Frames, Green, Rustle and Sweet Tea

Archive for 29 April 2011

Pernikahan di Desa

Ini cerita dua minggu yang lalu, saya diundang ke sebuah pernikahan super sederhana di sebuah desa kecil di Kecamatan Durian Bungkuk. Alih-alih sebagai tamu, saya memang juga diminta secara pribadi sebagai tukang foto dadakan, ya karena memang mungkin karena keterbatasan dana, pernikahanpun dirayakan tidak dengan suasana wah dan penuh makanan, toh yang hadir pun hanya tetangga dan warga sekitar saja. Saya pun dengan sukarela menjadi fotografer free charge! *mudahan gak riya

on the way...

Kesederhanaan pernikahan ini membuat saya tertegun sesaat, menyadari bahwa tidak selalu sebuah pernikahan dirayakan dengan kemeriahan acara dan gemerlapnya makanan. Di desa itulah saya melihat pernikahan dalam kesederhanaan juga tetap bisa menjadi sebuah moment kebahagiaan suami dan istri yang tentunya tetap halal dan resmi, at least itu yang saya liat dari wajah pengantinnya.

Hampir saja saya merasa ilfil dan menjudge mereka yang tidak-tidak, tetapi hati kecil saya merasa, apalah artinya kemeriahan acara jika tidak bahagia, hihihihiihi… sisi lain hati saya juga merasa bahwa ini juga sebuah pelajaran, bahwasanya banyak orang yang jauh lebih kekurangan dari diri kita tetapi mereka tetap pandai bersyukur dan tersenyum! *sok dewasa 😛

**

Ada cerita lucu waktu pertama saya datang di sana. Karena areal makan dan tempat duduk hanya seluas halaman rumah, maka keadaannya agak kucar-kacir, bahkan tidak ada “singgasana” khusus buat pengantin, saya menyalami pengantin wanita yang memang saya kenal, dia duduk dan mengobrol di dekat kursi para ibu-ibu, dan tentu saja saya celingak-celinguk cari yang mana pengantin pria.

Karena merasa tidak menemukan cirri-ciri pengantin pria, saya mencari posisi untuk duduk, kemudian saya bertanya sama temennya temen yang duduk di depan saya, kenalnya saat berangkat bareng tadi.

“Pengantin prianya yang mana ya mas?”

“Lho, jelas tho yang pake jas…”

Hah??? Saya kaget, sambil liat kanan kiri, pengantin prianya ternyata duduk tidak lebih dari 2 meter di sebelah saya, wkakakakkakaka… 😳 kebayang kan saking sederhananya, saya sampai siwer mana tamu mana pengantin… fiuhhh… Aduh saya malu sekali mempertanyakan pertanyaan gak penting itu. 😛

Tetapi kelucuan ini bertambah setelah 5 menit saya bertanya itu, mas yang saya tanya tadi, menanyakan hal sebaliknya.

“Kalau yang wanita yang mana ya mas?” katanya sambil bisik-bisik.

Wakakakakkaka…. “Itu yang pake baju putih.. soalnya saya kenal”

Ternyata dia juga bingung dari tadi! 😛 *asli saya ngakak dalam hati.

**

Gak lama, ternyata ada cara selamatan kecil di dalam rumah yang dihadiri oleh tamu laki-laki. Tidak banyak, cuma makanannya banyak! Mereka memang keluarga jawa, jadi tentu menggunakan adat jawa. Jadi ada seorang ustad/ulama yang membaca bacaan doa di depan tamu dan sebongkah makanan. Kemudian setelah selesai, makanan dibagikan. Setiap orang mendapat dua lembar daun pisang yang diisi oleh seseorang yang mengambil nasi dan lauknya, satu demi satu. Porsinya porsi kuli! Saya pikir tadi buat dimakan di tempat, eh ternyata buat di bawa pulang.

Saya dapat giliran, nasi dan lauk yang banyak itu sudah ada di atas daun pisang saya, sok-sokan bisa bungkus daun, saya mulai beraksi, tetapi bolak-balik gagal, bapak-bapak sebelah saya kemudian bertanya:

“Mau dibantu mas bungkusnya?”

Hehheehhe… ternyata saya emang gak bakat jadi penjual nasi, wkakkakaka… si bapak lancar banget! *dari tadi kek!

Terakhir, ada pemuda yang berkeliling bagi2 kerupuk dan rempeyek. Setelah semua sudah kebagian, si ustad kasih wejangan dikit, dan kata penutup. Tetapi ditengah-tengah kekhusukan itu, terdengar bunyi, kriuk-kriuk-kriuk! Wkakakakka…. Itu suara saya lagi ngemil rempeyeknya! Wkakaakkakakak…

Seketika setengah dari hadirin seperti tiba-tiba melihat ke arah saya! OMG, saya buru-buru telan rempeyek yang ada di mulut dan kembali tenang. Jaim seperti tidak terjadi apa-apa. Entah lha mungkin makanan itu gak boleh di makan di tempat, meskipun itu hanya rempeyeknya…hehehee,  atau kenapa ya? berisik? Ada yang tau kenapa?

**

Nah pas giliran ambil makanan resepsi, ada beberapa pemuda yang sengaja diam dan mempersilahkan golongan “lebih tua” untuk ambil makan duluan.

“Emang kenapa sih? Beda gitu?” saya nyeletuk

“Ya kan untuk menghormati” jawabnya.

Temen saya di belakang nyeletuk, “Pantesan Indo gak maju-maju, ngantri aja pake aturan umur, kapan yang muda-muda bisa unjuk gigi!”

Saya cuma ngikik mendegar celetukan itu. Ada benernya juga ya.

**

Okelah, berikut saya kasih aja beberapa foto-foto hasil jepretan iseng di pernikahan itu, hehehhhe… Enjoy!

This slideshow requires JavaScript.

Happy Weekend!