Frames, Green, Rustle and Sweet Tea

Archive for 9 January 2011

Doa Nur

Sahabat, kali ini saya menulis cerita fiksi lagi, mohon maaf jika ada perbedaan paham, namanya juga fiksi :mrgreen:

 

Nur masih tertegun di bibir tangga masjid. Matanya kosong, seperti sedang menerawang entah kemana. Beberapa teman-teman seumurannya berlarian ke luar masjid, sesekali dibarengi gelak tawa dan senyuman. Orang-orang dewasa juga mulai meninggalkan masjid. Pengajian malam itu sudah selesai dan waktu telah menunjukkan pukul sembilan.

Gadis kecil berumur sebelas tahun itu menoleh ke arah seorang lelaki tua, dialah Ustad Lutfi yang mengisi materi pengajian hari ini. Matanya terus memandang orang tua itu sampai menghilang di kegelapan. Bibir Nur bergetar sesekali, seolah-seolah ingin menyampaikan sesuatu. Suatu pertanyaan yang mengganjal di hatinya sedari tadi.

Nur mengalihkan pandangannya. Dia urungkan niatnya untuk bertanya. Malam sudah makin larut. Nur kemudian meraih sandal jepit usangnya, memeluk sajadah dan mukena yang penuh jahitan, dan berjalan pelan.

Langkah kaki Nur sedikit pelan malam itu. Rumah Nur agak sedikit jauh dari masjid tetapi tidak pernah menghalanginya untuk pergi ke pengajian. Nur, gadis  kecil yang berani dan mandiri itu masih menerawang ke sebuah ucapan yang masih terngiang di telinganya. Ucapan yang membuat hatinya takut.

…Kemudian semua manusia akan di bangkitkan oleh Allah, dikumpulkan di suatu padang yang luas, bernama Masyar. Kita kan dibangkitkan sebagai manusia yang muda, kita tidak lagi saling mengenal, tidak lagi mengenal anak, istri, orang tua. Hanya diri kita sendiri yang akan mempertanggung jawabkan segala perbuatan kita di dunia…

 

Secuil kalimat ustad malam itu seolah-oleh membuat Nur takut. Dia takut hari akhir itu tiba. Dia takut hari kebangkitan itu tiba. Dia takut akan sesuatu.

Nur meremas semakin kuat sajadahnya. Jalanan sudah sepi malam itu. Nur mempercepat langkah kakinya. Pikirannya melayang ke wajah Ibunya dan semua kenangan bersama ibunya.

Nur hidup sebagai anak yatim. Ibunya berjualan sayur setiap hari di pasar. Mereka hidup sederhana dan bahagia selama ini meskipun terkadang beratnya biaya hidup dan sekolah Nur terkadang membuat Ibu Nur harus bekerja lebih keras demi beberapa lembar rupiah. Rumah peninggalan ayahnya dari anyaman bambu itu menaungi mereka dari panas dan hujan. Meskipun begitu, Nur bahagia tinggal bersama Ibunya.

Nur, mengusap air mataya dengan kerudung putihnya. Air mata itu tiba-tiba mengalir pelan dari ujung matanya. Nur teringat akan kerja keras ibunya selama ini. Nur teringat dia pernah mengeluh karena harus menyicil biaya buku sekolah. Nur juga pernah mogok makan, hanya karena ibunya membatalkan janji menggorengkannya ayam hari itu. Nur pernah juga memaksa ibu untuk membelikannya majalah anak-anak, padahal Nur bisa saja meminjam pada temannya.

Ibu kini sudah sering sakit-sakitan. Batuk ibu tidak juga reda seminggu terakhir. Mantri puskesmas bilang kemungkinan ibu terkena TBC. Ibu, apa Ibu marah pada Nur? Apa ibu lelah bekerja? Apa ibu menahan sakit selama ini? apa Ibu tidak takut sendiri di rumah?

Air mata Nur semakin deras mengalir. Nur berlari menuju rumahnya yang sudah tampak dari jauh. Gadis kecil itu mengambil langkah tercepatnya. Sandal jepit itu menghantam batu jalanan dengan gesit, jilbab putih itu berkibar di tiup angin. Mata Nur sudah nanar. Bibirnya seperti ingin meneriakkan sesuatu. Ada sesuau yang ingin dia sampaikan kepada ibunya, sesuatu yang penting, sesuatu yang mungkin tidak bisa dia ubah.

 

Nur membuka pintu dapur dan menuju ke kamar. Ibunya sedang terbaring di sana. Bibir wanita tua itu jelas sedang tersenyum melihat anak semata wayangnya telah datang. Nur seketika memeluk wanita tua itu dan menangis tak terbendung. Badan kurus wanita itu tidak mengurangi hangatnya pelukan seorang ibu. Ibu Nur mengusap punggung anaknya lembut.

 

“Ada apa Nur? Kenapa nangis?”

 

Nur seperti tidak mampu membuka bibirnya. Air mata dan isakan itu masih menyelemuti wajahnya. Nur mendekatkan bibirnya pada telinga Ibunya. Bibirnya berbisik lirih.

 

“Bu, Nur takut. Nur nggak mau ninggalin Ibu, Nur gak mau melupakan Ibu…  selamanya…”

 

Wanita itu tersenyum, air matanya tak terbendung mendengar ucapan anaknya. Dia yakin sesuatu di pengajian malam ini menyentuh hati anaknya.

Gadis kecil yang masih begitu polos dan apa adanya itu masih memeluknya Ibunya, bibirnya bergetar dan berdoa malam itu. Sebuah doa yang mungkin tidak pernah diucapkan anak-anak lain. Doa yang mungkin tidak akan pernah terkabul.

 

Tuhan, jika hari akhir itu tiba. Kau boleh hapus semua ingatanku selama di dunia, tapi janganlah  Kau hapus ingatanku akan Ibuku karena aku tidak ingin dia sendiri dan kesepian.

***

 

Sahabat, hikmah cerita ini adalah:

  1. Jangan sia-siakan waktu bersama-sama orang tua kita, kita tidak tahu sampai kapan kita bisa bersama mereka dan sampai kapan kita bisa mengingatnya.
  2. Berbaktilah sebanyak-banyaknya kepada Ibu dan Ayah selagi mereka masih hidup.
  3. Ingatan kita dalah milik Tuhan. Tuhan bisa menghapus ingatan kita kapan saja.

Artikel ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan Cermin Berhikmah di New BlogCamp.

*gambar dari sini