Frames, Green, Rustle and Sweet Tea

Cuma Masalah Selera

Seorang teman saya, saya memanggilnya Kue Ber-fla, menanyakan pertanyaan simpel bertubi-tubi seputar foto-foto saya:

“Kok bisa bagus begitu warnanya?”

“Aku gak ngerti tentang foto dan warna-warna”

“Apa itu warna, komposisi warna, dan kontras?”

Haduh! Kue Ber-fla sangat curious sekali dengan apa yang ada di kepala saya saat mengolah foto-foto saya. Seolah-olah Kue Ber-fla ingin sekali belajar banyak dari saya dan ingin punya foto-foto seperti saya.

Saya sendiri suka bingung jika dihadapkan pada pertanyaan-pertanyaan sejenis itu. Apalagi sempat ada komen yang bisa dikatakan sangat “wah” di postingan saya sebelum ini, hahahahaha… Saya malah merasa biasa saja dengan foto-foto saya, dari dulu sampe sekarang ya begitu-begitu saja, naik turun seputar itu, menurut saya belum ada pencapaian yang signifikan. Bahkan teman-teman fotografer saya di sini meresponnya biasa-biasa saja, ya karena memang biasa.

Bagi teman-teman blogger yang sudah mengikuti blog saya lama, mungkin melihat memang foto saya ya begitu-begitu saja. Bagi yang mungkin sering melihat lama-lama terlihat biasa, beberapa menyebutnya bagus, bahkan mungkin saya gak tahu aja, kalau ada yang gak suka, dan saya tau itu pasti ada. Whatever shot! Saya hanya memotret dengan hati. Masalah suka gak suka itu masalah biasa. Saya punya selera dan pembaca juga punya selera. Urusan selera ini yang mau saya ceritakan sedikit.

Pertanyaan Kue Ber-fla menyadarkan saya bahwa ada satu titik dimana saya tidak bisa menjelaskan sesuatu dibalik semua pertanyaannya. Saya stuck dan ingin rasanya memindahkan isi kepala saya ke kepalanya, hingga dia bisa membaca apa yang saya rasa. Itu lah selera. Selera memang bisa dirasakan atau “sampai” pada orang lain, tapi hampir tidak mungkin diduplikasi dengan identik. Selera bisa mirip, tapi tidak bisa sama persis. Saya juga kurang tau apakah selera ini berkaitan dengan “talent” yang memang dibawa semenjak lahir? Whatever

Selera ini ternyata mempengaruhi saya dan mungkin sebagian besar orang saat melihat sebuah benda visual, contohnya gambar atau foto. Saat saya memotret: komposisi, focus, pencahayaan dan angle sangat dipengaruhi selera. Meskipun banyak teknik-tekni fotografi di luar sana, tetap selera itu sangat berpengaruh buat saya. Pada saat yang sama, kamera yang sama, suasana yang sama dan objek yang sama, dua fotografer bisa menghasilkan dua gambar yang nyata beda. Mereka bilang: depend on the man behind camera, dan itu benar menurut saya.

Berlanjut pada olah gambar atau editing. Software adalah sekedar alat yang membantu, sekali lagi tergantung siapa yang menggunakannya. Sama mobilnya bisa beda rasa saat beda sopirnya. Saat saya mengedit gambar, saya menjadi Photoshopper, atau Lightroomers dan sejenisnya, saya sangat dipengaruhi oleh selera. Saya mengajari Kue Ber-fla untuk mengerjakan foto-fotonya dengan alat-alat atau software yang saya pakai. Terus apakah hasilnya akan sama? tentu tidak. Meskipun pada akhirnya Kue Ber-fla sudah expert menggunakan software itu, apakah kemudian selera dia akan sama dengan saya? tentu tidak. Saya yakin dia akan berdiri sendiri dengan seleranya sendiri.

Menurut saya selera bisa dipengaruhi tetapi tidak bisa dibohongi. Saat kita melihat gambar atau foto yang kita suka, kita terpengaruh untuk membuatnya seperti itu. Saat teman saya memberikan ide kepada saya untuk mengubah warna ini dan itu, menggelapkannya, menerangkannya, sedikit ini dan itu, bisa jadi selera teman saya itu mempengaruhi saya, tetapi pada akhirnya saya sendiri yang akan memutuskan pada titik mana saya merasa “selesai”, dan berkata “OK, saya suka yang ini” dan rasa suka itu gak bisa dibohongi. Ya kan?๐Ÿ™‚

Selera itu punya basic, tetapi juga bisa dieksplorasi dan bisa ditemukan. Semakin banyak kita melihat atau mendapat referensi foto orang lain, kemudian banyak mencoba menemukan kecocokannya. Selera kita berkembang dan akhirnya kita menemukan “selera basic” kita seperti apa. Warna seperti apa yang saya suka, karakter foto seperti apa yang saya suka, tipe pencahayaan seperti apa yang saya suka. Tentu saja selera akan sedikit banyak berubah dan terus berkembang seiring waktu, tetapi selalu ada selera basic yang mempengaruhi kita dari waktu ke waktu.

Pada akhirnya. Semua orang punya selera masing-masing dalam melihat suatu gambar atau foto. Tidak ada selera yang baik atau buruk. Yang ada disukai dan tidak disukai. Bisa jadi selera foto saya tergolong selera “rendah” di mata satu orang, tetapi tergolong selera “tinggi” di mata yang lain. Selalu, ini masalah yang relatif. Tidak suka bukan berarti harus menghujat, atau menjudge, apalagi menyakiti hati orang lain. Jika ternyata suka dan kemudian memuji, itu adalah hak manusia untuk berekspresi. Syukur-syukur kita bisa saling membahagiakan.Ya kan? Perbedaan selera adalah hal yang wajar dan tidak perlu dipikirkan terlalu pelik. Ini seleraku. Ini seleramu. Kita berbeda tetapi kita tetap indah.

Kue Ber-fla mungkin sekarang sedang asik-asiknya berpetualang dengan seleranya. Saya senang bisa membantu banyak orang untuk mengeksplorasi selera mereka. Karena saya sendiri masih asik belajar mengenal selera saya dengan lebih baik, mengasahnya agar semakin tajam dan kelak bisa membuat orang bahagia dengan selera saya. Hey Kue Ber-fla, saya tidak akan mengajari kamu ini-itu terlalu strict, sama seperti seorang ayah yang melihat anaknya belajar naik sepeda, You’ll find the way!๐Ÿ™‚

I love this pic, Cute!

Salam Jepret!

PS: Ya ampun, saya nulis ini udah kaya fotografer besar aja, wkakakakakaka… maaf para fotografer senior, ini cuma pendapat dari anak kemarin sore yang tentu masih jauh dari sempurna…๐Ÿ™‚

29 responses

  1. bukan hanya pria yang punya selera ya mas Prim…๐Ÿ˜€
    yang penting saya menikmati jepretannya mas prim..๐Ÿ™‚

    salaam

    14 May 2011 at 12:48 PM

  2. diampuni Prim๐Ÿ˜›

    Prima merasa junior dari senior,
    tapi buat saya yang nubie, Prima adalah senior saya
    dan bicara tentang selera, kayaknya dalam banyak hal selera pasti akan mengikuti subjek
    dan pasti antara satu dan yang lainnya tak mungkin sama

    taking a shoot menurut saya sama seperti orang memasak, yang walau pun dengan ingredient yang sama, tapi jika diolah oleh tangan yang berbeda makan hasilnya tetap akan berbeda.

    tak percaya? mari saya temani memasak hehehe

    14 May 2011 at 1:16 PM

  3. pengen juga nih jadi fotorgafer hehe kayaknya seru, cuman blm punya kameranya nih

    14 May 2011 at 2:54 PM

  4. modelnya keren tuh hihihi

    14 May 2011 at 3:06 PM

  5. Saya stuck dan ingin rasanya memindahkan isi kepala saya ke kepalanya, hingga dia bisa membaca apa yang saya rasa.

    saya suka sekali dengan kalimat ini, dan kadang itu tak hanya berlaku di masalah selera tapi jg di masalah pola pikir.

    hehhehhehe kumat sotoy dah saya..

    btw, fotonya lucu:mrgreen:

    14 May 2011 at 3:31 PM

  6. iam

    Wahwah sama dengan acher, pengen banget jdifotografer, tapi kameranya belum ada. Udah gitu mahal lagi harga kamerannya >.<

    14 May 2011 at 8:02 PM

  7. haha..itu aku yg nanya…maap..maap, hehe

    14 May 2011 at 8:22 PM

  8. Ann

    Bener juga ya, hasil fotomu gitu-gitu aja yah…๐Ÿ˜€
    Tapi bagusnya itu bisa jadi ciri khas, seperti lagu hanya dari suara kita tahu siapa yang menyanyikan.
    Mungkin suatu saat dari melihat sebuah foto langsung bisa tahu itu karya Primeedges.

    14 May 2011 at 9:09 PM

  9. Pria punya selera
    malahan kalimat itu jadi iklan๐Ÿ™‚
    Tergantung dari sisi masig masing, setiap orang punya jalannya sendiri dan pasti menemukannya (selagi mau berusaha):mrgreen:

    PS: Semua photo nya muantep…..

    14 May 2011 at 11:45 PM

  10. tapi anda memang pemotret yang jeli sekali… ^_^

    15 May 2011 at 12:48 AM

  11. wah, tak mengertilah saya urusan poto memoto.
    bolak-balik teman menjelaskan, tak juga sampai ke kepala saya, mungkin sudah takdir cuma jadi penikmat, hehehe…

    tapi sebagai penikmatpun tetap juga punya selera, lebih suka melihat karya orang yang macam apa, walau tak detil seperti mereka yg sudah ahli. yg penting cocok di lidah saja lah. anu… mata maksudnya.

    15 May 2011 at 4:29 AM

  12. mau dong diajari juga… hahhaa

    15 May 2011 at 7:34 AM

  13. Pingback: Murid durhaka « Pabrik tentang tempe

  14. r10

    orang yang bertanya kenapa foto prima bagus, mungkin belum berkesempatan memotret menggunakan kamera profesional, kalau sudah pernah pasti akan tahu, kamera tersebut umumnya sudah memiliki berbagai settingan otomatis sehingga kita tinggal jepret๐Ÿ˜€

    15 May 2011 at 11:34 AM

    • r10

      mas pernah bertanya di blog sebelah game angry bird, di blogku mas bisa mainin game tersebut gratis๐Ÿ˜€

      15 May 2011 at 11:35 AM

  15. Waduh, Mas Prim merendah.:mrgreen:
    Tapi memang jujur aja, foto2 Mas Prim gambarnya tampak amat tajam dan detil warnanya bagus. Entah apakah pengaruh kamera atau diolah sedikit.๐Ÿ™‚

    15 May 2011 at 11:59 AM

  16. zee

    Ah.
    Menurutku foto2 itu memang bagus-bagus kok. Kalau ada ucapan spontan yang keluar begitu melihat foto, berarti itu memang bagus.
    Kalau saya, sudah jelas tak begitu paham dengan segala teknik fotografi, dan seperti dirimu juga ya memotret sesuai hati saja. Begitu jelek, delete hahaha… mungkin karena saya motret untuk iseng saja ya.
    Tapi, tanya dong… kemarin da dijawab blom ya. Klo mo retouch foto, pake apa ya yg bagus?

    15 May 2011 at 8:17 PM

  17. Kue ber fla sepertinya gw kenal
    Gw gak punya rasa seni yg baik,,
    Jadi gw mending minta lo yg editin aja yakkk :p

    Buruannnn ke jakartaaaa
    Biar bisa ngerasain gw jdi obyek foto lo

    15 May 2011 at 8:44 PM

  18. mang fotonya bagus kok mas..

    btw,aku setuju bgt,semua itu tergantung selera kita..

    15 May 2011 at 9:00 PM

  19. yang sabar ya bro….:-)
    btw kalau masalah selera memang ga bisa disamakan setiap orang….
    Kalau saya mah…jepret sekena nya karena masih kamera pocket sih…hehehe

    15 May 2011 at 9:11 PM

  20. kapan-kapan foto saya ya Mas..

    15 May 2011 at 9:53 PM

  21. kata temen saya yang seorang photographer juga sempat bilang moto itu tergantung jiwa seni si pemoto..kamera hanya alat pendukung..kamera bagus tapi yang moto g punya jiwa seni maka hasilnya pun akan biasa aja๐Ÿ˜€

    16 May 2011 at 12:21 AM

  22. ulasan tentang ‘selera’nya keren banget.

    kalau fotonya… ah, aku merasa nggak pintar mengapresiasi foto. bagus, pastinya.

    16 May 2011 at 12:49 AM

  23. Itu ya rahasia foto-foto bagus mas Prima?

    16 May 2011 at 6:56 AM

  24. pertanyaannya mirip dgn yg aku ajuin kemaren. hehehhe tapi ga gitu jg deng :p

    16 May 2011 at 8:08 AM

  25. iya, pada akhirnya semua kembali ke selera masing-masing

    16 May 2011 at 8:50 AM

  26. yahh broo. menurut gw. lu penuh dengan talenta brooo. luar biasa. bombastis. mantap. top markotop. foto lu asoy. uhui

    16 May 2011 at 3:56 PM

  27. fotonya itu cewek apa cowok mas?

    18 May 2011 at 4:36 PM

  28. Pingback: Fotografer atau Photoshoper? « PrimeEdges

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s