Frames, Green, Rustle and Sweet Tea

Archive for 9 April 2011

Bendera Itu

Pemuda itu melangkah menuju arah rumah dengan sedikit lambat. Nafasnya sudah mulai teratur. Keringatnya juga tidak lagi keluar sederas 30 menit yang lalu. Pemuda itu melirik langit sesekali, senja sudah tiba. Lima menit lagi dia akan tiba di rumahnya. Jogging kali ini cukup membuat otot-ototnya terasa lebih ringan dan rileks.

Tepian jalan raya sebenarnya bukanlah track jogging yang dia sukai, tetapi untuk mencapai rumah lebih cepat, mau tidak mau dia memang harus memilih jalan itu. Mobil, motor dan truk lalu lalang, tergesa-gesa seolah-oleh sedang berebut untuk segera pulang ke sarang masing-masing. Lampu-lampu kendaraan dan pinggir jalan pun mulai dinyalakan.

Pemuda itu memandang ke sebuah gapura besar yang melintang jauh dihadapannya, bertuliskan kata-kata selamat datang. Itulah gapura yang menjadi gerbang kota tempat tinggalnya. Di sisi-sisinya ditanami berbagai macam tanaman hias dan peopohonan yang turut menyemarakkan keindahan gapura itu, tidak terkecuali barisan umbul-umbul yang berwarna-warni. Umbul-umbul biasa berbentuk bendera warna-warni, dan beberapa adalah umbul-umbul merah putih. Warna bendera negara ini.

Mata pemuda itu tiba-tiba beralih pada sebuah umbul-umbul yang rebah di tanah. Sebuah umbul-umbul merah putih yang terikat pada tiang bambu. Ikatannya yang terbuat dari tali rafia itu sepertinya terlepas dari pagar kawat tempat bersandar bambu tersebut. Mungkin roboh tertiup angin. Pemuda itu masih melangkah seperti biasa, matanya tidak lagi menatap umbul-umbul yang roboh itu. Nanti juga ada petugas kebersihan atau siapapun yang membetulkan posisinya.

 

Dalam langkah-langkahnya, pikiran pemuda itu kembali tertuju pada umbul-umbul yang roboh.

Siapa yang akan membetulkan posisinya?

Apakah petugas itu benar-benar akan datang?

Tapi kapan?

 

Ingatan pemuda itu melayang ke ucapan pembina pramuka saat dia masih duduk di bangku sekolah.

“Berhentilah sejenak saat bendera merah putih dikibarkan, posisikan dirimu dengan posisi hormat, itu wajib bagimu. Junjunglah selalu bendera itu. Jangan pernah menjatuhkan sekali-kali ke tanah dengan sengaja. Bendera itu adalah bendera yang sama yang pernah dikibarkan dengan pengorbanan air mata dan darah”

 

Pemuda itu terdiam seketika. Kepalanya menoleh ke belakang, matanya kelu menatap ke arah umbul-umbul merah putih yang sudah berada sekitar seratus meter di belakangnya. Pemuda itu berbalik. Dia berjalan, tapi terlalu lama, dia berlari, terus berlari menuju umbul umbul yang roboh.

Tanganya mengangkat bambu tinggi itu dengan cepat, menahannya dan meraih rafia yang terlepas, melilitkannya dan mengikatnya dengan segenap kekuatan, memastikan bahwa ikatanya tidak akan terlepas oleh angin. Tidak lagi dihiraukan apa kata orang yang mungkin melintas dan melihatnya: Apakah pemuda itu kurang kerjaan? apa pemuda itu kembali hanya untuk sebuah umbul-umbul?

 

Ada hembusan nafas lega dari mulut pemuda itu, seolah ada sebuah hutang besar yang telah ditunaikan. Pemuda itu mundur, memandang umbul-umbul merah putih yang telah berdiri dan berkibar di langit senja. Sama seperti ketika dia pernah mengibarkan bendera di sekolahnya, pemuda itu mengangkat tangan, memberikan hormat kepada sang merah putih.

 

Matanya nanar. Bukan, bukan karena dia teringat tentangĀ  perjuangan penuh air mata dan darah, atau tentang sebuah kemerdekaan yang pernah dia baca di buku sejarah, tapi dia malu. Bukan malu pada orang-orang yang melihatnya.

 

Dia malu pada dirinya sendiri.

 

Aku seharusnya tadi bisa mengibarkan sang merah putih lebih cepat, menjunjungnya lebih cepat dari keterpurukan di atas tanah. Aku seharusnya tidak perlu berpikir dua atau tiga kali hanya untuk mengangkat sebuah bendera merah putih, bendera kehormatan negeri ini, tanah air tempat aku dilahirkan…

[based true story]

***

 

Sebuah renungan untuk diri sendiri…

 

Happy Weekend!