Frames, Green, Rustle and Sweet Tea

Archive for January, 2011

Black and White

Sahabat,

Kali ini saya mau menujukkan hasil editing foto hitam-putih karya saya. Ini sebenarnya pertama kali buat saya mencoba teknik foto hitam-putih. Awalnya saya sedikit malas mau mencoba, saya berpikir, apa istimewanya hitam putih? Lebih bagus foto berwarna, lebih kreatif dan lebih bebas bermain warna. Ya kan?

Tetapi ada beberapa teman saya yang sedari awal menyukai foto hitam-putih, bahkan satu dari mereka bilang foto hitam-putih itu bermain di emosi dan punya sensasi sendiri. Ditambah lagi, tidak semua orang memiliki penghayatan untuk membuat foto hitam-putih yang “punya nyawa”. Beneran tuh?

 

Daripada saya penasaran, saya coba langsung saja. Berikut foto-foto yang aslinya berwarna, tetapi saya edit menjadi hitam putih. Lokasi pengambilan gambarnya di New York, dan di Indonesia. Untuk editing saya menggunakan Photoshop CS2. Semoga awal yang baik, dan mudahan saya punya bakat bikin foto hitam putih, hahahahahah….

 

Here we go…

Telephone

Seorang laki-laki yang sibuk menelepon di jalanan kota  New York

 

 

Drawing

Gadis muda yang menggambar sebuah karya seni di Museum Of Modern Art, NY

 

 

A Lady with Scarf

Seorang wanita dengan scarf di kota New York

 

 

Giant Mirror

Kaca gedung yang memantulkan bayangan gedung lain seperti cermin

 

 

L.O.V.E

Ini monumen (Saya tidak tahu namanya) di pinggiran jalan kota NY

 

 

A Dead Tree

Sebuah pohon di gedung tua yang sudah tidak terpakai

 

 

Going Home

Tukang ban pelampung di pantai sedang berjalan pulang

 

 

Sky Pillar

Tiang listrik di depan rumah

 

 

A Silent Window

Jendela biasa di sebuah rumah

 

A Little Girl

Gadis kecil yang sedang memeluk tiang kayu

 

 

Tides

Laut sudah mulai pasang

 

 

Sleeping Hand

Tangan seseorang yang sedang tidur

 

 

My Camera and I

Saya dan Kamera :mrgreen:

 

 

Looking for The Light

Pemuda dan sinar matahari sore yang menembus kamar

 

Well, how do you like it?

Semoga lain kali bisa lebih baik…

Salam Jepret!


Siaran Radio Bahasa Inggris

Sahabat,

 

saya mau bercerita tentang kegiatan saya jumat kemarin.

 

Awalnya sekitar seminggu yang lalu. Ada seorang teman lama yang saya sudah lupa wajah dan namanya, dia adalah Rijani, adik kelas saya sewaktu SD di Kalimantan. Dia datang memperkenalkan diri dan menawarkan kegiatan sukarela untung menjadi tamu di sebuah stasiun radio lokal milik pemerintah daerah sini. Eh? Saya? Dia menjelaskan lagi, ini untuk mengisi salah satu program acara mereka yaitu program siaran bahasa inggris. Owww, Hahahahahaha… Dia rupanya dengar saya punya pengalaman di luar negeri, dan berharap saya bisa sharing dan berdiskusi di acara tersebut.

 

Tawaran itu tentu saja saya iyakan. Berhubung saya pengangguran gak tetap (kadang nganggur kadang sok sibuk 😛 ), saya menyambut dengan gembira. Jarang-jarang kan bisa masuk radio dan lagi pula ini kegiatan positive. Itung-itung saya juga bisa melatih inggris saya yang sudah mulai lumutan. 😀

 

Jumat kemarin, saya jadi siaran! Sebenarnya bukan sebagai “tamu” apalagi “bintang tamu”, tapi lebih kepada “teman diskusi”. Saya pikir tadinya Rijani adalah penyiar atau host program ini, ternyata dia juga seorang “teman diskusi”. Host acara ini tidak lain adalah anak SMP bernama Maruli. Ya ampun, muda sekali saya pikir, tetapi sudah berani berbicara dalam bahasa Inggris. Saya waktu SMP ngapain aja ya??? Hahahahhaha….

 

Acara ini memang disupport oleh pihak sebuah SMP di sini yang mempunyai kelas internasional, jadi host dan teman diskusi kebanyakan berasal dari siswa SMP tersebut. Hanya saja hari itu sepi. Cuma Rijani dan saya sebagai teman diskusi, plus Maruli sebagai host.

 

Kita akhirnya mengangkat topic tentang “How Important English for You”. Awalnya saya bingung alias nervous akan seperti apa diskusi pada acara ini, tetapi syukurlah saya bisa menguasai suasana *songong,  Hahahhaah… diskusi berjalan hangat dan baik-baik saja, hehehehe… Maruli meskipun kadang terbata-bata memperlihatkan tekad yang kuat berbicara bahasa Inggris, dan Rijani yang ternyata guru bahasa inggris, juga dapat memancing saya bercuap-cuap. Well, not that perfect actually, but considered not bad. 🙂

 

Entah karena apa Maruli terlihat gak focus di saat awal acara, sampai-sampai dia salah mengklik lagu yang seharusnya dia putar menjadi lagu sebelumnya, jadi kita mendengarkan lagu yang sama dua kali berturut-turut, dan parahnya dia gak sengaja menyetop lagu di 30 detik sebelum lagu itu selesai, hahahaha… sedikit kacau, tetapi untungnya Maruli segera bisa mengatasi suasana itu. Oh iya, dalam acara juga sempat ada dua penelepon (seharusnya bisa lebih), jadi cukup seru saya pikir, ada interaksi antara kami dengan pendegar… Nice program!

 

Satu jam berlalu tanpa terasa, lucunya saat saya ditanya kesimpulan, saya malah balik bertanya “Sorry, is this over?” Hahahaah… dasar! Lugu amat ya… gak nyadar kalau sudah abis waktu.

 

Siaran pertama itu cukup membuat saya ketagihan. Rijani bilang saya bisa dating lain kali. Dan Dia juga mengundang saya untuk ikut bergabung dalam English Club yang diadakan di SMP tersebut setiap senin! Wow..what an honor! Saya senang sekali, ada kegiatan positive seperti ini, at least saya gak cuma diam di rumah kan. Bagitulah cerita kegiatan baru saya, mudahan senin ini akan ada cerita lagi di English club. I can’t wait!

 

Lucunya, orang rumah ternyata sibuk dengerin juga siaran itu. Adik saya malah mendengarkan dengan teman-temannya. Walhasil para tetangga mulai bergosip kalo si Prima tampil di radio, minggu depan mereka mau dengerin lagi, aduh!  Dasar ibu-ibu…

**

Oh iya, ini bukan pertama kalinya saya tampil di radio, sewaku SMA saya punya pengalaman tampil di radio yang berakhir dengan cerita konyol, kedua kali saya juga tampil di radio sewaktu masih mahasiswa di bogor untuk acara yang lebih konyol… kapan-kapan saya ceritain! 😀

 

PS: kapan-kapan saya ambilin foto kegiatannya 😛 kali ini gak ada dulu ya…

 

Happy Blogging!


Oleh-Oleh Desa Gunung Makmur

Hah! Akhirnya bisa posting lagi…. 😛

Sebenarnya bukan males, cuma bahan untuk posting baru siap…

Sahabat,

Seminggu yang lalu, sore hari, saya di ajak seorang teman baik hati bernama Eko untuk mengunjungi rumah budhe-nya di Desa Gunung Makmur, 15-20 menit perjalanan dari kota Pelaihari. Awalnya desa ini dulu bernama Gunung Gundul, karena memang gersang dan hanya hutan belantara. Kemudian sekitar awal tahun 80-an, pemerintah mengadakan program transmigrasi besar-besaran dari pulau Jawa, jadilah Gunung Gundul ini dijadikan salah satu tujuan transmigrasi. Lahannya yang luas dan tak terolah menunggu para golden fingers untuk menggarapnya.

Sekian tahun berlalu, kini Gunung Gundul sudah tampak lebih hijau. Banyak bermunculan sawah dan kebun sayur. Masyarakat pun akhirnya mengubah nama Gunung Gundul menjadi Gunung Makmur, menurut saya karena memang gunung itu tak lagi gundul, dan masyarakatnya pun hidup makmur dan berkecukupan (Ini pendapat saya saja, saya tidak tahu pastinya).

Tidak terlalu banyak hal spesial yang saya abadikan dengan kamera. Tetapi seperti yang disampaikan oleh seorang senior, “Sampaikanlah meskipun itu pahit“, eh sedikit maksudnya… 🙂 Yuk ikut saya jalan-jalan…

 


ini baru nyampe di rumah si budhe-nya temen, di seberang ada anak-anak lagi main voli.

 


Jalan-jalan di sekitar rumah nemu objek sederhana yang lumayan…

 

Ada suguhannya lho…

Teh manis…


Donat lokal harga 500-an, alot banget digigit…wkakakakakak…

 


Mulai jalan-jalan ke sekitar persawahan…


Pak Tani-nya…


Jalanan-nya… itu sepeda motor kita 😀

 


Sumur tua…


“Ini buat apa pak?” “Buat Tiwul mas…”


sapi kecil…


Jujur saya gak tau ini pembibitan apa… mungkin ini bibit karet…*mudahan bener 😛


Gak nyangka kan ada rumah gaya joglo begini, artinya desa ini transmigrannya memang berasal dari jawa…


maaf itu helm..hihihihihi…


halaman rumah yang bersih dan asri banget…


ini juga bersih…


Ada yang ingat foto adik kecil ini? Ya, ini gambaran asli dari foto di postingan sebelumnya


Ada rumah yang bagus juga… 😀


Senja merayap… kami bergegas pulang…


Adik kecil juga pulang dari memancing…

 


Seperti biasa… kameramen narsis dulu… wkakakakaakkaka…

 

 

OK. sampai disini dulu jalan-jalan kita… Moga ada kesempatan jalan-jalan lagi…

Salam Jepret!


Dasrun, Nyambung-bung….

Sahabat,

Badai Dasrun menghempas dunia perblogaan akhir-akhir ini, eh, taunya saya juga kebagian badai dasrun susulan! Badai Dasrun ini bergerak secara jelas dari rumah Mbak Iyha, yang menyebar ke 3 blogger lain, salah satunya Putri – Usagi, dan kemudian dengan imutnya tuh Putri Moon (tah) menendang badai dasrun sehingga menghantam rumah saya abis-abisan.. *lebay bener bahasanya

Well, cerita bersambung ini adalah sudah bagian ke-3. Bagian pertama ada di rumah Mbak Iyha, dan bagian kedua ada di rumah Putri Usagi.

Ini lanjutannya…

***

 

Dasrun tertegun beberapa menit, pikirannya masih berkecamuk antara tidak percaya bahwa dompet dan gaji pertamanya telah raib, dan keputusan cepat yang harus dia ambil untuk mendapatkan uang. Minta sodaqoh ke Madit atau pasang togel ke si Ucup?

 

“Mas! Manyun dipeliara! Buruan napa mikirnya, ntar lagi si Rama pulang ngaji, terus dia nagih janji, lo mau bilang apa??? Eh?”

 

“Huuuuuhhhh… Buruan deh lo pergi, bodo amat ke Madit kek, Ucup kek, dukun kek, pokoknya pergi, cari duit, ntar urusan Rama gue yang atasin…” Nting masih tidak berhenti berkicau seraya beberes isi dapur yang berantakan hasil amukannya sendiri.

 

Dasrun terjaga dari lamunannya. Hatinya sudah memutuskan untuk menemui Madit, si dermawan bermulut ular. Daripada dia harus membeli nomor togel ke Ucup, itukan sama saja dengan judi, judi kan haram, pikir Dasrun. Akal sehatnya masih tetap jalan, meskipun setan bermulut ular sedang hinggap di mulut istrinya saat itu.

 

“Mas jadi mau kemana nih?” Nting masih menampakkan wajah judes bercampur gelisah. Bibirnya maju mundur seperti sedang mengumpat Dasrun dalam hati.

 

“Gue ke rumah si Madit sekarang, duit yang lo kasih gue bawa dulu…”

 

“Iyeeeee…, gak sekalian aja abis dari Madit, pasang togel di Ucup, kan satu arah noh, ntar gue ajak Rama ke rumah Bu Haji, siapa tau ada sisa nasi, Rama kan suka dikasih, ya siapa tau emaknya juga kebagian, yang penting makan dulu bang, urusan pasar malam pasti Rama bisa lupa, terus nih ya…. ….”

 

Dasrun pergi meninggalkan rumah diiringi ocehan istrinya yang mulai melantur ke sana ke mari. Dalam hatinya berharap, ada sedikit uang dari Madit malam ini, setidaknya mereka bisa makan beberapa hari ke depan. Rencana pasar malam mungkin bisa ditunda.

 

**

“Aduh, maap-maap aje ye, Gue tadi pagi abis ngasih sodaqoh banyak banget ke kampung seberang. Duit kas gue abis. Lagian lu sopan amat malam-malam begini? Kagak sekalian bangunin gue jam 3 pagi ?

 

Dasrun cuma diam sambil menelan ludah mendengar ocehan Madit yang tidak kalah dasyat dengan ocehan istrinya.

 

“Ya udah, bang, aye pinjem aja, seadanya, berapa aja…”

 

“Kagak ada! Bulan depan gue bakal kasih sodaqoh lagi, lo datang aja lagi ke sini, tapi pagian. Gue gak biasa minjem-minjemin orang, ntar gue disangka rentenir lagi… “

 

“Tapi aye butuh sekarang bang..” Dasrun mulai berpikir tentang janjinya pada Rama. Kalau malam ini ada uang pinjaman yang lumayan, dia mungkin bisa ajak Rama ke pasar malam.

 

“Heh Dasrun, lu kira gue boker keluar duit, kalo bisa, gue boker sekarang! Gini aja, lu bawa tuh tabung gas buat balon sisa ponakan gue ulang tahun kemarin di garasi sebelah, nih ada ada sisa balon, lo jual balon dah tuh di pasar malam, pasti laku ! Mau kagak?”

 

Dasrun seperti mendapat angin segar.

Dengan cepat dia mengangguk. Matanya berbinar-binar melihat satu kantong plastik berisi kurang lebih 30 balon warna-warni.

 

“Jangan lupa, tabungnya lu balikin kemari kalo dah beres!”

Segera dia gotong tabung gas, satu gulung benang kasur, dan sekantong balon menuju pasar malam. Tidak henti-hentinya dia mengucap terimakasih kepada Madit malam itu.

 

Bibirnya sumringah sepanjang jalan. Tekadnya bulat malam itu untuk berjualan balon. Tekad seorang ayah dan suami yang bertanggung  jawab.

 

“Rama, mudahan malam ini balon bapak laku semua, besok kita jadi kepasar malam” Dasrun berguman dalam hati.

 

**

“Maaakkkk… asalamualaikum…. “

“Walaikumsalam, eh sudah pulang anak emak…”

“Mak, bapak mana ?” tanya Rama sambil melepas saliman tangannya.

“Bapak belum pulang, lembur kali ye… buru lo ganti baju yang bagusan, kita ke pasar malam”

Mata rama berbinar-binar tidak percaya.

 

“Beneran jadi mak???”

“Iyeeeee… gih dah buru ganti baju, emak dah siap, tinggal berangkat.”

 

Rama berlari-lari gembira menuju kamarnya sambil bernyanyi-nyanyi kecil.

“Mak, jadi naik pesawat-pesawatan kan mak?” Teriak Rama dari dalam kamar.

“Jadi…, kita ntar ngebakso juga. Bakso Futsal! Yang paling gede ntu baksonya!”

“Mantap!”

 

Dua menit kemudian.

 

“Yuk mak, Rama dah siap!”

“Eh, tapi Mak ada syarat!” Nting menatap wajah Rama serius.

“Syarat apaan mak?”

“Jangan bilang-bilang bapak kita ke pasar malam, janji atau batal!”

“Oke deh, Rama janji! Emang emak dapet duit dari mana?”

“Udah, pokoknya emak dapet rejeki mendadak”

 

Nting dan Rama bergegas meninggalkan rumah. Mereka segera menyetop bajaj dan melaju menuju pasar malam.

 

Di dalam bajaj si Nting membuka-buka dompetnya. Di dalam dompetnya itu dia mengeluarkan benda hitam berupa dompet kecil. Dari dalam dompet kecil itu dia mengeluarkan amplop putih berisi beberapa lembaran 50 ribuan.

 

Sambil menghitung-hitung jumlah lembaran itu, hatinya berguman sambil tertawa geli.

“Laki jaman sekarang emang harus dikasih pelajaran! Gaji pertama pasti kagak dikasih ke istri 100%. Alesan buat ini lha, itu lha. Cih, untung gue ratu ngutil jaman muda, lengah sedetik, pindah tangan deh si amplop manis ke tangan gue, hihihihihhiiii…. mas dasrun, maap yeeeeyyyy “

 

“Mak, kok mak, ketawa-tawa sendiri?” Rama memecah khayalan Nting.

 

“Kagak, mudahan bapak lo, menang togel ya malam ini, hihiihihihi…”

 

Rama cuma bengong tidak mengerti.

***

Nah, bagaimana kelanjutan cerita ini…

Monggo saya persilahkan Mas MANDOR TEMPE untuk melanjutkan… wkakakakakakakak….

*maap ya mas, ini akibatnya kalau komen panjang-panjang di postingan saya… :mrgreen:

 

Happy Blogging!


Jenuh

Sahabat,

 

Sudah hampir 5 bulan saya mempunyai blog ini. Sudah lumayan juga suka duka dilalui. Yah, memang terkesan lebay membahas sesuatu yang baru berumur 5 bulan. Kalau dibandingkan dengan para senior blogger yang sudah malang melintang di dunia maya ini selama selama bertahun-tahun, rasanya masalah saya kali ini tidak ada apa-apanya.

 

Mungkin semua blogger pernah mengalami masa-masa seperti saya, masa-masa di mana menjadi newbie, penuh dengan cerita, penuh dengan semangat menulis, curhat ini itu, dibanjiri oleh komentar, hingga blog-walking sana-sini, meninggalkan jejak meskipun hanya satu kata… Euphoria Blogging mereka bilang…

 

Kemudian akan tiba masanya semangat itu akan turun, gempuran dari dunia nyata, perubahan mood, konflik ini, problem itu, sibuk ini, sibuk itu, semua mewarnai kehidupan kita, khususnya saya. Di tambah lagi rasa jenuh dan ingin sepertinya berhenti sejenak meninggalkan dunia blog dan melihat dunia lain. Hey, bagaimana dengan milis? Apa kabar teman-teman lama saya di FB? Bagaimana dengan kelanjutan belajar bahasa saya? Lamaran pekerjaan apa kabar?

 

Semua blogger mungkin pernah merasakan situasi ini. Menulis seperti menjadi cuma ada di pikiran, tapi tidak diikuti oleh aksi nyata. Saat dimana banyak ide muncul di kepala, banyak sesuatu yang ingin diceritakan di blog, sesuatu yang pantas ditulis, tetapi rasanya malas ingin menuliskannya atau mungkin merasa tidak ada waktu untuk itu, atau entah atas alasan tidak nyata yang melintas di pikiran kita yang membuat kita akhirnya membatalkan untuk menulis. Apakah itu jenuh?

 

Jika otak saya dibelah, mungkin saya akan banyak menemukan lembaran-lembaran draft yang masih tersimpan rapi. Input sudah siap, tinggal bagian menunggu outputnya saja. Kenapa saya tidak semangat? Apa yang menjadi kendala saya? Adakah cara untuk merangsang semangat saya menulis?

 

Di satu sisi saya sedang berjuang untuk mengusir rasa jenuh itu, blog saya semakin di banyak di kunjungi blogger yang baru saya kenal. Mau tidak mau saya seperti mempunyai kewajiban untuk melakukan kunjungan balik, cepat atau lambat, hari ini, besok, atau besoknya lagi. Yah, saya anggap itu sebuah apresiasi.

 

Dulu saya bisa melakukan blog-walking ke setiap orang di blogroll di bar samping kanan ini, tetapi dengan berjalannya waktu, blogroll tinggalah blogroll, untuk mengunjungi blog yang meninggalkan komentar saja rasanya saya sudah kewalahan, saya pun sengaja tidak membalas komentar, untuk mendahulukan kunjungan ke blog lain. Teman-teman, bukan saya tidak membaca atau tidak ingin membalas, tapi jujur saya kewalahan… Saya pasti membaca semua komen yang masuk. Pasti.

 

Sisi lain, banyak blogger senior yang masih setia meninggalkan jejaknya di blog saya ini, meskipun saya sudah jarang berkunjung ke blog mereka terlebih dahulu. Saya menghargai konsistensi ini, saya terharu, terpukul, saya malu, karena tidak bisa se”cekatan” mereka. Orang bilang, jika orang lain bisa, kenapa kita tidak?  Apakah saya kurang keras berusaha? Apa saya saya tidak se”kuat” mereka? Apakah cara blogging saya tidak “sehat”? Apakah saya akan hilang ditelan kerasnya dunia blogging… *asli lebay :mrgreen:

Tidak ada tips, hikmah atau something special di postingan saya kali ini. Saya hanya meminta sahabat menuliskan sedikit komentar. Apakaah sahabat juga menghadapi situasi ini? Bagaimana sahabat melaluinya? Please tell me…


Kedelai Rebus

Sahabat,

Minggu pagi ini udara sangat dingin di sini, mngkin karena tadi malam hujan, ditambah suasana langit yang mendung.

 

“Prim, mau cemilan?”

“Apa Ma?”

Mama datang ke kamar membawa baskom… Wah!

Kedelai rebus hangat! Senengnya… rasanya sudah lama sekali saya gak makan cemilan ini.

 

Kalau di Bogor dulu saya bisa beli di tukang bajigur, tapi gak bisa sebanyak ini, ya kan dulu ceritanya mahasiswa, ngirit! Kalau di rumah bisa semau kita sampe ludes, Hahahahha…

Kedelai rebus ini menurut saya satu cemilan khas pedesaan yang sehat. Karena kedelai kan sumber protein nabati yang baik, dan saya suka cemilan ini karena mengupas kulitnya gak selama mengupas kacang. Kita cuma butuh menekan bijinya sampai keluar dari kulit, hap! masuk deh ke mulut 😛

Oh iya, cemilan ini adalah pemberian dari teman mama yang kemarin jalan-jalan ke desa rumah sodaranya. Harap maklum aja, di sini masih pedesaan jadi apa-apa, seringnya “dikasih teman” atau “dikasih tetangga”, hehehehe…

 

Nah sahabat, ada yang suka cemilan sehat ini juga?

Saya sendiri merasa jarang makan cemilan ini, jadi pagi ini rasanya rasa kangen itu terobati…

 

Happy Weekend!


Make It Older!

Kata orang weekend adalah saat-saat termalas menulis blog… *kata siapa ya?*

Ya sudah saya upload beberapa foto hasil iseng-iseng saya saja…

 

Masih bertema “kuno” seperti pada postingan Retro VS Vintage yang lalu, kali ini saya membuat beberapa foto “berpotensi” menajadi benar-benar tua, sampai saya sendiri agak gak percaya dengan kedasyatan digital editing jaman sekarang, 😆

Ini adalah editing pertama saya yang membuat foto-foto ini benar-benar termakan zaman, padahal sih aslinya gak sama sekali… :mrgreen:

“Penjual Kerak Telor”

 


“Muara Angke”

 

 


“Adikku Sayang”

 

 


“Karnaval”

 

 


“Bonceng Dua”

 

 


“Sepeda Ayah”

 

How do you like it?

Ini dulu aja, syukur-syukur bisa dinikmati di akhir pekan ini…

 

Salam Jepret!


Bioskop Horor

Sahabat,

 

Pasti pernah nonton film di bioskop? Bagaimana perasaan sahabat saat itu? Pasti senang kan?

Kali ini saya cerita nonton di bioskop paling horror yang pernah saya alami :mrgreen:

 

Saya lupa, mungkin sekitar tengah tahun 2006. Saat itu saya masih mahasiswa yang sedang dalam program KKP (Kuliah Kerja Profesi), yang mana saya diharuskan stay di sebuah desa selama kurang lebih dua bulan untuk melakukan beberapa program yang telah dibuat. Beruntungnya desa saya masih di Kabupaten Bogor, dan lebih beruntungnya lagi  desa saya paling dekat dengan Kota Bogor, jadi kalau bosen di desa saya bisa melenggang naik angkot ke kota buat jalan-jalan 😛

 

Cerita berawal saat rasa jenuh memenuhi otak saya malam itu. Saya bersikeras pergi ke kota sendirian, karena teman-teman saya yang lain gak mau ikut dengan alasan sudah jam 7 lewat saat itu, artinya gak bisa lama jalan-jalannya.

 

Memang saya berniat nonton film di bioskop, tapi saya sendiri belum tahu film apa dan pukul berapa. Saat itu di Bogor hanya ada dua bisokop, satu di pasar anyar (kalau tidak salah), satu di Tajur namanya Galaksi. Saya prefer bioskop Galaksi karena tempatnya jauh lebih nyaman daripada bioskop satunya.

 

Sampai di bioskop itu sudah pukul 8. Saya melihat list film yang ditayangkan malam itu. Tidak ada satupun film “waras” selain film kartun produksi Pixar “Cars”. Itu lho film tentang mobil sedan warna merah yang ikut tournament balapan.  Bukan saya menganggap film-film lain jelek, tapi siapa yang mau nonton film Indonesia yang bergenre hantu-hantu gak jelas, buang-buang duit aja 😛 Ya sudah, akhirnya saya memilih film Cars yang di mulai sekitar pukul 9 lewat 10 menit di studio 4, studio paling bontot, paling belakang.

 

Waktu saya beli tiketnya, saya agak kaget melihat kursi yang sudah dipilih. Yang terisi hanya bagian belakang.

“Lho, sepi yang nonton ya mbak?”

“Ada kok mas, ntar saya juga ikutan nonton kok”

Ya sudah, akhirnya saya pilih bangku tengah nomor 3 dari belakang, selang satu baris dengan barisan belakang yang sudah penuh.

 

Saya pun jalan-jalan di sekitar Tajur, masuk keluar toko sepatu-tas alih-alih menunggu waktu mulainya film. Film pun dimulai. Saya masuk pertama ke dalam studio. Disusul beberapa orang yang datang selang 1 menit setelah saya duduk. Saya tidak bisa menghitung jumlah penontonnya karena lampu sudah dimatikan saat itu, saya cuma mengenali suara seorang ayah dan anaknya yang mungkin masih berumur 5 tahun, duduk tepat di belakang saya. Sedangkan saya tidak melihat seorangpun duduk di bagian depan.

 

15 menit pertama, saya masih mendengar anak kecil dibelakang saya seperti merengek-rengek kepada ayahnya. Kemudian tidak terdengar lagi rengekan. 1 jam berlalu, saya hanya mendengar suara dialog para tokoh kartun, dan sesekali tawa saya sendiri. Saya mulai merasa aneh. Kenapa sunyi sekali, kemana anak kecil yang merengek itu? Apa sudah tidur? Saya tidak berani menengok ke belakang, ntar di kira kurang kerjaan lagi, hehehehe… Ya sudah saya cuek saja sampai film selesai sekitar pukul 10.30.

 

Sodara-sodara, ternyata saat film selesai, dan lampu studio dinyalakan. JRENG!

 

Sunyi.

Dingin.

Sendiri.

 

Ya Tuhan saya benar-benar sendirian di studio 4 itu.

SENDIRIAN!

 

 

Saya sempat bengong, perasaan campur aduk antara serem dan nahan teriak! Lho orang-orang tadi kemana? bapak dan anaknya? apa sudah pulang duluan?

Kemudian pelan-pelan saya berdiri dan berbalik badan, keluar dari barisan bangku itu, tiba-tiba muncul sosok mas-mas berbaju hitam yang bikin saya kaget.

 

“Mas, di sini keluarnya!” seru mas-mas itu sambil nunjuk pintu kecil disebelahnya.

 

Jangan tanya bagaimana kagetnya saya saat itu, sudah  jelas-jelas studio itu sepi, eh mas-mas itu nongol tiba-tiba dari gorden. Untung gak pake topeng gorila, bisa bener-bener teriak kali saya. 😀

 

Saya keluar dari pintu itu dengan muka -mungkin- paling tolol yang pernah dilihat si mas. Saat saya keluar dari pintu itu, si mas langsung menarik dan mengunci kerekan besi yang menutup studio. Ya ampun, jadi dia nunggu saya keluar dan segera menutup studio itu. Tiketing juga sudah sepi tidak ada orang. Saya gak tau apa yang ada di pikiran si mas saat melihat saya. Mungkin si mas mikir: Ngapain sih anak culun itu nonton malem-malem begini sendirian, udah gila kali ya???

 

Saya keluar dari bioskop Galaksi lewat pintu samping yang sudah di tutup setengah, karena pintu utama sudah di kunci. benar-benar mau tutup nih bisokop. Saat saya menyebarang jalan untuk mencari angkot pulang, saya kemudian sadar Bogor sedang mati lampu. Gelap! Makin horor aja!

 

Saya pulang ke desa dengan keadaan jalanan yang gelap. Sampai rumah di desa, saya masih bengong mengingat kejadian di bioskop itu.

 

Tiba di rumah, teman saya asik main kartu.

“Cuy, Bogor mati lampu gak? Lu nonton apaan?

Saya cuma diam

“Pasti lu nonton hantu ya?”

Saya menjawab…

 

“parah banget sumpah…”

**

 

Nah apa sahabat juga punya pengalamn nonton sendirian di bioskop? Saya udah kapok nonton sendirian 😛


Tahu = Menderita

Kali ini saya membahas sesuatu yang  sebenarnya gak penting, tapi sok dibikin penting 😀

 

“Orang yang banyak tahu adalah orang yang paling menderita”

 

Kira-kira begitu perkataan Aristoteles yang pernah saya baca di suatu majalah waktu saya kecil, sewaktu SMP, saya sempat memikirkan kata-kata singkat ini, apa maksudnya ya?

 

Terdengar iseng memang memikirkan sesuatu hal yang gak penting seperti itu, cuma toh akhirnya saya menemukan jawabannya tanpa harus membaca buku, buka internet, atau dikasih tahu oleh orang lain, benar-benar pemikiran lugu seorang remaja belasan tahun 😛

 

Siapa orang yang banyak tahu?

Ilmuan, presiden, jendral, direktur, ulama, pelajar, kepala desa, kepala keluarga, dan lain-lain, setiap orang memiliki tingkat ke-tahu-an yang berbeda.

 

Siapa yang paling tidak banyak tahu?

Binatang, Bayi, anak-anak, orang gila, idiot, apatis, dan sejenisnya.

 

Antara dua golongan itu, siapa yang lebih riweh? Siapa yang lebih banyak pikiran? Siapa yang paling menderita? Terjawab kan… Hahahahahah…

 

Kasus 1:

Waktu kecil kita tidak tahu kalau tanaman butuh air untuk hidup. Kita cuek.

Kemudian saat kita SD, kita tahu bahwa tumbuhan butuh air. Kita menyiram tanaman.

Kemudian saat SMP-SMA, kita tahu tanaman butuh air untuk fotosintesis. Kita menyiram tanaman tiap hari secara teratur.

Saat dewasa kita mengenal kebutuhan air dan sifat tanaman, maka kita menyiram tanaman dengan “teknik”, tidak asal siram.

 

Makin ribet kan? Karena kita pada dasarnya kita makin banyak tahu. Orang gila di luar sana? Lempeng aja tuh…

 

 

Kasus 2:

“Mau kemana malam-malam begini?”

“Ke rumah temen di kampong sebelah”

“Lewat kuburan itu? Kan sering penampakan di sana..hiiiiiiiiii”

“serius???”

Kita kepikiran deh, ngayal aneh-aneh, akhirnya malah gak jadi berangkat. Siapa yang menderita? Yang tahu atau yang gak tau? 😀

 

 

Kasus 3:

“Putrinya belum nikah bu?”

“Belum”

“berapa umurnya?”

“28”

“Anak gadis lewat 30, suka susah cari jodohnya lho bu…”

“Hah? Beneran?”

Bingung deh si Ibu mikirin putrinya, sampe gak bisa tidur , hahahhaha…

 

 

Kasus 4:

“Jaaaannnngggg, belajar! Maen terus! Kapan ulangan?”

“Besok mak!”

“Ya ampuuunnn, buru belajar, maen mulu ah!”

“Santai aja mak, gampang….”

Si emak lebih tahu gimana sulitnya yang namanya ulangan jaman sekarang, jadi dia lebih stres mikirin anaknya daripada anaknya sendiri, Hahahahaha….

 

 

Kasus 5:

“Gue harus belajar TOEFL dengan serius”

“Emang kenapa?”

“Buat beasiswa lha…”

“Untung beasiswa gue dalam negeri, gak perlu TOEFL gede…”

 

Orang menjadi belajar karena suatu alasan dan tujuan, orang menjadi menderita karena dia tahu apa tujuannya.

 

**

Sahabat,

Aristoteles menulis kata-kata itu memang tidak salah menurut saya, bahkan ternyata itu sangat manusiawi. Sangat polos. Tidak ada sebenarnya manusia yang mau menderita di dunia ini. Sudah bawaan manusia pengennya bebas, senang, dan gak banyak pikiran. Tetapi manusia juga di bekali akal dan ingatan, yang membuat manusia mau- tidak mau punya keistimewaan untuk “TAHU”.

 

Dengan TAHU itu, manusia mendulang dua hal, ketinggian derajatnya di mata Tuhan dan manusia lain, sekaligus menjadi yang menderita di dunia ini. Semakin banyak tahu, kita semakin pintar, semakin kita menjadi manusia yang berbudaya dan bertakwa, tetapi di sisi lain, kita sebenarnya juga menjadi yang paling menderita, yang memikirkan segala hal, memikirkan “bagaimana” dan “mengapa”.

 

Jika sahabat adalah orang yang sering menderita batín dan pikiran, ditempa masalah bertubi-tubi sampai rambut mau rontok, stres ini dan itu, tangis dan sedih. Selamat! Anda mungkin adalah orang yang banyak tahu! Dengan kata lain, bisa saja derajat atau “nilai” anda di mata manusia lain atau Tuhan cukup tinggi! Bisa jadi itu suatu kebahagiaan di sisi lain! Be positive!

 

Siap TAHU? Siap Menderita! Siap Bahagia! 😀

***

 

Agar tidak terlalu menderita, saya kasih hadiah gambar cantik nih…

Nelumbo nucifera (Lotus)

Anda suka? Selamat anda sudah menyukai hasil jepretan saya 😀

 

PS: Maaf ya hari ini prima sedang sedikit… tengil :mrgreen:


Tentang Malam Ulang Tahun…

Sahabat,

Sebelumnya saya minta maaf kalau saya jarang BW dan menulis lebih jarang dari biasanya, ya bukan ge-er, cuma siapa tahu ada yang bolak-balik ke blog ini tapi belum ada postingan baru. Well, saya sedang hectic sekali dengan suatu kerjaan, ditambah error di komputer dan internet, stres kan! Tapi saya akan coba review semua komen dan BW ke empunya komen. Jadi cepat atau lambat saya akan BW ke rumah sahabat semua 🙂

OK, kali ini sedikit cerita  tentang malam ulang tahun saya 15 January kemarin *promosi colongan* :mrgreen:

 

cerita  dulu tentang 14 January…

Semenjak saya banyak install software *tentu saja bajakan*, komputer saya terlihat lebih wah, tampilan lebih OK, performance kayanya juga OK, pokoknya terlihat much better than before. Ternyata saya salah, justru software bajakan ini banyak menimbulkan crash disana -sini, sampai-sampai ada files corrupt dan saya gak bisa restore laptop saya *alamak! Belum lagi tiba-tiba modem IM2 saya gak bisa connect internet *alamak lagi!

Pagi yang hectic, saya pergi ke tukang servis yang paling deket dari rumah, dan menceritakan semua keluhan dan usaha saya sejauh ini yang saya baca di internet.

“Wah, kalau sudah begitu, kayanya lebih baik install ulang, ada CD-Recovery-nya?”

“Nggak tuh bang…”

“Bisa sih, cuma di sini windows bajakan semua…”

*pucet*

 

Saya telepon ke bogor dan minta temen untuk obok-obok koper peninggalan saya cari CD-Recovery laptop, Voila! Ketemu, dan akan dikirim secepatnya.

Setelah sesi tukang servis, saya pergi ke kantor pos. Saya hari itu harus kirim aplikasi kerjaan, saking buru-burunya, saya lupa catet nomor telepon si penerima! Aduh berapa ya? Petugas pos ternyata wajib mencantumkan nomor telepon si penerima. Kebayang kan, saya harus bergantung pada si hape kecil, berharap jaringan GPRS itu menemukan website penting berisi nomor telepon. Thanks God! Ketemu setelah 15 menit! 😛

Lagi-lagi keriwehan ini bertambah saat saya sadar saya belum menandatangani satu lembaran agreement yang saya kirim, oh NO! Saya pun berpikir saya akan print lembaran tersebut, tanda tangan, scan dan kirim via email. Ok, berarti saya butuh print, scanner dan internet. 3 benda itu ternyata cukup sulit di temukan di kota sangat kecil ini, fiuhhh…

Oh iya, sudah dua bulan ini saya mendapat pekerjaan lepas sebagai tukang input data di sebuah kantor pemerintah, gak capek sih, cuma kadang mengharuskan saya pulang larut malam. Easy job, but takes time! Melajulah saya ke tempat kerja itu, berharap ada pertolongan di sana. OK, masalah dokumen yang lupa ditanda tangani itu beres, email terkirim. Tapi satu musibah muncul, laptop saya gak bisa connect wifi kantor! dan itu hanya pada laptop saya, yang lain baik-baik saja. OMG! Lengkap sudah penderitaan… 😦

 

Hari yang melelahkan… satu sisi kerjaan harus tetap jalan, satu sisi banyak masalah pribadi muncul di sana-sini. No internet, no chat, no blog! Malam itu saya memutuskan pulang jam 12 kurang 15 menit. Biasanya saya pulang jam 1-an, tapi hari ini saya capek sekali dan pingin aja cepat-cepat sampai rumah.

 

Motor sengaja saya pelankan, tidak seburu-buru biasanya. Malam pergantian hari itu terasa nyaman sekali. Malam itu angin berhembus lembut, tidak dingin tidak juga panas. Saya menikmati perjalanan malam itu, detik-detik habisnya tanggal 14 January dan masuk ke 15 january, hari ulang tahun saya. Saya tanpa sadar bernyanyi-nyanyi, saya lupa lagu apap, intinya lagu lama, yang syairnya sudah di luar kepala, 😀 Pelaihari malam itu sudah sepi, toko-toko sudah tutup, jalanan tidak lagi ramai, hanya sesekali truck-truck tambang lewat. Hanya warung makanan seperti pecel ayam dan nasi goreng yang buka dan beberapa kios bensin.

Saya mulai sentimentil dan mengenang semua beratnya hidup selama satu tahun belakangan. Ya Tuhan makin tua aja nih umur, tapi saya belom punya karir yang tetap. Semoga tahun ini jauh lebih baik dari tahun lalu. Tidak terasa saya masuk ke gang rumah saya, kira-kira 100 meter sebelum saya sampai rumah, tiba-tiba ada yang menetes dari langit. Hujan! Saya mempercepat motor dan segera masuk ke dalam teras rumah. BBBRrrrrrrrr… hujan malam itu seketika menjadi deras sekali. Saya masih diteras rumah, dan melihat ke HP, pukul 12.00!

Selamat Ulang Tahun pim… 🙂

 

Hujan malam itu cukup aneh, hanya turun selama 5 menit di awal 15 January 2011. Malam itu hanya hujan dan saya, saya terdiam sebentar memandang hujan di luar sana. Seraya berharap ini pertanda baik di awal umur saya yang tidak lagi muda *tapi belom tua lho*

Saya masuk ke rumah, dan gak ada orang di rumah! 🙄 Pada kemana ya? Papa biasanya masih “jagongan” a.k.a. ngobrol-ngobrol sama geng bapak-bapak di depan warung pak Budi, Mama mungkin masih sibuk ma pesenan kue di rumah temannya, dan Adik saya kemungkinan nginap di rumah tetangga depan, rumah teman sekelasnya. Well, saya bener-bener sendirian malam itu.

Saya kemudian gosok gigi dan ambil wudhu. Tiba-tiba ada seperti panggilan untuk sholat malam itu. Saya gak meniatkan itu sholat apa, yang penting saya sholat, mungkin sholat ulang tahun, hahahahah… Suara sisa hujan di luar masih menemani, dingin mulai merayap, menemani doa-doa saya malam itu.

Sebelum tidur saya iseng menyalakan laptop dan mencoba modem saya. *Wak! Internetnya bisa! Rezeki pertama di hari ulang tahun saya! Hahahhaha… Setelah pukul 1, papa pulang, mama juga sudah pulang. Malam itu saya minta mama tidur di kamar saya *kan kasurnya double bed, ceritanya mau manja-manjaan di hari ulang tahun. Mama mengiyakan :mrgreen: Hahahahha… Tapi saya justru sibuk internetan dan mama sudah tidur jauh sebelum saya ikut tidur. Mama mungkin sudah capek sekali. Pukul 2 lewat saya sudahi internet, dan beranjak tidur.

Paginya semua anggota mengucapkan selamat buat saya, meskipun masih setengah sadar, saya cengegesan pergi ke dapur dan mencomot bolu pisang yang masih anget, asli bikinan mama, Nyummmy! Percaya deh, kue-kue kalo masih anget, rasanya 10 kali lebih enak! 😀

Begitlah sedikit cerita tentang ulang tahun saya, nothing special sih, cuma pengen curhat aja, hahahaha…

***

Beberapa fakta terakhir yang saya temukan:

  1. IM2 akhir-akhr ini mengecewakan sekali, saya mulai merasa saya hanya bisa menggunakan internet pada pukul 12 malam samapi 12 siang, kok begitu? ada apa ya???
  2. Ternyata wifi di kantor saya sedang di… katakanlah “hacked” sama orang luar. Dia menunggangi IP address saya sehingga membuat internet laptop stuck, padahal internetnya jalan lancar. Sampai-sampai komputer lain tadi malam juga sempat stuck! Edan, canggih bener sih! Tapi sekarang si hacker udah di blocked! 😛
  3. Windows Vista screwed me over! Vista Home Premium sepertinya benar-benar produk gagal yang banyak menimbulkan masalah. Saya jujur sudah pernah re-install laptop sebelumnya untuk gejala yang sama. Dulu waktu saya beli belum ada windows 7, dan kalaupun mau ganti OS, rasanya takut ada apa-apa, toh vista saya original dari sananya *sabar aja deh, nunggu ada rejeki beli laptop baru, :mrgreen:

 

Happy Blogging guys!


Belajar dengan Telinga

Sahabat,

Pasti banyak di antara kita yang merasa stuck dengan kemampuan Bahasa Inggris kita. Ada yang merasa pas-pasan, ada yang menyerah karena merasa tidak mengalami perkembangan berarti meskipun sudah belajar mati-matian, bahkan ada yang merasa gak bakat, atau malah enggan. Jangan tanya saya kenapa, saya sendiri pun mengalami banyak dilema seputar bahasa internasional ini 😀

 

Di postingan “Ngemeng Doang” yang lalu saya bercerita mengenai dilema nilai TOEFL saya yang aneh bin ajaib, karena nilai listening saya yang jauh melesat, sedangkan nilai yang lain amblas Entah kemana. Beberapa komentar dari teman-tema menyebut kebalikannya. Mereka baik di nilai lain, tetapi jika harus berbicara langsung, mereka tidak lebih baik. Saya sendiri sedang berusaha untuk menyeimbangkan antara skill berbicara dan skill menulis. Itu dilema saya.

Setiap orang  pasti mengalami dilemanya masing-masing dengan yang namanya Bahasa Inggris. Meskipun bahasa ini sudah diajarkan semenjak di bangku SD, bertahun-tahun lamanya, tetapi tetap saja kita banyak memilih prinsip “kalau bisa dihindari, kenapa harus dideketin” :mrgreen:

 

Wajar  saja sebenarnya kalau kita berbahasa Inggris tidak selancar native, toh kita juga seoarang native buat bahasa kita sendiri, Bahasa Indonesia. Lagipula jika kita pikir-pikir, Bahasa Inggris itu bisa jadi bahasa ke-3, ke-4 atau ke-5 kita. Kok bisa? Ya, saya sendiri, bisa berbahasa Indonesia, Jawa, Banjar, Madura dan Sunda, artinya Bahasa Inggris adalah bahasa ke-6 saya. Nah, buktinya kita bisa mengerti banyak bahasa daerah. Artinya Bahasa Inggris itu sebenarnya bisa jadi bahasa daerah kita juga kan? *Bahasa daerah dari hongkong! 😀 Kenapa kita mudah belajar bahasa daerah? Mungkin saja karena kita terbiasa mendengarkan. Ya nggak?

 

Bahasa Inggris saya berkembang pesat saat saya sempat tinggal di US selama setahun. Terutama listening dan speaking. Bukan karena saya belajar Bahasa Inggris atau ambil kursus Inggris di sana tetapi hanya karena, mau tidak mau, saya mendengar bahasa itu setiap hari. Every single day. Kebayang kan, bagaimana yang tadinya kita bisa cuap-cuap seenak jidat di negeri sendiri, tiba-tiba dihadapkan pada situasi dimana setiap kata keluar melalui pemikiran dahulu. Jadilah saya sedikit kalem. Kalem-kalem minder :mrgreen:

 

Pengalaman berbicara dan mendengarkan Bahasa Inggris ini tentu saja banyak dipenuhi kejadian lucu dan menarik. Berbicara dengan native yang punya aksen macem-macem dan style berbicara berbeda bisa jadi suatu dilema baru, belum lagi ditambah dengan interaksi dengan student asing lain yang pastinya masih sama-sama belajar. Dalam kasus saya terkadang English seorang student bisa jadi merusak English student lain, hahahahaha…

 

 

Satu kali saya berbicara dengan student Brazil bernama Leo.

“I like miyuk, how about you?”

“What? Miyuk?”

“yes, miyuk… you don’t know?”

“What’s that?”

“drink”

“Is that from fruit?”

“No, no, no…”

“It’s alcohol?”

“Nooo, it’s good”

“I don’t know…”

Lama saya dan Leo tanya jawab hanya untuk sekedar menjawab apa sebenarnya minuman bernama miyuk itu. Tapi tidak juga menemukan makna kata itu.

“what’s the color?”

“white”

“OMG, Leo, do you mean MILK??”

“Yes, MIYUK!”

 

 

Sodara-sodara ternyata emang tuh orang Brazil nggak bisa ngucapin huruf L ketemu K, Hahahahah… MILK berubah jadi MIYUK. Kali ini saya belajar bahkan satu kata sederhana bisa tidak dimengerti hanya karena adanya aksen.

Lain halnya dengan Fernanda, dia student Brazil keturunan Jerman, senang menggunakan imbuhan “don’t you think?”. Setiap pertanyaan dan pernyataan akan diimbuhi dengan kata-kata itu.

“It’s good, don’t you think?”

“I think you like flower, don’t you think?”

“I don’t know, don’t you think?”

“I don’t think it correct, don’t you think?”

Duh, malah riweh nggak sih? Untuk hal ini saya kadang harus membiasakan diri untuk mengenali mana pernyataan mana imbuhan. Jangan dicontoh ya. Sengaja tidak sengaja saya justru sempat ikut-ikutan menggunakan kata-kata ini.

“Fernanda I think you need to stop say-don’t you think-, don’t you think?” *bingung deh lu 😆

 

 

Lain student Brazil, lain lagi student dari Ukraine yang suka menambahkan kata “yes” disebuah pertanyaan.

“Prima, you like chocolate, yes?”

“he does not know, yes?”

“it is delicious, yes?”

Fungsinya seperti “right” pada “It’s nice, right?”, hanya saja karena bahasa asli mereka suka menggunakan “Da” yang berarti “yes” di akhir kalimat, kebiasaan ini malah terbawa sampai ke Bahasa Inggris.

 

Ada satu anak Ukraine senior bernama Vladimir yang sudah lumayan dalam berbahasa Inggris karena pergaulannya yang intensif dengan native. Suatu pagi di bulan pertama saya di US, dia menyapa saya pagi itu.

“Prima, What’s up man!”

Nah saya bingung deh apa artinya? Gimana menjawabnya? Saya taunya How are you?

Kemudian saya dengan polosnya bertanya tentang “what’s up”, hmmm… fungsinya sama dengan how are you, hanya saja kita bisa menjawabnya dengan “what’s up” juga atau dijawab, fine, good, seperti biasa. Oh iya, orang Amerika suka menggunakan sapaan “How are you doing” yang tidak terdengar “are” nya, sehingga menjadi “How you doing?”

 

 

Ada karyawan di tempat kerja bernama Perc, dia orang kulit hitam yang jika berbicara seperti sedang nge-rap! Yeah, mereka punya aksen yang kental, persis seperti yang di film-film atau lagu barat. Satu hari saya sedang santai bekerja. Hari itu memang hari yang santai buat semua orang.

“Primo (he called me Primo, not Prima), what’s up… Are you chilling?”

Saya sempet bingung…dan menjawab sekenanya:” No Perc, It’s hot!”

Suasana Greenhouse siang itu memang panas, kok bisa-bisanya dia bilang “dingin”? Perc cuma ketawa geli dengar jawaban saya, dan ternyata…

Ya Tuhan , ternyata “chilling” yang dia maksud bukan “beku”, tetapi “santai” hahahaahahaa… Jadi Perc sedang nyidir saya, “Prima, kamu lagi kerja apa santai-santai aja?” 😀

Banyak bahasa Inggris prokem yang saya temui di US. Saya juga sedikit banyak belajar dari mendengarkan.

 

 

Berbicara dengan native bisa jadi adalah kendala saat kita mengucapkan suatu kata dengan pengucapan yang salah. Di sebuah toko elektronik, seorang kasir menanyakan alamat saya untuk di-input ke dalam database garansi.

“2009 Marden Road” (terdengar: 2009 Marden Rut)

“Marden Root?”

“Yes, Marden Root” saya jawab dengan pede. Si Mbak kasir bengong beberapa detik.

“Sorry sir, you mean Root, or Road?”

OMG, saya salah mengucapkan! Road itu dilafalkan seperti “Rowd” bukan “Rut”, pantesan si mbak kasirnya bingung. Saya pun sedikit banyak juga belajar bagaimana malafalkan suatu kata dengan benar.

 

 

Selain salah mengucapkan, salah mendengarkan juga tidak jarang terjadi. Suatu ketika kami kedatangan student baru dari South Africa turunan Scotland, Ross.  Ross ini tentu saja seorang native speaker, dia berbicara ala british dengan kecepatan yang bikin saya harus fokus saat berbicara dengan dia. Saya merasa ada di film Harry Potter saat itu.

“Ross, well, Art will drive you to the store”

“Oh, hiwud?”

Saya bengong sebentar, dia ngomong apa ya? Apa itu suatu kata?

“Sorry, what you say?”

“I said, He would?”

Hahahahah…sodara-sodara ternyata dia mengucapkan dua kata itu dengan cepat, dan saya nggak menangkap maksudnya, jadi dia seperti menekankan seperti kata “beneran?” atau “serius nih?” His English is just too beautiful for us… 😆

 

 

Nah, begitu kira-kira beberapa cerita lucu seputar belajar Inggris selama saya berada di Amerika. Kesalahan dan kelucuan itu justru membuat banyak peningkatan yang cukup signifikan terutama untuk kemampuan mendengar dan berbicara saya sekarang. Semua ternyata berawal dari “mendengarkan” kan?

Mulut memang bisa kita atur-atur bagaimana outputnya, tetapi telinga adalah indra yang sifatnya menerima saja, jadi apa yang kita dengar akan segera menjadi pembelajaran bagi kita. Maka dari itu jangan menyia-nyiakan indra yang satu ini. Di manapun, kapanpun, jika kita bisa mendengarkan Bahasa Inggris maka cobalah untuk menyimak. Bisa jadi lagu, bisa berita, film atau percakapan orang asing. Tentu saja diiringi oleh keberanian mencoba berbicara juga. Mudah-mudahan kita bisa karena biasa.  Semangat!



Lomba Blog 2010 Berhadiah Jutaan Rupiah | belajaringgris.net
Tiada Hari Tanpa Bahasa Inggris
artikel ini didukung oleh belajar hipnotis

 

PS: Thanks to all my friends mentioned above, miss you guys 🙂


Retro vs Vintage

Sahabat,

Beberapa hari terakhir saya kembali disibukkan dengan Photoshop. Berawal dari melihat hasil editing photo dari teman saya bernama Akbar di album facebooknya. Ternyata hasilnya WOW, foto-foto itu menurut saya seperti memiliki karakter sendiri. Terinspirasi dari editing foto-foto tersebut yang dia sebut sebagai gaya “vintage”, saya mencoba mencari tahu apa arti vintage itu. Di tengah pencarian saya malah mendapat style lain bernama “retro”.

 

Nah apa vintage? apa retro?

Saya sendiri susah jika harus mengartikan dengan detail dan benar pengertian dua style ini. Retro dan vintage sebenarnya mengacu pada sesuatu yang sudah tua, oldstyle, gaya kuno, masa lalu, sesuatu yang usang dan berumur.

Kemudian saya mencari tutorial dari editing dasar dari dua style ini. Ternyata Retro dan Vintage memiliki karakter yang berbeda. Meskipun bisa di bilang sama-sama bergender “kuno”, tetapi mereka berdiri sendiri dengan karakter tua-nya masing-masing.

Retro menampilkan kesan hangat dan warna merah yang dominan, meciptakan suasana kuno dari poster atau foto tahun 80-an *imho lho ya*.

Sedangkan vintage terlihat jauh lebih tua dari retro. Vintage di dominasi warna hijau dan warna-warna pudar yang khas dari foto-foto di jaman dulu. Vintage membawa suasana dingin dan kuno.

 

Nah, coba sahabat lihat perbedaan dari Retro dan Vintage hasil editan saya.


Sebelah kiri adalah retro, di sebelah kanan adalah vintage. begitu juga seterusnya 🙂

 

 

 

Nah, bagaimana sahabat?  Apa sahabat bisa merasakan perbedaannya?

Style mana yang sahabat sukai? Retro atau Vintage?

 

Salam Jepret!


PS: To Akbar, kapan-kapan mau ya jadi penulis tamu di blog gw, ntar lu tampilin dah tuh foto-foto vintage lu yang ajib banget 😀 *ngarep!


Doa Nur

Sahabat, kali ini saya menulis cerita fiksi lagi, mohon maaf jika ada perbedaan paham, namanya juga fiksi :mrgreen:

 

Nur masih tertegun di bibir tangga masjid. Matanya kosong, seperti sedang menerawang entah kemana. Beberapa teman-teman seumurannya berlarian ke luar masjid, sesekali dibarengi gelak tawa dan senyuman. Orang-orang dewasa juga mulai meninggalkan masjid. Pengajian malam itu sudah selesai dan waktu telah menunjukkan pukul sembilan.

Gadis kecil berumur sebelas tahun itu menoleh ke arah seorang lelaki tua, dialah Ustad Lutfi yang mengisi materi pengajian hari ini. Matanya terus memandang orang tua itu sampai menghilang di kegelapan. Bibir Nur bergetar sesekali, seolah-seolah ingin menyampaikan sesuatu. Suatu pertanyaan yang mengganjal di hatinya sedari tadi.

Nur mengalihkan pandangannya. Dia urungkan niatnya untuk bertanya. Malam sudah makin larut. Nur kemudian meraih sandal jepit usangnya, memeluk sajadah dan mukena yang penuh jahitan, dan berjalan pelan.

Langkah kaki Nur sedikit pelan malam itu. Rumah Nur agak sedikit jauh dari masjid tetapi tidak pernah menghalanginya untuk pergi ke pengajian. Nur, gadis  kecil yang berani dan mandiri itu masih menerawang ke sebuah ucapan yang masih terngiang di telinganya. Ucapan yang membuat hatinya takut.

…Kemudian semua manusia akan di bangkitkan oleh Allah, dikumpulkan di suatu padang yang luas, bernama Masyar. Kita kan dibangkitkan sebagai manusia yang muda, kita tidak lagi saling mengenal, tidak lagi mengenal anak, istri, orang tua. Hanya diri kita sendiri yang akan mempertanggung jawabkan segala perbuatan kita di dunia…

 

Secuil kalimat ustad malam itu seolah-oleh membuat Nur takut. Dia takut hari akhir itu tiba. Dia takut hari kebangkitan itu tiba. Dia takut akan sesuatu.

Nur meremas semakin kuat sajadahnya. Jalanan sudah sepi malam itu. Nur mempercepat langkah kakinya. Pikirannya melayang ke wajah Ibunya dan semua kenangan bersama ibunya.

Nur hidup sebagai anak yatim. Ibunya berjualan sayur setiap hari di pasar. Mereka hidup sederhana dan bahagia selama ini meskipun terkadang beratnya biaya hidup dan sekolah Nur terkadang membuat Ibu Nur harus bekerja lebih keras demi beberapa lembar rupiah. Rumah peninggalan ayahnya dari anyaman bambu itu menaungi mereka dari panas dan hujan. Meskipun begitu, Nur bahagia tinggal bersama Ibunya.

Nur, mengusap air mataya dengan kerudung putihnya. Air mata itu tiba-tiba mengalir pelan dari ujung matanya. Nur teringat akan kerja keras ibunya selama ini. Nur teringat dia pernah mengeluh karena harus menyicil biaya buku sekolah. Nur juga pernah mogok makan, hanya karena ibunya membatalkan janji menggorengkannya ayam hari itu. Nur pernah juga memaksa ibu untuk membelikannya majalah anak-anak, padahal Nur bisa saja meminjam pada temannya.

Ibu kini sudah sering sakit-sakitan. Batuk ibu tidak juga reda seminggu terakhir. Mantri puskesmas bilang kemungkinan ibu terkena TBC. Ibu, apa Ibu marah pada Nur? Apa ibu lelah bekerja? Apa ibu menahan sakit selama ini? apa Ibu tidak takut sendiri di rumah?

Air mata Nur semakin deras mengalir. Nur berlari menuju rumahnya yang sudah tampak dari jauh. Gadis kecil itu mengambil langkah tercepatnya. Sandal jepit itu menghantam batu jalanan dengan gesit, jilbab putih itu berkibar di tiup angin. Mata Nur sudah nanar. Bibirnya seperti ingin meneriakkan sesuatu. Ada sesuau yang ingin dia sampaikan kepada ibunya, sesuatu yang penting, sesuatu yang mungkin tidak bisa dia ubah.

 

Nur membuka pintu dapur dan menuju ke kamar. Ibunya sedang terbaring di sana. Bibir wanita tua itu jelas sedang tersenyum melihat anak semata wayangnya telah datang. Nur seketika memeluk wanita tua itu dan menangis tak terbendung. Badan kurus wanita itu tidak mengurangi hangatnya pelukan seorang ibu. Ibu Nur mengusap punggung anaknya lembut.

 

“Ada apa Nur? Kenapa nangis?”

 

Nur seperti tidak mampu membuka bibirnya. Air mata dan isakan itu masih menyelemuti wajahnya. Nur mendekatkan bibirnya pada telinga Ibunya. Bibirnya berbisik lirih.

 

“Bu, Nur takut. Nur nggak mau ninggalin Ibu, Nur gak mau melupakan Ibu…  selamanya…”

 

Wanita itu tersenyum, air matanya tak terbendung mendengar ucapan anaknya. Dia yakin sesuatu di pengajian malam ini menyentuh hati anaknya.

Gadis kecil yang masih begitu polos dan apa adanya itu masih memeluknya Ibunya, bibirnya bergetar dan berdoa malam itu. Sebuah doa yang mungkin tidak pernah diucapkan anak-anak lain. Doa yang mungkin tidak akan pernah terkabul.

 

Tuhan, jika hari akhir itu tiba. Kau boleh hapus semua ingatanku selama di dunia, tapi janganlah  Kau hapus ingatanku akan Ibuku karena aku tidak ingin dia sendiri dan kesepian.

***

 

Sahabat, hikmah cerita ini adalah:

  1. Jangan sia-siakan waktu bersama-sama orang tua kita, kita tidak tahu sampai kapan kita bisa bersama mereka dan sampai kapan kita bisa mengingatnya.
  2. Berbaktilah sebanyak-banyaknya kepada Ibu dan Ayah selagi mereka masih hidup.
  3. Ingatan kita dalah milik Tuhan. Tuhan bisa menghapus ingatan kita kapan saja.

Artikel ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan Cermin Berhikmah di New BlogCamp.

*gambar dari sini


Udah Pewe

“Duh, padahal dah pewe banget nih…”

 

“Mantep nih, tempatnya pewe banget!”

 

“Sayang tempatnya kurang pewe…”

 

Sahabat, pernahkah mendengar kata-kata tersebut?

Kira-kira apa ya artinya? Sepengetahuan saya, pewe itu seperti keadaaan di mana suatu hal sudah sangat pas dan cocok, cenderung menyenangkan dan menguntungkan, biasanya kata ini merujuk pada posisi atau tempat,  yang menyebabkan seseorang cenderung enggan beranjak jika sudah mendapatkannya.

 

Bisa jadi posisi di bisokop yang pewe, posisi magkal atau mejeng yang pewe, posisi duduk di resto yang pewe (biasanya karena posisinya paling bisa melihat ke segala arah atau pemadangan sekitar yang bagus), posisi bersantai yang pewe, bahkan posisi ujian yang pewe (karena jauh dari pengawas atau sebelahan ma si genius) wakkakakakaka….

 

Kata pewe sendiri pertama saya dengar saat saya kuliah di Bogor, sepertinya ini memang bahasa slank anak-anak Jakarta, atau jangan-jangan kata ini dari bahasa daerah ya? tetapi sekalipun saya mengucapkan sekarang, teman-teman di sekitar saya (di Kalimantan) rupanya mengerti kata makna kata ini. Jadi mungkin saja kata ini sudah me-nasional… hahahahha… Ada yang tahu asal dan makna kata ini sebenarnya?

 

Berikut beberapa kejadian “udah pewe” yang pernah saya alami..

Bagaimana dengan sahabat sendiri? Pasti pernah mengalami dilema “udah pewe” ini? 😀

 

Happy Blogging!

 

PS: maaf komiknya kurang rapih, bikinnya buru-buru kaya di kejar setan! :mrgreen:

 


Melihat Malaikat

Sahabat, kali ini saya belajar menulis cerpen. Cerpen ini fiksi se-fiksi-fiksinya. Semoga menghibur :mrgreen:

 

Aruna, gadis belia itu tampak seperti gadis biasa kebanyakan. Sikapnya yang periang, ramah, dan lemah lembut tidak pernah menampakkan kegelisahan hatinya yang dia pendam selama ini. Tidak ada yang pernah tahu ada sebuah rahasia dalam hidupnya. Bahkan ayah dan ibunya sekalipun. Rahasia yang hanya dia simpan untuk dirinya sendiri.

Aruna, nanti malam ikut ya jalan-jalan ke mall sama anak-anak?

Nggak ah…

Kenapa?

Nanti malam hujan sangat lebat, banjir dimana-mana.

Kok kamu tahu?

Iya filing aja.


Aruna, jadi ikut lomba menulis cerpen di kampus?

Nggak, aku dah tau pasti kalah..

 

Aruna, aku sedih, hari ini aku kecopetan…hiks…

Sabar, sebentar lagi ada rejeki besar yang datang.

 

Aruna, Pak Tohar, ketua RT kita meninggal semalam!

Ya, aku sudah tahu…

Lho kamu kan semalaman tidur?

Ada yang bilang di mimpi.


Begitulah Aruna. Gadis itu terkadang membuat suatu peryataan sederhana yang menjadi kenyataan atau yang sudah dia ketahui. Bukan karena dia serorang peramal handal atau ahli nujum. Semenjak kecil Aruna mempunyai satu keistimewaan. Dia bisa melihat malaikat.

Makhluk gaib bersayap itu seolah-olah sudah menjadi bagian dari hidupnya. Aruna sudah biasa melihat kehadiran mereka di mana-mana. Di rumah, di pasar, di kantor, di kampus, di rumah sakit, di seluruh tempat di bumi ini. Makhluk-makhluk itu datang pergi, terbang hilir mudik di depan matanya, seperti tidak seorangpun melihat mereka. Awalnya Aruna hanya bisa diam memandang gerak-gerik makhluk bercahaya itu, tetapi dengan berjalannya waktu, Aruna kini mampu mengetahui alasan kedatangan mereka.

Aruna kecil dulu sering melihat sekawanan malaikat yang terbang hilir mudik di udara di atas langit rumahnya. Mereka seperti berdoa dan membawa berkah-berkah dari langit. Tidak lama, awan menjadi mendung, udara menjadi sejuk  dan turunlah hujan. Malaikat menyampaikan jawaban Tuhan atas doa-doa hambanya yang menginginkan hujan. Sejak itu Aruna tahu, kapan akan turun hujan dan kapan hujan akan turun sangat lebat. Dia cukup melihat gerak-gerik malaikat yang terbang di langit.

 

Aruna sering melihat malaikat datang kepadanya atau datang ke orang lain. Memberikan cahaya rezeki yang tertulis di lembaran yang mereka bawa. Itulah malaikat pembawa rezeki. Aruna tahu apakah dia akan mendapat rezeki istimewa hari ini, atau tidak sama sekali. Kadang kala Aruna juga bisa tahu apakah nasib buruk akan menimpa dirinya, atau orang lain.

Satu kali Aruna berkata kepada temannya untuk pergi ke kampus hari ini meskipun hari itu tidak ada kelas. Ternyata teman Aruna itu melihat pengumuman bahwa dirinya adalah penerima beasiswa luar negeri yang di umumkan hari itu. Aruna sudah mengetahuinya. Hari sebelumnya dia melihat seorang malaikat datang kepada temannya tersebut dan menyampaikan cahaya rezeki kepadanya.

 

Aruna bahkan bisa melihat malaikat pencabut nyawa yang selalu mengikuti seseorang di hari-hari menjelang kematiannya. Suatu hari Aruna sedang menunggu kereta di stasiun terdekat dari rumahnya. Hari itu adalah hari senin. Banyak sekali orang lalu lalang memulai aktivitas kerja. Aruna menangis pagi itu. Niat pergi ke kampus diurungkan. Dia pulang. Pagi itu Aruna melihat banyak sekali mahluk gaib itu hilir mudik di stasiun. Dia tahu sebuah kematian masal akan terjadi dalam waktu dekat.

Esoknya Aruna membaca di koran bahwa sebuah kereta mengalami kecekaan lepas dari relnya 100 meter dari stasiun itu, banyak korban meninggal berjatuhan. Aruna hanya diam, dia tahu hal itu akan terjadi. Seandainya saja dia bisa mencegahnya, begitu pikirnya.

 

Aruna adalah gadis yang kuat. Dia berusaha mengahadapi fenomena ini dengan sangat dewasa. Tidak jarang dia harus menjaga emosinya, mencegah ego, dan melupakan apa yang mungkin dan akan terjadi. Dia selalu berusaha tidak terbawa oleh perasaan untuk sekedar mengungkapkan kejadian yang akan terjadi di masa depan. Tidakkah semua sudah takdir, pikirnya. Tetapi Aruna hanyalah manusia biasa yang tidak selamanya kuat menahan gejolak hatinya sendiri. Hingga pada suatu hari segalanya menjadi berubah.

Aruna menemukan seorang pencabut nyawa di dalam rumahnya yang sederhana. Aruna terkejut, siapa? Ternyata malaikat itu mengikuti ibunya. Aruna  menjadi lemas dan menangis sejadi-jadinya dalam pelukan ibunya. Ibunya bertanya ada apa? Aruna hanya memandang ibunya dan berkata: Jangan pergi Ibu…

Ibu Aruna hanya tersenyum dan memeluk anak gadis satu-satunya dan berkata; Aruna, Ibu masih di sini kok…

 

Aruna bangkit mengambil tas ranselnya, dan memasukkan beberapa baju ke dalamnya.

 

Bu, kita pulang ke rumah Mbah di Jogja

Kok mendadak Run?

Nanti saja bu penjelasannya, kita naik pesawat hari ini, Aruna yang bayar.

 

Aruna masih berlinang air mata pagi itu. Pesawat pukul 2 siang memberangkatkan Aruna dan ibunya ke Jogja. Ayah sudah meninggal 5 tahun yang lalu. Aruna tidak mau kehilangan Ibunya kali ini. Orang yang paling berharga baginya.

Sepanjang perjalanan di atas pesawat. Aruna tidak lagi melihat malaikat itu. Aruna sedikit lega. Dia tersenyum  sambil mengucap semua yang ada di hatinya kepada ibunya. Ucapan sayang dan terimakasih.  Aruna sadar dia tidak bisa kehilangan wanita tua di hadapanya itu.

Tetapi takdir tidak bisa di cegah. Beberapa jam setibanya di Jogja. Ibu Aruna menghembuskan nafas terakhirnya di dekapan Ibunya, nenek Aruna sendiri. Sakit jantung itu sudah merenggut nyawa Ibu Aruna malam itu.

 

Pergi! Jangan ambil Ibuku! Pergi!

Begitulah Aruna menjerit sejadi-jadinya kepada malaikat yang ternyata muncul saat itu. Malaikat yang ternyata tidak pernah pergi, malaikat yang sama yang mengikuti ibunya. Dia masih mengikuti Ibu Aruna sampai ke Jogja.

Tuhan, aku sudah membawa Ibuku sampai sejauh ini, mengapa malaikatMu masih mengikuti?

Aruna hanya terisak memeluk jasad ibunya. Malam itu Aruna mencium bau harum seiring perginya malaikat membawa roh Ibunya. Aruna sadar dia tidak mampu mengubah takdir. Sekalipun Dia mengetahuinya.

**

 

Puluhan tahun berlalu. Aruna tua telah menikah dan mempunyai 5 anak yang telah dewasa.

Sore yang hangat itu Aruna tua duduk di beranda rumah. Matanya terpejam. Bibirnya tersenyum.

Si bungsu kemudian duduk di sebelahnya.

 

Mama, aku sedih mama kini tidak bisa melihat…

Anakku, aku sudah tua, mata inipun sudah tua,  dan aku bahagia Tuhan telah menjawab doaku.

Doa apa ma?

Agar aku tidak lagi melihat malaikat.

Picture: http://www.google.com, edited by me.

 

Sahabat, kita kadang ingin mengetahui bagaimana masa depan itu, tetapi tidak selamanya mengetahui masa depan itu baik akhirnya. Jalanilah hidup ini dengan optimis, tanpa prasangka, tanpa beban, segalanya telah diatur olehNya, dan kita hanya cukup menjalaninya dengan yang terbaik yang bisa kita lakukan.


Retardan: Rahasia Bunga Komersial

Sahabat,

Pernakah sahabat membeli tanaman pot berbunga di florist atau supermarket? Pastinya tanaman sedang dalam keadaan berbunga penuh, berdaun lebat, cantik dan sempurna bukan?

 

Apakah sahabat kemudian menyadari bahwa kecantikan tersebut tidak bertahan lama? Misalnya setelah satu bulan tanaman berubah menjadi kurus, tumbuh tinggi, tidak karuan, dan tanpa bunga? Atau setelah bunga rontok, tanaman tidak lagi berbunga? Sahabat merasa tertipu? :mrgreen:

 

Jangan terburu-buru menyalahkan diri sendiri atau orang lain dengan kondisi ini. Ini hanya gejala umum untuk hampir semua tanaman bunga komersial. Tentu saja tanaman tersebut mendapat perlakuan rahasia dari tempat asalnya. Apakah itu?

 

 

Tanaman berbunga yang dirawat di nursery atau greenhouse pada umumnya di rawat dengan pupuk yang sangat intensif. Kontrol ketersediann pupuk memastikan aliran pupuk ke dalam tanaman cukup setiap harinya. Bahkan pada greenhouse besar, pengairan pada tanaman juga mengandung pupuk atau zat hara dalam jumlah kecil. Jadi bisa dikatakan pemupukan terjadi di setiap penyiraman, setiap hari. Tidak heran tanaman tumbuh dengan optimal dan sehat.

Tidak hanya itu, rahasia umum yang paling ekstrim yang dilakukan adalah pemberian ZPT (Zat pengatur Tumbuh), atau PGR (Plant Growth Regulator), atau bahasa sederhananya, Hormon. Umumnya hormon yang digunakan adalah hormon sintetik dengan kosentrasi tertentu sesuai tujuan pemberian hormon.

Hormon tumbuhan menurut wikipedia adalah  sekumpulan bahan kimia/senyawa yang mampu mengendalikan pertumbuhan, perkembangan, dan pergerakan tumbuhan. Hormon ini banyak jenisnya. Salah satu hormon yang umum digunakan untuk tanaman hais dan bunga adalah asam absisat (ABA), yang sifatnya sebagai retardan atau penghambat pertumbuhan.

 

Retardan di pasaran berasal dari golongan paclobutrazol dan uniconazol. Tentu saja merk dagang yang dijual juga beragam dengan kosentrasi dan kombinasi dengan hormon lain atau pestisida yang kemudian menghasilkan efek “menghambat” pertumbuhan pada tanaman.

Kok “menghambat pertumbuhan”?

Karena efek hormon ini menyebabkan tanaman tumbuh lebih kerdil, lebat dan kompak (karena jarak buku daun menjadi sempit), dan tentu saja mempercepat masuknya fase generatif atau pembungaan, yang membuat tanaman bisa berbunga dengan umur yang dini secara serentak dan banyak! Inilah senjata sesungguhnya para petani bunga pot.

 

Cara aplikasi retardan ini umunya disiram pada akar (drenching), atau spray pada daun. Aplikasi dapat dilakukan sekali atau lebih, tergantung pada teknik dan hasil yang diinginkan. Penggunaan retardan sebaiknya merujuk pada kosentrasi tertentu sesaui aturan, karena pemberian yang berlebihan akan membuat tanaman menjadi tidak tumbuh sama sekali, daun kecil, seperti tanaman sakit. Jika sudah begini umumnya tanaman akan dibuang karena sudah tidak menarik lagi.

 

Coba lihat contoh bagaimana efek retardan pada tanaman berikut. Foto diambil dari koleksi dan experiment saya sendiri 😀


Bunga dahlia kerdil dengan jumlah bunga yang sangat banyak

 


Bunga Daisy ini juga mempunyai bunga kompak dengan bantuan PGR/retardant.

 


Salah satu bunga yang “lolos” dari pemberian PGR, tumbuh dengan normal (tinggi)

 


Tanaman Telekan, Lantana camara, tanpa PGR (kiri) dan dengan PGR (kanan)

 


Bunga sepatu (Hibiscus rosa-sinensis), tanpa PGR (kiri) dan dengan PGR (kanan), terkadang efek yang dihasilkan tidak sesuai harapan, justru membuat tanaman tampak seperti sakit.

 


Bunga sepatu (Hibiscus rosa-sinensis), tanpa PGR (kanan) dan dengan PGR (kiri)

 


Bunga Jathropa tanpa PGR (kiri) dan dengan PGR (kanan)

 


Tanaman semak (Eugenia oleina), tanpa PGR (kiri) dan dengan PGR (kanan)

 

Bunga Kaca Piring (Gardenia jasminoides), anpa PGR (kanan) dan dengan PGR (kiri)

 

 

Semua bunga ini telah tersentuh oleh PGR! *Narsis bentar  :mrgreen:

 

 

Pengaruh dari retardan pada umumnya akan hilang setelah beberapa minggu tergantung “kekuatan” retardan dan jenis tanaman. Jika pengaruh sudah hilang, maka tumbuhan akan tumbuh seperti biasa, hal ini mengakibatkan bentuk yang tadinya kompak menjadi tidak karuan. Sahabat akan lihat bagaimana bentuk tanaman sahabat yang sebenarnya! Hahahahahah… :mrgreen:

Hanya satu saran saya, tetap siram dan berikan pupuk. Lakukan pemangkasan jika nampak “kusut”, dan rawatlah secara normal. Tanaman anda akan berbunga secara normal tergantung pada kondisi lingkungan dan perawatan, bukan karena pengaruh hormon.

 

Memang pada dasarnya ini ibarat penipuan konsumen, tetapi kenyataannya banyak konsumen yang hanya butuh penampilan sesaat, seperti untuk tujuan pernikahan, hotel, dan event-event penting lain. Tetapi umumnya bagi ibu-ibu dan pecinta tanaman di rumah, sebagian besar akan merasa “sakit hati” karena tanamannya berubah menjadi “tidak secantik dahulu”.

Oh iya, jangan langsung percaya jika ada yang menawarkan tanaman kerdil dengan bunga atau buah yang lebat. Ada dua kemungkinan, tanaman itu memang kerdil secara genetik (umumnya harga sedikit mahal), atau kerdil karena pengaruh hormon sesaat. Terkesima boleh, tetapi tetaplah menjadi konsumen yang cerdas 😀

 

Salam Kebun!


Award: You’re My 1st Friend

Sahabat,

Di awal tahun ini, setelah kurang lebih 4 bulan ngeblog,  saya ingin berbagi suatu award kepada teman saya… Ini adalah award kedua saya setelah award pertama saya untuk Mbak Iyha a.k a. adverthiya.blogdetik.com beberapa bulan yang lalu…

Ini dia awardnya!

 

Award bertajuk : You’re My First Friend ini adalah sebuah apresiasi kepada sahabat saya yang menjadi sahabat dunia maya yang pertama bagi saya, dan tentu saja sampai sekarang masih menjadi sahabat yang suka mampir di blog saya. Anyway, ini asli buatan saya sendiri lho 😀

 

Award ini saya persembahkan untuk:

 

1. Hendro a.k.a Kamayhttp://kanvasmaya.wordpress.com

Sahabat saya ini aslinya memang teman saya sewaktu duduk di bangku SMA, saya memberikan award ini karena dia lha yang membuat saya memutuskan untuk membangun blog ini. Awalnya dia cerita kalau dia sedang asyik berblogging ria, dan menurut dia blog itu banyak manfaatnya. Saya pun berkunjung ke blognya. Maka munculah ide untuk membuat blog ini, yang awalnya hanya berisi photo-photo hasil jepretan saya.

Makasih ya hendro, you are the inspirator! My first friend as well…

 

 

2. Hani a.k.a. Pendar Bintang, http://pendarbintang.wordpress.com/

Sahabat yang satu ini saya temukan di salah satu list blogroll dari blog kanvas maya, namanya menarik buat saya! Eh ternyata dihuni oleh seorang gadis cantik pula benama Hani yang asli malang *sama kaya tempat lahir saya* Hani banyak memberikan komentar hampir di setiap post saya semenjak saya mempunyai blog, dia orang lain selain Kamay yang mengetahui perjalanan blog saya mulai dari blog ini masih isinya cuma gambar dan miskin komentar :mrgreen:

Terima kasih banyak untuk Hani yang masih menjadi sahabat saya sampai sekarang. Yes, you’re my first friend as well…

 

*Buat Kamay dan Hani, saya nitip award ini disampaikan kepada sahabat kalian, sahabat-sahabat yang menjadi sahabat pertama kalian di dunia blog! saya yakin mereka berhak mendapatkan penghargaan.

 

 

Sahabat,

Teman-teman pertama kita di dunia maya adalah seorang teman yang memandang kita apa adanya, mengunjungi kita dengan rendah hati dan senyuman, meninggalkan komentar, pendapat dan nasihat di awal-awal kita membangun rumah kita, yang masih sangat sederhana dan apa adanya.

Kebersamaan sampai detik ini yang terjalin bersama dan kenangan-kenangan manis pahit saat kita memulai blog kita masing-masing patut diingat dan dihargai dengan sebuah award.

 

Jika sahabat ingin teman-teman pertama kita tahu betapa berharganya mereka bagi kita, silahkan bagikan award saya kali ini untuk mereka.

Saya berikan kebebasan untuk mencopy-nya dan berikan award ini kepada mereka! *gak perlu ngelink juga gak papa! 😀

 

Semoga award ini bisa memberikan manfaat untuk persahabatan kita

dan menjadi kado indah di awal tahun.

 

Happy Blogging!

 



2010 in Review

What a great post as my first post in 2011!

I am so busy recently,and it’s gonna be worse by the time for sure 😀

Sorry I need to do some priorities for my future ;), don’t worry I won’t forget you guys! :mrgreen:

**

Hey, I got this email today for WP Team, look at my blog-health-o-meter! it said : WOW! I think it means great 😆 and not that bad for beginner like me, don’t you think? I wish I’ll make it even better in 2011, We’ll see!

This time, I would like to say many Thanks to NH18, theordinarytrainer.wordpress.com, and Hani, pendarbintang.wordpress.com who mentioned below as referrers (am I right?), and of course all of my friends for all supports, comments, links, ping-backs, and anything which boosted me up until now! 😀

**

Here, the resume of the email:

The stats helper monkeys at WordPress.com mulled over how this blog did in 2010, and here’s a high level summary of its overall blog health:

Healthy blog!

The Blog-Health-o-Meter™ reads Wow.

Crunchy numbers

Featured image

A Boeing 747-400 passenger jet can hold 416 passengers. This blog was viewed about 7,100 times in 2010. That’s about 17 full 747s.

In 2010, there were 73 new posts, not bad for the first year! There were 444 pictures uploaded, taking up a total of 65mb. That’s about 1 pictures per day.

The busiest day of the year was November 30th with 183 views. The most popular post that day was Degradasi HP (Part 1).

Where did they come from?

The top referring sites in 2010 were facebook.com, WordPress Dashboard, mail.yahoo.com, theordinarytrainer.wordpress.com, and pendarbintang.wordpress.com.

Some visitors came searching, mostly for primeedges, mewarnai bunga, mini garden, pewarna makanan, and prime edges.

Attractions in 2010

These are the posts and pages that got the most views in 2010.

1

Degradasi HP (Part 1) November 2010
34 comments

2

Mini Garden in Pot! It’s easy! October 2010
18 comments and 2 Likes on WordPress.com

3

Impian Bungkus Sugus November 2010
62 comments

4

About September 2010
50 comments

5

Mewarnai Bunga? November 2010
29 comments

How about you guys?? I hope it as good as mine, even better!

Ta-ta-for-Now, 😀

Prima!