Frames, Green, Rustle and Sweet Tea

Archive for 20 January 2011

Bioskop Horor

Sahabat,

 

Pasti pernah nonton film di bioskop? Bagaimana perasaan sahabat saat itu? Pasti senang kan?

Kali ini saya cerita nonton di bioskop paling horror yang pernah saya alami :mrgreen:

 

Saya lupa, mungkin sekitar tengah tahun 2006. Saat itu saya masih mahasiswa yang sedang dalam program KKP (Kuliah Kerja Profesi), yang mana saya diharuskan stay di sebuah desa selama kurang lebih dua bulan untuk melakukan beberapa program yang telah dibuat. Beruntungnya desa saya masih di Kabupaten Bogor, dan lebih beruntungnya lagi  desa saya paling dekat dengan Kota Bogor, jadi kalau bosen di desa saya bisa melenggang naik angkot ke kota buat jalan-jalan 😛

 

Cerita berawal saat rasa jenuh memenuhi otak saya malam itu. Saya bersikeras pergi ke kota sendirian, karena teman-teman saya yang lain gak mau ikut dengan alasan sudah jam 7 lewat saat itu, artinya gak bisa lama jalan-jalannya.

 

Memang saya berniat nonton film di bioskop, tapi saya sendiri belum tahu film apa dan pukul berapa. Saat itu di Bogor hanya ada dua bisokop, satu di pasar anyar (kalau tidak salah), satu di Tajur namanya Galaksi. Saya prefer bioskop Galaksi karena tempatnya jauh lebih nyaman daripada bioskop satunya.

 

Sampai di bioskop itu sudah pukul 8. Saya melihat list film yang ditayangkan malam itu. Tidak ada satupun film “waras” selain film kartun produksi Pixar “Cars”. Itu lho film tentang mobil sedan warna merah yang ikut tournament balapan.  Bukan saya menganggap film-film lain jelek, tapi siapa yang mau nonton film Indonesia yang bergenre hantu-hantu gak jelas, buang-buang duit aja 😛 Ya sudah, akhirnya saya memilih film Cars yang di mulai sekitar pukul 9 lewat 10 menit di studio 4, studio paling bontot, paling belakang.

 

Waktu saya beli tiketnya, saya agak kaget melihat kursi yang sudah dipilih. Yang terisi hanya bagian belakang.

“Lho, sepi yang nonton ya mbak?”

“Ada kok mas, ntar saya juga ikutan nonton kok”

Ya sudah, akhirnya saya pilih bangku tengah nomor 3 dari belakang, selang satu baris dengan barisan belakang yang sudah penuh.

 

Saya pun jalan-jalan di sekitar Tajur, masuk keluar toko sepatu-tas alih-alih menunggu waktu mulainya film. Film pun dimulai. Saya masuk pertama ke dalam studio. Disusul beberapa orang yang datang selang 1 menit setelah saya duduk. Saya tidak bisa menghitung jumlah penontonnya karena lampu sudah dimatikan saat itu, saya cuma mengenali suara seorang ayah dan anaknya yang mungkin masih berumur 5 tahun, duduk tepat di belakang saya. Sedangkan saya tidak melihat seorangpun duduk di bagian depan.

 

15 menit pertama, saya masih mendengar anak kecil dibelakang saya seperti merengek-rengek kepada ayahnya. Kemudian tidak terdengar lagi rengekan. 1 jam berlalu, saya hanya mendengar suara dialog para tokoh kartun, dan sesekali tawa saya sendiri. Saya mulai merasa aneh. Kenapa sunyi sekali, kemana anak kecil yang merengek itu? Apa sudah tidur? Saya tidak berani menengok ke belakang, ntar di kira kurang kerjaan lagi, hehehehe… Ya sudah saya cuek saja sampai film selesai sekitar pukul 10.30.

 

Sodara-sodara, ternyata saat film selesai, dan lampu studio dinyalakan. JRENG!

 

Sunyi.

Dingin.

Sendiri.

 

Ya Tuhan saya benar-benar sendirian di studio 4 itu.

SENDIRIAN!

 

 

Saya sempat bengong, perasaan campur aduk antara serem dan nahan teriak! Lho orang-orang tadi kemana? bapak dan anaknya? apa sudah pulang duluan?

Kemudian pelan-pelan saya berdiri dan berbalik badan, keluar dari barisan bangku itu, tiba-tiba muncul sosok mas-mas berbaju hitam yang bikin saya kaget.

 

“Mas, di sini keluarnya!” seru mas-mas itu sambil nunjuk pintu kecil disebelahnya.

 

Jangan tanya bagaimana kagetnya saya saat itu, sudah  jelas-jelas studio itu sepi, eh mas-mas itu nongol tiba-tiba dari gorden. Untung gak pake topeng gorila, bisa bener-bener teriak kali saya. 😀

 

Saya keluar dari pintu itu dengan muka -mungkin- paling tolol yang pernah dilihat si mas. Saat saya keluar dari pintu itu, si mas langsung menarik dan mengunci kerekan besi yang menutup studio. Ya ampun, jadi dia nunggu saya keluar dan segera menutup studio itu. Tiketing juga sudah sepi tidak ada orang. Saya gak tau apa yang ada di pikiran si mas saat melihat saya. Mungkin si mas mikir: Ngapain sih anak culun itu nonton malem-malem begini sendirian, udah gila kali ya???

 

Saya keluar dari bioskop Galaksi lewat pintu samping yang sudah di tutup setengah, karena pintu utama sudah di kunci. benar-benar mau tutup nih bisokop. Saat saya menyebarang jalan untuk mencari angkot pulang, saya kemudian sadar Bogor sedang mati lampu. Gelap! Makin horor aja!

 

Saya pulang ke desa dengan keadaan jalanan yang gelap. Sampai rumah di desa, saya masih bengong mengingat kejadian di bioskop itu.

 

Tiba di rumah, teman saya asik main kartu.

“Cuy, Bogor mati lampu gak? Lu nonton apaan?

Saya cuma diam

“Pasti lu nonton hantu ya?”

Saya menjawab…

 

“parah banget sumpah…”

**

 

Nah apa sahabat juga punya pengalamn nonton sendirian di bioskop? Saya udah kapok nonton sendirian 😛