Frames, Green, Rustle and Sweet Tea

Archive for 9 March 2011

Rumput Tetangga

“Rumput tetangga selalu lebih hijau”

Mungkin kata-kata itu sudah seringkali lewat di telinga kita. Keadaan di mana kita merasa orang lain lebih beruntung, lebih baik, lebih berhasil, lebih bahagia, lebih ini dan lebih itu. Biasanya ini akibat kita membandingkan keadaan kita dengan orang lain yang berada di “atas ” kita.

 

Mungkin hampir semua orang pernah merasakan saat-saat seperti ini, sedikit atau banyak, jarang atau sering, intinya terbesit rasa iri di dalam hati. Menurut saya, perasaan iri adalah manusiawi sekali, iri yang baik tentunya memunculkan suatu pemikiran dan motivasi, tetapi jika berlanjut menjadi dengki, nah itu namanya penyakit hati 😀

 

Tentu saja saya juga mengalaminya rasa iri ini. Kadang merasa rumput tetangga lebih hijau dari rumput kita. Terlebih lagi yang hubungannya dengan hal-hal yang tidak mampu dimiliki atau tidak mampu diraih. Banyak hal yang memunculkan perasaan ini, bisa dari sekedar ngobrol, chatting sampai blogging.

 

 

Pada satu kesempatan saya menelepon teman saya baru pulang dari US, berbagi cerita, hingga kemudian dia mengatakan bahwa  dia berniat melanjutkan S2 secepatnya. Saya berpikir, betapa beruntungnya dia. Saya iri.

Lain kesempatan saya chatting dengan teman di YM dengan teman yang sudah bekerja di Singapura dan US. Kehidupannya semakin sibuk dalam dunia kerja yang penuh tantangan. Karirnya semakin melesat. Saya berpikir, betapa beruntungnya dia. Saya iri.

Lain lagi dengan cerita seorang teman yang sedang bersiap-siap melanjutkan studi dengan besasiswa S2 di negeri tirai bambu, padahal sekarang pun dia masih di luar negeri. Cepat sekali bergerak. Saya berpikir, betapa beruntungnya dia. Saya iri.

Kemudian saya ngeblog, baca tulisan orang yang keseharian kerjanya dipenuhi dengan kegembiraan dan tulisan penuh semangat dan aura kebahagaiaan. Membangun perusahaannya sendiri. Travelling ke tempat-tempat penuh kejutan. Karir yang melesat jauh meninggalkan teman-teman seumurannya. Saya berpikir, betapa beruntungnya dia. Saya iri.

 

 

Tidak akan habis rasanya jika kita terus membandingkan diri ini dengan hal-hal yang kita tidak miliki. Hati menjadi lelah membandingkan hal-hal yang sebenarnya tidak perlu dibandingkan. Tapi namanya juga manusia, selalu saja ada masanya hati menjadi goyah.

Tetapi kehidupan ini tidak mulu masalah melihat ke atas. Dari percakapan, chatting dan blogging juga kita bisa memperoleh banyak cerita yang berkebalikan. Selalu ada cara kita untuk sesekali melihat rumput kita lebih hijau. Melihat diri ini lebih baik, lebih beruntung, dan lebih dari orang lain. Kemudian kita seperti mengobati rasa iri itu dengan rasa syukur.

 

 

Satu kali saya bertemu dengan teman lama. Dia orang baik tetapi tidak sedang bernasib baik. Sekolahpun dia tidak sampai lulus. Hidupnya dipenuhi dengan perbuatan tidak berguna. Bekerja tidak jelas juntrungannya. Dia mengeluhkan hidupnya amat berantakan. Saya terketuk, betapa beruntungnya saya. Saya bersyukur.

 

Lain kesempatan saya bertemu dengan teman yang sudah berkeluarga, tetapi hidupnya juga sakit-sakitan dan penuh dengan perjuangan. Memiliki anak di umur yang muda tanpa persiapan justru membuat hidupnya semakin runyam . Kini dia harus bekerja lebih giat dari biasanya. Lebih banyak keringat, lebih banyak air mata. Saya terketuk, betapa beruntungnya saya. Saya bersyukur.


Saat ngeblog, saya juga membaca tulisan sederhana dari para blogger tentang kehidupannya di kota kecil yang dipenuhi dengan tawa dah rasa syukur meskipun pekerjaannya tidak terlalu menjanjikan karir, meskipun hidupnya hanya seputar itu-itu saja. Tetapi tidak sedikitpun dia bersedih. Saya terketuk, betapa beruntungnya saya. Saya bersyukur.

 

 

Jadi intinya apa?

Ubah rasa iri menjadi semangat berjuang saat melihat rumput tetangga lebih hijau.

Sebaliknya, Pandai bersyukur saat melihat rumput tetangga ternyata tidak sehijau rumput kita.

 

Hidup ini tidak mulu tentang melihat orang-orang yang berada di atas, kita juga bisa melihat orang-orang yang berada di bawah pada saat yang sama. Itu yang kelak melatih kita untuk  pandai menjaga dan menyikapi hati. Itulah yang membuat hidup ini seimbang. Bersemangat dan bersyukur  pada saat yang bersamaan!

 

 

*Nasihat untuk diri sendiri: Perjalanan masih panjang prim, tetap semangat dan tetap bersyukur menjalani hidup!

 

Happy Blogging!