Frames, Green, Rustle and Sweet Tea

Flora

Weekly Photo Challenge: Wildlife

Wildlife? Again! I found the theme of this week is so difficult, yet really challenging! 😆 For me now, who’s living in Kalimantan, where’s jungle and wildlife surely exist. I was thinking to go somewhere like a jungle nearby and find such cute animals like deer, monkey, or beautiful bird, instead of boar, wild dog or even giant snake! Those last three I mentioned are an enough reason for me to keep apart from their nest 😛

Thus, I chose 4 pictures from my collection, hoping they would be good enough for “wildlife theme” Check them out!

I ever posted long time ago some of wildlife I saw in North Carolina Zoo here, but I have never posted this one. I took the picture from outside  a big paludarium where’s some of colorful and poisonous frogs living in.

**

She is Ingrid, my friend from Nicaragua, standing next to a safari car of NC Zoo. I think this is also typical wildlife style. The popular car I saw in every africa wildlife film! 😆 but, yeah without that cute color of course! 😀

**

Where do you think this place should be in? 😀 You can find it behind a rectorate of my university (IPB). If you walk down to rectorate building from the library, you’ll pass the LSI bridge, with Lake LSI on the left and this jungle view on the right. It was still early morning when I took the picture, that’s why you can see the fog made the view really picturesque!

**

I don’t know what bird it is. I got it on a tree behind my house. One of many kinds of bird sang and flew around everyday here. Lovely one! 🙂

Salam Jepret!

*All pictures edited with Lightroom 3.3 & Photoshop Cs5


Kaktus “Captain Hook”

Seperti janji saya di postingan sebelumnya, saya akan ceritakan tentang kaktus yang durinya menyerupai pengait ini.

Kaktus ini tumbuh di sebuah pot di halaman samping rumah saya. Mama sangat benci ke kaktus ini karena seperti yang saya ceritakan, kaktus ini selain punya duri keras yang pendek dan berwarna putih itu, dia punya beberapa duri panjang berwarna gelap di bagian tengah yang ujungnya menyerupai pengait atau kail.

Kail atau pengait ini mudah sekali mengait tangan, kulit, dan benda-benda yang berpori atau berserat seperti kain, benang, bahkan daun tanaman lain. Selain menyebabkan nyeri karena durinya nyangkut, jika kita tidak hati-hati melepaskannya, maka pengait-pengait disebelahnya bisa ikut-ikutan nyangkut! Repot banget!

Lha kok dilalah, kaktus ini sengaja dicuekin, tapi pertumbuhannya gak juga merana, anakannya malah tumbuh banyak seperti kumpulan kue bulat-bulat kecil dan akhirnya membentuk bola besar yang penuh pengait. Sampai akhirnya Mama pernah menyuruh saya untuk membuang kaktus ini, karena lebih banyak menimbulkan mudharat daripada manfaat, hehehehe… tapi berhubung saya ngerasa eman-eman, saya simpan aja di daerah tersembunyi yang jarang dilalui orang, jadi tidak menggangu kan?

Satu hari saya iseng menggunting duri-duri pengait itu, dengan tujuan biar kaktus itu terlihat sedikit “ramah”. Berhasil untuk hari itu aja. Setelahnya duri pengait itu akan tumbuh lagi dan lagi. Saya jadi berpikir, apa sebenarnya manfaat duri pengait itu ya?

Lihat bagaimana benang, daun kering, kerikil dan benda-benda lain bisa tersangkut disana.

**

Suatu hari saya melihat ini

Bangkai apakah itu?

Itu bangkai katak malang yang terjebak oleh duri pengait si kaktus.

**

Dari sedikit observasi akhirnya saya bisa mengambil kesimpulan manfaat dari duri pengait itu. Hipotesis saya kira-kira seperti ini, bisa jadi benar-bisa jadi salah, tapi cukup realistis, imho  😛

  1. Duri pengait kaktus digunakan sebagai perangkap hewan kecil yang singgah pada tubuh kaktus. Contohnya katak malang di atas. Tentu saja semakin gesit sang katak mencoba meloloskan diri, semakin banyak duri pengait yang menangkapnya, sehingga katak tersebut tidak dapat bergerak dan mati pelan-pelan di atasnya. Terus apa untungnya bagi si kaktus? Tentu saja, sari-sari makanan dari tubuh katak akan terurai dan akhirnya diserap oleh kaktus, sehingga kaktus secara tidak langsung mendapat zat hara. Bisa jadi ini kaktus karnivora! *hihihihi.. lebay
  2. Duri itu adalah alat penyebaran populasi kaktus. Satu kali saya tersangkut oleh duri pengait kaktus yang ukurannya kecil, dengan mudahnya si kaktus ikut tercabut dan ikut di tangan saya, saya tentu berusaha mencabut dan melemparkannya ke tempat lain. Nah! Justru dengan teknik “nyangkut” itu, kaktus kecil itu akan mulai berkembang di tempat baru dan membentuk koloni barunya. Jadi, jika ada hewan besar atau manusia yang tidak sengaja tersangkut durinya, si kaktus bisa ikut dan berpindah tempat dan beranak pinak di tempat baru itu. Saya sudah lihat beberapa anakan yang jatuh di tanah disekitar induknya sekarang mulai tumbuh.

Hampir sama dengan teknik penyebaran tanaman “rumput bujang” yang duri-duri lunaknya suka nyangkut di celana atau kaos kaki kalau kita melewatinya. Yang nyangkut itu kan sebenarnya biji-bijinya, dan saat kita melepaskannya, si biji sudah berada di tempat yang jauh dari induknya. Mungkin pembaca ingat cerita tentang pohon “kitiran“? Nah kalau itu teknik penyebarannya dengan cara terbang! 😀

**

Sungguh Maha Besar Tuhan yang menciptakan segala hal dengan sebuah alasan dan manfaat, bahkan untuk sebuah duri pengait yang kita kira sebuah “musibah”, ternyata mempunyai tugas mulia bagi si kaktus.

Semoga pengetahuan ini tidak hanya memperluas wawasan kita tentang tanaman, tetapi juga mengandung renungan tentang hikmah sebuah penciptaan.

Salam Kebun!


Weekly Photo Challenge: Round

Round? It could be the easiest theme of Weekly Photo Challenge so far since I have a bunch of photos merely supported this theme. But for some reasons,  I really wanted to take the challenge by capturing new photos I would take this week. Should be easy I thought.

In fact, I didn’t get any good photo in the first 3 days 😦 What a lame! It had occupied my thought in couple past days, even a busy days couldn’t distract me from this “roundness”. In the middle, kind of admitting it’s quite hard to get “round” photo in (only) a week. It was simple yet sounded easy, but no more.

Thanks God, I found them at last!

Wheel, might be the popular chosen for the theme. I had checked out some of the participant’s and it is! 😆

On Tuesday, I was in the middle of shooting an high school anniversary parade for documentation purpose. There were some cops along the route since the parade obviously took more than a quarter of the road width, and caused traffic at the moment! 😛   I stood on the edges of the road and found a motorcycle of traffic cop parked in the middle of the road. Looks cool! I’ve never been that close with that motorcycle, and suddenly thought to approach and capture it. Hey! Round wheels! I got one! 😀

**

I found this cactus beside my house. This is actually my Mom most hated cactus. That’s why my Mom doesn’t look after this cactus very well and just put the pot in any hidden place, somewhat abandoned. Fortunately, this cactus is so vigorous one and used to raise abounding shoots turned them into a “giant thorn ball”.

Can you guess why my Mom hates this cactus terribly? This cactus has so many short-tough white thorns PLUS long-dark thorns like hook worsen it’s performance. If you see carefully, in the middle of every round, you can find “the hooks”. That hooks easily hook your hand, skin, or anything with pores when be touched, surely it’s a bit hurt, and when you start to release the hook  carelessly, I guarantee another hook already caught you! My Mom simply said: Annoying cactus!

In the next post, I will tell you about this special cactus, those special hooks and the reason I found behind why they have hooks! Hmm, It’s interesting!

Happy Blogging!

PS: Mulai besok internet sudah lancar lagi! Cihuy!


Sayuran Merah

Sayuran atau bahan makanan berwarna merah memang terlihat menarik mata dan mengundang perhatian. Merah atau merah keunguan tentunya bukan warna “biasa” untuk sayuran. Berbeda dengan buah-buahan, warna merah adalah warna yang memikat orang untuk segera merasakan kesegarannya.

Kata info yang saya dengar dan baca, sayuran atau makanan merah umumnya lebih kaya vitamin, mineral, anti-oksidan, bahkan protein yang lebih tinggi daripada versi non-merahnya.

Nah, mungkin bagi Ibu-ibu yang suka bergelut dengan pasar dan dapur, sayuran dan makanan merah terdengar biasa, tapi bagi saya yang masih belia ini *halah* tentu aja terdengar “wow”. Saya sedikit cerita tentang beberapa sayuran merah yang saya temui di sekitar saya…

BERAS MERAH

Sewaktu bayi Mama bilang saya selalu makan bubur instant rasa beras merah.. tapi toh akhirnya sampe mahasiswa saya baru pertama kalinya makan beras merah ini saat jalan-jalan ke Lembang dengan teman saya yang asli orang sana. Saya ingat, kita lari pagi naik turun bukit, sampe akhirnya sampe pada sebuah warung yang menjual nasi merah dengan ayam goreng dan sambal lalapan! Mantap!

Rasanya? biasa aja kok… hehehehhe… mungkin karena ngerasa beras merah lebih banyak vitamin, saya lebih semangat makannya! 😀

BAYAM MERAH

Kalo yang ini, semenjak kecil sudah pernah saya lihat, rasanya sama persis dengan bayam hijau. saya selalu semangat kalau Mama pulang ke pasar beli bayam merah, sedangkan yang hijau saya sudah kaya gizi, apalagi yang merah ya??? Mantap!

JAGUNG MERAH

Hihihihihhi… kaya mainan ya? Saya jadi ingat dulu ada praktikum biologi jaman kuliah yang pake jagung mainan warna loreng2 kuning merah, eh ternyata ada beneran! 😆 Saya sih belum pernah makan, katanya jagung merah tergolong jagung manis, sering dijual di supermarket-supermarket. Ada yang tau rasanya??? Kayanya enak! ^^

KOL MERAH

Kalo ini sebelumnya saya sudah pernah ngelirik di supermarket, cuma ngelirik doang gak beli, heheheheh… Justru pertama kali makan waktu di US, temen dari eropa suka banget beli kol ini, padahal kol putih yang sering saya beli lebih murah a.k.a. ngirit 😛 Satu kali saya iseng minta kol merah punya dia… rasanya… hmmm… mirip, cuma agak pahit2 dikit. wkakakkakak…. jadi pengen nge-sup pake kol itu, gimana jadinya ya???

KACANG PANJANG MERAH


Nah kalo ini baru sebulan yang lalu nangkring di dapur rumah! Wkakakakaakak… Jujur that’s the first time I saw it! Mama ujug-ujug pulang dari pasar bawa sayur ini dua ikat, saya bengong sebentar, kabur ke kamar, ambil kamera dan jepret! 😀

Mama bikin sayur asam pake kacang panjang merah ini, warnanya jadi merah gelap saat sudah masak…hmmm… rasanya?? Lebih renyah dan tebal kulitnya, sisanya sama dengan kacang panjang hijau… dan saya yakin gizinya lebih banyak dari yang hijau.

Nah sahabat, apa sahabat sudah mengenal sayuran-sayuran merah ini juga?

Ada pengalaman memakannya?

Ayo di sharing di sini! 😀

Happy Blogging!

Sumber gambar Beras merah, bayam merah, jagung merah, kol merah.


Pohon “Kitiran”

Masa kecil saya di Kalimantan, memang dekat dengan alam. Komplek Perumahan PG. Pelaihari memang berada di tengah rimba dan kebun tebu. Jadi wajar saja kalau saya dan teman-teman akrab sekali dengan kegiatan outdoor dan petualangan di alam bebas, kalau istilah jawanya: blasak-blasak!

Di belakang komplek saya dulu ada sebuah hutan, khas hutan hujan tropis kalimantan, yang ditumbuhi semak dan pohon besar. Beberapa titik tanah kosong di sekitar perumahan itu sudah mulai digarap oleh warga sebagai kebun, meskipun tidak banyak, dari ketela pohon, ubi jalar, jagung dan lain-lain. Sehingga saya dan teman-teman harus masuk lebih dalam ke hutan untuk bermain, soalnya kalau main di kebun orang bisa dimarahin, suka bikin rusuh dan porak poranda kebun, hahahaha…

Suatu hari saya mungkin masih duduk di kelas 2 atau 3 SD, teman-teman saya mengajak saya berpetualang ke dalam hutan. Iseng-iseng kami ingin mencari biji-bijian berwarna abu-abu kehitaman seperti manik-manik, yang bisa di bikin kalung dan gelang, uniknya biji-bijian itu punya lubang di tengahnya sehingga gampang untung dirangkai dengan benang…entah apa namanya. Ada yang tahu?

Banyak cerita tentang seramnya hutan itu, banyak anak-anak yang lebih besar mengatakan agar kami tidak masuk hutan terlalu jauh, karena bisa tersesat. Meskipun ragu-ragu, dengan dalih mencari sumber biji-biji itu lebih banyak, toh akhirnya saya ikut acara masuk hutan itu dengan berpesan pada diri kami untuk mengingat setiap jalan yang kami lalui agar bisa kembali pulang. Saya lupa, mungkin kami berjumlah sekitar 4-5 anak.

Petualangan itu di mulai setelah pulang sekolah. Diawali dengan melalui kebun-kebun, pisang-pisang, sampai alang-alang, dan aliran sungai kecil yang masih jernih… Tapi sampai sejauh itu, kami belum menemukan tanaman manik-manik itu. Kami mulai kelelahan. Kami memutuskan untuk istirahat di bawah pohon. Beberapa orang mengeluh dan mengajak pulang. Kami mulai makan buah rambusa dan ciplukan yang kami temukan di sepanjang perjalanan. Ada yang tau tanaman ini? 😀

Rambusa (Passiflora foetida) masih satu keluarga dengan markisa, buahnya kecil seukuran duku, rasanya asem-asem manis, katanya sih itu makanan ular, hehehehe…

Sedangkan ciplukan (Physalis angulata), sekarang dikenal sebagai salah satu tanaman herbal yang kaya manfaat dan unsur obat. Rasanya manis jika sudah masak, plus ada rasa khas yang ciplukan yang tidak bisa saya gambarkan dengan kata-kata 😆

Tiba-tiba seorang teman saya mengambil sesuatu dari tanah. Sebuah benda seperti kelereng kecil dan bersayap.

“Woy ini kan… biji pohon…pohon… apa ya namanya? Tau nggak?” tanya dia ke anak-anak yang lain.

Kami menggeleng-geleng tidak tahu.

“Ini biji kitiran!” kata dia asal.

“Kitiran???” kami melihat benda asing itu.

Teman saya kemudian melempar biji bersayap itu ke udara, dan biji itu kembali ke bumi sambil berputar seperti baling baling bambu doraemon. Persis kitiran juga. Kami takjub!

“Wowwww… bagus!”

Teman saya mengajak kami untuk mencari pohon kitiran yang pasti ada di dekat sini. Kami bersemangat untuk menemukan pohon yang kami beri nama pohon “kitiran”. Agak susah juga karena kita harus melihat ke atas dan kebawah, mencari tahu pohon manakah yang pohon kitiran??

****************************************************************************************************************************

 Stop Press!

Hopea odorata

Famili: Dipterocarpaceae
Nama umum: Merawan (nama dagang untuk kayu dari beberapa jenis kayu keras ringan Hopea spp).

Penyebaran dan habitat
Asli Asia Tenggara, menyebar mulai India (Pulau Andaman), Myanmar, Thailand dan Indocina dan ke selatan sampai semenanjung Malaysia utara. Pada kebanyakan sebaran alaminya, jenis ini tumbuh di hutan tropis dataran rendah dengan tanah subur sampai ketinggian 300 m dpl, lokasi tumbuhnya tidak jauh dari sungai. Namun, populasi di India tumbuh di hutan basah selalu hijau pada ketinggian, jauh dari sungai. Pertumbuhan terbaik pada daerah bercurah hujan tahunan lebih 1.200 mm dan suhu rata-rata 25 – 27°C. Dapat tumbuh pada habitat yang beragam serta mudah dibudidayakan.

Pemanfaatan
Kayunya keras, ringan dan kuat, digunakan untuk konstruksi berat dan  ringan,  mebel, vinir  dan  banyak kegunaan lainnya. Kerapatan kayu 0,5 – 0,98g/cm3 pada kadar air 15%. Cocok ditanam pada tanah yang telah terdegradasi, juga banyak ditanam sebagai tanaman hias dan penaung. Kulitnya mengandung tannin tinggi, dapat digunakan untuk penyamak kulit, juga menghasilkan getah bermutu rendah (damar batu).

****************************************************************************************************************************

Akhirnya kami menemukan juga pohon kitiran itu, letaknya agak berjauhan dengan pohon-pohon yang lain, pohonnya tinggi dan lebat. di bawahnya kami banyak menemukan biji kitiran tersebut, mungkin ratusan jumlahnya, saya segera  mengantongi biji kitiran itu dengan kantong plastik yang kami persiapkan dari rumah untuk dibawa pulang.

Beberapa orang terlihat bersenang-senang dengan melempar-lempar biji kitiran itu ke udara, sangat menyenangkan bagi kami yang pertama kali menemukan biji bersayap aneh itu. Seorang anak malah naik ke atas pohon dan melempar banyak sekali biji kitiran yang sengaja diambil dari bawah, hahahaha… Kami girang dan tak henti bersorak.

Sampai pada suatu momen, tiba-tiba angin bertiup kencang beberapa kali, dan ratusan biji kitiran jatuh dari pohonnya. Itu adalah satu keindahan yang pernah saya lihat seumur hidup saya. Kami bersorak! Kami tertawa dan melompat. Biji-biji kitiran berputar, dan terbang jauh di tiup angin siang yang hangat, menyebar, berputar, berakrobat di angkasa, seolah-olah sedang menghibur kami yang kelelahan.

Biji-biji kitiran terbang jauh. Mereka kelak akan tiba pada suatu tempat yang jauh dari induknya, dan menjadi pohon kitiran muda dan akan menghasilkan lebih banyak biji kitiran. Tuhan sungguh Maha Indah…

Kami pulang. Meskipun tidak mendapat biji manik-manik, kami pulang dengan sekantong biji kitiran. Tidak henti-hentinya saya bercerita kepada teman yang lain, bahwa di dalam hutan ada sebuah pohon ajaib yang punya biji yang bisa terbang dan berputar. Itulah pohon kitiran. Saya memberikan biji kitiran ke teman-teman saya yang lain seolah-oleh ingin berbagi kebahagiaan tentang pengalaman indah tersebut.

***

Literatur dan gambar:

http://www.rimbundahan.org/environment/plant_lists/dipterocarpaceae/Hopea-odorata.jpg

http://lekowala.blogspot.com/2005/06/hopea-odorata-in-botanic-gardens_1156.html

http://bpthbalinusra.net/isbseedleaflet/99-merawan-hopea-odorata-roxb.html

http://kumpulanspasi.wordpress.com/2010/09/10/mengendarai-khayalan/

http://wikipedia.org


Dam Ranggang + Jamur!

Ini cerita jalan-jalan minggu lalu bersama seorang teman, namanya Dwi. Senin, 4/4/2011, saya dan mama pergi ke rumah teman mama, tetangga lama dulu, dan anaknya pun kenal dengan saya, ya Dwi itu. Rumahnya masih di perumahan Ex-Pabrik gula Pelaihari, tempat masa kecil saya dulu, sekarang sudah jadi pabrik sawit dan tidak seramai dulu.

Saya mengajak Dwi ke Dam Ranggang, sebuah bendungan yang mensupport kebutuhan air di pabrik tersebut. Tempatnya indah, dan bisa untuk mandi dan berenang. Untuk foto-foto dan cerita yang lebih lengkap saya sudah pernah posting di sini: Jalan-jalan ke Dam Ranggang

Kali ini bukan cuma melihat-lihat, saya juga sempat mandi-mandi di sana! Yihhhaaaa!

Jadi ada bagian yang bertujuan mengurangi kelebihan air yang keluar dari mata air bendungan tersebut, namanya tempat pembuangan. berbentuk lembah yang mengalirkan air ke sebuah sungai kecil. Daerah pembuangan ini aman, karena tentu saja tidak dihuni oleh tanaman air dan hewan aneh-aneh yang mungkin ada di bendungannya, contoh biawak, ikan emas raksasa atau buaya putih jadi-jadian, wuakakakakaka…

Dulu semasa kecil saya sering ke tempat ini dengan naik sepeda pedal bersama teman-teman, *kok kuat ya? dan pastinya kami mandi-mandi di tempat ini… sebuah tempat penuh kenangan… so sentimental for me…

Berikut slideshow dari foto-fotonya, slideshow ini dibuat dengan Picasa (hosting gratis buat nyimpen foto dari google itu lho) dan bantuan vodpod!  coba-coba eh ternyata bisa! 😀

Vodpod videos no longer available.

Sedikit cerita…

Air bendungan itu sekarang gak sejernih dulu, dan semilir-semilir ada bau ikan… mungkin karena bendungannya sendiri sudah banyak di bangun tambak ikan Nila. Jadi gak semankyus dulu, tapi masih layak kok.. hehehehee…

Sungai kecil di akhir pembuangan itu juga penuh dengan semak-semak, padahal dulu tidak sebanyak itu, dan banyak ikan kecil dan udang yang bisa ditangkap dengan mudah pake baki, seru lho!

Setelah berenang-berenang di sana, saya pulang, di perjalanan pulang, kami melihat Ibu-ibu yang sedang nungging-nungging di antara pohon kelapa sawit, mereka berburu jamur!

Jamur tumbuh di buah sawit yang tidak dipanen dan dikomposkan di antara barisan sawit. Menurut mereka jamur tersebut tumbuh banyak sebulan terakhir ini, dan bisa di buru setiap hari! Gratisan!

Jadi inget dulu, sewaktu kecil saya juga pernah berburu jamur, tetapi dari jamur dari pengomposan ampas tebu yang disebut belotong, ternyata di ampas kelapa sawit juga ada cuma ukurannya agak kecil. rasanya??? saya sempet makan hasil tumisannya, gak beracun dan enak! persis jamur gitu deh…*ya iya lha… hehehehe…

OK, sampai sini dulu laporan jalan-jalannya…

Happy Weekend!


Weekly Photo Challenge: Spring

It was spring 2009 in North Carolina, US. Some of ready harvested Dahlia groups are on the track waiting to be picked up by shipper of the greenhouses.

If you wanna get some awesome views of  “Spring Festivity”, visit a greenhouse! I bet they are in the busiest season with annuals and numerous kind of flowers. I never get bored…

 

Spring is time when you can see abounding flowers come up, smell the melted snow, feel the fresh air breezes, and touch a newborn sunlight…


Torenia yang Rajin Berbunga

Masih ingat dengan tampilan gambar ini?

Entah siapa, dulu saya pernah ditanya oleh seorang blogger “Prim, kalau mau nanam bunga yang gak repot ngerawatnya dan berbunga banyak apa ya?” Jawabannya salah satu mungkin adalah ini: Torenia! dan seperti janji saya di postingan sebelumnya Pinching Bunga Yuk! saya akan bahas tanaman berbunga ungu yang saya tampilkan gambarnya sekilas di atas 😀 Yah, jawabannya adalah TORENIA.

 

Cerita sedikit asal muasal tanaman ini ada di rumah saya. Awalnya saya berkunjung ke kantor teman untuk main internet di sana saat sore. Kantor instansi pemerintah yang wifi-nya gratis dan kenceng parah, well, tiba-tiba diantara rimbunnya rumput dan semak belukar di bagian belakang gedung, saya ngeliat bunga-bunga kecil warna ungu dan pink. Dasar saya yang emang bakat ngutil, eh maksudnya mungut tanaman liar, saya belasak-belasak ke daerah rerumputan itu… Lho kok ada torenia!? Liar, kurus, daunnya kuning, pokoknya merana sekali kondisinya, dan tersebar menjadi beberapa spot.

Tanpa basa-basi saya bilang ke temen saya, boleh saya ambil gak tanaman itu?, dia bilang: Bukannya itu gulma ya? wkakakakaka… sembari mulai nyongkel-nyongkel tanaman itu pake piso dapur, saya berkata dalam ati: Gundulmu gulma, ini tanaman hias, dan berharga sekali! Kemudian saya simpan di kantong kresek kasih air dikit dan bawa pulang.

Sampai rumah saya, saya potong seluruh tangkainya kurang lebih setengah! Heheheh, sadis emang, karena melihat kondisi tanaman yang “kurang gizi” itu, saya pangkas tangkai, bunga dan daunnya, dengan harapan, cabang baru akan tumbuh dengan daun yang lebih sehat! dan akhirnya sebulan mereka sudah tumbuh segar plus berbunga TANPA HENTI! 😀 Mama sempet bilang: “Itu bunga yang ungu beli minta di mana? kok bagus?” dengan bangganya saya jawab: “cuma mungut di semak-semak”

Beruntungnya saya. Seminggu setelah saya pungut si torenia dari kejamnya alam liar, halaman tempat saya memungut torenia itu telah bersih-sih tanpa ada rumput sedikitpun. Wak! asli kaget! kata temen: Iya, kapan itu, ada tukang yang disuruh bersihin halaman.., jadi sekarang bersih… rumput, semak, dan sisa torenia itu telah habis! Fiuhh… hampir aja saya kalah start! 😛

 

OK, langsung aja saya cerita tentang tanaman berbunga cantik ini.

Torenia adalah jenis tanaman ground-cover yang menyebar dengan cepat karena dapat berkembang dengan geragih (itu lho batang yang rebah, kemudian tumbuh akar dan menjalar ke samping). Mereka masih satu saudara dengan Snapdragons, pasti kalo pecinta bunga potong tau. Bunganya kecil, banyak dan berwarna, dari warna ungu, biru, putih, pink, dengan kombinasi kuning di bagian dalam petalnya. Ukuran tanamannya tidak terlalu tinggi, hanya sekitar 20-30 cm, sangat cocok untuk mengisi taman atau ditanam di pot untuk sekedar penghias meja.

Torenia memerlukan dua hal penting dalam pertumbuhannya: Sinar matahari dan zat hara. Tanaman ini berbunga dengan rajin pada kondisi cerah, jadi letakkan pada tempat full-sun atau dengan sedikit bayangan. Untuk hara, silahkan memberikan pupuk kandang atau pupuk apa saja. Torenia akan memberikan respon cepat, daunnya akan lebat dan bunganya akan semakin ramai. Mereka bukan penyuka air banyak atau becek, jadi siramlah setelah mereka melalui satu hari yang panas. Oh iya, ini bukan tanaman dataran tinggi, di tempat sejuk dan panas torenia bisa tumbuh, kebayang aja kalimantan panasnya gimana, dan mereka tumbuh dengan gembira di sini. Intinya, perawatan tanaman ini super gampang! Cocok bagi sahabat yang sibuk tetapi senang melihat tanaman rajin berbunga.

Ini adalah kuncup-kuncup torenia yang akan segera mekar. Bersyukurlah negeri kita mendapat sinar matahari sepanjang tahun yang membuat bunga ini akan terus berbunga sepanjang tahun! 😀

 

 

Jika sudah layu, bunga ini akan membentuk Buah yang didalamnya mengandung banyak biji-biji kecil.

 

 

Biji torenia dalam buah. hehehehe, ini saya buka paksa.. 😛

 

 

Ini adalah contoh buah yang sudah tua, dan pecah, entah bijinya pergi kemana, hehehehe… Biji torenia adalah biji yang tumbuh dengan lambat, jadi saya lebih suka memperbanyak dan memisahkan dengan memotong tangkainya (geragih) daripada menunggu bijinya tumbuh.

 

 

Nah ini contohnya. Saya akan potong di bagian putih itu, dan memisahkannya pada pot lain sehingga membentuk tanaman baru. Hampir mirip dengan strawberry kan? Saya rasa ini gampang sekali, semua pasti sudah tahu 🙂

 

Sejauh ini saya belum menemukan penyakit aneh yang merusak tanaman, kecuali hama yang satu ini.

Pak belalang ini rupanya yang membuat pola-pola pada daun torenia. Tapi tak apalah, selama masih dalam batas kewajaran… kecuali mereka membuat daun torenia menjadi botak, dah itu baru deh saya akan bertindak 😀

 

Nah, sampai di sini dulu info berkebun kali ini. Semoga bisa menambah pengetahuan sahabat semua dan menambah list tanaman buat di halaman rumah kita. Kalau ada tanaman yang perawatannya gampang, kenapa harus milih yang repot!

 

Salam Kebun!

 

 


Pinching Bunga yuk!

Wah, lama sudah gak posting tentang berkebun, semoga bisa terus semangat  ngutak-ngatik taneman.. 🙂

Hari minggu ini, cuaca lagi cerah di rumah… ngapain yah? saya ambil gunting tua punya si mamah. Sebenarnya itu gunting buat kain, tetapi karena dah usang, si mamah ngijinin saya buat pake berkebun. Hore! hari ini pinching bunga!

 

Mungkin sebagian besar dari kita berpikir bahwa munculnya bunga seperti klimaks dari menanam tanaman berbunga. Ya iya lha, apa lagi yang ditunggu selain kemunculan si bunga yang berwarna indah itu? Tetapi terkadang kita juga perlu melihat kondisi tanaman itu saat berbunga. Tidak selamanya bunga itu muncul pada saat yang tepat!

OK, begini teorinya. Bunga adalah modifikasi daun yang terbentuk sebagai alat perkembangbiakan, pada umumnya bunga akan berubah menjadi buah. Ibaratnya manusia, pasti akan “berat” banget saat mengandung. Sama halnya dengan tanaman, saat berbunga, energi dan segala nutrisi terfokus pada bunga, apalagi saat bunga sudah dibuahi dan menjadi buah, perkembangan buah seperti menjadi penyedot utama nutrisi tanaman sama halnya janin dalam perut ibu yang perlu dikasih nutrisi terbaik, ya kan?

 

Munculnya bunga secara alami dipengaruhi oleh nutrisi dalam tanah dan kondisi cuaca (suhu, cahaya, kelembaban, dsb). Terkadang saat tanaman masih berukuran kecil, karena satu dan lain hal, tanaman sudah berbunga, lebat lagi! Padahal daun masih sedikit, cabang masih bisa diitung jari, lha si taneman sudah berbunga banyak. Cantik memang, tetapi belum cukup umur! Jadi dengan sangat terpaksa, saya akan aborsi bunga-bunga itu alias pangkas! Kejam memang, tetapi ini untuk kebaikan bersama… 😀

 

Kali ini saya memangkas bunga dan bakal bunga Lantan camara yang saya baru tanam di halaman, daun-daunya masih sangat sedikit, tetapi bunganya tiba-tiba rajin bermunculan.

Saya pinching (potek/pangkas ringan) semua bentuk bunga dan calon bunga. Dengan harapan, pertumbuhan bunga akan terpusat apda pembentukan cabang dan daun sehingga tanaman menjadi rimbun daunnya kemudian baru berbunga dengan lebih lebat. Jadi lebih indah kan? Pengorbanan di awal ini untuk mendapatkan hasil lebih baik di kemudian hari.

Ini adalah contoh Lantana camara yang rajin saya pangkas bunganya. Sekarang sudah mulai lebat dan saya masih perlu memangkasnya sampai daunnya benar-benar lebat dan ukurannya sudah cukup cantik jika berbunga kelak.

 

Jadi, jika sahabat mempunya tanaman kecil yang berbunga, tidak ada salahnya memangkas bunganya sekarang. Karena penampilan bunga dengan daun atau badan yang terlampau kecil akan terlihat tidak segar dan memberatkan tugas si tanaman sindiri. Jadi jangan ragu untuk memangkas bunga! 😀 Tapi jangan tiba-tiba pangkas bunga tetangga lho ya… 😆

 

Kapan-kapan saya akan tulis bagaimana memangkas/pruning cabang tanaman untuk meningkatkan jumlah cabang atau membentuk badan tanaman! 🙂

 

Oh iya, masih ingat dengan stek tanaman saya, di postingan ini: Easy Cutting sebulan yang lalu? saya mencoba stek Pseudarentemum jessica dan Lantana camara. Sekarang mereka sudah siap dipindahkan!

 

Meskipun stek Lantana camara gak berhasil 100%, tetapi masih oke lha. Sedangkan si jessica 100% berhasil. Sekarang tinggal cari tempat dimana saya akan pindahkan tanaman ini. 🙂

 

Hmmm… satu lagi, tanaman yang saya tanaman dengan geragihnya, dapat minta di kantor teman sekarang sudah berbunga! Seneng nya! Sebulan aja sudah pada rame bunganya!

Coba tebak apa nama tanaman ini? Next posting tentang gardening saya akan bahas tanaman ini dan bagaimana saya menanamnya, Okeh! 😀

 

Salam Kebun!


Si Cantik yang Penuh Racun

Gardening time!!!

 

Siapa yang tidak senang jika berada di antara bunga-bunga dan tanaman hias dalam taman. Keindahan dan keasriannya mampu membuat perasaan menjadi relax dan bahagia. Tidak salah banyak orang yang mau meluangkan waktu untuk pergi ke taman atau kebun raya, bahkan meluangkan uang untuk membuat taman yang indah di halaman rumah.

 

Jangan senang dulu, apakah sahabat tahu bahwa beberapa bunga dan tanaman hias juga menyimpan racun yang berbahaya, bahkan bisa menyebabkan kematian? Kasus keracunan karena tanaman hias beracun memang sangat jarang terjadi, tetapi tidak ada salahnya jika sahabat tahu siapa saja para “tersangka” agar dapat melakukan pencegahan.

 

Kali ini saya merangkum dari hasil presentasi teman-teman saya masih ketika duduk di bangku kuliah, dan ditambah dengan bacaan dari berbagi sumber mengenai para “tersangka” ini. Tanaman–tanaman ini saya pilih berdasarkan tingginya popularitasnya di lingkungan kita. Perhatikan, apakah sahabat mengenali salah satunya?

 

Dieffenbachia


Kita menyebutnya Daun Bahagia. Tanaman ini sangat popular di Indonesia, tidak hanya karena mudah perawatannya, tetapi juga karena mudah dikembangbiakkan. Siapa sangka tanaman ini jika tertelan daun atau cairan tubuhnya dapat menyebabkan diare dan radang yang perih pada daerah pencernaan seperti bibir, mulut dan kerongkongan. Pada jumlah besar bahkan dapat menyebabkan kesulitan bernafas dan kematian. Selain tertelan, getah tanaman ini dapat menyebabkan iritasi pada kulit.

 

Kandungan kalsium oksalat dalam tanaman ini yang ternyata memicu reaksi tersebut. Konon hasil gerusan tanaman ini dijadikan racun pada panah suku–suku di Afrika. Di negara maju, mereka sudah jarang menempakan tanaman indoor ini di sekitar rumah dan perkantoran yang sering di lalui anak-anak. Mungkin mereka takut anak-anak mengira tanaman ini adalah bayam! 😀

 

Oh iya, sahabat kenal dengan saudara jauh tanaman ini, Aglaonema? Meskipun tidak sedasyat si daun bahagia, tanaman ini juga tergolong beracun. Nah Lho!

 

Anthurium


Hohohohoo…. Siapa yang tidak kenal gelombang cinta? Tanaman-tanaman dalam grup ini hampir sama dengan Dieffenbachia, mengandung kalsium oksalat yang menyebakan gangguan mulut dan saluran pencernaan. Plus, adanya enzim yang menyebabkan alergi, air liur berlebih, rasa gatal dan panas. Meskipun racunnya dalam kategori sedang, tanaman ini menyebabkan gagal ginjal pada kucing dan hewan peliharaan.

 

So, kita cukup mengagumi daunnya ya, tidak perlu sampai dimakan, atau jadi pakan hewan kesayangan. 😆

 

Brunflesia


Saya tidak tahu nama lokal tanaman ini, tapi saya pernah bekerja dengan tanaman ini, mulai dari angkut, pangkas, sampai memupuk. Tanaman ini memiliki keunikan yaitu warna bunga yang akan berubah seiring waktu, saat bunga mekar, warnanya akan ungu, kemudian akan memudar menjadi pink, hingga berubah menjadi putih. Saya dulu berpikir bahwa bunga ini memiliki 3 warna bunga :mrgreen: Jika bunganya bermekaran akan menghasilkan bau yang harum semerbak, hampir mirip dengan melati, tetapi sedikit berbeda.

Seluruh bagian tanaman ini mengandung racun, terutama pada buahnya. Meskipun masih dalam kategori racun sedang, gejala racun tanaman ini menyebabkan gangguan saraf motorik.

 

 

 

Lantana


Kita menyebutnya tahi ayam, tembelekan, atau telekan. Mungkin karena bau tanaman ini yang tajam dan khas. Tanaman ini pada dasarnya adalah gulma bagi orang agronomi, tetapi adalah tanaman hias bagi orang hortikultura 😀 Tanaman ini memiliki banyak variasi warna, bahkan sudah ada jenis hybrida-nya.

Siapa sangka tanaman yang kini banyak menjadi tanaman lanskap ini menyimpan racun kategori berat yaitu jenis triterpenes. Daunnya sendiri dapat menyebabkan iritasi dah gatal-gatal. Jika tertelan, terutama buahnya yang masih mentah, maka akan menyebabkan meningkatnya sensitivitas kulit terhadap matahari, kerusakan hati, muntah, diare, pembesaran pupil, dehidrasi dan lemah. Kasus Lantana ini banyak menimpa ternak-ternak di Australia, maka dari itu tanaman ini diberantas dengan serius dari daerah peternakan.

 

Mirabilis


Ini dia bunga pukul empat! Pasti pernah melihat tanaman ini. Dulu sewaktu kecil saya sering bermain dengan bijinya. Bijinya berwarna hitam dan di dalamnya terdapat zat seperti tepung, lalu saya bermain dengan dioleskan ke muka seperti bedak 😆

Tanaman kategorei racun sedang ini mengandung racun pada akar dan biji! Apabila tertelan maka akan menyebabkan sakit perut, mual, muntah, diare. Bersentuhan dengan akarnya akan menimbulkan gatal-gatal.

 

Nerium

Bunga Mentega, orang sunda menyebutnya kere atau jure. Mungkin adalah satu tanaman paling beracun di dunia, sehingga beberapa orang menyebutnya Tumbuhan dari neraka 😯  Tanaman ini banyak tumbuh di daerah tropis, khususnya digunakan sebagai tanaman pinggir jalan, karena bunganya yang indah dan mekar serempak.

 

Bunga mentega mengandung racun di seluruh bagian tubuhnya. Racunnya tergolong sangat tinggi hingga para ahli menggambarkan bahwa cukup satu daun dari Nerium untuk mematikan seorang anak-anak atau bayi! Banyak kasus keracunan tanaman ini dilaporkan di seluruh dunia, tetapi tidak sampai pada kasus kematian.

 

Racun paling penting dalam bunga Nerium oleander adalah oleandrin dan nerrine yang berhubungan dengan glikosid jantung terkosentrasi pada getah putihnya. Getah ini jika terkena kulit dapat menyebabkan kulit mati rasa, radang dan alergi. Sedangkan jika tertelan akan menimbulkan gejala sakit pada organ pencernaan, seperti muntah, perut sakit, diare yang disertai pendarahan, dan gejala pada organ jantung, seperti debar jantung tidak teratur bahkan pada kasus ekstrim korban mengalami sirkulasi darah tidak teratur, pucat dan kedinginan. Kasus lain menyebutkan keracunan bisa menimbulkan gangguan saraf pusat dan hilang kesadaran.

 

Nah, sahabat apa sahabat mengenal tanaman-tanaman di atas? Masih banyak tanaman hias beracun lain, tetapi ini dulu ya 😀

 

Penanggulangan keracunan akibat tanaman sebaiknya dilakukan sesegera mungkin setelah gejala tampak untuk mengurangi akibat buruk yang lebih jauh. Jika iritasi terjadi pada kulit, maka segera bilas dengan air yang mengalir segera, jauhkan dari paparan sinar matahari dan garukan. Jika gejala semakin parah dan sakit, segera bawa ke paramedis.

Jika tertelan, maka sebaiknya minum banyak air, atau jika baru terjadi dan memungkinkan sebaiknya dimuntahkan untuk mengeluarkan racunnya. Minum zat penawar racun seperti air kelapa, susu dan pil arang. Jika kondisi semakin parah, sebaiknya segera larikan ke rumah sakit. Jika terjadi pada hewan ternak atau kesayangan, sebaiknya segera bawa ke dokter hewan.

 

Bunga dan tanaman hias memang banyak manfaatnya bagi manusia, tetapi kita harus tetap bijak dalam penggunaannya. Letakkan tanaman-tanaman beracun jauh dari jangkauan anak-anak, dan tentunya awasi gerak-gerik anak dan hewan kesayangan kita saat bermain dengan tanaman. Untuk mengurangi resiko iritasi dan alergi pada kulit, sebaiknya gunakan sarung tangan saat berkebun, dan tentu saja membersihkan diri sebelum makan dan minum.

 

Tentu saja sahabat tidak perlu menjadi parno atau kemudian memangkas semua tanaman di halaman, sekali lagi, ini hanya pengetahuan, selalu bijak dan berhati-hati adalah modal utama untuk keselamatan di semua bidang bukan?

 

Salam Kebun!

 

Gambar: Om google dan koleksi pribadi


Mewarnai Bunga?

This idea came up from my script when I was student, It’s easy and fun! Try it!

 

Hi Sahabat Blogger, kita bicara tentang pertanian lagi hari ini, khususnya tentang penelitian saya sewaktu saya masih duduk di bangku kuliah. Eits, jangan keburu pergi dulu, saya gak akan menjabarkan “hasil dan pembahasan” yang dipenuhi table, grafik, olah data statistika apalagi hasil uji orlep! Hahahahahah… Saya yakin semua sahabat di sini bisa memahami tulisan kali ini, saya membuatnya easy dan aplikatif!

 

Pernahkan sahabat mewarnai bunga potong? Atau pernah melihat iklan bunga potong yang diwarnai? Saya yakin semua tahu, tapi belum tentu semua pernah mencoba.

 

Tanya:  Kenapa harus mewarnai bunga, kan bunga sudah berwarna-warni?

Jawab: Tidak semua bunga mempunyai keragaman warna, melati dan sedap malam adalah contoh bunga yang hanya memiliki satu warna.

 

Tanya:  Saya bisa menemukan semua warna pada bunga, jika tidak ada warna pada satu bunga, saya tinggal subtitusi dengan bunga yang lain.

Jawab: Bagaimana dengan warna biru? Dimana anda mau menemukan?

 

Tanya: Biru? saya pernah dengar tentang mawar biru!

Jawab: Kenyataannya di alam pigmen warna biru tidak pernah ditemukan, bunga Delphinium adalah contoh bunga yang membawa pigmen delphinidhin, pigmen warna biru-keunguan, yang kemudian menghasilkan bunga-bunga “biru” lain dengan  proses biotekhnologi. Padahal hasilnya bunga tetap berwarna keungu-unguan.

 

 

Yup, itu sekedar latar belakang saja. Mudahan tidak pusing bacanya. Back to topic. Pewarnaan bunga secara buatan dilakukan dengan berbagai cara; pencelupan kelopak bunga ke bahan pewarna, penyemprotan dengan micro-sprayer, dan perendaman tangkai bunga. Tentu saja perendaman tangkai bunga adalah cara pewarnaan yang akan terlihat paling alami. Teknik ini yang akan kita coba!

 

Kali ini saya akan perlihatkan cara mewarnai bunga dengan pewarna biru.

 

  • Siapkan botol minuman plastik berukuran besar, potong bagian atasnya agar mulut botol menjadi lebih besar. Tambahkan air sebanyak 1 Liter.
  • Masukkan gula pasir kurang lebih 60 gram, larutkan.
  • Masukkan pewarna makanan cair warna biru yang ada dipasaran sebanyak kurang lebih 40 ml.  saya sarankan range konsentrasi antara 20 ml-80 ml/L. Saya pakai merk Kupu-Kupu 😀
  • Masukkan asam sitrat/garam asam/sitrun secukupnya. Itu lho bahan yang bikin rasa sirup jadi asem-asem seger…

Jenis Pewarna Makanan Cair di Pasaran

 

Sahabat bingung menakar gula dan asam sitrat? Jangan khawatir, sahabat hanya perlu menambahkan sedikit demi sedikit, sambil di-icip, jika rasanya sudah menyerupai air es buah atau jus buah kemasan, berarti sudah cukup  🙂  Tidak akan sakit perut, semua bahan-bahan di atas memang untuk makanan.

 

Mawar, Gladiol, Anyelir dan Sedap Malam

Bahan celupan sudah siap. Sekarang kita persiapkan bunga potongnya. Bunga yang saya pakai adalah bunga sedap malam, gladiol, anyelir, dan mawar. Kesemuanya berwarna putih. Sahabat bisa juga bereksperimen dengan bunga yang lain. Jangan takut mencoba!

Pilih bunga yang paling segar atau baru, semakin segar semakin bagus. Pilih juga yang setengah mekar atau 75% mekar, jangan yang terlalu kuncup. Bersihkan tangkai dari daun berlebihan, potong tangkai sekitar panjang yang kita inginkan, dan celupkan. Tunggu sekitar 2-4 jam atau lebih sampai warna terlihat naik ke atas.

Contoh proses perendaman

Setelah selesai, kita bisa potong sedikit bagian ujung tangkai yang  berwarna, cuci bersih, dan masukkan ke dalam vas berisi air seperti biasa.

 

Tips tambahan dari saya: Lakukan pewarnaan pagi dan siang hari, aktivitas bunga pada malam hari akan menurun, sehingga penyerapan akan berjalan lebih lama. Potong ujung tangkai menyerong untuk memperluas permukaan serapan.  Kering-anginkan bunga  di tempat teduh dan kering sebelum dicelupkan selama  1 -2 jam untuk meningkatkan respon penyerapan.

Hampir semua warna bisa diaplikasikan pada bunga. Tergantung pada jenis warna dan jenis bunga. Warna kuning dan merah adalah warna yang responnya paling baik untuk bunga. Setiap bunga menghasilkan motif berbeda pada pewarnaan.

 

Nah, bagaimana? Mudah bukan? Tertarik untuk mewarnai bunga? Teman saya pernah lho mencoba tips ini untuk menyelaraskan warna tema pada pernikahan yaitu sedap malam dan krisan biru. Sedangkan di lain kesempatan, saya mencoba warna kuning untuk menambah manis acara pernikahan teman yang bertema Gold.

Contoh Hasil Perwarnaan Biru pada Mawar

Contoh Pewarnaan Biru pada Anyelir

 

Contoh Hasil Perwarnaan Biru pada Gladiol

 

Contoh Hasil Perwarnaan Biru pada Sedap Malam

Contoh Sedap Malam Kuning pada Dekorasi Pernikahan

 

***

Pesan saya untuk sahabat, jangan takut mencoba. Saya tunggu hasilnya ya! 😀

Salam Kebun!


Sansevieria Cutting

Hallo sahabat bloggers! Sudah lama rasanya saya tidak menulis tentang tanaman. Kali ini saya sedikit berbagi ilmu tentang satu tanaman yaitu: Sansevieria.

Pernah mendengar nama tanaman ini? Bagaimana dengan nama lokalnya, Lidah Mertua? Saya yakin anda tahu. Tanaman jenis sukulen ini sering ditemukan di berbagai tempat di Indonesia. Tidak hanya gampang perawatannya, tanaman ini juga tahan banting dengan berbagai kondisi lingkungan, terutama panas dan kering. Tidak heran anda sering menemukannya di tepi jalan, di taman dan halaman perkantoran, atau bahkan di pot-pot kecil di kedai penjual tanaman hias indoor.

Tanaman yang umumnya diperbanyak dengan pemisahan anakan atau rhizome ini beberapa tahun yang lalu sempat menjadi trend karena bentuk species-speciesnya yang unik dan sifatnya sebagai tanaman anti-pollutant, yang berarti tanaman ini sangat cocok di tanam di perkotaan atau tempat berpolusi tinggi karena dapat menyerap racun yang tersebar di udara. Nice plant yet useful!

Di daerah perkotaan tanaman ini mungkin agak sedikit sulit ditemukan, terutama species atau varietas tertentu yang memang tergolong mahal. Tapi kita tetap bisa menemukan di nurseri atau penjual tanaman hias di sekeliling kita. Jika seadainya kita ingin menanam tanaman ini di satu pot saja, tidak akan menjadi masalah jika kita hanya membeli 1 pot berisi satu tanaman, bagaimana jika kita ingin menanamnya di taman atau menanam di banyak pot sedangkan dana yang tersedia terbatas? [dalam kasus ini tanaman yang kita beli adalah berjenis langka dan mahal]

Yup, perbanyakan adalah jawabannya! Tapi berapa lama kita akan menunggu induk tanaman memiliki anakan? Saya sendiri tidak dapat memberikan gambaran berapa lama. Tergantung pula pada kesuburan tanah dan perawatannya. Ssttt..ternyata kita bisa memperbanyak tanaman ini dengan stek daun!

Kelebihan stek daun pada tanaman ini adalah kita bisa memperbanyak 3-5 unit dari satu daun panjang. Kelemahannya adalah pertumbuhannya tidak secepat pemisahan anakan, dan hasil anakan stek daun bisa berubah, atau tidak serupa dengan induknya (warna dan motif), dalam kasus tanaman hias ini bisa menjadi kejutan menarik atau malah bencana bagi mereka yang menginginkan keseragaman. Well, itu terserah anda. Bagi saya tidak masalah jika kita mencoba memperbanyak dengan stek daun, selagi menunggu indukan mempunyai anakan, ya kan?

Cara membuat stek daun pada Sansevieria;

  • Potong satu ruas daun paling terluar pada bagian terbawah [mendekati akar].
  • Potong satu ruas daun tersebut menjadi 3-5 ruas, tergantung panjang ruas, satu potongan kira-kira sepanjang 10-15 cm. Tandai bagian atas/bawahnya dengan marker.
  • Biarkan di tempat kering dan sejuk selama 1 minggu, bagian terpotongnya akan sedikit mengering
  • Setelah satu minggu, tancapkan pada media tanam, pastikan media berdrainase baik dan selalu lembab.  Jangan sampai tertukar antara bagian atas dan bawah.
  • Kurang lebih setelah 3 minggu, stek daun tersebut akan berakar, setelah akar mulai banyak, anda bisa memindahkannya di masing-masing pot.

**

Gampang kan!

Lihat saya pernah mencobanya dengan dua jenis sansevieria, dan berhasil!

Stek daun sudah berakar dan belum berakar

Akar stek daun berumur 4 minggu

Stek daun berumur 1.5 bulan

Bagian putih tersebut adalah calon daun baru

 

Selamat mencoba! Salam Kebun! 😀


Camera Handphone? Let’s try!

Hari ini iseng-iseng saya melihat DVD back-up dari laptop yang lama, Wah, saya menemukan folder yang berisi foto-foto yang saya ambil semasa kuliah dengan menggunakan kamera handphone, tepatnya SE K750i. Saya ingatwaktu dulu, k750i sudah menjadi handphone kebanggan dengan kamera yang memukau bagi saya, hasilnya bisa di adu dengan kamera 2Mpix yang lain. Intinya kamera k750i ini sudah cukup memuaskan keinginan saya dalam urusan jepret-jepret.

Saya pun melihat satu demi satu kumpulan foto-foto tersebut, *wak! hahahahahha… sekarang foto-foto itu tampak mengenaskan, bukan karean si foto berubah jadi jelek, tetapi karena kebiasaan saya yang sudah berubah menggunakan DSLR membuat hasil kamera k750i tampak jauh lebih buruk, ya iya lha, masa jauh lebih bagus. 😀

Saya pun iseng-iseng mengambil beberapa foto yang saya anggap bagus, kemudian saya coba edit dengan photoshop. Hasilnya? Nice! Kekuatan editing telah banyak meningkatkan “nilai” dari foto tersebut :D, Jadi jangan minder bagi yang hanya punya kamera HP, selalu ada jalan menuju roma, selalu ada jalan menghasilkan foto yang bagus. Akhirnya 10 foto saya edit hari ini, lumayan bisa untuk wallpaper atau koleksi semata. Acara reuni saya hari ini dengan foto-foto lama dari kamera HP tidak mengecewakan. Pada gambar saya menampilkan dua gambar sebelum dan sesudah edit. Editing yang saya lakukan seputar pada warna, level, blur dan, sharpen. Cekidot! Anda juga pasti bisa! 😉

**Maklum saja jika foto-fotonya seputar tanaman, karena emang saya anak pertanian 8) , kalau handuk pink dan biru itu adalah properti di kost-kostan.. 😀

 

Nah, ternyata kamera HP pun bisa juga unjuk gigi kan? Keep Hunting! Salam Jepret! 🙂


Loneliness

Kesendirian. Menjadi sendiri tidak selamanya berhubungan dengan kesedihan. Dengan kesendirian terkadang kita bisa melihat segalanya lebih dekat, melihat hal-hal kecil yang awalnya sulit terlihat, dan melihat diri kita sendiri jauh lebih dalam. Kesendirian juga bisa menjadi suatu kebutuhan bagi orang-orang yang mencari inspirasi, mengevaluasi diri atau sekedar mengistirahatkan bathin yang letih.

Kesendirian, aku mengartikannya sebagai keadaan saat raga hanya ditemani jiwanya sendiri, tanpa batas, tanpa alasan, tanpa kata-kata… :mrgreen: [sotoy mode: on]


Spotlighted by Sun

Sorotan Matahari. Beruntung rasanya bisa menemukan moment  unik yang hanya terjadi pada waktu-waktu tertentu. Salah satunya saat suatu objek mendapat sorotan matahari, “spotlight” tersebut seakan menyapa ramah, dan memberikan efek kontras dan megah, seperti bintang yang akan tampil di panggung megah “Please welcome miss….!” Hmmm… inilah oleh-oleh dari hasil “blasak-blasak” jaman dulu, please enjoy…


Rain and Inspiration

Hujan, kadang banyak memberikan inspirasi bagi banyak orang. Meskipun tidak semua orang selalu merasa bahagia saat hujan turun. Kadang kala duduk sejenak menikmati hujan turun bukanlah pilihan buruk. Sambil duduk santai di beranda rumah, ditemani pisang goreng dan teh hangat, mencium bau tanah yang diselingi angin sejuk dan gemericik titik air.

Aku adalah penikmat hujan. Manusia biasa yang ingin merasakan rasa syukur dari rumput dan daun yang menjadi basah. Apakah kamu juga?