Frames, Green, Rustle and Sweet Tea

Flora

Weekly Photo Challenge: Wildlife

Wildlife? Again! I found the theme of this week is so difficult, yet really challenging! 😆 For me now, who’s living in Kalimantan, where’s jungle and wildlife surely exist. I was thinking to go somewhere like a jungle nearby and find such cute animals like deer, monkey, or beautiful bird, instead of boar, wild dog or even giant snake! Those last three I mentioned are an enough reason for me to keep apart from their nest 😛

Thus, I chose 4 pictures from my collection, hoping they would be good enough for “wildlife theme” Check them out!

I ever posted long time ago some of wildlife I saw in North Carolina Zoo here, but I have never posted this one. I took the picture from outside  a big paludarium where’s some of colorful and poisonous frogs living in.

**

She is Ingrid, my friend from Nicaragua, standing next to a safari car of NC Zoo. I think this is also typical wildlife style. The popular car I saw in every africa wildlife film! 😆 but, yeah without that cute color of course! 😀

**

Where do you think this place should be in? 😀 You can find it behind a rectorate of my university (IPB). If you walk down to rectorate building from the library, you’ll pass the LSI bridge, with Lake LSI on the left and this jungle view on the right. It was still early morning when I took the picture, that’s why you can see the fog made the view really picturesque!

**

I don’t know what bird it is. I got it on a tree behind my house. One of many kinds of bird sang and flew around everyday here. Lovely one! 🙂

Salam Jepret!

*All pictures edited with Lightroom 3.3 & Photoshop Cs5

Advertisements

Kaktus “Captain Hook”

Seperti janji saya di postingan sebelumnya, saya akan ceritakan tentang kaktus yang durinya menyerupai pengait ini.

Kaktus ini tumbuh di sebuah pot di halaman samping rumah saya. Mama sangat benci ke kaktus ini karena seperti yang saya ceritakan, kaktus ini selain punya duri keras yang pendek dan berwarna putih itu, dia punya beberapa duri panjang berwarna gelap di bagian tengah yang ujungnya menyerupai pengait atau kail.

Kail atau pengait ini mudah sekali mengait tangan, kulit, dan benda-benda yang berpori atau berserat seperti kain, benang, bahkan daun tanaman lain. Selain menyebabkan nyeri karena durinya nyangkut, jika kita tidak hati-hati melepaskannya, maka pengait-pengait disebelahnya bisa ikut-ikutan nyangkut! Repot banget!

Lha kok dilalah, kaktus ini sengaja dicuekin, tapi pertumbuhannya gak juga merana, anakannya malah tumbuh banyak seperti kumpulan kue bulat-bulat kecil dan akhirnya membentuk bola besar yang penuh pengait. Sampai akhirnya Mama pernah menyuruh saya untuk membuang kaktus ini, karena lebih banyak menimbulkan mudharat daripada manfaat, hehehehe… tapi berhubung saya ngerasa eman-eman, saya simpan aja di daerah tersembunyi yang jarang dilalui orang, jadi tidak menggangu kan?

Satu hari saya iseng menggunting duri-duri pengait itu, dengan tujuan biar kaktus itu terlihat sedikit “ramah”. Berhasil untuk hari itu aja. Setelahnya duri pengait itu akan tumbuh lagi dan lagi. Saya jadi berpikir, apa sebenarnya manfaat duri pengait itu ya?

Lihat bagaimana benang, daun kering, kerikil dan benda-benda lain bisa tersangkut disana.

**

Suatu hari saya melihat ini

Bangkai apakah itu?

Itu bangkai katak malang yang terjebak oleh duri pengait si kaktus.

**

Dari sedikit observasi akhirnya saya bisa mengambil kesimpulan manfaat dari duri pengait itu. Hipotesis saya kira-kira seperti ini, bisa jadi benar-bisa jadi salah, tapi cukup realistis, imho  😛

  1. Duri pengait kaktus digunakan sebagai perangkap hewan kecil yang singgah pada tubuh kaktus. Contohnya katak malang di atas. Tentu saja semakin gesit sang katak mencoba meloloskan diri, semakin banyak duri pengait yang menangkapnya, sehingga katak tersebut tidak dapat bergerak dan mati pelan-pelan di atasnya. Terus apa untungnya bagi si kaktus? Tentu saja, sari-sari makanan dari tubuh katak akan terurai dan akhirnya diserap oleh kaktus, sehingga kaktus secara tidak langsung mendapat zat hara. Bisa jadi ini kaktus karnivora! *hihihihi.. lebay
  2. Duri itu adalah alat penyebaran populasi kaktus. Satu kali saya tersangkut oleh duri pengait kaktus yang ukurannya kecil, dengan mudahnya si kaktus ikut tercabut dan ikut di tangan saya, saya tentu berusaha mencabut dan melemparkannya ke tempat lain. Nah! Justru dengan teknik “nyangkut” itu, kaktus kecil itu akan mulai berkembang di tempat baru dan membentuk koloni barunya. Jadi, jika ada hewan besar atau manusia yang tidak sengaja tersangkut durinya, si kaktus bisa ikut dan berpindah tempat dan beranak pinak di tempat baru itu. Saya sudah lihat beberapa anakan yang jatuh di tanah disekitar induknya sekarang mulai tumbuh.

Hampir sama dengan teknik penyebaran tanaman “rumput bujang” yang duri-duri lunaknya suka nyangkut di celana atau kaos kaki kalau kita melewatinya. Yang nyangkut itu kan sebenarnya biji-bijinya, dan saat kita melepaskannya, si biji sudah berada di tempat yang jauh dari induknya. Mungkin pembaca ingat cerita tentang pohon “kitiran“? Nah kalau itu teknik penyebarannya dengan cara terbang! 😀

**

Sungguh Maha Besar Tuhan yang menciptakan segala hal dengan sebuah alasan dan manfaat, bahkan untuk sebuah duri pengait yang kita kira sebuah “musibah”, ternyata mempunyai tugas mulia bagi si kaktus.

Semoga pengetahuan ini tidak hanya memperluas wawasan kita tentang tanaman, tetapi juga mengandung renungan tentang hikmah sebuah penciptaan.

Salam Kebun!


Weekly Photo Challenge: Round

Round? It could be the easiest theme of Weekly Photo Challenge so far since I have a bunch of photos merely supported this theme. But for some reasons,  I really wanted to take the challenge by capturing new photos I would take this week. Should be easy I thought.

In fact, I didn’t get any good photo in the first 3 days 😦 What a lame! It had occupied my thought in couple past days, even a busy days couldn’t distract me from this “roundness”. In the middle, kind of admitting it’s quite hard to get “round” photo in (only) a week. It was simple yet sounded easy, but no more.

Thanks God, I found them at last!

Wheel, might be the popular chosen for the theme. I had checked out some of the participant’s and it is! 😆

On Tuesday, I was in the middle of shooting an high school anniversary parade for documentation purpose. There were some cops along the route since the parade obviously took more than a quarter of the road width, and caused traffic at the moment! 😛   I stood on the edges of the road and found a motorcycle of traffic cop parked in the middle of the road. Looks cool! I’ve never been that close with that motorcycle, and suddenly thought to approach and capture it. Hey! Round wheels! I got one! 😀

**

I found this cactus beside my house. This is actually my Mom most hated cactus. That’s why my Mom doesn’t look after this cactus very well and just put the pot in any hidden place, somewhat abandoned. Fortunately, this cactus is so vigorous one and used to raise abounding shoots turned them into a “giant thorn ball”.

Can you guess why my Mom hates this cactus terribly? This cactus has so many short-tough white thorns PLUS long-dark thorns like hook worsen it’s performance. If you see carefully, in the middle of every round, you can find “the hooks”. That hooks easily hook your hand, skin, or anything with pores when be touched, surely it’s a bit hurt, and when you start to release the hook  carelessly, I guarantee another hook already caught you! My Mom simply said: Annoying cactus!

In the next post, I will tell you about this special cactus, those special hooks and the reason I found behind why they have hooks! Hmm, It’s interesting!

Happy Blogging!

PS: Mulai besok internet sudah lancar lagi! Cihuy!


Sayuran Merah

Sayuran atau bahan makanan berwarna merah memang terlihat menarik mata dan mengundang perhatian. Merah atau merah keunguan tentunya bukan warna “biasa” untuk sayuran. Berbeda dengan buah-buahan, warna merah adalah warna yang memikat orang untuk segera merasakan kesegarannya.

Kata info yang saya dengar dan baca, sayuran atau makanan merah umumnya lebih kaya vitamin, mineral, anti-oksidan, bahkan protein yang lebih tinggi daripada versi non-merahnya.

Nah, mungkin bagi Ibu-ibu yang suka bergelut dengan pasar dan dapur, sayuran dan makanan merah terdengar biasa, tapi bagi saya yang masih belia ini *halah* tentu aja terdengar “wow”. Saya sedikit cerita tentang beberapa sayuran merah yang saya temui di sekitar saya…

BERAS MERAH

Sewaktu bayi Mama bilang saya selalu makan bubur instant rasa beras merah.. tapi toh akhirnya sampe mahasiswa saya baru pertama kalinya makan beras merah ini saat jalan-jalan ke Lembang dengan teman saya yang asli orang sana. Saya ingat, kita lari pagi naik turun bukit, sampe akhirnya sampe pada sebuah warung yang menjual nasi merah dengan ayam goreng dan sambal lalapan! Mantap!

Rasanya? biasa aja kok… hehehehhe… mungkin karena ngerasa beras merah lebih banyak vitamin, saya lebih semangat makannya! 😀

BAYAM MERAH

Kalo yang ini, semenjak kecil sudah pernah saya lihat, rasanya sama persis dengan bayam hijau. saya selalu semangat kalau Mama pulang ke pasar beli bayam merah, sedangkan yang hijau saya sudah kaya gizi, apalagi yang merah ya??? Mantap!

JAGUNG MERAH

Hihihihihhi… kaya mainan ya? Saya jadi ingat dulu ada praktikum biologi jaman kuliah yang pake jagung mainan warna loreng2 kuning merah, eh ternyata ada beneran! 😆 Saya sih belum pernah makan, katanya jagung merah tergolong jagung manis, sering dijual di supermarket-supermarket. Ada yang tau rasanya??? Kayanya enak! ^^

KOL MERAH

Kalo ini sebelumnya saya sudah pernah ngelirik di supermarket, cuma ngelirik doang gak beli, heheheheh… Justru pertama kali makan waktu di US, temen dari eropa suka banget beli kol ini, padahal kol putih yang sering saya beli lebih murah a.k.a. ngirit 😛 Satu kali saya iseng minta kol merah punya dia… rasanya… hmmm… mirip, cuma agak pahit2 dikit. wkakakkakak…. jadi pengen nge-sup pake kol itu, gimana jadinya ya???

KACANG PANJANG MERAH


Nah kalo ini baru sebulan yang lalu nangkring di dapur rumah! Wkakakakaakak… Jujur that’s the first time I saw it! Mama ujug-ujug pulang dari pasar bawa sayur ini dua ikat, saya bengong sebentar, kabur ke kamar, ambil kamera dan jepret! 😀

Mama bikin sayur asam pake kacang panjang merah ini, warnanya jadi merah gelap saat sudah masak…hmmm… rasanya?? Lebih renyah dan tebal kulitnya, sisanya sama dengan kacang panjang hijau… dan saya yakin gizinya lebih banyak dari yang hijau.

Nah sahabat, apa sahabat sudah mengenal sayuran-sayuran merah ini juga?

Ada pengalaman memakannya?

Ayo di sharing di sini! 😀

Happy Blogging!

Sumber gambar Beras merah, bayam merah, jagung merah, kol merah.


Pohon “Kitiran”

Masa kecil saya di Kalimantan, memang dekat dengan alam. Komplek Perumahan PG. Pelaihari memang berada di tengah rimba dan kebun tebu. Jadi wajar saja kalau saya dan teman-teman akrab sekali dengan kegiatan outdoor dan petualangan di alam bebas, kalau istilah jawanya: blasak-blasak!

Di belakang komplek saya dulu ada sebuah hutan, khas hutan hujan tropis kalimantan, yang ditumbuhi semak dan pohon besar. Beberapa titik tanah kosong di sekitar perumahan itu sudah mulai digarap oleh warga sebagai kebun, meskipun tidak banyak, dari ketela pohon, ubi jalar, jagung dan lain-lain. Sehingga saya dan teman-teman harus masuk lebih dalam ke hutan untuk bermain, soalnya kalau main di kebun orang bisa dimarahin, suka bikin rusuh dan porak poranda kebun, hahahaha…

Suatu hari saya mungkin masih duduk di kelas 2 atau 3 SD, teman-teman saya mengajak saya berpetualang ke dalam hutan. Iseng-iseng kami ingin mencari biji-bijian berwarna abu-abu kehitaman seperti manik-manik, yang bisa di bikin kalung dan gelang, uniknya biji-bijian itu punya lubang di tengahnya sehingga gampang untung dirangkai dengan benang…entah apa namanya. Ada yang tahu?

Banyak cerita tentang seramnya hutan itu, banyak anak-anak yang lebih besar mengatakan agar kami tidak masuk hutan terlalu jauh, karena bisa tersesat. Meskipun ragu-ragu, dengan dalih mencari sumber biji-biji itu lebih banyak, toh akhirnya saya ikut acara masuk hutan itu dengan berpesan pada diri kami untuk mengingat setiap jalan yang kami lalui agar bisa kembali pulang. Saya lupa, mungkin kami berjumlah sekitar 4-5 anak.

Petualangan itu di mulai setelah pulang sekolah. Diawali dengan melalui kebun-kebun, pisang-pisang, sampai alang-alang, dan aliran sungai kecil yang masih jernih… Tapi sampai sejauh itu, kami belum menemukan tanaman manik-manik itu. Kami mulai kelelahan. Kami memutuskan untuk istirahat di bawah pohon. Beberapa orang mengeluh dan mengajak pulang. Kami mulai makan buah rambusa dan ciplukan yang kami temukan di sepanjang perjalanan. Ada yang tau tanaman ini? 😀

Rambusa (Passiflora foetida) masih satu keluarga dengan markisa, buahnya kecil seukuran duku, rasanya asem-asem manis, katanya sih itu makanan ular, hehehehe…

Sedangkan ciplukan (Physalis angulata), sekarang dikenal sebagai salah satu tanaman herbal yang kaya manfaat dan unsur obat. Rasanya manis jika sudah masak, plus ada rasa khas yang ciplukan yang tidak bisa saya gambarkan dengan kata-kata 😆

Tiba-tiba seorang teman saya mengambil sesuatu dari tanah. Sebuah benda seperti kelereng kecil dan bersayap.

“Woy ini kan… biji pohon…pohon… apa ya namanya? Tau nggak?” tanya dia ke anak-anak yang lain.

Kami menggeleng-geleng tidak tahu.

“Ini biji kitiran!” kata dia asal.

“Kitiran???” kami melihat benda asing itu.

Teman saya kemudian melempar biji bersayap itu ke udara, dan biji itu kembali ke bumi sambil berputar seperti baling baling bambu doraemon. Persis kitiran juga. Kami takjub!

“Wowwww… bagus!”

Teman saya mengajak kami untuk mencari pohon kitiran yang pasti ada di dekat sini. Kami bersemangat untuk menemukan pohon yang kami beri nama pohon “kitiran”. Agak susah juga karena kita harus melihat ke atas dan kebawah, mencari tahu pohon manakah yang pohon kitiran??

****************************************************************************************************************************

 Stop Press!

Hopea odorata

Famili: Dipterocarpaceae
Nama umum: Merawan (nama dagang untuk kayu dari beberapa jenis kayu keras ringan Hopea spp).

Penyebaran dan habitat
Asli Asia Tenggara, menyebar mulai India (Pulau Andaman), Myanmar, Thailand dan Indocina dan ke selatan sampai semenanjung Malaysia utara. Pada kebanyakan sebaran alaminya, jenis ini tumbuh di hutan tropis dataran rendah dengan tanah subur sampai ketinggian 300 m dpl, lokasi tumbuhnya tidak jauh dari sungai. Namun, populasi di India tumbuh di hutan basah selalu hijau pada ketinggian, jauh dari sungai. Pertumbuhan terbaik pada daerah bercurah hujan tahunan lebih 1.200 mm dan suhu rata-rata 25 – 27°C. Dapat tumbuh pada habitat yang beragam serta mudah dibudidayakan.

Pemanfaatan
Kayunya keras, ringan dan kuat, digunakan untuk konstruksi berat dan  ringan,  mebel, vinir  dan  banyak kegunaan lainnya. Kerapatan kayu 0,5 – 0,98g/cm3 pada kadar air 15%. Cocok ditanam pada tanah yang telah terdegradasi, juga banyak ditanam sebagai tanaman hias dan penaung. Kulitnya mengandung tannin tinggi, dapat digunakan untuk penyamak kulit, juga menghasilkan getah bermutu rendah (damar batu).

****************************************************************************************************************************

Akhirnya kami menemukan juga pohon kitiran itu, letaknya agak berjauhan dengan pohon-pohon yang lain, pohonnya tinggi dan lebat. di bawahnya kami banyak menemukan biji kitiran tersebut, mungkin ratusan jumlahnya, saya segera  mengantongi biji kitiran itu dengan kantong plastik yang kami persiapkan dari rumah untuk dibawa pulang.

Beberapa orang terlihat bersenang-senang dengan melempar-lempar biji kitiran itu ke udara, sangat menyenangkan bagi kami yang pertama kali menemukan biji bersayap aneh itu. Seorang anak malah naik ke atas pohon dan melempar banyak sekali biji kitiran yang sengaja diambil dari bawah, hahahaha… Kami girang dan tak henti bersorak.

Sampai pada suatu momen, tiba-tiba angin bertiup kencang beberapa kali, dan ratusan biji kitiran jatuh dari pohonnya. Itu adalah satu keindahan yang pernah saya lihat seumur hidup saya. Kami bersorak! Kami tertawa dan melompat. Biji-biji kitiran berputar, dan terbang jauh di tiup angin siang yang hangat, menyebar, berputar, berakrobat di angkasa, seolah-olah sedang menghibur kami yang kelelahan.

Biji-biji kitiran terbang jauh. Mereka kelak akan tiba pada suatu tempat yang jauh dari induknya, dan menjadi pohon kitiran muda dan akan menghasilkan lebih banyak biji kitiran. Tuhan sungguh Maha Indah…

Kami pulang. Meskipun tidak mendapat biji manik-manik, kami pulang dengan sekantong biji kitiran. Tidak henti-hentinya saya bercerita kepada teman yang lain, bahwa di dalam hutan ada sebuah pohon ajaib yang punya biji yang bisa terbang dan berputar. Itulah pohon kitiran. Saya memberikan biji kitiran ke teman-teman saya yang lain seolah-oleh ingin berbagi kebahagiaan tentang pengalaman indah tersebut.

***

Literatur dan gambar:

http://www.rimbundahan.org/environment/plant_lists/dipterocarpaceae/Hopea-odorata.jpg

http://lekowala.blogspot.com/2005/06/hopea-odorata-in-botanic-gardens_1156.html

http://bpthbalinusra.net/isbseedleaflet/99-merawan-hopea-odorata-roxb.html

http://kumpulanspasi.wordpress.com/2010/09/10/mengendarai-khayalan/

http://wikipedia.org


Dam Ranggang + Jamur!

Ini cerita jalan-jalan minggu lalu bersama seorang teman, namanya Dwi. Senin, 4/4/2011, saya dan mama pergi ke rumah teman mama, tetangga lama dulu, dan anaknya pun kenal dengan saya, ya Dwi itu. Rumahnya masih di perumahan Ex-Pabrik gula Pelaihari, tempat masa kecil saya dulu, sekarang sudah jadi pabrik sawit dan tidak seramai dulu.

Saya mengajak Dwi ke Dam Ranggang, sebuah bendungan yang mensupport kebutuhan air di pabrik tersebut. Tempatnya indah, dan bisa untuk mandi dan berenang. Untuk foto-foto dan cerita yang lebih lengkap saya sudah pernah posting di sini: Jalan-jalan ke Dam Ranggang

Kali ini bukan cuma melihat-lihat, saya juga sempat mandi-mandi di sana! Yihhhaaaa!

Jadi ada bagian yang bertujuan mengurangi kelebihan air yang keluar dari mata air bendungan tersebut, namanya tempat pembuangan. berbentuk lembah yang mengalirkan air ke sebuah sungai kecil. Daerah pembuangan ini aman, karena tentu saja tidak dihuni oleh tanaman air dan hewan aneh-aneh yang mungkin ada di bendungannya, contoh biawak, ikan emas raksasa atau buaya putih jadi-jadian, wuakakakakaka…

Dulu semasa kecil saya sering ke tempat ini dengan naik sepeda pedal bersama teman-teman, *kok kuat ya? dan pastinya kami mandi-mandi di tempat ini… sebuah tempat penuh kenangan… so sentimental for me…

Berikut slideshow dari foto-fotonya, slideshow ini dibuat dengan Picasa (hosting gratis buat nyimpen foto dari google itu lho) dan bantuan vodpod!  coba-coba eh ternyata bisa! 😀

Vodpod videos no longer available.

Sedikit cerita…

Air bendungan itu sekarang gak sejernih dulu, dan semilir-semilir ada bau ikan… mungkin karena bendungannya sendiri sudah banyak di bangun tambak ikan Nila. Jadi gak semankyus dulu, tapi masih layak kok.. hehehehee…

Sungai kecil di akhir pembuangan itu juga penuh dengan semak-semak, padahal dulu tidak sebanyak itu, dan banyak ikan kecil dan udang yang bisa ditangkap dengan mudah pake baki, seru lho!

Setelah berenang-berenang di sana, saya pulang, di perjalanan pulang, kami melihat Ibu-ibu yang sedang nungging-nungging di antara pohon kelapa sawit, mereka berburu jamur!

Jamur tumbuh di buah sawit yang tidak dipanen dan dikomposkan di antara barisan sawit. Menurut mereka jamur tersebut tumbuh banyak sebulan terakhir ini, dan bisa di buru setiap hari! Gratisan!

Jadi inget dulu, sewaktu kecil saya juga pernah berburu jamur, tetapi dari jamur dari pengomposan ampas tebu yang disebut belotong, ternyata di ampas kelapa sawit juga ada cuma ukurannya agak kecil. rasanya??? saya sempet makan hasil tumisannya, gak beracun dan enak! persis jamur gitu deh…*ya iya lha… hehehehe…

OK, sampai sini dulu laporan jalan-jalannya…

Happy Weekend!


Weekly Photo Challenge: Spring

It was spring 2009 in North Carolina, US. Some of ready harvested Dahlia groups are on the track waiting to be picked up by shipper of the greenhouses.

If you wanna get some awesome views of  “Spring Festivity”, visit a greenhouse! I bet they are in the busiest season with annuals and numerous kind of flowers. I never get bored…

 

Spring is time when you can see abounding flowers come up, smell the melted snow, feel the fresh air breezes, and touch a newborn sunlight…