Frames, Green, Rustle and Sweet Tea

Comic

Hobiku: Menggambar Anime

Ini bukan postingan tentang cara menggambar anime, tapi kisah masa kecil saya yang suka menggambar anime jepang.

Zaman saya kecil, keberadaan komik masih tidak sebanyak sekarang, bukan berarti keberadaan komik masih sedikit, hanya saja karena rumah masa kecil saya berada di sebuah daerah terpencil dan jauh dari kota besar, sehingga akses masuk komik dan majalah masih bisa terbilang lambat.

Pengetahuan saya tentang anime jepang sepertinya berawal dari anime di TV : Doraemon yang entah sejak kapan sudah ada semenjak masuknya siaran televisi swasta di Indonesia. Berbekal tontonan anime setiap hari minggu pagi, diam-diam saya selalu memperhatikan grafis dari film-film anime itu dan mulai menggambar-menggambar sendiri tokoh-tokoh tersebut semirip mungkin dan sejauh yang saya ingat. Bagi saya itu, seru sekali bisa menggambar tokoh-tokoh anime itu. Jika hari minggu datang, saya mencocokkan hasil gambaran saya dengan yang ada di TV. Sudah samakah?? apa yang kurang??

Anime dan komik semakin gencar membanjiri toko-toko buku. Satu demi satu teman-teman saya yang dari keluarga berkecukupan mulai mengoleksi komik. Saya ingat komik masih seharga Rp. 3000.-. Komik-komik yang banyak beredar juga adalah komik-komik dari serial anime yang ada di TV, seperti Doraemon, Astro Boy, Candy-Candy, Saint Saiya, Dragon Ball, dan lainnya. Lalu saya? Ya saya cuma modal pinjem saja, hahahahaha… Komik tentu saja mempermudah saya untuk meniru grafis pada komik, karena saya tidak perlu lagi menunggu setiap minggu hanya untuk “belajar menggambar”, tinggal pinjam komik teman dan mulai menggambar, bukan menjiplak lho ya :P. Hampir semua jenis gambar komik saya pernah coba, dari yang imut-imut, muka sangar sampai mata belok dan berkaca-kaca. Well, hasilnya tidak mengecewakan, at least lebih baik dari teman-teman seumuran saya, hahahahah…

Kebiasaan saya menggambar tentu saja membuat tangan gatel untuk terus menggoreskan pensil dimana-mana, tidak terkecuali di buku pelajaran. Hampir setiap bagian belakang buku tulis, tidak pernah lolos dari coretan-coretan saya. Saat kelas 2 SD, saya ingat guru saya bernama Bu Siti, beliau muda dan cantik. Siang itu kebosanan memenuhi pikiran saya, saya bukannya mendengarkan beliau menjelaskan pelajaran, eh malah diam-diam menggambar sosok wanita anime yang saya gambar seperti ciri-ciri Bu Siti, hahahaha… Naasnya, Bu Siti, mendekati saya dan mendapati saya sedang asik menggambar!

“Prima, kamu kok malah gambar???” muka Bu Siti agak geram. Satu kelas terdiam. Beliau meraih buku tulis yang saya gambar, dan menanyakan siapa wanita komik itu? Tentu saja saya malu dan berkata “Itu Ibu…” Bu Siti terdiam sebentar, saya bisa liat senyuman kecil di bibirnya dan beliau berkata, “Kalau menggambar lain kali jangan di buku tulis dan jangan di jam pelajaran”. Beliau mengembalikan buku saya. Hari itu saya malu. Maka, setiap kali saya habis menggambar di buku, saya akan merobek lembaran bagian belakang itu dengan penggaris untuk meninggalkan jejak, hahahhaha…

Kelas 4 SD, saya akhirnya bisa beli komik! Komik pertama hasil nabung sendiri: Asari-Chan, komik lucu yang grafisnya bagus sekali. Karakter gambar Asari ini yang sampai sekarang sedikit banyak mempengaruhi karakter gambaran anime-anime lucu yang saya buat, hihihihi…

Makin remaja, saya semakin getol menggambar, kata teman-teman saya gambar saya bagus. Jadi kadangkala mereka sengaja memberikan kertas kosong kepada saya unuk menggambar apa saja, atau tokoh kartun tertentu untuk dipajang di kamar, bahkan di laminating, hahahahaha… Tapi ada kejadian tidak menyenangkan saat saya SMP. Guru PPKn saya terkenal disiplin alias galak. Ya kok dilalah saya lupa merobek kertas belakang buku tugas PPKn saya, dan si Ibu galak itu memanggil saya ke depan kelas. Sudah kebayang kan? Ya, saya dimarahin habis-habisan di depan seluruh anak, sambil memperlihatkan gambaran saya di buku itu. Semua anak tertegun, tapi saya tau mereka tidak pernah ikut menyalahkan saya dan gambaran di buku itu. Mereka cuma takut, sama seperti saya. Si Ibu akhirnya menyuruh saya untuk minta tanda tangan orang tua tepat di gambar itu dan tentu saja tidak lupa mengancam anak-anak lain untuk tidak mencontoh tingkah konyol itu. Ada satu teman saya bilang: “Aku heran kok si Ibu bisa segitu marahnya liat gambaran sebagus ini” Ya sudahlah memang saya saja yang sedang sial… 🙂

Jaman SMP ini saya juga mengenal media warna: pastel (seperti crayon tetapi lebih lembut dan oily), saya sering ikut lomba-lomba gambar dan lumayan ada hasilnya. Tentu saja bukan menggambar anime. Di rumah sekarang banyak hasil gambaran saya dengan pastel berukuran besar, tetapi jika saya melihat sekarang, saya sedikit tersenyum, karena gambaran tersebut masih terlihat “anak-anak”, ya sangat anak-anak…garisnya sederhana, tetapi masih bisa dinikmati..  Si Bungsu pernah bilang ke Mama “Masa sih Ma, mas Prima gambar ini waktu masih SMP??” Hhihihii.. *si Bungsu emang gak bisa gambar kaya saya 😉

SMA saya malah jarang menggambar. Menggambar hanyalah iseng-iseng saja. Kotak Pastel itu tidak pernah lagi saya sentuh. Saya malah sibuk di kegiatan extra dan kegiatan akademis tentunya. Saya libur menggambar di kertas besar. Saya ingat hanya satu gambar yang saya buat semasa SMA, itupun karena pakde saya minta gambaran saya untuk di bingkai. Saya ingat saya bermaksud gambar ayam, tetapi menyerupai burung. Jadi seperti ayam hias! Mahluk apa itu ya? Hahahahah… whatever…

Saat kuliah, malah saya mulai menggambar lagi. Ya tau sendiri kan kuliah itu gak seperti sekolah, kadang waktu luang tiba-tiba banyak, kadang sibuk parah gak kira-kira. Saya masih di asrama TPB-IPB. Teman sekamar saya punya majalah komik yang terbit tiap bulan, berisi banyak gambar anime-anime masa kini yang sangat bagus. Iseng-iseng saya buka kotak pastel yang sudah berdebu. Beli karton putih. Dua hari saya sudah punya poster besar bergambar tokoh Cardcaptor Sakura! *sok cute banget, Wuakakakakah… Saya tempel di atas meja belajar! Mereka bilang bagus 😛

Dari situ saya menggambar poster Conan, Samurai X, dan banyak lagi. Sata saya meninggalkan asrama, saya bagikan saja gambar itu buat teman-teman saya, anggap saja buat kenang-kenangan. Ini adalah poster terakhir yang saya gambar saat kuliah, berukuran karton putih besar dan (semoga) masih disimpan oleh teman saya. Saya sempat motret pake kamera HP. Cuma ini gambar yang saya punya fotonya 😦

Di ambil dari karakter Tsubasa Reservoir Chronicle

*

Sekarang saya tidak lagi menggambar poster. Pastel sudah saya sumbangkan ke panti asuhan sewaktu selesai kuliah di Bogor. Ya, kadang-kadang pengen sekali menggambar poster lagi, mengenang saat-saat saya lagi gila gambar-gambar anime seperti ini, tapi entah kapan…

Jadi intinya apa prim? Ya gak ada, saya cuma mau bilang aja kalo saya dulu suka gambar anime dan bikin-bikin poster macam ini, hihihi… intinya sekedar curhat dan cerita masa kecil saja.. *sok melow* :mrgreen:

Selamat Berharpitnas!

Advertisements

Misteri Blogging

 

Hikmah: Dunia Blog adalah dunia maya yang penuh misteri, tidak seorangpun bisa menjamin kebenaran tokoh dan tulisan di dalamnya. Jangan cepat-cepat menjudge status, gender, sifat, dan apapun sebelum kita benar-benar membuktikannya dengan info yang akurat. Tidak semua yang kita baca dan kita lihat seperti itu adanya. Take it easy! :mrgreen: