Frames, Green, Rustle and Sweet Tea

Pelajaran Hidup di Stasiun

Sahabat blogger, seringkali kita mendapat pengalaman yang kaya akan pelajaran hidup di dalamnya. Baik kita menyadari langsung maupun menyadari setelahnya, bahwa ada sebuah pelajaran hidup yang penting yang baru saja terjadi. Kali ini saya akan bercerita sedikit pengalaman saya saat masih tinggal di Bogor. Dua pengalaman ini kebetulan sama-sama terjadi di dekat Stasiun Kereta di kota Bogor.

Pagi itu sekitar pukul 8.30, saya tampak terburu-buru menaiki angkot jurusan Parung-Bogor yang menuju Bogor. Duh, saya janji dengan teman akan ada di Stasiun Bogor pukul 9. Apa sempat? Mana lagi angkot yang saya naiki sedang ngetem pula. Saya pun meraih hp, dan segera mengirim sms ke nomor teman saya itu, memberitahukan bahwa saya akan sedikit telat, sekitar pukul 9.30 *telat kok 30 menit!😀

 

Angkot pun berjalan, tidak ada penumpang lain ternyata selain saya*fiuhh… sia-sia si abang rupanya menanti penumpang lain. Selang tak berapa lama, naik seorang ibu-ibu sedikit tua naik di bangku depan samping supir, saya taksir umurnya sudah 50 tahun ke atas, tetapi masih terlihat bugar.

 

“Pak, ini nanti bisa turun dekat stasiun ya?” tanya saya yang memang belum pernah naik trayek angkot ini sebelumnya.

“Iya nanti sambung naik angkot 10, sebentar langsung di depan stasiun”

Tiba-tba si ibu tua tadi menoleh ke arah saya, “Ibu juga mau ke stasiun, nanti sama-sama saja”

Wah, saya sumringah mendengar tawaran si Ibu. Tidak perlu lagi khawatir tersasar, saya pikir.

Si Ibu dengan semangat menjelaskan bahwa dulu trayek angkot ini melaui depan stasiun, tetapi sekarang  ada sedikit perubahan, sehingga harus sambung angkot lain, meskipun sebenarnya jaraknya tanggung, jalan kaki terlalu jauh, naik angkot terlalu dekat.

 

Agak lama, angkot mulai menaikkan beberapa penumpang lain. Saya merogoh kantong kecil di dalam tas, tempat saya menaruh uang seribuan, maksud hati ingin menyiapkan ongkos dari awal. Habis! Saya mulai merogoh kantong-kantong lain, siapa tahu ada uang tercecer, tidak ada! Saya kemudian merogoh dompet. Yah, hanya ada 2 lembar uang 100ribu. Mana mungkin membayar ongkos 3000 dengan uang 100 ribu. Saya cek lagi, saya malah menemukan beberapa lembar mata uang asing, lebih-lebih gak berguna ! hahahahaha… Saya cek recehan yang ada, total cuma 1300, mana cukup ??? Ya sudah lha, pasang tampang lugu saja dan serahkan uang 100 ribu itu sebagai ongkos, begitu rencana saya.

 

Angkot akhirnya tiba di pertigaan suatu pasar di daerah Merdeka.

“Stasiun turun di sini!”  kata abang angkot, saya sesuai rencana menyerahkan satu lembar uang 100 ribu.

“Yang bener aja bos, pagi-pagi gini, saya aja belom pegang uang.” tepat seperti dugaan saya.

Duh, saya bingung! Angkot tidak bisa terlalu lama berhenti, lalu lintas di sekitar pasar ini sangat padat. Di saat-saat riweh seperti itu, saya nekat minta pertolongan ke Ibu tua yang tadi duduk di depan.

“Ibu permisi, boleh saya pinjam dulu 3000, nanti saya kembalikan di stasiun”

“oh iya, iya” Ibu tua itu segera mengeluarkan dompet lagi dan membayar 3000 sebagai ongkos saya tanpa ragu-ragu.

Kamipun berjalan menaiki angkot 10 bersama-sama. Saya pun tidak henti mengucap terimakasih ke Ibu tua tersebut.

“Iya, gak apa-apa” katanya sambil tersenyum. Kamipun naik angkot 10 menuju stasiun.

 

Duh ! Lagi-lagi saya berpikir, lalu ongkos angkot ini bagaimana ? apa saya harus minta tolong si Ibu lagi ???

“Ibu, saya pinjam 1000 lagi ya ?” Pinta saya dengan malu-malu *padahal saya yakin wajah saya sudah merah dari awal. Saya berpikir cukup 1000 rupiah dan ditambah uang receh 1000 rupiah akan cukup untuk ongkos angkot kali ini sebesar 2000.

“Tidak usah, nanti biar sekalian dengan ongkos saya”

Wah! Lagi-lagi saya cuma mengucap terimakasih.

“Mau kemana dik?” tanya ibu ramah.

“Mau ke Jakarta bu, janjian sama teman di stasiun.”

“Saya juga mau ke Jakarta” kata si ibu antusias.

 

Angkot pun sampai di depan stasiun. Seperti yang dijanjikan, si Ibu membayar ongkos saya. Jadi total utang saya 5000, pikir saya. Saya masuk ke aula loket stasiun yang sangat ramai, si Ibu mulai melihat-lihat jadwal keberangkatan. Saya mencoba menelepon teman saya berkali-kali, tetapi tidak di angkat!

“Ibu, saya mau beli minum dulu, nanti kembaliannya saya akan bayar Ibu 5000. Ibu tunggu di sini dulu ya.”

Wajah ibu berubah kalut dan bingung.

“Aduh, saya buru-buru dik, kereta sudah mau berangkat , gak apa-apa, saya ikhlaskan ya, gak usah dipikirin, hanya uang sedikit, ya? Si Ibu memandang saya sambil menepuk lengan saya.

Saya diam, kemudian berbalik dan berlari ke luar, saya menuju ke kaki lima penjual minuman. Saya ingat saya membeli NuGreentea, sambil terburu-buru, saya bahkan tidak menghitung kembalian uang 100 ribu itu. Si abang seperti sudah biasa melayani pembeli yang sedang terburu-buru, seperti takut ditinggal kereta. Saya kembali ke aula loket.

 

Mata saya meyapu isi ruangan yang dipenuhi orang. Tidak ada! Kemana Ibu itu? Saya pun seperti anak ayam kehilangan induk. Tanpa sadar saya tiba-tiba menerobos masuk pintu masuk.

“Beli karci dulu dik!” petugas stasiun tiba-tiba mencegah saya masuk.

Mata saya menoleh kanan kiri, berputar, ibu itu sudah tidak ada, benar-benar tidak ada! Bersamaan dengan itu gerbong kereta api AC-Ekonomi pun mulai bergerak. Akh! Saya terlambat! Ibu itu pasti sudah di dalam. Saya hanya memandang gebong kereta yang menjauh dan berteriak dalam hati IBUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUU….. hahhahahha…lebay!

Saya diam sejenak, mengatur nafas saya yang terengah-engah, sambil memandang uang 5 ribu di tangan. Ya Tuhan, saya bahkan tidak tahu nama Ibu itu. Siapa dia? Apa dia adalah malaikat yang Tuhan kirimkan untuk menolong saya?

“Ibu, terimakasih..” bisik saya lirih.

**

Yah, sahabat blogger, bisa banyangkan jika tidak ada pertolongan dari si Ibu, mungkin saya akan repot lari-lari cari kembalian  di tengah pasar. Benar-benar pertolongan Tuhan tidak pernah disangka-sangka datangnya. Saya pun teringat kisah saya yang lain, jauh sebelum kisah di atas terjadi. Kisah yang jauh lebih unik dan masih di seputar kawasan stasiun.

**

Saat itu saya masih duduk di tingkat satu, baru satu bulan saya ada di Bogor sebagai mahasiswa. Waku itu saya ingat hari Jumat. Asrama putera berubah sepi di akhir pekan, karena sebagian besar mahasiswa  jabodetabek pulang ke rumah masing-masing. Sedangkan saya, rumah saya jauh di jawa timur, hanya bisa diam di asrama sampai liburan panjang tiba. Untuk mengusir kesepian, saya beranikan diri untuk pergi ke pusat kota bogor, sekedar jalan-jalan.

 

Ini adalah pertama kalinya saya pergi sendirian. Berbekal informasi seputar trayek angkot dari teman, dalam waktu satu jam,  sampailah saya di daerah Merdeka, daerah pusat perbelanjaan yang cukup ramai di sekitar stasiun.

Tepat saat saya turun, dan membayar ongkos, saya tersadar restleting ransel saya terbuka! Damn! Seperti yang saya takutkan, dompet saya sudah lenyap. Saya kecopetan! Saya jujur shock, sempat menyalahkan diri sendiri, mengapa begitu ceroboh. Dunia tiba-tiba serasa gelap, panas matahari sore itu serasa tidak lagi menyengat seperti yang seharusnya. Kepala saya berputar, bingung apa yang harus saya lakukan.

 

Saya merogoh kantong celana, 700 rupiah tersisa. Saya masih tidak punya hp saat itu, kalaupun ke wartel, nomor siapa yang saya mau hubungi, saya tidak hafal. Dengan uang 700 rupiah, tidak mungkin kembali ke Darmaga (tempat saya kuliah). Kemana saya harus pergi? Masa harus berjalan kaki berkilo-kilo?

Ya Tuhan, tolong saya. Saya tidak tahu mau minta tolong kemana lagi. Saya seorang anak desa yang tersesat di kota yang masih asing, tanpa hp, tanpa uang, tanpa ingatan apa-apa selain jalan pulang. Saya mungkin memang terlihat lugu saat itu, tidak heran saya menjadi incaran para copet, mereka seperti bisa membaca bahwa saya adalah pendatang. Makanya jangan sok berani jalan sendirian kalau masih baru, hujat saya pada diri sendiri.

Saya masih berdiri di pertigaan itu, pertigaan super sibuk karena adanya stasiun di dekatnya. Orang ramai lalu lalang di sekitar saya, sibuk dengan urusan masing-masing. Saya terdiam sekitar 5 menit, menguras otak sambil berdoa. Tuhan berikan saya keajaiban.

 

“Prim, ngapain lu bengong?? Gaya lu jalan-jalan sendirian!”

Saya terkaget dengan suara yang tidak asing itu, saya sempat bingung dari mana asal suara itu.

Budi! Teman asrama yang kamarnya bersebelahan dengan kamar saya, sedang berada di angkot, duduk di sebelah supir angkot yang sedang melintas perlahan. Saya langsung ingat, Budi pulang ke Cirebon hari ini.

“Bud! Bud!” saya menghambur ke arah angkot tersebut dengan mimik tidak karu-karuan.

“Bud, tolongin gue, gue kecopetan!” terang saya sambil mengikuti gerak angkot

“Apa? Pak,pak stop! Stop!” budi menyuruh sopir angkot tersebut berhenti.

“Kok bisa sih prim????” si Budi yang masih duduk di angkot segera merogoh dompetnya, dan mengeluarkan uang 50 ribu.

“Nih, pulang lu! Kagak usah kemana-mana, langsung pulang ya” Si Budi sepintas jadi seperti emak-emak yang nasehatin anaknya. Uang 50 ribu itu dia pinjamkan ke saya tanpa pikir panjang.

“Ok pak, jalan…” Budi berkata pada si sopir angkot, seolah-olah angkot tersebut adalah angkot miliknya.

Saya pun kembali ke asrama dengan rasa penuh syukur, pertemuan dengan Budi yang tidak lebih dari 15 detik tersebut mengubah nasib saya sore itu. Terimakasih Budi. Terimakasih Tuhan. Pertolongan yang tidak pernah akan saya lupakan seumur hidup.

***

 

Well, sahabat blogger, kira-kira begitulah kisah sederhana yang penuh pelajaran hidup. Tuhan tidak akan menguji suatu mahluk di luar batas kemampuan mahlukNya. Dia yang mentakdirkan saya mendapat kesulitan, namun Dia pulalah yang  memberikan pertolongan tanpa saya duga asal dan bentuknya. Sungguh Tuhan tidak pernah tidur dan Maha mengetahui kesulitan mahkluk-mahlukNya.

 

Semoga nasihat dari kisah ini bisa meringankan saudara-saudara kita yang sedang ditimpa cobaan dan kesulitan. Amin.

(Photo: ruang8jurnalbogor.wordpress.com)

21 responses

  1. wah salut sama si ibu
    baik banget ya mas

    walaupun cuma kenal sekilas tapi dia ikhlas menolong

    salam kenal dari bintangair.. ^^

    5 November 2010 at 9:45 PM

  2. Salam kenal bintang air…apanya bintang laut ya??😀
    Iya, saya sampai terharu karena keikhlasan ibu itu…

    5 November 2010 at 9:58 PM

  3. 5000 and then 50.000? man.. money likes you😀

    6 November 2010 at 6:48 AM

    • Hahhahaha.. Not that lucky, see I am now totally jobless! Should be there’s someone gives me 50.000.000!😀

      6 November 2010 at 6:54 AM

  4. Heeeee

    Kalau kita biasa dengan hidup saling mengasihi, memberi dengan tulus saya percaya akan selalu datang pertolongan di saat-saat genting kita…..
    Keberuntungan itu bisa kita cipta🙂

    Semoga hari-hari kita penuh kasih dan marilah kita slaing mengasihi agar tercipta hidup damai dalam berdampingan🙂

    6 November 2010 at 8:25 AM

    • amin. benar sekali….thank hani…

      6 November 2010 at 8:44 AM

  5. wah.. saya juga sering kurang duit kalo mau bayar angkot..
    seringnya ke warung terdekat buat tukar duit dulu…😦

    oh iya…
    pertama kali mampir…
    salam kenal🙂

    6 November 2010 at 9:10 AM

    • hahahahah…harusnya gt, makanya saya selalu siapin duit receh…
      salam kenal juga!

      6 November 2010 at 10:55 AM

  6. Kejujuran dan keikhlasan yang tulus memang langka,mas tapi bukannya nggak ada..bersyukurlah.🙂

    6 November 2010 at 10:42 AM

    • selamat datang mas di blog saya yang masih baru nongol ini… ditunggu kritik sarannya di foto2 saya.. many thanks…

      6 November 2010 at 10:50 AM

  7. Usup Supriyadi

    subhanallaah, di hari sabat ini, dapat cerita penuh inspirasi… kalau saya, biasanya dalam posisi si ibu, dan itu membuat saya bahagia

    saling menolong memang indah…😉

    salam, selamat berakhir pekan😉

    kapan ke bogor lagi, kita naik anggot berduaan,😆

    6 November 2010 at 11:39 AM

    • Wah, kang ucup datang mampir juga …. Iya kang, saya pasti akan ke sana, mohon doa semoga dipercepat panggilan kerjaannya, hahahahhaah…

      6 November 2010 at 11:46 AM

    • MAs Usup apa kabar??/

      Lama nggak ngunjungi rumah Mas Usup….

      6 November 2010 at 12:44 PM

  8. Deq

    Uho~~ Uho~~ Wah, kk terbantu banget tuh😛 Syukur ada ibu dan temannya, kalo ga gitu? Apa kata dunia? #plakk BTW kk Jatim mana? Saya juga Jatim

    6 November 2010 at 6:47 PM

    • iya, kalo gak saya dah gembel, wkakakakakak…. dulu sih di Bondowoso rumah mbah, sekarang nyungsep di kalimantan!😀 salam kenal ya…

      6 November 2010 at 7:00 PM

  9. Pelajaran tersebut memang pelajaran berharga …
    Betapa bernilainya … si Ibu dan si Budi di mata Prima …

    Dan saya yakin …
    Prima bisa juga bertindak seperti dalam posisi si Ibu dan si Budi bukan ?
    and you never know betapa berartinya bantuan kecil kita itu bagi orang lain …

    Yes indeed …
    Ini pelajaran untuk saya juga Prim …
    Thanks ya …

    (saya seperti sedang menonton episode nostalgia saya di Bogor nih … tempat-tempat yang kamu sebutkan familier sekali) hehehe

    6 November 2010 at 10:07 PM

    • Makasih om sudah mau baca cerita panjang di atas… hahahahhaha
      Iya om, saya pasti akan selalu ingat bagaimana susahnya situasi saya saat itu, jadi saya akan lebih gampang menolong orang lain, amin….

      I knew you will find something small and particular, made you back to the past😛 jebakan colongan! wakakakakka….

      6 November 2010 at 10:30 PM

  10. Nad

    Lovely story. Jadi berkaca2 dan berpikir. Yup, Tuhan akan selalu menolong hamba-Nya dengan cara yang terkadang tak terpikirkan. Thanks for brighten up my wiken. BTW, itu si Budi lucu ya, beneran pesannya kek ibu ke anaknya😀. Nice friend you have there.

    6 November 2010 at 10:24 PM

    • Thanks mbak, pelajaran yang berharga buat saya sendiri. Si budi emang gitu, mungkin naluri ibu2nya/bapaknya? keluar pas ngeliat saya kaya orang linglung, wkakakakakak…

      6 November 2010 at 10:32 PM

  11. Demikianlah Tuhan dan alam memberikan pelajaran kepada kita. Siapa yang menabur kebaikan akan memperoleh kebaikan, jika bukan kepada kita langsung balasan itu mungkin akan kembalinya kepada orangtua,anak-isteri atau kerabat kita.
    Sunatullah.
    Cerita yang menarik.

    salam hangat dari Surabaya

    7 November 2010 at 9:11 AM

    • Benar pakde, siapa yang menabur kebaikan, akan menuai kebaikan…amin…
      Salam hangat dari kalimantan

      7 November 2010 at 9:25 AM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s