Frames, Green, Rustle and Sweet Tea

Archive for May, 2011

Weekly Photo Challenge: Water

Splashing water

a souvenir from rainy day…


Ayah Pulang

*

Ayah Pulang


Nothing

*

Nothing


Weekly Photo Challenge: Tiny

Almost forget that I participate this challenge since I have been so busy recently. But I won’t miss one of them, I promise, thus at least I will have a post in a week, 😆

TINY.. What tiny things have you ever seen? How could you say that one is tiny? This one is a bit tiny, that one is tinier, or tiniest… It’s just relative I think…

A little bright green moth landed on my paper that evening. You can compare its size with the text size. I believe that was considered as tiny, but wait, everything can be tiny if you compare with something more-more bigger that itself.

*

For example…

Can we say a human is a tiny one under the gigantic trees? I took this picture in Dramaga Forest, near from Situ Gede in Bogor. I found a lot of a big trees there, and I surely believe there are bigger ones out there, yeah somewhere I don’t know.

*

And something NOT tiny can be tiny, if they are made as mini version or toys…

An old plastic (tiny) car trapped on roof! A kid might throw that toy car to the roof and couldn’t take it back. The picture taken on a roof of abandoned house in a village. Quite scary I remember… 😀  OK, that’s all.

Salam Jepret!


Pengantin diarak Ontel

Ya, itulah Bagus, teman saya yang diarak oleh para ontelis, para pecinta sepeda ontel di kabupaten Tanah Laut yang tergabung dalam WASIAT TALA (Wadah Sapida Tuha Tanah Laut). Bagus sendiri adalah anggota WASIAT sekaligus anggota TLPC (Tanah Laut Photo Club), komunitas fotografi dimana saya bergabung.

Sebuah Kartu Ucapan

Minggu. 15 Mei 2011, pukul 9 pagi, arak-arakan dimulai dari rumah Bapak Ibnu, ketua komunitas ontel, dan berakhir di rumah mempelai tempat berlangsungnya acara resepsi pernikahan. Rutenya? Keliling kota Pelaihari! Hahahahahah… Arak-arakan ini mengikutsertakan anggota WASIAT sendiri, beberapa penggemar ontel Banjarbaru dan Banjarmasin, plus beberapa anggota komunitas fotografi. Sedangkan anggota TLPC yang lain menyebar di beberapa titik untuk mengabadikan gambar moment yang unik dan jarang terjadi tersebut, termasuk saya.

Mempelai diarak menggunakan becak yang dihias dan diikuti oleh peserta arak-arakan yang lengkap dengan baju-baju retro-vintage dan baju tradisional, aaahh… seru sekali, benar-benar seperti kembali jaman tempo dulu! Acara unik ini tentu saja menjadi perhatian masyarakat sekitar, selain karena jarang terjadi, kemacetan sempat terjadi di beberapa titik, belum lagi bunyi bel sepeda yang khas sekali 🙂 Menghibur sekali. Di tengah rute, arak-arakan berhenti sejenak di Taman Tugu di pusat kota untuk melakukan sesi foto-foto bersama. Sungguh suatu kejutan dan apresiasi tersendiri bagi Bagus dan Ifeh pada hari pernikahan mereka tersebut. Acara ini juga menjadi ajang pembuktian eksistensi penggemar ontel dan fotografi di wilayah kabupaten Tanah Laut.

Di akhir rute, arak-arakan sempat berteduh ditepi jalan, karena tiba-tiba hujan turun dengan derasnya. Tetapi acara berjalan dengan sukses, setelah acara arak-arakan selesai, acara resepsi diteruskan seperi biasa. Kami para peserta dan pendukung acara arak-arakan makan bersama di sana.

Berfoto dengan TLPC

*

Seperti biasa nih, saya kasih foto-foto acaranya…

This slideshow requires JavaScript.

Simply edited with Lightroom 3.3 as usual…

*

Buat Mas Bagus dan Ifeh, Selamat menempuh hidup baru, dan Semoga menjadi keluarga idaman dan rame rumahnya sama anak-anak, hahahaha…:mrgreen:

PS: Mas Isro, ini lho acara yang saya pernah singgung kapan hari itu… 😀

Salam Jepret!


Weekly Photo Challenge: Red

Since I have been so busy this week, I just simply ended up this week challenge RED by choosing one of my collection which I think would be good for this theme. Unfortunately, I found one photo only. Let’s check!

Lampion, It’s called here. Chinese paper lantern which is so popular in Chinese culture until now. Commonly appear in Chinese temple either as a real lantern or an ornament. As ornament, this lantern for some reasons, mostly is made from red paper, and If you ever visit Chinese temple like above you obviously can see that red is the major color cover up many part of the building, walls, sculptures even incense sticks. I heard Red means luck or fortune for Chinese, cmiiw.

I took this photo in a Chinese temple I visited in downtown of Bandar Seri Begawan, Brunei. I am not sure, but it was around Chinese New Year 2010, and they made such a “red festivity” all around temple. I have never seen so many hanging lantern filled up the temple sky like that before. Nice decoration, isn’t it?

*

Wait, to make sure that red is really common color for the lantern, let me play the photo color a little bit.

I believe, for you who are familiar with the lantern, you can guess the color of the lanterns even though I made it in monotone like above. It’s always red in your mind, am I right? 😀

*

Another one. Just for fun, If you want something different, try to reduce the saturation all colors but red, orange and yellow. It’s going to be like photo below! Cool! 😀

Well, I am (still) using Adobe Lightroom 3.3 for editing, if you wondering.

Happy Blogging!


Sapaan Baru

Iseng-iseng kemarin saya mengubah cara sapaan chatting yang biasa menjadi anti biasa, hihihih… ketularan Pak Mars ceritanya.

Mungkin hampir semua orang mempunyai sapaan standar saat memulai chat di media online seperti: Hi!, Apa kabar?, Lagi ngapain?, Dimana nih? dan sebagainya. Sapaan standar seperti itu tentu saja sudah biasa kita dapat atau kita sampaikan. Jawabannya mungkin terlihat standar juga, seperti;  Hi juga!, Baik, Lagi di rumah, Lagi di kantor, Lagi iseng aja, dan lain-lain.

Saya kemudian berpikir untuk membuat sapaan yang tidak biasa. Sapaan yang membuat orang tersenyum membacanya. Sapaan yang menarik perhatian dan mungkin bisa memberikan aura positif. Yup, saya menemukannya! :mrgreen:

“Bagaimana perasaanmu hari ini?”

atau

“Apakah kamu bahagia hari ini?”

atau

“Apa kebahagiaan terbesarmu hari ini?”

*

Sapaan model seperti ini terkesan sangat personal, sangat akrab, right to the point, langsung ke hati si penerima, dan tentu saja membuat penerima tergelitik untuk menjawabnya dengan berpikir: Apakah aku bahagia hari ini? apakah kebahagiaan yang aku dapatkan hari ini? Sudahkah aku bersyukur untuk nikmat dan bahagia hari ini?

Memang terdengar sedikit gagu, tetapi tidak ada yang salah dengan menujukkan “perhatian” untuk sahabat atau teman. Kita bisa menujukkan ke orang tersebut betapa kita peduli terhadap perasaan mereka,  mengharapkan kebahagiaan mereka, dan mengharapkan mereka mau berbagi kebahagiaan meskipun hanya kebahagiaan sederhana.

Tidak semua orang bisa berbagi kesedihan, tetapi sebagian orang selalu ingin berbagi kebahagiaan. Meskipun si penerima sapaan ternyata dalam mood yang tidak baik atau sedang bersedih, sapaan dan pertanyaan seperti ini tentu akan memancing pikirannya untuk berpikir ke arah positif, mencari peristiwa-peristiwa yang membuatnya sedikit bahagia di antara kesedihan yang dia alami sekarang. Karena saat orang merasa sedih dan ditimpa musibah, pikirannya biasanya berkutat pada hal-hal negatif dan hal-hal yang membuat bad mood, lalu kenapa kita tidak memancing mereka untuk melupakan hal-hal buruk itu dan mengajak mereka untuk berpikir hal-hal menyenangkan penuh senyuman?

Setiap orang punya respon yang berbeda-beda, tetapi dari yang saya alami, sebagian besar memberikan respon positif:

*

“Tentu saja, setiap hari harus bahagia!”

“Aku bahagia hari ini karena banyak yang memuji hasil karyaku di FB”

“Aku bahagia karena aku bisa bernafas hari ini”

“Aku bahagia karena bunga di halamanku hari ini bermekaran”

“Aku bahagia saat melihat jagoan kecilku terbangun pagi ini dan bilang: Papa, papa..”

*

Ah, sederhana… tetapi sangat manis, bukan?

Mungkin pembaca ingin mencoba juga sapaan model saya ini? Semoga kita bisa berbagi kebahagiaan hari ini!

Happy Blogging!


Belajar Prewedding

Hmmm… kira-kira 3 atau 4 bulan yang lalu, teman saya, tepatnya kakak kelas SD saya sekaligus tetangga dekat sewaktu kecil meminta saya untuk membuat foto prewed sederhana. Saya dengan (sedikit) pede menyanggupinya. Itung-itung bantuin teman sekaligus bisa belajar moto prewed lagi (dulu udah pernah sekali).

Foto-foto berikut diambil di 3 lokasi yang berbeda, mengambil waktu 2 hari. Di sawah, di sawah dekat gunung, dan di pantai. Dilema saya selama pemotretan, saya belum bisa mengambil ekspresi yang “pas” dari mereka. Selain karena saya kurang cepat dan cekatan mengambil gambar, saya juga paling gak bisa mengarahkan gaya... 😦 *I am tired of this. Jadilah banyak ekspresi yang saya pikir seharusnya bisa lebih baik. That’s okey, I am learning anyway.. 🙂

Lagi-lagi saya bermain warna dengan Lightroom 3.3, jadi jangan heran kalau ada beda suasana/warna dengan foto yang sama. Maksud hati semoga yang melihat tidak bosan dengan bermcam-macam warna yang saya buat disini. I am happy with this project! 😀 rasanya semakin lama semakin cinta dengan Lightroom, hehehehe…

Watch out for more than 50 pictures coming! Enjoy!

This slideshow requires JavaScript.

Buat Mbak Nurul dan Mas Harto, saya ucapkan selamat menempuh hidup baru, semoga langgeng terus ya sampai kakek-nenek dan aku segera dapet ponakan, hihihihhi…

Salam Jepret!


Hobiku: Menggambar Anime

Ini bukan postingan tentang cara menggambar anime, tapi kisah masa kecil saya yang suka menggambar anime jepang.

Zaman saya kecil, keberadaan komik masih tidak sebanyak sekarang, bukan berarti keberadaan komik masih sedikit, hanya saja karena rumah masa kecil saya berada di sebuah daerah terpencil dan jauh dari kota besar, sehingga akses masuk komik dan majalah masih bisa terbilang lambat.

Pengetahuan saya tentang anime jepang sepertinya berawal dari anime di TV : Doraemon yang entah sejak kapan sudah ada semenjak masuknya siaran televisi swasta di Indonesia. Berbekal tontonan anime setiap hari minggu pagi, diam-diam saya selalu memperhatikan grafis dari film-film anime itu dan mulai menggambar-menggambar sendiri tokoh-tokoh tersebut semirip mungkin dan sejauh yang saya ingat. Bagi saya itu, seru sekali bisa menggambar tokoh-tokoh anime itu. Jika hari minggu datang, saya mencocokkan hasil gambaran saya dengan yang ada di TV. Sudah samakah?? apa yang kurang??

Anime dan komik semakin gencar membanjiri toko-toko buku. Satu demi satu teman-teman saya yang dari keluarga berkecukupan mulai mengoleksi komik. Saya ingat komik masih seharga Rp. 3000.-. Komik-komik yang banyak beredar juga adalah komik-komik dari serial anime yang ada di TV, seperti Doraemon, Astro Boy, Candy-Candy, Saint Saiya, Dragon Ball, dan lainnya. Lalu saya? Ya saya cuma modal pinjem saja, hahahahaha… Komik tentu saja mempermudah saya untuk meniru grafis pada komik, karena saya tidak perlu lagi menunggu setiap minggu hanya untuk “belajar menggambar”, tinggal pinjam komik teman dan mulai menggambar, bukan menjiplak lho ya :P. Hampir semua jenis gambar komik saya pernah coba, dari yang imut-imut, muka sangar sampai mata belok dan berkaca-kaca. Well, hasilnya tidak mengecewakan, at least lebih baik dari teman-teman seumuran saya, hahahahah…

Kebiasaan saya menggambar tentu saja membuat tangan gatel untuk terus menggoreskan pensil dimana-mana, tidak terkecuali di buku pelajaran. Hampir setiap bagian belakang buku tulis, tidak pernah lolos dari coretan-coretan saya. Saat kelas 2 SD, saya ingat guru saya bernama Bu Siti, beliau muda dan cantik. Siang itu kebosanan memenuhi pikiran saya, saya bukannya mendengarkan beliau menjelaskan pelajaran, eh malah diam-diam menggambar sosok wanita anime yang saya gambar seperti ciri-ciri Bu Siti, hahahaha… Naasnya, Bu Siti, mendekati saya dan mendapati saya sedang asik menggambar!

“Prima, kamu kok malah gambar???” muka Bu Siti agak geram. Satu kelas terdiam. Beliau meraih buku tulis yang saya gambar, dan menanyakan siapa wanita komik itu? Tentu saja saya malu dan berkata “Itu Ibu…” Bu Siti terdiam sebentar, saya bisa liat senyuman kecil di bibirnya dan beliau berkata, “Kalau menggambar lain kali jangan di buku tulis dan jangan di jam pelajaran”. Beliau mengembalikan buku saya. Hari itu saya malu. Maka, setiap kali saya habis menggambar di buku, saya akan merobek lembaran bagian belakang itu dengan penggaris untuk meninggalkan jejak, hahahhaha…

Kelas 4 SD, saya akhirnya bisa beli komik! Komik pertama hasil nabung sendiri: Asari-Chan, komik lucu yang grafisnya bagus sekali. Karakter gambar Asari ini yang sampai sekarang sedikit banyak mempengaruhi karakter gambaran anime-anime lucu yang saya buat, hihihihi…

Makin remaja, saya semakin getol menggambar, kata teman-teman saya gambar saya bagus. Jadi kadangkala mereka sengaja memberikan kertas kosong kepada saya unuk menggambar apa saja, atau tokoh kartun tertentu untuk dipajang di kamar, bahkan di laminating, hahahahaha… Tapi ada kejadian tidak menyenangkan saat saya SMP. Guru PPKn saya terkenal disiplin alias galak. Ya kok dilalah saya lupa merobek kertas belakang buku tugas PPKn saya, dan si Ibu galak itu memanggil saya ke depan kelas. Sudah kebayang kan? Ya, saya dimarahin habis-habisan di depan seluruh anak, sambil memperlihatkan gambaran saya di buku itu. Semua anak tertegun, tapi saya tau mereka tidak pernah ikut menyalahkan saya dan gambaran di buku itu. Mereka cuma takut, sama seperti saya. Si Ibu akhirnya menyuruh saya untuk minta tanda tangan orang tua tepat di gambar itu dan tentu saja tidak lupa mengancam anak-anak lain untuk tidak mencontoh tingkah konyol itu. Ada satu teman saya bilang: “Aku heran kok si Ibu bisa segitu marahnya liat gambaran sebagus ini” Ya sudahlah memang saya saja yang sedang sial… 🙂

Jaman SMP ini saya juga mengenal media warna: pastel (seperti crayon tetapi lebih lembut dan oily), saya sering ikut lomba-lomba gambar dan lumayan ada hasilnya. Tentu saja bukan menggambar anime. Di rumah sekarang banyak hasil gambaran saya dengan pastel berukuran besar, tetapi jika saya melihat sekarang, saya sedikit tersenyum, karena gambaran tersebut masih terlihat “anak-anak”, ya sangat anak-anak…garisnya sederhana, tetapi masih bisa dinikmati..  Si Bungsu pernah bilang ke Mama “Masa sih Ma, mas Prima gambar ini waktu masih SMP??” Hhihihii.. *si Bungsu emang gak bisa gambar kaya saya 😉

SMA saya malah jarang menggambar. Menggambar hanyalah iseng-iseng saja. Kotak Pastel itu tidak pernah lagi saya sentuh. Saya malah sibuk di kegiatan extra dan kegiatan akademis tentunya. Saya libur menggambar di kertas besar. Saya ingat hanya satu gambar yang saya buat semasa SMA, itupun karena pakde saya minta gambaran saya untuk di bingkai. Saya ingat saya bermaksud gambar ayam, tetapi menyerupai burung. Jadi seperti ayam hias! Mahluk apa itu ya? Hahahahah… whatever…

Saat kuliah, malah saya mulai menggambar lagi. Ya tau sendiri kan kuliah itu gak seperti sekolah, kadang waktu luang tiba-tiba banyak, kadang sibuk parah gak kira-kira. Saya masih di asrama TPB-IPB. Teman sekamar saya punya majalah komik yang terbit tiap bulan, berisi banyak gambar anime-anime masa kini yang sangat bagus. Iseng-iseng saya buka kotak pastel yang sudah berdebu. Beli karton putih. Dua hari saya sudah punya poster besar bergambar tokoh Cardcaptor Sakura! *sok cute banget, Wuakakakakah… Saya tempel di atas meja belajar! Mereka bilang bagus 😛

Dari situ saya menggambar poster Conan, Samurai X, dan banyak lagi. Sata saya meninggalkan asrama, saya bagikan saja gambar itu buat teman-teman saya, anggap saja buat kenang-kenangan. Ini adalah poster terakhir yang saya gambar saat kuliah, berukuran karton putih besar dan (semoga) masih disimpan oleh teman saya. Saya sempat motret pake kamera HP. Cuma ini gambar yang saya punya fotonya 😦

Di ambil dari karakter Tsubasa Reservoir Chronicle

*

Sekarang saya tidak lagi menggambar poster. Pastel sudah saya sumbangkan ke panti asuhan sewaktu selesai kuliah di Bogor. Ya, kadang-kadang pengen sekali menggambar poster lagi, mengenang saat-saat saya lagi gila gambar-gambar anime seperti ini, tapi entah kapan…

Jadi intinya apa prim? Ya gak ada, saya cuma mau bilang aja kalo saya dulu suka gambar anime dan bikin-bikin poster macam ini, hihihi… intinya sekedar curhat dan cerita masa kecil saja.. *sok melow* :mrgreen:

Selamat Berharpitnas!


Cuma Masalah Selera

Seorang teman saya, saya memanggilnya Kue Ber-fla, menanyakan pertanyaan simpel bertubi-tubi seputar foto-foto saya:

“Kok bisa bagus begitu warnanya?”

“Aku gak ngerti tentang foto dan warna-warna”

“Apa itu warna, komposisi warna, dan kontras?”

Haduh! Kue Ber-fla sangat curious sekali dengan apa yang ada di kepala saya saat mengolah foto-foto saya. Seolah-olah Kue Ber-fla ingin sekali belajar banyak dari saya dan ingin punya foto-foto seperti saya.

Saya sendiri suka bingung jika dihadapkan pada pertanyaan-pertanyaan sejenis itu. Apalagi sempat ada komen yang bisa dikatakan sangat “wah” di postingan saya sebelum ini, hahahahaha… Saya malah merasa biasa saja dengan foto-foto saya, dari dulu sampe sekarang ya begitu-begitu saja, naik turun seputar itu, menurut saya belum ada pencapaian yang signifikan. Bahkan teman-teman fotografer saya di sini meresponnya biasa-biasa saja, ya karena memang biasa.

Bagi teman-teman blogger yang sudah mengikuti blog saya lama, mungkin melihat memang foto saya ya begitu-begitu saja. Bagi yang mungkin sering melihat lama-lama terlihat biasa, beberapa menyebutnya bagus, bahkan mungkin saya gak tahu aja, kalau ada yang gak suka, dan saya tau itu pasti ada. Whatever shot! Saya hanya memotret dengan hati. Masalah suka gak suka itu masalah biasa. Saya punya selera dan pembaca juga punya selera. Urusan selera ini yang mau saya ceritakan sedikit.

Pertanyaan Kue Ber-fla menyadarkan saya bahwa ada satu titik dimana saya tidak bisa menjelaskan sesuatu dibalik semua pertanyaannya. Saya stuck dan ingin rasanya memindahkan isi kepala saya ke kepalanya, hingga dia bisa membaca apa yang saya rasa. Itu lah selera. Selera memang bisa dirasakan atau “sampai” pada orang lain, tapi hampir tidak mungkin diduplikasi dengan identik. Selera bisa mirip, tapi tidak bisa sama persis. Saya juga kurang tau apakah selera ini berkaitan dengan “talent” yang memang dibawa semenjak lahir? Whatever

Selera ini ternyata mempengaruhi saya dan mungkin sebagian besar orang saat melihat sebuah benda visual, contohnya gambar atau foto. Saat saya memotret: komposisi, focus, pencahayaan dan angle sangat dipengaruhi selera. Meskipun banyak teknik-tekni fotografi di luar sana, tetap selera itu sangat berpengaruh buat saya. Pada saat yang sama, kamera yang sama, suasana yang sama dan objek yang sama, dua fotografer bisa menghasilkan dua gambar yang nyata beda. Mereka bilang: depend on the man behind camera, dan itu benar menurut saya.

Berlanjut pada olah gambar atau editing. Software adalah sekedar alat yang membantu, sekali lagi tergantung siapa yang menggunakannya. Sama mobilnya bisa beda rasa saat beda sopirnya. Saat saya mengedit gambar, saya menjadi Photoshopper, atau Lightroomers dan sejenisnya, saya sangat dipengaruhi oleh selera. Saya mengajari Kue Ber-fla untuk mengerjakan foto-fotonya dengan alat-alat atau software yang saya pakai. Terus apakah hasilnya akan sama? tentu tidak. Meskipun pada akhirnya Kue Ber-fla sudah expert menggunakan software itu, apakah kemudian selera dia akan sama dengan saya? tentu tidak. Saya yakin dia akan berdiri sendiri dengan seleranya sendiri.

Menurut saya selera bisa dipengaruhi tetapi tidak bisa dibohongi. Saat kita melihat gambar atau foto yang kita suka, kita terpengaruh untuk membuatnya seperti itu. Saat teman saya memberikan ide kepada saya untuk mengubah warna ini dan itu, menggelapkannya, menerangkannya, sedikit ini dan itu, bisa jadi selera teman saya itu mempengaruhi saya, tetapi pada akhirnya saya sendiri yang akan memutuskan pada titik mana saya merasa “selesai”, dan berkata “OK, saya suka yang ini” dan rasa suka itu gak bisa dibohongi. Ya kan? 🙂

Selera itu punya basic, tetapi juga bisa dieksplorasi dan bisa ditemukan. Semakin banyak kita melihat atau mendapat referensi foto orang lain, kemudian banyak mencoba menemukan kecocokannya. Selera kita berkembang dan akhirnya kita menemukan “selera basic” kita seperti apa. Warna seperti apa yang saya suka, karakter foto seperti apa yang saya suka, tipe pencahayaan seperti apa yang saya suka. Tentu saja selera akan sedikit banyak berubah dan terus berkembang seiring waktu, tetapi selalu ada selera basic yang mempengaruhi kita dari waktu ke waktu.

Pada akhirnya. Semua orang punya selera masing-masing dalam melihat suatu gambar atau foto. Tidak ada selera yang baik atau buruk. Yang ada disukai dan tidak disukai. Bisa jadi selera foto saya tergolong selera “rendah” di mata satu orang, tetapi tergolong selera “tinggi” di mata yang lain. Selalu, ini masalah yang relatif. Tidak suka bukan berarti harus menghujat, atau menjudge, apalagi menyakiti hati orang lain. Jika ternyata suka dan kemudian memuji, itu adalah hak manusia untuk berekspresi. Syukur-syukur kita bisa saling membahagiakan.Ya kan? Perbedaan selera adalah hal yang wajar dan tidak perlu dipikirkan terlalu pelik. Ini seleraku. Ini seleramu. Kita berbeda tetapi kita tetap indah.

Kue Ber-fla mungkin sekarang sedang asik-asiknya berpetualang dengan seleranya. Saya senang bisa membantu banyak orang untuk mengeksplorasi selera mereka. Karena saya sendiri masih asik belajar mengenal selera saya dengan lebih baik, mengasahnya agar semakin tajam dan kelak bisa membuat orang bahagia dengan selera saya. Hey Kue Ber-fla, saya tidak akan mengajari kamu ini-itu terlalu strict, sama seperti seorang ayah yang melihat anaknya belajar naik sepeda, You’ll find the way! 🙂

I love this pic, Cute!

Salam Jepret!

PS: Ya ampun, saya nulis ini udah kaya fotografer besar aja, wkakakakakaka… maaf para fotografer senior, ini cuma pendapat dari anak kemarin sore yang tentu masih jauh dari sempurna… 🙂


Weekly Photo Challenge: Wildlife

Wildlife? Again! I found the theme of this week is so difficult, yet really challenging! 😆 For me now, who’s living in Kalimantan, where’s jungle and wildlife surely exist. I was thinking to go somewhere like a jungle nearby and find such cute animals like deer, monkey, or beautiful bird, instead of boar, wild dog or even giant snake! Those last three I mentioned are an enough reason for me to keep apart from their nest 😛

Thus, I chose 4 pictures from my collection, hoping they would be good enough for “wildlife theme” Check them out!

I ever posted long time ago some of wildlife I saw in North Carolina Zoo here, but I have never posted this one. I took the picture from outside  a big paludarium where’s some of colorful and poisonous frogs living in.

**

She is Ingrid, my friend from Nicaragua, standing next to a safari car of NC Zoo. I think this is also typical wildlife style. The popular car I saw in every africa wildlife film! 😆 but, yeah without that cute color of course! 😀

**

Where do you think this place should be in? 😀 You can find it behind a rectorate of my university (IPB). If you walk down to rectorate building from the library, you’ll pass the LSI bridge, with Lake LSI on the left and this jungle view on the right. It was still early morning when I took the picture, that’s why you can see the fog made the view really picturesque!

**

I don’t know what bird it is. I got it on a tree behind my house. One of many kinds of bird sang and flew around everyday here. Lovely one! 🙂

Salam Jepret!

*All pictures edited with Lightroom 3.3 & Photoshop Cs5


Teori Bu Budi

Bu Budi, seorang ibu-ibu pemilik toko kelontong yang paling dekat dengan rumah saya, mempunyai teori sederhana unik untuk mengetahui siapakah pemilik uang atau pembeli yang membeli sesuatu di tokonya. Hmmm, mungkin pembaca sedikit bingung apa maksudnya, langsung saja simak dialog saya dengan Bu Budi berikut ini.

Siang itu saya mau baru pulang dari berenang, sebelum sampai di rumah, saya sengaja mampir ke toko Bu Budi untuk beli minuman. Saya keluarkan gulungan uang dari kantong kecil di dalam tas, karena biasanya saya menyimpan beberapa lembar ribuan di sana, dan saya memang sering menaruh kembalian uang di kantong kecil itu, alih-alih lebih praktis dan cepat, saya juga agak malas kalo harus membuka tutup dompet yang saya simpan di dalam tas juga, entah nyelip dimana. 😛

“Bentar bu, uangnya kelipet-lipet..” Saya mulai membuka gulungan lembaran seribuan dan  lima ribuan yang tertekuk dengan kaku, kira-kira seperti pada gambar. Agak susah menarik satu lembar seribuan diantara gulungan itu, sehingga malah membuat uang saya terjatuh-jatuh.

“Maaf bu, hehehehhe…” sembari memberikan uang kelipat-lipat itu seharga minuman.

Bu Budi tiba-tiba membalas, “Gak apa-apa, biasa kalo laki-laki uangnya memang suka dilipet-lipet gitu…”

“Hah? maksudnya bu?” saya tertarik dengan pernyataan beliau itu.

Begini kalo saya dapat uang yang kelipet-lipet kaya uang kamu gini, saya tau uang ini dipegang sama laki-laki, jadi maklum saja. Kalau yang pegang ibu-ibu atau mbak-mbak, kebanyakan mulus, soalnya biasanya keluar dari dompet. Beda lagi dengan anak-anak. Kalau anak-anak uangnya kusut, bahkan robek, soalnya diremet-remet (diremas-remas).”

“Oh begitu ya bu?” saya ngangguk-ngangguk…

“Kalau pembeli laki-laki biasanya jarang menghitung kembalian, biasanya langsung buru-buru digulung masuk kantong, makanya jadinya kelipet-lipet..”

“Hhahahaha, iya bu, saya gitu…” saya makin sumringah.

“Kalau Ibu-Ibu atau mbak-mbak pasti dihitung dulu, sudah dihitung, dimasukkan pelan-pelan ke dompet, baru pergi. Nah kalau anak-anak lebih lucu lagi… “ Bu Budi tersenyum.

“Kenapa bu kalau anak-anak?” saya penasaran.

“Kalau anak-anak, malah lari duluan sebelum di kasih kembalian, hahahaha… biasanya mereka lupa, jadinya saya yang harus teriak-teriak manggil…”

“Hhahaahahah… bener juga ya bu…”

**

Percakapan saya dengan Bu Budi diatas memberikan gambaran bahwa Bu Budi sebagai penjual, diam-diam juga memperhatikan pembeli-pembeli di warungnya, kebiasaan-kebiasaan unik yang dibedakan berdasarkan gender dan umur, sehingga lama-kelamaan menjadi “teori” yang bisa dibuktikan berdasarkan pengalaman. Jujur ini suatu hal yang baru saya ketahui dan menurut saya cukup menarik. 😀

Pada teori ini wanita cenderung lebih rapi dan apik memegang uang sehingga kondisi uang biasanya baik dan mulus, sedangkan pria lebih cenderung terburu-buru, cuek dan gak mau ribet, sehingga bentuk uang yang dipegang suka terlipat-lipat. Anak-anak tentu lebih sembrono lagi karena pikiran mereka masih sangat sederhana, yang penting uangnya bisa masuk kantong. 😀

Nah pembaca, kira-kira teori Ibu Budi itu apa juga berlaku di lingkungan anda?

atau salah satu dari pembaca di sini adalah seorang pemilik toko kelontong yang menemukan bahwa teori tersebut benar adanya?

Apakah kebiasaan-kebiasaan menyimpan uang kembalian tersebut juga berlaku untuk anda?

Happy Blogging!


Dialog Lucu

Dulu saya ingat Mas Asop beberapa kali memposting tentang dialog-dialog lucu yang terjadi di kesehariannya. Nah kali ini saya juga punya dialog singkat yang mungkin bisa membuat pembaca tersenyum…

**

PENSIL UJIAN

Febri         : Bu, aku dapat pensil ujian dari Wali kelas…

Ibu Febri : Gratis? Tumben…

Febri        : Iya, katanya udah di jampi-jampi biar lancar pas ujian.

Ibu Febri : HAH? Masa sih? Kamu jangan pake pensil itu ya Feb!

Febri         : Iya, itu kan dosa..

Ibu Febri: Bukan! Nanti kamu kesurupan!

*

Hikmah: Jaman kaya gini kok ya masih ada guru yang pake cara-cara aneh dan gak masuk akal buat meluluskan muridnya, heheheheh…

**

GAMBAR PAHLAWAN

Si bungsu pulang sekolah bawa hasil keterampilan membuat bingkai gambar/poster dari kardus dan kertas kado, pinggirnya dihias pita lucu.

Saya           : Wah, apaan tuh? Coba liat?

Si Bungsu : Keterampilan mas, bingkai poster. Bagus kan?

Saya           : Iya, ini gambar pahlawan revolusi ya? *pura-pura ngetes*

Si Bungsu : Iya lha…

Saya           : Kamu hafal gak nama-namanya?

Si Bungsu : Gak semua…

Saya          : Nah, ini di tempel aja di atas kasur kamu, jadi biar cepet hafal. Aku dulu gitu waktu jaman kuliah. *kasur si Bungsu emang model kasur tingkat*

Si bungsu : Hiiiiiiiii…

Saya           : Kok hiii???

Si Bungsu : Ih mas, ini kan foto orang-orang dah mati, ntar kalo malem-malem melet gimana??? *sambil menjulurkan lidah*

Saya           : 🙄 bener juga ya..  :mrgreen:

*

Hikmah : Anak-anak punya banyak imajinasi, apalagi anak jaman sekarang, imajinasinya makin tinggi, gambar pahlawan aja bisa jadi serem! wakakakakaka… 😀

**

ALAY DEH!

Dodol dan Dedel terlibat obrolan seru, padahal mereka baru saling mengenal. Tidak jarang mereka tertawa seolah-olah sudah sangat dekat.

Dodol: Eh, lu tau gak, desain produk yang baru tuh gak banget deh. A-el-a-la-ye, ALAY!

Dedel : Masa sih?

Dodol: Iya, ih desainnya aja alay, apalagi orang yang bikin! pasti alay juga *cekikikan*

Dedel : Hihihihihhhi… Itu kan gw yang desain. 😀

Dodol : Hah? Masa? 😯

Dedel : Hhehehheh… iya, emang kenapa? 

Dodol : *Mangap makin gede*

*

Hikmah: Hati-hati dalam berucap, bisa jadi orang yang kita hujat sebenarnya ada di depan mata! Wakakakaka…

**

Happy Blogging!


Kisah Sebuah Nama

 

Dapat ide dari dailypost.wordpress bertajuk What is the story behind your given name?

Saya akan sedikit narsis dengan bercerita tentang arti dan cerita di balik nama saya, hehehehehe…

Di suatu siang tanggal 15 Januari tahun 198x :mrgreen: sekitar pukul 2 siang, di Rumah Sakit Lavalette, Kota Malang lahirlah seorang bayi laki-laki, anak pertama dari pasangan suami istri yang berlatar belakang suku yang berbeda, sang ayah blesteran Batak-Banjar, si Ibu blesteran Jawa, Sunda dan Madura.

Eh tanggal 15 Januari ini bukan murni hari lahir alami, itu tanggal yang bisa dipilih. Saya lahir operasi karena pinggul mama sempit. Jadi dokter bedah yang saat itu sehari-hari berbaju tentara (rumah sakitnya rumah sakit tentara) iseng bilang, “Ibu mau operasi kapan, sekarang?” Mama saya dengan lempeng bilang “OK, siapa takut!” wkakaakakka…

Singkatnya, operasi berjalan lancar dan seorang bayi merah lahir dengan suara tangis kenceng tanpa komando. Kata Mama yang saat itu dibius setengah badan, dia liat saya pertama kaya kodok raksasa, kaki dan tangnnya doang yang besar, wkakakakaka.. udah gitu baru lahir matanya langsung melek! *bikin kaget… wkakakakakakakaka…

Pemberian nama saya terlambat. Mama Papa sepertinya gak kepikiran buat kasih nama apa saat saya lahir. Gara-gara telat itulah urusan kasih nama dan bikin akte kelahiran sampai harus di bawa ke pengadilan segala. Haiyah! Akhirnya biar cepet Mama nyerahin usulan nama ke Mbah Putri aja. Prima Wahyu Kusuma. Jawa banget kan? 😛 Nama itupun diboyong ke pengadilan.

Falsafah terbentuknya nama tersebut (berdasarkan keterangan dari Mbah Putri)

“Prima” artinya pertama, yang pertama, utama. Karena saya anak pertama dari Papa dan Mama, sekaligus cucu pertama buat Mbah Putri. Lain-lain prima sendiri berkonotasi baik, sehat dan kuat. Belakangan saya mulai ngeh kalo Prima itu kebanyakan digunakan untuk nama perempuan. Prima sendiri berdasarkan info di internet berasal dari bahasa Latin berarti “pertama”, asal katanya “Primus”, dalam bahasa Inggris merujuk pada kata “Prime”. Lain lagi dengan Spanish, Prima berarti adalah sepupu perempuan, sedangkan Primo berarti sepupu laki-laki. Itulah kenapa Spanish dan Mexican dulu memanggil saya dengan Primo, hehehehe… *kirain mereka cuma sok-sok improve!

“Wahyu” berarti pemberian, ilham, utusan, berkah. Tetapi alasan utama pemberian nama ini bukan karena arti itu, tetapi karena Wahyu adalah nama dokter anak yang merawat saya pasca operasi, hahahahaah… *iseng aja si Mbah kasih nama. Katanya: biar tetap terkenang.

“Kusuma” adalah bahasa sansakerta berarti kembang, bunga. Sederhana saja, harapannya kelak saya bisa tumbuh menjadi anak yang baik, wangi dan indah namanya seperti bunga dan bermanfaat bagi orang banyak. Jiaaahh..

Nama sudah pas dan OK, semua sudah setuju. Lha kok dilalah sampe di pengadilan, jaksa-nya orang batak! dan dia kaget saat Papa saya punya marga Hutabarat. Marga adalah wajib diturunkan bagi orang batak!

“Bapak, saya bersedia menyetujui akta lahir ini asal nama anak ini diberi nama marga di akhirnya, bagaimana?” kira-kira begitu kata si Jaksa.

“Hutabarat” adalah marga batak Toba, turun dari Raja Hutabarat. Selebihnya saya kurang tahu. Huta berarti Desa, Barat artinya arah barat. Jadi kalo dibuat inggris jadinya: Westvillage. Hahahahaha… *plis deh prim!

Papa saya yang belagak pilon manggut-manggut karena gak ngerti apa-apa. Beliau cuma mikir yang penting urusan pengadilan itu segera beres. Akhirnya pulang-pulang akte kelahiran saya bertuliskan: Prima Wahyu Kusuma Hutabarat. Semua orang rumah cuma manggut-manggut sambil komen: “panjang bener namanya…” Mbah Putri jelas-jelas tiba-tiba kaya ketabrak tembok saat tau nama indah bernuansa jawa pemberiannya itu tiba-tiba ditimpa dengan marga batak! terdengar aneh katanya, Wakakakaka…

Nah gitu aja cerita asal-usul nama saya. Sewaktu SD saya mulai ngerasa marga Hutabarat itu benar-benar terdengar aneh di tengah-tengah masyarkat Jawa, jadi saya seringnya menyembunyikan nama itu, kalau bisa sampai tiba masa-masa ujian nasional, hahahaha… Meskipun tidak semua mengolok-ngolok, tapi emang ada aja yang usil mempergunjingkan nama marga itu, hahahahah… sekarang? Justru saya bangga menyebut nama saya Prima Hutabarat, kaya orang luar negeri gitu, nama depan dan nama keluarga, Jiaaahhh… Mantap!

Imut kan??? :mrgreen: * Biar narsis, yang penting eksis! 😀

Happy Monday!


Parade Ulang Tahun SMAN 1 Pelaihari (part 2)

Melanjutkan postingan Parade Ulang Tahun SMAN 1 Pelaihari (part 1) sebelumnya, berikut ini lanjutan foto-fotonya…

This slideshow requires JavaScript.

Photos are edited with Lightroom 3.3, preset: Color Creative-Color CP 2

Semoga bisa menghibur akhir pekan pembaca semua!

Salam Jepret! dan Happy Weekend!


Parade Ulang Tahun SMAN 1 Pelaihari (part 1)

Hari Selasa kemarin, komunitas fotografi Tanah Laut (TLPC) diundang oleh OSIS SMAN 1 Pelaihari untuk ikut berpartisipasi dalam dokumentasi acara parade atau pawai dalam rangka Ulang Tahun SMA mereka ke-29 yang akan mereka adakan start pukul 8 pagi. Saya dan beberapa teman (kurang lebih 7 orang) berangkat jam 8 lewat, tiba di sana, acara sudah dimulai. Seorang guru sedang memberikan sambutan dan disusul dengan pembukaan acara.

Acara bertajuk “The Innovation of Smanpel” ini mengusung tema-tema seputar lingkungan, pendidikan, seni, olahraga dan kesehatan yang tampak dari kostum-kostum yang mereka pakai saat pawai. Setiap kelas (dari kelas X sampai XII) mempunyai tema kostum tertentu yang berbeda-beda, lucu-lucu dan kreatif. Mereka juga punya yel-yel dan iringan lagu masing-masing.

Rute pawai ini sebenarnya tidak terlalu jauh, bahkan saya sempat kecewa karena mereka tidak mengambil rute pusat kota yang jelas-jelas akan lebih menarik perhatian masyarakat. Mungkin karena alasan keamanan dan ketertiban juga, heheheeh… acara segitu aja, polisi dah dimana-mana, karena barisan anak-anak SMA itu mengambil lebih dari 1/4 badan jalan. Macet pasti! 😀

Di akhir acara mereka kembali ke halaman SMA dan menunggu acara door-prize dan pemenang untuk kelas-kelas terheboh. Rangkaian acara ini akan terus berlanjut sampai akhir bulan Mei, akan ada banyak lomba-lomba dan semacamnya, semoga saya bisa meliput lagi acara-cara mereka selanjutnya. Jadi acara pawai ini baru pembukaan saja, hahahaha… dan jujur nih ya saya udah capek, betis utamanya, gara-gara satu acara ini, hahahaha…

Menarik sekali buat saya, karena pertama kalinya saya ikut acara jepret-jepret acara pawai anak sekolah. Kita menyebar di beberapa titik di rute yang mereka akan lalui. Kita juga sempat pindah tempat tiga kali, saya dibonceng oleh teman saya melaju dengan motor mengikuti iring-iringan tersebut, mirip-mirip wartawan dari koran, I felt that I was cool enough! *narsis, hahahaha…

Ok, langsung aja ini foto-foto yang berhasil saya ambil di tengah acara. Konsepnya candid aja. Saya bagi menjadi dua postingan karena fotonya sangat banyak. Ada total 84 foto, hahahahah… Mudahan bisa terlihat semua ya 😀

This slideshow requires JavaScript.

Photos are edited with Lightroom 3.3, preset: Color Creative-Color CP 2

Kok diedit sih prim? Iya iseng-iseng nih sekalin bereksperimen.. lagi suka-suka saya dong! *songong * GakGakgakKKK….

Jangan lupa lanjut ke Parade Ulang Tahun SMAN 1 Pelaihari (part 2)

Salam Jepret!


Kaktus “Captain Hook”

Seperti janji saya di postingan sebelumnya, saya akan ceritakan tentang kaktus yang durinya menyerupai pengait ini.

Kaktus ini tumbuh di sebuah pot di halaman samping rumah saya. Mama sangat benci ke kaktus ini karena seperti yang saya ceritakan, kaktus ini selain punya duri keras yang pendek dan berwarna putih itu, dia punya beberapa duri panjang berwarna gelap di bagian tengah yang ujungnya menyerupai pengait atau kail.

Kail atau pengait ini mudah sekali mengait tangan, kulit, dan benda-benda yang berpori atau berserat seperti kain, benang, bahkan daun tanaman lain. Selain menyebabkan nyeri karena durinya nyangkut, jika kita tidak hati-hati melepaskannya, maka pengait-pengait disebelahnya bisa ikut-ikutan nyangkut! Repot banget!

Lha kok dilalah, kaktus ini sengaja dicuekin, tapi pertumbuhannya gak juga merana, anakannya malah tumbuh banyak seperti kumpulan kue bulat-bulat kecil dan akhirnya membentuk bola besar yang penuh pengait. Sampai akhirnya Mama pernah menyuruh saya untuk membuang kaktus ini, karena lebih banyak menimbulkan mudharat daripada manfaat, hehehehe… tapi berhubung saya ngerasa eman-eman, saya simpan aja di daerah tersembunyi yang jarang dilalui orang, jadi tidak menggangu kan?

Satu hari saya iseng menggunting duri-duri pengait itu, dengan tujuan biar kaktus itu terlihat sedikit “ramah”. Berhasil untuk hari itu aja. Setelahnya duri pengait itu akan tumbuh lagi dan lagi. Saya jadi berpikir, apa sebenarnya manfaat duri pengait itu ya?

Lihat bagaimana benang, daun kering, kerikil dan benda-benda lain bisa tersangkut disana.

**

Suatu hari saya melihat ini

Bangkai apakah itu?

Itu bangkai katak malang yang terjebak oleh duri pengait si kaktus.

**

Dari sedikit observasi akhirnya saya bisa mengambil kesimpulan manfaat dari duri pengait itu. Hipotesis saya kira-kira seperti ini, bisa jadi benar-bisa jadi salah, tapi cukup realistis, imho  😛

  1. Duri pengait kaktus digunakan sebagai perangkap hewan kecil yang singgah pada tubuh kaktus. Contohnya katak malang di atas. Tentu saja semakin gesit sang katak mencoba meloloskan diri, semakin banyak duri pengait yang menangkapnya, sehingga katak tersebut tidak dapat bergerak dan mati pelan-pelan di atasnya. Terus apa untungnya bagi si kaktus? Tentu saja, sari-sari makanan dari tubuh katak akan terurai dan akhirnya diserap oleh kaktus, sehingga kaktus secara tidak langsung mendapat zat hara. Bisa jadi ini kaktus karnivora! *hihihihi.. lebay
  2. Duri itu adalah alat penyebaran populasi kaktus. Satu kali saya tersangkut oleh duri pengait kaktus yang ukurannya kecil, dengan mudahnya si kaktus ikut tercabut dan ikut di tangan saya, saya tentu berusaha mencabut dan melemparkannya ke tempat lain. Nah! Justru dengan teknik “nyangkut” itu, kaktus kecil itu akan mulai berkembang di tempat baru dan membentuk koloni barunya. Jadi, jika ada hewan besar atau manusia yang tidak sengaja tersangkut durinya, si kaktus bisa ikut dan berpindah tempat dan beranak pinak di tempat baru itu. Saya sudah lihat beberapa anakan yang jatuh di tanah disekitar induknya sekarang mulai tumbuh.

Hampir sama dengan teknik penyebaran tanaman “rumput bujang” yang duri-duri lunaknya suka nyangkut di celana atau kaos kaki kalau kita melewatinya. Yang nyangkut itu kan sebenarnya biji-bijinya, dan saat kita melepaskannya, si biji sudah berada di tempat yang jauh dari induknya. Mungkin pembaca ingat cerita tentang pohon “kitiran“? Nah kalau itu teknik penyebarannya dengan cara terbang! 😀

**

Sungguh Maha Besar Tuhan yang menciptakan segala hal dengan sebuah alasan dan manfaat, bahkan untuk sebuah duri pengait yang kita kira sebuah “musibah”, ternyata mempunyai tugas mulia bagi si kaktus.

Semoga pengetahuan ini tidak hanya memperluas wawasan kita tentang tanaman, tetapi juga mengandung renungan tentang hikmah sebuah penciptaan.

Salam Kebun!


Weekly Photo Challenge: Round

Round? It could be the easiest theme of Weekly Photo Challenge so far since I have a bunch of photos merely supported this theme. But for some reasons,  I really wanted to take the challenge by capturing new photos I would take this week. Should be easy I thought.

In fact, I didn’t get any good photo in the first 3 days 😦 What a lame! It had occupied my thought in couple past days, even a busy days couldn’t distract me from this “roundness”. In the middle, kind of admitting it’s quite hard to get “round” photo in (only) a week. It was simple yet sounded easy, but no more.

Thanks God, I found them at last!

Wheel, might be the popular chosen for the theme. I had checked out some of the participant’s and it is! 😆

On Tuesday, I was in the middle of shooting an high school anniversary parade for documentation purpose. There were some cops along the route since the parade obviously took more than a quarter of the road width, and caused traffic at the moment! 😛   I stood on the edges of the road and found a motorcycle of traffic cop parked in the middle of the road. Looks cool! I’ve never been that close with that motorcycle, and suddenly thought to approach and capture it. Hey! Round wheels! I got one! 😀

**

I found this cactus beside my house. This is actually my Mom most hated cactus. That’s why my Mom doesn’t look after this cactus very well and just put the pot in any hidden place, somewhat abandoned. Fortunately, this cactus is so vigorous one and used to raise abounding shoots turned them into a “giant thorn ball”.

Can you guess why my Mom hates this cactus terribly? This cactus has so many short-tough white thorns PLUS long-dark thorns like hook worsen it’s performance. If you see carefully, in the middle of every round, you can find “the hooks”. That hooks easily hook your hand, skin, or anything with pores when be touched, surely it’s a bit hurt, and when you start to release the hook  carelessly, I guarantee another hook already caught you! My Mom simply said: Annoying cactus!

In the next post, I will tell you about this special cactus, those special hooks and the reason I found behind why they have hooks! Hmm, It’s interesting!

Happy Blogging!

PS: Mulai besok internet sudah lancar lagi! Cihuy!


Ada Apa dengan April?

Welcome May!

Dapet contekan dari Putri Usagi buat nulis tentang apa-apa yang terjadi sebulan kemarin, syukur-syukur bisa jadi evaluasi, pelajaran dan penambah semangat bulan-bulan ke depan. Time to flash back! *ssst..orang pelupa lagi mikir keras*

Awal-awal bulan April sempet dibikin tewas sesaat karena hectic ikutan lomba Kecubung 3 Warna di BlogCamp, maklum kita pada deadliners semua (Saya, Putri dan Irvan) jadinya jatuh bangun buat ngejar batas waktu lomba dan sempet pake acara demam segala pula. Fiuh, tapi akhirnya lumayan juga hasilnya, bisa jadi juara 5! Cihuy! Lumayan bisa nambahin tabungan plus dapat hadiah buku dari Pakde : “Seroja” *ternyata kita bertiga dapat buku yang sama lho, mau barter gak put? gakgakgakgakkk… Thanks Pakdhe!

Hmm.. Awal april ini juga saya resmi bergabung dengan Komunitas Fotografi di Kabupaten Tanah Laut, tempat saya tinggal sekarang, bernama Mata Lensa Tanah Laut, yang belakangan telah mengubah nama menjadi Tanah Laut Photo Club (TLPC), heheheh… maklum organisasi baru, suka masih galau, haiyah! Langsung juga ikutan hunting bareng di pantai Suarangan, dan mulai belajar portrait (pake model), ternyata susah juga.. hehehhe…

Bulan April ini juga TLPC mulai bergerak cepat, kami mulai bergerak untuk legalitas organisasi, pergi ke notaris dan kantor-kantor  pemerintah, bikin baju dan ID-card, ketik Profile organisasi dan proposal. Hmmm… Dari komunitas ini, saya lumayan dapat temen-temen baru, seneng juga berada di komunitas yang bisa belajar, bergaul dan having fun! Saya mendukung sekali keberlangsungan organisasi ini karena saya bisa melihat prospek yang bagus ke depannya. Semangat teman-teman!

Hmm, iya bulan April ini saya juga datang banyak banget paket buku, baik karena lomba ataupun gift dari blogger yang baik hati. Blog saya juga mulai dikunjungi oleh wajah-wajah baru *yang ngerasa baru say cheese! Wakakakakak… penuh warna warni, mulai dari blog ibu-ibu yang masih setia nyeritain tentang anak dan suaminya, blog anak muda galau yang suka nulis cerita panjang-panjang, sampai om-om satu almamater yang punya foto-foto keren! Gak lupa juga beberapa blogger lama yang mulai rajin update tulisan, join Post a Day 2011, join Weekly Photo Challenge *yes berhasil terhasut!, dan blogger pemusik yang lagi demen posting video-video keren+narsis dan para pengamen yang lucu2 ngeluarin album baru! Cool! You guys simply colored my life!

Bulan april ini Weekly Photo Challenge berhasil diikuti semua! Bagi teman-teman wordpress yang suka foto-foto *dengan kamera apapun, plis ikut program ini! Kenapa saya semangat menghasut? Karena program ini meningkatkan kreatifitas, relatif mudah, bisa nambah-nambahin postingan dan cerita tiap minggunya, dan tentunya traffic + persahabatan makin banyak, banyak lho blogger asing yang nyasar ke blog saya gara-gara foto. Hihihihiihih… Oh iya, program ini gak maksa kita bercerita tentang foto dalam bahasa Inggris kok, silahkan pakai bahasa kita aja, ntar kalo mereka pada bingung, itu sih derita bule-bule yang pengen baca, 😛 wkakakakak…

Mulai aktif lagi ikut di siaran radio bahasa Inggris tiap jumat malam di sebuah radio lokal dan sempet terkejut saat panitia sebuah kontes bercerita dalam bahasa inggris meminta saya jadi juri! *pasti ini kecelakaan! Wakakakakak… Pilihan yang baik dan buruk. Baik karena saya bisa sekalian jadi seksi dokumentasi dan buruk karena saya gak siap apa-apa, dari skill dan baju! *Kemeja gak disetrika pun dipake! hmm… bulan April ini target untuk baca novel Inggris belom selesai 🙄 Semoga bisa lebih lancar bulan ini! Yes!

Project bikin header pemenang kedua Lomba Header Impian, Grandis, berhasil dicancel karena ribet sama layout blogspot dan diganti dengan pengiriman benih Torenia yang saya kumpulkan selama sebulan, wkakakakaka… Since he likes gardening so much, I hope that could be a nice replacement and yet a challenge for him to grow Torenia! Chaiyo Grandis! Next one… header buat Bunda Lily, Bund, maafkan anakmu ini yang lelet banget ngerjainnya… I’ll do my best! *ngerayu 😀

Anyway, bulan ini selain dapet job buat foto-foto di nikahan yang sederhana itu, saya juga dapet job buat pemotretan dua ABG yang cantik-cantik, selama dua hari-dua lokasi, hihihihihi… Job ini pun memaksa saya untuk belajar foto portrait lebih baik lagi, meskipun amatir, tapi hasilnya cukup memuaskan mereka lho, bahkan mereka mau lagi for the next project! Cihuy! Sambil menyelam minum air, sambil jalan-jalan dan belajar moto, bisa dapet duit, hihihihihi… Kapan-kapan saya posting deh hasil job ini! 😀

Bulan ini juga dapat kucuran semangat untuk berbisnis dari blogger-blogger yang sudah memulai bisnisnya sendiri. Awalnya mereka hanya kirim email secara personal tentang hal-hal sederhana di postingan saya, tetapi malah berlanjut ke arah diskusi ke masalah bisnis dan masa depan. Nice! Saya salut sama mereka-mereka ini karena mampu berbagi hal-hal yang positif  dan semangat yang begitu membara! Oh iya, dapat juga E-book dari Mas Isro sebagai kado ultah blognya. Tapi belom  download karena internet masih lemot parah! Thanks ya Mas!

Nah, menjelang Ujian Nasional anak-anak SMP selama seminggu saya diminta ngelesin anak tetangga, hehehehe…  Bahasa Inggris dan Matematika oke lha bisa, nah pas IPA justru saya pusing gara2 banyak rumus fisika bertebaran, wkakakkakaak… susah juga ternyata! 😛 Mudah-mudahan lulus ya Dik Elsa. Maaf kalo guru lesnya suka manyun+jidat kerut-kerut agak lama kalo liat soal-soal fisika, hihihihi…

Lain-lain, kegiatan saya masih gitu-gitu aja, berenang rutin 2 kali seminggu, ubek-ubek tanaman di halaman belakang, nyuci baju, ngembat cemilan di dapur sampe nyikat kamar mandi, hehehehe… Oh iya, bulan april ini saya lagi nunggu kabar tentang kerjaan, eh dapat kabar ternyata masih harus menunggu lagi, ya sudah ternyata emang harus sabar… Mudah-mudahan impian saya balik ke Bogor bisa segera terlaksana. Amin. Jealous aja sama temen-temen yang pada doyan bolak-balik kopdar kaya orang ngemil, thus I need to make sure to arrange kopdar schedule properly! *sok iye banget kaya ada yang mau kopdaran aja! GakgakgaKKgakkk… 😀

Well, that’s all for April! So busy, So colorful and yet, So worthy!

Happy Monday!

PS: berhubung internet lagi lemot lebay, acara BW masih dalam suasana merayap dan tertatih! *haiyah!