mengalir  dan enjoyable. Setelah kita bubra, saya ikut mbak Devi keliling gedung dan lapangan banteng, terus lanjut ke gramed, dan ke sekolahnya anak-anaknya Mbak Devi: Syafa, Rafif dan Rahma di Basement Masjid Istiqlal, seru banget, sampe ada acara foto-foto depan mesjid, hahaha…  Cerita lengkapnya ada di versi mbak Devi 😀 Panjang dan membuat saya terharu, hahahahah…

Syafa gak mau di foto 😛

Rafif dan temannya..

*

*

Blogger cilik 🙂

Panjang juga tulisan ini, lanjut ke part 2 ya ntar… 😀

I love Kopdar!


TLPC : Pameran Foto Perdana

Ini tulisan dadakan!

Hi pembaca setia blog ini, hahaha… maaf ya sudah lama tidak menulis, alasannya akan saya ceritakan nanti di postingan selanjutnya, yang pasti saya menulis kali ini sifatnya dadakan tapi harus, karena ini bentuk apresiasi saya terhadap keberhasilan sesuatu, bentuk rasa bahagia dan juga rasa haru…

Hari ini TLPC (Tanah Laut Photo Club), komunitas fotografi di kabupaten tempat saya tinggal yang sempat saya ceritakan disini dan disini melaksanakan pameran foto perdananya! Bertajuk “Wajah Tanah Laut” mengangkat hal tentang sumber daya alam, wisata dan sosial budaya di kabupaten tersebut. Pameran foto ini tentu tidak hanya menguras tenaga dan pikiran, tetapi cukup menguras biaya dan juga perasaan tentunya. Ada sebuah perjuangan yang tidak mudah di balik kesuksesan acara ini, ada sebuah cerita dan ada sebuah lika-liku panjang sebuah organisasi baru yang mengawali langkahnya dengan bermodal sebuah tekad… “Kita harus tunjukkan bahwa ada TLPC di kabupaten Tanah Laut”

“Langkah pertama ini pasti akan sangat sulit, tetapi setelah ini langkah-langkah selanjutnya pasti akan lebih mudah” begitu saya pernah bilang ke teman-teman, dan untuk itu, kita butuh tangan dan kaki yang 100 kali lebih kuat untuk menjadikan acara ini terwujud. Dalam keterbatasan kekompakan, keterbatasan dana, dan keterbatasan waktu kami seperti para pemimpi kecil sederhana yang tak putus asa. Jatuh bangun dalam kegiatan ini dan masalah-masalah datang silih berganti memecut kami untuk berjuang lebih keras.

Kini semua berbuah manis, kegiatan pameran foto tersebut terbilang sukses.

Sebuah sms meluncur ke HP saya:

“Acara dibuka oleh Bupati dan unsur muspida, Kapolres mau ikut bergabung sebagai Pembina/ Penasihat, Ketua DPRD Tanah Laut akan jadi ketua kita, Bupati dan Wakil Bupati interest sekali sama hasil karya kita dan membeli salah satunya dengan harga fantastis, dan banyak orang yang datang untuk melihat..”

Bergetar hati saya membacanya, mengetahui perjuangan selama ini tidak sia-sia, ada genangan tipis di mata saya, “Selamat teman-teman atas kesuksesan kita”  dalam hati saya.

Hari ini saya hanya diam di kamar saya di Bogor, ribuan kilo dari tempat acara berlangsung. Hari ini saya menuliskan status di FB tentang suasana Bogor hari ini yang panas, kering dan barangin, mengingatkan saya tentang Pelaihari, tempat acara tersebut berlangsung, dan saya benar-benar ingin berada di sana hari ini.

Berbagai ucapan terimakasih, ungkapan syukur dan kebahagiaan datang silih berganti malam ini, seolah sudah cukup membuktikan kepada saya bahwa acara tersebut berjalan sukses meskipun saya tidak melihatnya dengan mata dan kepala sendiri. Hari pertama puasa ini seperti penuh dengan rahmat dan rasa syukur yang teramat, khususnya saya yang sedang jauh dari teman-teman seperjuangan. Hari ini hari pertama puasa ramadhan, hari ini hari ulang tahun anggota kami, Bagus, dan hari ini pula hari pameran perdana kami yang sukses. Tuhan sungguh perencana yang ulung. Alhamdulillah.

Sedikit flashback tentang saya dan TLPC…

Saya adalah “anak baru” di lingkungan Pelaihari, Kab. Tanah Laut, saya dipertemukan oleh anak-anak TLPC melalui sebuah grup di FB sekitar Januari 2011. TLPC berkembang pesat sampai akhirnya terbentuk organisasi dan rencana kegiatan, yaitu pameran pertama ini.

Saya yang seorang pengangguran tentu saja seperti menemukan tempat pelarian untuk mengamalkan kapasitas saya, semampu yang saya bisa. Berbekal sedikit ilmu dari bangku perkuliahan saya ikut aktif dalam persiapan kegiatan, mulai dari nol sampai sekarang, itulah mengapa saya tau persis betapa beratnya perjuangan kami.

Saya tahu bahwa saya tidak akan lama berdiam di tempat ini, maka saya pernah menolak saat ditunjuk untuk menjadi pengurus, saya tidak bisa menjamin sampai kapan saya masih ada di Pelaihari, sedangkan cepat atau lambat waktu perpisahan itu akan tiba, dan saya sadar akan itu.

Teman-teman di TLPC adalah orang-orang yang optimis dan penuh semangat, dan saya percaya itu, saya bisa merasakannya, dan saya memutuskan untuk “bergembira” bersama mereka, karena saya tau, ada potensi di dalamnya, ada cahaya kesuksesan yang belum tampak, maka dari itu saya tidak main-main di dalamnya. Saya bergembira, tetapi tidak main-main dalam bergembira 🙂

Persiapan pameran seperti  menuntut kami untuk lebih kreatif dan kritis mencari objek foto. Kegiatan hunting bersama seperti tidak ada habis-habisnya menghiasi hari-hari saya dua bulan terakhir, belum lagi kegiatan menyebarkan proposal yang kejar-kejaran dengan ketatnya waktu yang tersisa. Awalnya acara ini akan dilaksanakan sebelum bulan puasa, tapi sempat tertunda sampai akhirnya terlaksana hari ini (1 Agustus 2011). Kami melakukan yang terbaik yang kami bisa, sampai di hari-hari terakhir saya di sana…

Akhirnya kurang lebih satu minggu sebelum tanggal pelaksanaan acara pameran, saya harus meninggalkan Pelaihari, untuk kembali meniti karir saya kembali. Sebuah moment yang saya tunggu tetapi tidak saya inginkan.  Berat, tetapi harus. Ada rasa sedih dan “tanggung” karena harus meninggalkan acara yang hampir selesai ini. Saya terbang ke Jakarta dan stay di Bogor untuk sementara waktu. Maaf teman-teman, saya tidak bisa berpamitan ke setiap orang saat itu.

Sekarang,

Saya tahu ada senyum di setiap wajah teman-teman TLPC, hari ini, sebuah langkah pertama, sebuah langkah besar untuk keberlangsungan organisasi kita telah terlaksana. Doa dan air mata itu terjawab sudah. Harapan dan cita-cita semakin jelas terlihat.

Saya bangga pernah menjadi bagian dari kalian, dan saya jujur berat sekali harus meninggalkan TLPC, karena saya sudah merasa memiliki dan menemukan wadah yang membuat saya “berarti”. Kenangan dan persahabatan yang kita jalin selama ini tentu saja sangat terukir di ingatan saya, saya menghargainya dan tidak menyangkal bahwa semua sangat berarti bagi saya.

Sahabat dan rekan-rekan TLPC,

Saya mungkin akan berada jauh dan sangat jauh dari Pelaihari, tetapi saya tentu akan terus mendukung TLPC. Hehehhe, kan masih ada internet. Mohon jaga dan terus kembangkan komunitas ini menjadi komunitas yang baik, produktif dan berkualitas. Kekompakan, kerja keras, dan rasa memiliki adalah kunci keberhasilan langkah-langkah kita ke depan. Saya turut mendoakan dari sini.

Ah, sudah cukup menjadi sentimental! Mari bergembira atas kesuksesan ini! Saya terharu bahagia malam ini, karena kita berhasil! Well done! Terus semangat!

This slideshow requires JavaScript.

“Saya datang ke TLPC tanpa membawa apa-apa, tetapi saya pergi membawa ribuan kisah dan kenangan, terima kasih TLPC”

Salam Jepret!


Next time

 

I’ll catch you next time…

 


Weekly Photo Challenge: Morning

Yiiaaayyy! Morning is easy theme of weekly photo challenge this week! Let’s see morning view in the places I had ever been…

 Morning in Bogor, West Java (Salak Mountain as background)

*

Morning in Bondowoso, East Java

*

Morning in Pelaihari, South Kalimantan

*

Morning in Tabanio/Takisung, South Kalimantan

*

Morning in Kepulauan Seribu, Jakarta

*

Morning in Bandar, Brunei

*

Morning in Apopka, Florida

*

Morning in Huntersville, North Carolina

*

Morning in New York City, NY

*

*

*

😀

That’s all!

This slideshow requires JavaScript.

PS: Ternyata sebelum kenal Om NH, aku juga bisa gaya sedakep! *ngeles padahal aslinya kedinginan 😛


I wish…

I wish I could go back in time…


Here

Dear humans,

Here…

where I drink at…

Regards,

Hen

***

Thanks to Kang Alam for the inspiring challenge! 🙂

*

PS: Picture was taken in an island in Kepulauan Seribu, Jakarta


Dalam Darma

Di gunung…

*

Di laut…

dalam darma…


Sedikit Kata…

Pembaca dan sahabat blogger,

Mungkin sahabat-sahabat blogger sedikit banyak bertanya mengapa saya sekarang sudah jarang menulis dan melakukan blogwalking. Ya, saya sibuk akhir-akhir ini di dunia offline, ada kesibukan yang menuntut waktu saya sedikit lebih banyak dari biasanya, sehingga draft-draft tulisan hanya tersimpan di otak saya.

Saya juga mohon maaf tidak bisa membalas komen-komen yang selalu setia mengisi halaman-halaman postingan saya. Saya ucapkan terimakasih. Saya tentu membaca semua komen dan membalasnya dalam hati, tetapi jika saya rasa sangat urgen, maka saya baru akan menuliskannya. Saya juga akan blogwalking satu dua kali di waktu-waktu senggang saya.

Untuk mengisi kekosongan postingan saya, dan sekaligus mengurangi kejenuhan menulis, saya sengaja memposting foto-foto hasil karya saya. Syukur-syukur bisa tetap dinikmati. Apakah saya ingin mengubah blog ini menjadi Photoblog? Saya rasa tidak, kelak saya akan menulis lagi, bagi saya rumah ini hanyalah tempat saya bercerita dan berbagi, satu waktu bisa dalam bentuk tulisan, lain waktu berupa gambar…

Photo by Ipunk DJ (mesinketik.com)

Pembaca,

Ya, hanya inilah yang saya punya. Semoga bisa bermanfaat 🙂

Salam,

Prima

*

PS: mau tau itu foto di mana? Nantikan laporan hunting foto bareng TLPC 🙂


Ibu Guru

Ibu Dewi, begitu kami memanggilnya. Guru muda pengajar Bahasa Inggris di sebuah sekolah di pedalaman Kecamatan Takisung, Tanah Laut. Pagi itu, Ibu Dewi bersantai menikmati indahnya dermaga dan muara sungai sebelum memulai pelajaran. Selamat mengajar bu!


Ambungan Siang Itu…

Edited with photomerge (PS), color by LR.

Ambungan, nama sebuah desa di pinggiran kota Pelaihari. Berlatar gunung keramaian, sawah luas membentang sejauh mata memandang. Dan siang itu, saya sedang menyantap makan siang, mari! 😀

PS: Anda tidak puas dengan ukuran gambar? klik gambarnya untuk melihat ukuran yang lebih besar 😉

 


Ayah Pulang

*

Ayah Pulang


Nothing

*

Nothing


Weekly Photo Challenge: Tiny

Almost forget that I participate this challenge since I have been so busy recently. But I won’t miss one of them, I promise, thus at least I will have a post in a week, 😆

TINY.. What tiny things have you ever seen? How could you say that one is tiny? This one is a bit tiny, that one is tinier, or tiniest… It’s just relative I think…

A little bright green moth landed on my paper that evening. You can compare its size with the text size. I believe that was considered as tiny, but wait, everything can be tiny if you compare with something more-more bigger that itself.

*

For example…

Can we say a human is a tiny one under the gigantic trees? I took this picture in Dramaga Forest, near from Situ Gede in Bogor. I found a lot of a big trees there, and I surely believe there are bigger ones out there, yeah somewhere I don’t know.

*

And something NOT tiny can be tiny, if they are made as mini version or toys…

An old plastic (tiny) car trapped on roof! A kid might throw that toy car to the roof and couldn’t take it back. The picture taken on a roof of abandoned house in a village. Quite scary I remember… 😀  OK, that’s all.

Salam Jepret!


Belajar Prewedding

Hmmm… kira-kira 3 atau 4 bulan yang lalu, teman saya, tepatnya kakak kelas SD saya sekaligus tetangga dekat sewaktu kecil meminta saya untuk membuat foto prewed sederhana. Saya dengan (sedikit) pede menyanggupinya. Itung-itung bantuin teman sekaligus bisa belajar moto prewed lagi (dulu udah pernah sekali).

Foto-foto berikut diambil di 3 lokasi yang berbeda, mengambil waktu 2 hari. Di sawah, di sawah dekat gunung, dan di pantai. Dilema saya selama pemotretan, saya belum bisa mengambil ekspresi yang “pas” dari mereka. Selain karena saya kurang cepat dan cekatan mengambil gambar, saya juga paling gak bisa mengarahkan gaya... 😦 *I am tired of this. Jadilah banyak ekspresi yang saya pikir seharusnya bisa lebih baik. That’s okey, I am learning anyway.. 🙂

Lagi-lagi saya bermain warna dengan Lightroom 3.3, jadi jangan heran kalau ada beda suasana/warna dengan foto yang sama. Maksud hati semoga yang melihat tidak bosan dengan bermcam-macam warna yang saya buat disini. I am happy with this project! 😀 rasanya semakin lama semakin cinta dengan Lightroom, hehehehe…

Watch out for more than 50 pictures coming! Enjoy!

This slideshow requires JavaScript.

Buat Mbak Nurul dan Mas Harto, saya ucapkan selamat menempuh hidup baru, semoga langgeng terus ya sampai kakek-nenek dan aku segera dapet ponakan, hihihihhi…

Salam Jepret!


Weekly Photo Challenge: Wildlife

Wildlife? Again! I found the theme of this week is so difficult, yet really challenging! 😆 For me now, who’s living in Kalimantan, where’s jungle and wildlife surely exist. I was thinking to go somewhere like a jungle nearby and find such cute animals like deer, monkey, or beautiful bird, instead of boar, wild dog or even giant snake! Those last three I mentioned are an enough reason for me to keep apart from their nest 😛

Thus, I chose 4 pictures from my collection, hoping they would be good enough for “wildlife theme” Check them out!

I ever posted long time ago some of wildlife I saw in North Carolina Zoo here, but I have never posted this one. I took the picture from outside  a big paludarium where’s some of colorful and poisonous frogs living in.

**

She is Ingrid, my friend from Nicaragua, standing next to a safari car of NC Zoo. I think this is also typical wildlife style. The popular car I saw in every africa wildlife film! 😆 but, yeah without that cute color of course! 😀

**

Where do you think this place should be in? 😀 You can find it behind a rectorate of my university (IPB). If you walk down to rectorate building from the library, you’ll pass the LSI bridge, with Lake LSI on the left and this jungle view on the right. It was still early morning when I took the picture, that’s why you can see the fog made the view really picturesque!

**

I don’t know what bird it is. I got it on a tree behind my house. One of many kinds of bird sang and flew around everyday here. Lovely one! 🙂

Salam Jepret!

*All pictures edited with Lightroom 3.3 & Photoshop Cs5


Kisah Sebuah Nama

 

Dapat ide dari dailypost.wordpress bertajuk What is the story behind your given name?

Saya akan sedikit narsis dengan bercerita tentang arti dan cerita di balik nama saya, hehehehehe…

Di suatu siang tanggal 15 Januari tahun 198x :mrgreen: sekitar pukul 2 siang, di Rumah Sakit Lavalette, Kota Malang lahirlah seorang bayi laki-laki, anak pertama dari pasangan suami istri yang berlatar belakang suku yang berbeda, sang ayah blesteran Batak-Banjar, si Ibu blesteran Jawa, Sunda dan Madura.

Eh tanggal 15 Januari ini bukan murni hari lahir alami, itu tanggal yang bisa dipilih. Saya lahir operasi karena pinggul mama sempit. Jadi dokter bedah yang saat itu sehari-hari berbaju tentara (rumah sakitnya rumah sakit tentara) iseng bilang, “Ibu mau operasi kapan, sekarang?” Mama saya dengan lempeng bilang “OK, siapa takut!” wkakaakakka…

Singkatnya, operasi berjalan lancar dan seorang bayi merah lahir dengan suara tangis kenceng tanpa komando. Kata Mama yang saat itu dibius setengah badan, dia liat saya pertama kaya kodok raksasa, kaki dan tangnnya doang yang besar, wkakakakaka.. udah gitu baru lahir matanya langsung melek! *bikin kaget… wkakakakakakakaka…

Pemberian nama saya terlambat. Mama Papa sepertinya gak kepikiran buat kasih nama apa saat saya lahir. Gara-gara telat itulah urusan kasih nama dan bikin akte kelahiran sampai harus di bawa ke pengadilan segala. Haiyah! Akhirnya biar cepet Mama nyerahin usulan nama ke Mbah Putri aja. Prima Wahyu Kusuma. Jawa banget kan? 😛 Nama itupun diboyong ke pengadilan.

Falsafah terbentuknya nama tersebut (berdasarkan keterangan dari Mbah Putri)

“Prima” artinya pertama, yang pertama, utama. Karena saya anak pertama dari Papa dan Mama, sekaligus cucu pertama buat Mbah Putri. Lain-lain prima sendiri berkonotasi baik, sehat dan kuat. Belakangan saya mulai ngeh kalo Prima itu kebanyakan digunakan untuk nama perempuan. Prima sendiri berdasarkan info di internet berasal dari bahasa Latin berarti “pertama”, asal katanya “Primus”, dalam bahasa Inggris merujuk pada kata “Prime”. Lain lagi dengan Spanish, Prima berarti adalah sepupu perempuan, sedangkan Primo berarti sepupu laki-laki. Itulah kenapa Spanish dan Mexican dulu memanggil saya dengan Primo, hehehehe… *kirain mereka cuma sok-sok improve!

“Wahyu” berarti pemberian, ilham, utusan, berkah. Tetapi alasan utama pemberian nama ini bukan karena arti itu, tetapi karena Wahyu adalah nama dokter anak yang merawat saya pasca operasi, hahahahaah… *iseng aja si Mbah kasih nama. Katanya: biar tetap terkenang.

“Kusuma” adalah bahasa sansakerta berarti kembang, bunga. Sederhana saja, harapannya kelak saya bisa tumbuh menjadi anak yang baik, wangi dan indah namanya seperti bunga dan bermanfaat bagi orang banyak. Jiaaahh..

Nama sudah pas dan OK, semua sudah setuju. Lha kok dilalah sampe di pengadilan, jaksa-nya orang batak! dan dia kaget saat Papa saya punya marga Hutabarat. Marga adalah wajib diturunkan bagi orang batak!

“Bapak, saya bersedia menyetujui akta lahir ini asal nama anak ini diberi nama marga di akhirnya, bagaimana?” kira-kira begitu kata si Jaksa.

“Hutabarat” adalah marga batak Toba, turun dari Raja Hutabarat. Selebihnya saya kurang tahu. Huta berarti Desa, Barat artinya arah barat. Jadi kalo dibuat inggris jadinya: Westvillage. Hahahahaha… *plis deh prim!

Papa saya yang belagak pilon manggut-manggut karena gak ngerti apa-apa. Beliau cuma mikir yang penting urusan pengadilan itu segera beres. Akhirnya pulang-pulang akte kelahiran saya bertuliskan: Prima Wahyu Kusuma Hutabarat. Semua orang rumah cuma manggut-manggut sambil komen: “panjang bener namanya…” Mbah Putri jelas-jelas tiba-tiba kaya ketabrak tembok saat tau nama indah bernuansa jawa pemberiannya itu tiba-tiba ditimpa dengan marga batak! terdengar aneh katanya, Wakakakaka…

Nah gitu aja cerita asal-usul nama saya. Sewaktu SD saya mulai ngerasa marga Hutabarat itu benar-benar terdengar aneh di tengah-tengah masyarkat Jawa, jadi saya seringnya menyembunyikan nama itu, kalau bisa sampai tiba masa-masa ujian nasional, hahahaha… Meskipun tidak semua mengolok-ngolok, tapi emang ada aja yang usil mempergunjingkan nama marga itu, hahahahah… sekarang? Justru saya bangga menyebut nama saya Prima Hutabarat, kaya orang luar negeri gitu, nama depan dan nama keluarga, Jiaaahhh… Mantap!

Imut kan??? :mrgreen: * Biar narsis, yang penting eksis! 😀

Happy Monday!


Parade Ulang Tahun SMAN 1 Pelaihari (part 2)

Melanjutkan postingan Parade Ulang Tahun SMAN 1 Pelaihari (part 1) sebelumnya, berikut ini lanjutan foto-fotonya…

This slideshow requires JavaScript.

Photos are edited with Lightroom 3.3, preset: Color Creative-Color CP 2

Semoga bisa menghibur akhir pekan pembaca semua!

Salam Jepret! dan Happy Weekend!


Parade Ulang Tahun SMAN 1 Pelaihari (part 1)

Hari Selasa kemarin, komunitas fotografi Tanah Laut (TLPC) diundang oleh OSIS SMAN 1 Pelaihari untuk ikut berpartisipasi dalam dokumentasi acara parade atau pawai dalam rangka Ulang Tahun SMA mereka ke-29 yang akan mereka adakan start pukul 8 pagi. Saya dan beberapa teman (kurang lebih 7 orang) berangkat jam 8 lewat, tiba di sana, acara sudah dimulai. Seorang guru sedang memberikan sambutan dan disusul dengan pembukaan acara.

Acara bertajuk “The Innovation of Smanpel” ini mengusung tema-tema seputar lingkungan, pendidikan, seni, olahraga dan kesehatan yang tampak dari kostum-kostum yang mereka pakai saat pawai. Setiap kelas (dari kelas X sampai XII) mempunyai tema kostum tertentu yang berbeda-beda, lucu-lucu dan kreatif. Mereka juga punya yel-yel dan iringan lagu masing-masing.

Rute pawai ini sebenarnya tidak terlalu jauh, bahkan saya sempat kecewa karena mereka tidak mengambil rute pusat kota yang jelas-jelas akan lebih menarik perhatian masyarakat. Mungkin karena alasan keamanan dan ketertiban juga, heheheeh… acara segitu aja, polisi dah dimana-mana, karena barisan anak-anak SMA itu mengambil lebih dari 1/4 badan jalan. Macet pasti! 😀

Di akhir acara mereka kembali ke halaman SMA dan menunggu acara door-prize dan pemenang untuk kelas-kelas terheboh. Rangkaian acara ini akan terus berlanjut sampai akhir bulan Mei, akan ada banyak lomba-lomba dan semacamnya, semoga saya bisa meliput lagi acara-cara mereka selanjutnya. Jadi acara pawai ini baru pembukaan saja, hahahaha… dan jujur nih ya saya udah capek, betis utamanya, gara-gara satu acara ini, hahahaha…

Menarik sekali buat saya, karena pertama kalinya saya ikut acara jepret-jepret acara pawai anak sekolah. Kita menyebar di beberapa titik di rute yang mereka akan lalui. Kita juga sempat pindah tempat tiga kali, saya dibonceng oleh teman saya melaju dengan motor mengikuti iring-iringan tersebut, mirip-mirip wartawan dari koran, I felt that I was cool enough! *narsis, hahahaha…

Ok, langsung aja ini foto-foto yang berhasil saya ambil di tengah acara. Konsepnya candid aja. Saya bagi menjadi dua postingan karena fotonya sangat banyak. Ada total 84 foto, hahahahah… Mudahan bisa terlihat semua ya 😀

This slideshow requires JavaScript.

Photos are edited with Lightroom 3.3, preset: Color Creative-Color CP 2

Kok diedit sih prim? Iya iseng-iseng nih sekalin bereksperimen.. lagi suka-suka saya dong! *songong * GakGakgakKKK….

Jangan lupa lanjut ke Parade Ulang Tahun SMAN 1 Pelaihari (part 2)

Salam Jepret!


Weekly Photo Challenge: Round

Round? It could be the easiest theme of Weekly Photo Challenge so far since I have a bunch of photos merely supported this theme. But for some reasons,  I really wanted to take the challenge by capturing new photos I would take this week. Should be easy I thought.

In fact, I didn’t get any good photo in the first 3 days 😦 What a lame! It had occupied my thought in couple past days, even a busy days couldn’t distract me from this “roundness”. In the middle, kind of admitting it’s quite hard to get “round” photo in (only) a week. It was simple yet sounded easy, but no more.

Thanks God, I found them at last!

Wheel, might be the popular chosen for the theme. I had checked out some of the participant’s and it is! 😆

On Tuesday, I was in the middle of shooting an high school anniversary parade for documentation purpose. There were some cops along the route since the parade obviously took more than a quarter of the road width, and caused traffic at the moment! 😛   I stood on the edges of the road and found a motorcycle of traffic cop parked in the middle of the road. Looks cool! I’ve never been that close with that motorcycle, and suddenly thought to approach and capture it. Hey! Round wheels! I got one! 😀

**

I found this cactus beside my house. This is actually my Mom most hated cactus. That’s why my Mom doesn’t look after this cactus very well and just put the pot in any hidden place, somewhat abandoned. Fortunately, this cactus is so vigorous one and used to raise abounding shoots turned them into a “giant thorn ball”.

Can you guess why my Mom hates this cactus terribly? This cactus has so many short-tough white thorns PLUS long-dark thorns like hook worsen it’s performance. If you see carefully, in the middle of every round, you can find “the hooks”. That hooks easily hook your hand, skin, or anything with pores when be touched, surely it’s a bit hurt, and when you start to release the hook  carelessly, I guarantee another hook already caught you! My Mom simply said: Annoying cactus!

In the next post, I will tell you about this special cactus, those special hooks and the reason I found behind why they have hooks! Hmm, It’s interesting!

Happy Blogging!

PS: Mulai besok internet sudah lancar lagi! Cihuy!


Jajanan Rumah

Weekend begini kayanya enak kalo ngomongin kuliner, hehehehe…

Mama saya di rumah emang hobi bikin cemilan-cemilan yang enak dan sehat. Enak karena rasanya emang maknyus  dan bisa ambil lagi kalo kurang :P, dan sehat karena terjamin bersih dan bahan-bahannya terjamin aman. Pada dasarnya cemilan si Mama adalah cemilan-cemilan yang biasa kita temui di pinggir jalan, kaya singkong goreng, pisang goreng, tahu isi, bala-bala/bakwan, dan kawan-kawannya, tetapi kadang ada cemilan atau jajanan yang relatif “baru” buat saya. Nah, Kalau dulu saya pernah cerita tentang kedelai rebus, kali ini saya akan cerita tentang 3 jajanaan atau cemilan unik di rumah…

1. Ubi Goreng Keju!

Sebenarnya hanya ubi goreng biasa yang digoreng dengan cara biasa, cuma yang bikin special adalah parutan keju dan susu kental manis sebagai garnishnya. Rasanya? Tentu tidak biasa, apalagi kalau ubinya yang empuk dan berwarna orange, paduan rasa manis ubi, susu yang lembut, dan gurihnya keju yang melting di mulut… ihihiihhihi… lebay!

*

2. Pilus Ubi

Kirain tadinya si Mama ngasal ngasih namanya: Pilus! Bukannya pilus itu snack yang bulet putih kecil itu ya??? 😆 Eh ternyata beneran ada! wkakakakaka… Ini masih sama bahan utamanya: ubi. Contoh resepnya ada di website majalah Nova, rasanya enak, empuk-menul-menul gitu pas digigit, lembut dan manis di dalam… hati-hati ini juga addictive, alias gak bisa satu makannya, wkakakakakak…

Kecium gak aromanya sampai sana? masih anget lhooo…. mau? 😛

*

3. Gorengan Kelapa

Hihihihi… ini favorite banget!

Jadi awalnya si Mama dapet hibah beberapa kelapa muda dari tetangga, setelah dicek, kelapa-kelapa itu gak semuanya muda, ada yang menjelang tua, tapi dijadikan es kelapa keras, diparut untuk santan pun gak bisa. Tring! Tiba-tiba mama punya ide bikin gorengan. Kelapa tanggung itu diserut seperti biasa panjang-panjang, kemudian diadon dengan adonan tepung pisang goreng, tetapi sedikit lebih kental. Digoreng dan jadi deh! Rasanya enak banget, manis, tepungnya lembut, dan bagian kelapanya kriuk-kriuk saat di kunyah… gak bikin bosen lho! 😀

Hehehehehe…Nah bagi yang merasa lapar mendadak, dipersilahkan mencoba sendiri di dapur masing-masing ya… 😀

Happy Weekend!

**

Oh iya, mumpung ngomongin tentang makanan, beberapa hari yang lalu, Si Mama dikasih buah yang katanya manjur mengobati tekanan darah tinggi. Rasanya kaya melon/timun, tapi manisnya dikit. Saya jujur gak tahu namanya, heheheheh… *anak-pertanian-durhaka.com 😳

Ini penampakannya!

Ada yang tahu?


Pernikahan di Desa

Ini cerita dua minggu yang lalu, saya diundang ke sebuah pernikahan super sederhana di sebuah desa kecil di Kecamatan Durian Bungkuk. Alih-alih sebagai tamu, saya memang juga diminta secara pribadi sebagai tukang foto dadakan, ya karena memang mungkin karena keterbatasan dana, pernikahanpun dirayakan tidak dengan suasana wah dan penuh makanan, toh yang hadir pun hanya tetangga dan warga sekitar saja. Saya pun dengan sukarela menjadi fotografer free charge! *mudahan gak riya

on the way...

Kesederhanaan pernikahan ini membuat saya tertegun sesaat, menyadari bahwa tidak selalu sebuah pernikahan dirayakan dengan kemeriahan acara dan gemerlapnya makanan. Di desa itulah saya melihat pernikahan dalam kesederhanaan juga tetap bisa menjadi sebuah moment kebahagiaan suami dan istri yang tentunya tetap halal dan resmi, at least itu yang saya liat dari wajah pengantinnya.

Hampir saja saya merasa ilfil dan menjudge mereka yang tidak-tidak, tetapi hati kecil saya merasa, apalah artinya kemeriahan acara jika tidak bahagia, hihihihiihi… sisi lain hati saya juga merasa bahwa ini juga sebuah pelajaran, bahwasanya banyak orang yang jauh lebih kekurangan dari diri kita tetapi mereka tetap pandai bersyukur dan tersenyum! *sok dewasa 😛

**

Ada cerita lucu waktu pertama saya datang di sana. Karena areal makan dan tempat duduk hanya seluas halaman rumah, maka keadaannya agak kucar-kacir, bahkan tidak ada “singgasana” khusus buat pengantin, saya menyalami pengantin wanita yang memang saya kenal, dia duduk dan mengobrol di dekat kursi para ibu-ibu, dan tentu saja saya celingak-celinguk cari yang mana pengantin pria.

Karena merasa tidak menemukan cirri-ciri pengantin pria, saya mencari posisi untuk duduk, kemudian saya bertanya sama temennya temen yang duduk di depan saya, kenalnya saat berangkat bareng tadi.

“Pengantin prianya yang mana ya mas?”

“Lho, jelas tho yang pake jas…”

Hah??? Saya kaget, sambil liat kanan kiri, pengantin prianya ternyata duduk tidak lebih dari 2 meter di sebelah saya, wkakakakkakaka… 😳 kebayang kan saking sederhananya, saya sampai siwer mana tamu mana pengantin… fiuhhh… Aduh saya malu sekali mempertanyakan pertanyaan gak penting itu. 😛

Tetapi kelucuan ini bertambah setelah 5 menit saya bertanya itu, mas yang saya tanya tadi, menanyakan hal sebaliknya.

“Kalau yang wanita yang mana ya mas?” katanya sambil bisik-bisik.

Wakakakakkaka…. “Itu yang pake baju putih.. soalnya saya kenal”

Ternyata dia juga bingung dari tadi! 😛 *asli saya ngakak dalam hati.

**

Gak lama, ternyata ada cara selamatan kecil di dalam rumah yang dihadiri oleh tamu laki-laki. Tidak banyak, cuma makanannya banyak! Mereka memang keluarga jawa, jadi tentu menggunakan adat jawa. Jadi ada seorang ustad/ulama yang membaca bacaan doa di depan tamu dan sebongkah makanan. Kemudian setelah selesai, makanan dibagikan. Setiap orang mendapat dua lembar daun pisang yang diisi oleh seseorang yang mengambil nasi dan lauknya, satu demi satu. Porsinya porsi kuli! Saya pikir tadi buat dimakan di tempat, eh ternyata buat di bawa pulang.

Saya dapat giliran, nasi dan lauk yang banyak itu sudah ada di atas daun pisang saya, sok-sokan bisa bungkus daun, saya mulai beraksi, tetapi bolak-balik gagal, bapak-bapak sebelah saya kemudian bertanya:

“Mau dibantu mas bungkusnya?”

Hehheehhe… ternyata saya emang gak bakat jadi penjual nasi, wkakkakaka… si bapak lancar banget! *dari tadi kek!

Terakhir, ada pemuda yang berkeliling bagi2 kerupuk dan rempeyek. Setelah semua sudah kebagian, si ustad kasih wejangan dikit, dan kata penutup. Tetapi ditengah-tengah kekhusukan itu, terdengar bunyi, kriuk-kriuk-kriuk! Wkakakakka…. Itu suara saya lagi ngemil rempeyeknya! Wkakaakkakakak…

Seketika setengah dari hadirin seperti tiba-tiba melihat ke arah saya! OMG, saya buru-buru telan rempeyek yang ada di mulut dan kembali tenang. Jaim seperti tidak terjadi apa-apa. Entah lha mungkin makanan itu gak boleh di makan di tempat, meskipun itu hanya rempeyeknya…hehehee,  atau kenapa ya? berisik? Ada yang tau kenapa?

**

Nah pas giliran ambil makanan resepsi, ada beberapa pemuda yang sengaja diam dan mempersilahkan golongan “lebih tua” untuk ambil makan duluan.

“Emang kenapa sih? Beda gitu?” saya nyeletuk

“Ya kan untuk menghormati” jawabnya.

Temen saya di belakang nyeletuk, “Pantesan Indo gak maju-maju, ngantri aja pake aturan umur, kapan yang muda-muda bisa unjuk gigi!”

Saya cuma ngikik mendegar celetukan itu. Ada benernya juga ya.

**

Okelah, berikut saya kasih aja beberapa foto-foto hasil jepretan iseng di pernikahan itu, hehehhhe… Enjoy!

This slideshow requires JavaScript.

Happy Weekend!


Weekly Photo Challenge: One

Theme for this week photo challenge is ONE!

Slightly difficult to choose which is the best picture for this theme, hmm, but I am really into these pictures, check them out!

One tower. or just a pole? I believe it’s not a lighthouse! 😆 I captured this one when I was visiting Takisung, a beach nearby. Every time I saw it, I supposed it would always intrigue me that the tower was built for any reason that I really don’t know. 🙄

One Duck among Chickens. Hey, what a confident duck,wasn’t it? The chicken group was friendly as well. I thought the duck would keep apart from the chickens or got expelled instead. Otherwise, they shared the meal peacefully in difference, Nice moral!

Happy Blogging!

PS: Maaf belum bisa BW ke rumah teman-teman, saya sibuk banget akhir-akhir ini… hiks…


Sayuran Merah

Sayuran atau bahan makanan berwarna merah memang terlihat menarik mata dan mengundang perhatian. Merah atau merah keunguan tentunya bukan warna “biasa” untuk sayuran. Berbeda dengan buah-buahan, warna merah adalah warna yang memikat orang untuk segera merasakan kesegarannya.

Kata info yang saya dengar dan baca, sayuran atau makanan merah umumnya lebih kaya vitamin, mineral, anti-oksidan, bahkan protein yang lebih tinggi daripada versi non-merahnya.

Nah, mungkin bagi Ibu-ibu yang suka bergelut dengan pasar dan dapur, sayuran dan makanan merah terdengar biasa, tapi bagi saya yang masih belia ini *halah* tentu aja terdengar “wow”. Saya sedikit cerita tentang beberapa sayuran merah yang saya temui di sekitar saya…

BERAS MERAH

Sewaktu bayi Mama bilang saya selalu makan bubur instant rasa beras merah.. tapi toh akhirnya sampe mahasiswa saya baru pertama kalinya makan beras merah ini saat jalan-jalan ke Lembang dengan teman saya yang asli orang sana. Saya ingat, kita lari pagi naik turun bukit, sampe akhirnya sampe pada sebuah warung yang menjual nasi merah dengan ayam goreng dan sambal lalapan! Mantap!

Rasanya? biasa aja kok… hehehehhe… mungkin karena ngerasa beras merah lebih banyak vitamin, saya lebih semangat makannya! 😀

BAYAM MERAH

Kalo yang ini, semenjak kecil sudah pernah saya lihat, rasanya sama persis dengan bayam hijau. saya selalu semangat kalau Mama pulang ke pasar beli bayam merah, sedangkan yang hijau saya sudah kaya gizi, apalagi yang merah ya??? Mantap!

JAGUNG MERAH

Hihihihihhi… kaya mainan ya? Saya jadi ingat dulu ada praktikum biologi jaman kuliah yang pake jagung mainan warna loreng2 kuning merah, eh ternyata ada beneran! 😆 Saya sih belum pernah makan, katanya jagung merah tergolong jagung manis, sering dijual di supermarket-supermarket. Ada yang tau rasanya??? Kayanya enak! ^^

KOL MERAH

Kalo ini sebelumnya saya sudah pernah ngelirik di supermarket, cuma ngelirik doang gak beli, heheheheh… Justru pertama kali makan waktu di US, temen dari eropa suka banget beli kol ini, padahal kol putih yang sering saya beli lebih murah a.k.a. ngirit 😛 Satu kali saya iseng minta kol merah punya dia… rasanya… hmmm… mirip, cuma agak pahit2 dikit. wkakakkakak…. jadi pengen nge-sup pake kol itu, gimana jadinya ya???

KACANG PANJANG MERAH


Nah kalo ini baru sebulan yang lalu nangkring di dapur rumah! Wkakakakaakak… Jujur that’s the first time I saw it! Mama ujug-ujug pulang dari pasar bawa sayur ini dua ikat, saya bengong sebentar, kabur ke kamar, ambil kamera dan jepret! 😀

Mama bikin sayur asam pake kacang panjang merah ini, warnanya jadi merah gelap saat sudah masak…hmmm… rasanya?? Lebih renyah dan tebal kulitnya, sisanya sama dengan kacang panjang hijau… dan saya yakin gizinya lebih banyak dari yang hijau.

Nah sahabat, apa sahabat sudah mengenal sayuran-sayuran merah ini juga?

Ada pengalaman memakannya?

Ayo di sharing di sini! 😀

Happy Blogging!

Sumber gambar Beras merah, bayam merah, jagung merah, kol merah.