Frames, Green, Rustle and Sweet Tea

Archive for 11 May 2011

Teori Bu Budi

Bu Budi, seorang ibu-ibu pemilik toko kelontong yang paling dekat dengan rumah saya, mempunyai teori sederhana unik untuk mengetahui siapakah pemilik uang atau pembeli yang membeli sesuatu di tokonya. Hmmm, mungkin pembaca sedikit bingung apa maksudnya, langsung saja simak dialog saya dengan Bu Budi berikut ini.

Siang itu saya mau baru pulang dari berenang, sebelum sampai di rumah, saya sengaja mampir ke toko Bu Budi untuk beli minuman. Saya keluarkan gulungan uang dari kantong kecil di dalam tas, karena biasanya saya menyimpan beberapa lembar ribuan di sana, dan saya memang sering menaruh kembalian uang di kantong kecil itu, alih-alih lebih praktis dan cepat, saya juga agak malas kalo harus membuka tutup dompet yang saya simpan di dalam tas juga, entah nyelip dimana. πŸ˜›

“Bentar bu, uangnya kelipet-lipet..” Saya mulai membuka gulungan lembaran seribuan danΒ  lima ribuan yang tertekuk dengan kaku, kira-kira seperti pada gambar. Agak susah menarik satu lembar seribuan diantara gulungan itu, sehingga malah membuat uang saya terjatuh-jatuh.

“Maaf bu, hehehehhe…” sembari memberikan uang kelipat-lipat itu seharga minuman.

Bu Budi tiba-tiba membalas, “Gak apa-apa, biasa kalo laki-laki uangnya memang suka dilipet-lipet gitu…”

“Hah? maksudnya bu?” saya tertarik dengan pernyataan beliau itu.

Begini kalo saya dapat uang yang kelipet-lipet kaya uang kamu gini, saya tau uang ini dipegang sama laki-laki, jadi maklum saja. Kalau yang pegang ibu-ibu atau mbak-mbak, kebanyakan mulus, soalnya biasanya keluar dari dompet. Beda lagi dengan anak-anak. Kalau anak-anak uangnya kusut, bahkan robek, soalnya diremet-remet (diremas-remas).”

“Oh begitu ya bu?” saya ngangguk-ngangguk…

“Kalau pembeli laki-laki biasanya jarang menghitung kembalian, biasanya langsung buru-buru digulung masuk kantong, makanya jadinya kelipet-lipet..”

“Hhahahaha, iya bu, saya gitu…” saya makin sumringah.

“Kalau Ibu-Ibu atau mbak-mbak pasti dihitung dulu, sudah dihitung, dimasukkan pelan-pelan ke dompet, baru pergi. Nah kalau anak-anak lebih lucu lagi… “ Bu Budi tersenyum.

“Kenapa bu kalau anak-anak?” saya penasaran.

“Kalau anak-anak, malah lari duluan sebelum di kasih kembalian, hahahaha… biasanya mereka lupa, jadinya saya yang harus teriak-teriak manggil…”

“Hhahaahahah… bener juga ya bu…”

**

Percakapan saya dengan Bu Budi diatas memberikan gambaran bahwa Bu Budi sebagai penjual, diam-diam juga memperhatikan pembeli-pembeli di warungnya, kebiasaan-kebiasaan unik yang dibedakan berdasarkan gender dan umur, sehingga lama-kelamaan menjadi “teori” yang bisa dibuktikan berdasarkan pengalaman. Jujur ini suatu hal yang baru saya ketahui dan menurut saya cukup menarik. πŸ˜€

Pada teori ini wanita cenderung lebih rapi dan apik memegang uang sehingga kondisi uang biasanya baik dan mulus, sedangkan pria lebih cenderung terburu-buru, cuek dan gak mau ribet, sehingga bentuk uang yang dipegang suka terlipat-lipat. Anak-anak tentu lebih sembrono lagi karena pikiran mereka masih sangat sederhana, yang penting uangnya bisa masuk kantong. πŸ˜€

Nah pembaca, kira-kira teori Ibu Budi itu apa juga berlaku di lingkungan anda?

atau salah satu dari pembaca di sini adalah seorang pemilik toko kelontong yang menemukan bahwa teori tersebut benar adanya?

Apakah kebiasaan-kebiasaan menyimpan uang kembalian tersebut juga berlaku untuk anda?

Happy Blogging!