Frames, Green, Rustle and Sweet Tea

Archive for December, 2010

Sejenak yang Sederhana

Sahabat,

Pagi ini tidak ada kejadian spesial di rumah saya. Jam menunjukkan pukul 10 pagi. Listrik sudah padam semenjak satu jam yang lalu. Laptop saya pun perlahan menunjukkan ikon low battery tanda bahwa laptop akan juga segera padam. Tidak lama akhirnya si laptop pun menghibernatekan diri.

Saya beranjak dari dalam kamar. Hmmm…sudah lama rasanya saya tidak duduk-duduk di teras rumah. Meskipun belum jenuh rasanya saya bergumul dengan laptop dan internet setiap pagi, tetapi pemadaman listrik ini membuat saya mati gaya, mau tidak mau saya cari kegiatan lain untuk sekedar mengahabiskan waktu. Setelah sekian lama tidak menikmati suasana halaman rumah, jadilah saya putuskan pergi teras di samping rumah.

 

 

Pagi ini, di luar matahari pagi sedang bersinar cerah. Hanya ada sedikit mendung di beberapa titik, tetapi tidak mengurangi birunya langit Kalimantan pagi ini. Saya duduk berselonjor pada lantai yang belapis tikar rotan. Angin berhembus sepoi-sepoi, angin kering yang khas dan sedikit hangat. Saya melihat jauh ke sekeliling, pohon berayun-ayun sesekali, burung-burung hilir mudik sambil berkicau. Pohon kelapa dan daun pisang melambai-lambai seperti sedang memanggil angin untuk datang lagi.

 

Ada aroma seperti asap dan sesekali bau kandang sapi milik tetangga jauh tercium samar-samar, hilang pergi tertiup angin. Angin juga membawa aroma kayu dan pandan wangi yang tumbuh subur di halaman. Wangi khas sebuah pedesaan.

 

Sesekali motor dan sepeda lewat di jalanan depan rumah menghasilkan bunyi raungan mesin dan derit roda. Sekawanan sapi asyik merumput jauh di sana. Adik saya dan teman-temannya asik bermain sepak bola di tanah kosong dekat halaman samping. Teriakan, sorak dan tawa bercampur dengan gemerisik bunyi daun-daun dan gesekan ilalang yang ditiup angin.

 

Saya hanya diam. Sesekali terpejam dan mengambil nafas panjang. Mencoba meresapi, menikmati dan menyatu dengan apa yang ada dengan sederhana.

 

 

Sahabat,

Sudahkan sahabat meluangkan waktu sebentar seperti yang saya lakukan?

Tanpa melakukan apa-apa, hanya duduk dan sejenak menikmati hari ini dengan sederhana.

Hari terakhir di tahun 2010.

Kadang beranjak dari segala perhelatan kerja dan keasikan dunia fana untuk menikmati alam dan segala isinya secara sederhana seperti ini,  dapat memberikan ketenangan hati, kesegaran pikiran, keinsyafan dan rasa syukur.

Meskipun itu hanya sejenak. Sejenak yang sederhana. Sejenak yang penuh arti.

***

 

Happy New Year 2011!

Semoga tahun yang baru ini memberikan semangat baru dan kesuksesan yang baru!

Advertisements

Happy Birthday Mom…

Esok,

Penghujung sebuah tahun yang kita lalui bersama

Tahun yang banyak kuhabiskan di dekatmu

Tahun dimana aku terdiam melalui saat terberat di hidupku

Tahun yang banyak mengajarkanku arti pelukan dan kebersamaan

 

Untuk setiap perjuangan,

Untuk setiap senyum di pagi hari,

Untuk setiap doa yang tak henti,

dan untuk setiap darah yang mengalir di tubuhku,

 

Tuhan,

Berikan dia lebih banyak kebahagiaan…

Video ini pertama saya tonton saat duduk di bangku kuliah,
saya sempat terdiam setelahnya…
Semoga bisa menjadi renungan tentang kasih Ibu sepanjang masa…

***

 

Untuk Mama tersayang,
Selamat Ulang Tahun…

(31 Desember 2010)


Ngemeng Doang!

Sahabat,

 

Tau TOEFL kan? Test of English as a Foreign Language itu salah satu standar penilaian kemampuan bahasa Inggris seseorang yang ditunjukkan dengan nilai yang memiliki range tertentu.

Untuk bekerja di luar negeri, beasiswa, sekolah, dan tujuan lainnya, umumnya disyaratkan untuk mempunyai nilai TOEFL yang sesuai standar national atau international. TOEFL ini bisa menjadi masalah terakhir bagi seseorang jika nilainya tidak sesuai dengan harapan, artinya memang kita harus belajar lebih giat lagi…

 

 

Dilema TOEFL ini pernah terjadi juga pada saya setahun yang lalu.

 

Setelah kembali ke tanah air, banyak sekali rencana ke depan yang terlintas di kepala, salah satunya mendapat beasiswa. Pastinya sahabat sudah tahu standar TOEFL beasiswa di luar negeri, syarat nilai TOEFLnya cukup membuat megap-megap. Termasuk saya!

 

 

Saat itu saya cuma waktu sedikit untuk menyiapkan nilai TOEFL. Dengan ilmu nekat akhirnya saya daftarkan diri untuk ikut TOEFL institusional di kampus saya. Saya pikir, seharusnya tinggal di luar negeri at least memberikan sedikit progress, ditambah dengan belajar dalam waktu seminggu sebelum tes.

 

 

Hasilnya. Jeng-jeng-jeng…

 

 

Wak! Nilai saya gak nyampe seperti yang diharapkan 😳

 

Sahabat tahu kan, nilai TOEFL itu umunya terdiri dari 3 bagian, Listening, Structure dan Reading. Dulu di kampus saya pernah dengar pernyataan seorang dosen Bahasa Inggris bahwa nilai ketiganya  biasanya akan sama rata. Karena kemampuan ketiganya akan saling support satu sama lain.

 

Kenyataanya, tidak berlaku untuk saya! Nilai Listening saya jauh melesat melampaui  standar nilai yang diharapkan, kemudian nilai Structure lebih rendah, dan akhirnya nilai Reading saya amblas! Hahahahaha.. apa-apaan ini? Kalo di bikin grafik maka akan menjadi grafik menurun.

 

Awalnya saya tidak terpikir tentang gejala nilai ini. Tanpa prasangka apa-apa, saya akhirnya ikut TOEFL lagi. Cerintanya pantang menyerah nih! Tapi hasilnya lagi-lagi sama, tidak terjadi perubahan yang nyata. Kemudian saya mulai membandingkan nilai TOEFL pertama dengan yang kedua. Barulah saya tahu gejala aneh itu. Listening saya selalu lebih baik daripada dua nilai lain. Ada apa ya?

 

Saya kemudian mulai menelaah gejala ini. Mungkin ini disebabkan karena selama tinggal di US saya hanya bicara dan mendengarkan tanpa ada pembelajaran terhadap stucture atau grammar. Ya saya akui selama disana saya gak pernah menyentuh buku-buku grammar apalagi TOEFL. Jadilah hanya nilai listening saya yang lumayan, sisanya masih mengecewakan. Begini lha akibat kalo cuma sering ngemeng*) doank!

 

Pada akhirnya, saya memang harus kembali belajar tentang Stucture, Writing dan Reading lebih giat. Biar nanti nilai TOEFL sebaik Listening saya. Mudahan TOEFL berikutnya tidak terlalu mengecewakan! 😀

 

Apa sahabat juga punya dilema yang unik denganTOEFL?

***

 

*ngemeng = ngomong

PS: thanks doanya buat temen-temen, I feel much better today… (kan ceritan sakit kemarin2) 😀


Oven

Cerita berikut diambil dari pengalaman saya saat di US, kali ini saya bercerita tentang oven…

Masak adalah kegiatan wajib bagi hampir semua orang yang tinggal di US khususnya, di luar negeri pada umumnya. Jasa pembantu yang super mahal dan harga makanan resto (gak ada warung tegal lho ya) harganya bisa bikin megap-megap kalau harus beli tiap hari. Jadi mau gak mau, bisa gak bisa, tetep harus masak, apapun hasilnya! Yang penting makan!

Gue pernah baca tulisan orang indonesia di internet kalau di luar negeri “telunjuk sakti itu tidak sakti lagi” ini sebenarnya merujuk ke kebiasaan orang indonesia yang punya pembantu, apa-apa tinggal tunjuk, mau makan yang berbeda, tinggal melenggang ke warnas atau warteg, pokoknya ada duit mah, semua tinggal tunjuk, sakti bukan? Sayang, telunjuk itu dah gak akan sesakti itu lagi saat kita ada di luar negeri. Pembantumu adalah dirimu sendiri, wkakakakaaka…

 

Well, cerita sedikit, kegiatan masak gue akan di mulai sekitar pukul 6 sore. Abis pulang kerja pukul 4 biasanya gue masuk kamar, nyalain laptop, cek email, FB, ngakak-ngikik kesana kemari terus ganti celana pendek dan kaos oblong. Pergi ke dapur dan membuka kulkas. Belum kok, gue belum mau masak… gue cuma ambil box ice cream, sekantong pecan, dan sendok. Nongkrong lha gue dengan nyaman di beranda belakang, menikmati sore selepas kerja, meluruskan kaki, ditemani semilir angin dan harum rerumputan, sambil makan es krim dan pecan… What a life! Hahhahaha…

Kadang kalau stok ice cream dah ludes, gue akan ambil pisang dan yogurt, kalau gak da juga, gue akan ambil bayam, kacang mete dan mayo, kalo gak ada juga gue ngelirik es buah kalengan … pokoknya sore itu harus menyempatkan waktu duduk manis sambil makan yang enak-enak, hahahahah….

Nah, setelah puas menikmati surga dunia, gue akan menuju ke dunia nyata yang kejam, yaitu dapur! Seperti biasa gue akan cek ricek isi kulkas, cek sayur, cek lauk, ambil, tutup. Lalu cek cabinet, liat bumbu dan makanan kaleng… hmmmmm… baru deh masak!

 

Nah, karena di sana kegiatan masak adalah “kewajiban”, maka fasilitas masak juga sangat memadai. Di Amerika rata-rata dapur menggunakan kompor dan oven listrik dan tentu saja benda multiguna dan sahabat setia kita semua, microwave! Hore! “Microwave, menyelesaikan masalah, tanpa masalah…” :mrgreen: Kotak ajaib ini bisa masak apa aja dari masak nasi, ngangetin makanan, defrost daging beku, mekarin kerupuk, sampe ngeringin kaos kaki, heheee…yang terakhir gak kok, pokoknya dengan alat ajaib itu, hidup gue serasa lebih mudah… *maklum katro!

Microwave ini sebenarnya masih jenis oven, tetapi menggunakan gelombang micro panas, cmiiw. Alat inilah yang menyelamatkan gue dari kelaperan saat belom punya rice cooker. Denger dari Ceko, temen indo, masak nasi bisa pake microwave. Yup, akhirnya dengan pengalaman jatuh bangun, akhirnya gue bisa masak nasi *terharu banget pas pertama masak nasi. Biasanya nasi masukin ke mangkok besar atau tapperware, jumlah air seperti biasa, 1,5x sampai 2x volume nasi, terus gunakan panas paling gede dengan waktu 15 menit. Setelah 15 menit, nasi di aduk-aduk, kemudian masukan lagi, gunakan panas sedang atau rendah selama 5-10 menit. Tada, nasinya jadi deh !

Tapi semenjak punya rice cooker gue bisa masak tanpa gagal *ya iya lha, dan hasilnya gue masukin ke tapperware, terus simpen di kulkas…biasanya bisa buat 4-5 hari. Kalau mau makan, tinggal ambil nasi dinginnya, terus masukin ke microwave, anget deh… nice!

 

Bicara tentang microwave, gak semua benda bisa ikut diangetin. Menurut pengalaman gue liat filem kartun, telor akan meledak jika dimasukkan ke benda ini. Kemudian suatu hari gue punya telor rebus di kulkas, dengan pedenya gue masukin dah tuh telor ke microwave, gue pikir, toh bukan telor mentah. Ternyata sodara-sodara, telur itu meledak ! Wakakakkakak… Gue yang asik nyiapin sayur terkaget-kaget dan segera mematikan microwavenya. Pas gue buka, tuh telor ancur lebur, dan pecahannya sudah lengket di semua penjuru bagian dalam…yang tersisa di piring hanya bagian putih telor segede jempol, haduh….

 

Kejadian lucu lagi terjadi waktu gue dan Agus pertama kali pake oven. Dilandasi dari rasa bosen yang berkepanjangan dengan ayam goreng, akhirnya gue dengan berani menggunakan oven, buat manggang ayam. Maklum katro, gue bingung ngeliat alumunium foil…buat apa yah? Berhubung belum punya nampan buat manggang, ya udah buat alasnya ayam. Trus pencet-pencet bentar, dan oven pun nyala, gue melototin ayam dari kaca luar sambil berkata dalam hati : “ayam, kamu baik-baik ya di sana, jangan nakal…”.

Saran Agus ayam dipanggang dengan temperatur 350o, tapi karena ga sabar gue buat 400. Waktunya gue lamain dari 30 menit, jadi 40 menit. Menit-menit terakhir gue liat tuh ayam dah ngeluarin minyak dari lemak-lemaknya. Trus gue buka dan gue balik, ternyata ga rata masaknya! Gue pun masukin lagi dan menambah derajat panas menjadi 450. Entah kenapa, seketika minyak jatuh di atas besi pemanasnya dan ngeluarin api gede banget, Wak!

Agus dan gue berteriak bareng! WUAAAAAAAAAAAAAAA, api, api, api!!!!! Dalam hati gue, mampus, tamatlah riwayat karir gue disini kalo rumah ini kebakaran. Gue matikan oven, buka ovennya, gue tiup-tiup apinya, pufff…phuffff…..gak ngaruh! ya iya lha. Akhirnya teringat cara memadamkan kompor yang menggila, dengan lap basah!, gue ambil lap dan gue pukul-pukulin ke oven sambil komat kamit baca doa sebelum makan (yang inget cuma itu…), YES! Berhasil, oven sudah padam… semua kembali tenang dan hatipun senang 😀

Ayamnya? Yes, meskipun terjadi tragedi oven terbakar… ayamnya berhasil selamat…untuk lebih menyakinkan ayamnya dah masak dalemnya, gue masukin ke microwave, dan gue kasih kecap+saos…hmmmmm yummy… not bad.

 

Semenjak itu gue sering tanya-tanya ke native, cara-cara pake oven, fungsi alumunium foil, derajat panas, dan bedanya bake (panas bawah) dan broil (panas atas). Lumayan meskipun gak expert banget, gue bisa menggunakan oven dengan bijak dan berdaya guna 😀 Memasak dengan oven itu ternyata menyenangkan sodara-sodara!

Kita tentu menghemat minyak, dan makanan jadi lebih sehat. Banyak sekali makanan di Amerika yang dimasak dengan cara dioven. Dari ayam, daging, pizza, buffallo wings, makanan siap saji dalam kotak juga banyak yang disiapkan dengan dioven atau microwave. Makanan yang gue oven biasanya bisa gue simpen di kulkas, ketika akan dimakan, lagi-lagi, gue pakai microwave buat ngangetin, hehehehe…benar-benar dua oven yang sangat berguna… Mereka banyak menghiasi kegiatan masak gue selama gue tinggal di sana.

 

Salah satu sudut dapur rumah di FL

 

Dapur rumah di NC, karena ini rumah asrama, maka penghuninya banyak, dan microwave-nya ada 3! 😀

 

PS: Perhatikan bahan plastik atau container yang digunakan sebagai wadah makanan saat dimasukkan ke microwave, apakah microwave-able? biasanya ada tandanya di bagian bawah. Stearofoam dan aluminimum foil gak boleh masuk, kalo tissu masih boleh…


Geng Anak-Anak

Sahabat,

Maaf akhir-akhir ini rasanya saya jarang update dan jarang BW, maklum kondisi badan tidak sehat, jadi lebih banyak meluangkan waktu untuk beristirahat… 🙂

 

Jadi, beberapa hari yang lalu, Si mamah menemukan secarik kertas yang dilipat-lipat, tertinggal  di ruang tamu. Beberapa waktu sebelumnya teman-teman adik saya yang duduk di kelas 6 memang bermain di rumah. Setelah lipatan kertas di buka, ternyata…

Hahahahahah…. isinya kocak!

 

Berikut saya zoom menjadi dua bagian…

Bagian atas:

  • Logo suratnya pake logo kabupaten 😀
  • United “Started” of America, Chicago? apa maksudnya ya?
  • Nama Gang-nya: ImCS
  • Sejauh ini baru 5 anggotanya, terdiri dari 3 anak kelas 6, dan 2 anak kelas 4 😀

 

Bagian bawah:

  • Amerika “Sericat” 😀
  • Tujuan kedua sweet banget… :mrgreen:
  • Udah kaya surat formal, ada tanda tangan ketua…
  • Lihat gambar logo elang, digambar sendiri lho, hahahahhaha….not bad… 😛

 

Saya dan mamah cuma ngikik guling-guling baca kertas ini. Semenjak hari itu Mamah dan saya suka ngecengin adik saya “Jiahhhhh…nge-geng ni yeeee…” 😀

Terakhir saya dengar mereka menyanyikan lagu kepompong bagian reffnya yang di ulang-ulang, jangan-jangan itu jingle geng-nya? :mrgreen:

Tapi syairnya berubah menjadi: “Persahabatan bagai kepompong, mengubah ulat menjadi anjing laut”

Ada apa dengan anjing luat ya? :mrgreen:

 

Aneh-aneh aja ya tingkah anak-anak… Sejauh kegiatan berisi hal yang positif saya sih setuju aja, 😀

 

Happy Blogging! Happy Holiday!

***

 

Today I would like to say to all my friends, in Indonesia, United States, Germany, Denmark, Ukraine, Poland, Brazil, Nicaragua, Mexico, China, Argentine, Australia, South Africa, and many more…

Merry Christmas and Happy Holiday!

Warmest hug, Prima


Topi itu Kembali

Saya akan sedikit narsis kali ini… hehehehehe…

Sahabat,

Kemarin saya senang sekali, topi saya yang hilang lebih dari sebulan yang lalu, telah kembali!

Si topi sekarang sudah ada di tangan saya. Saya jingkrak-jingkrak saking senengnya… beberapa kali saya memandang topi ini… begitu mendalam, seperti menemukan kekasih yang hilang *lebay :mrgreen:

 

Jadi kira-kira lebih dari sebulan yang lalu, saya menyadari bahwa topi kesayangan saya itu hilang dari kamar. Saya memang kadang ceroboh menaruhnya, tetapi kali ini benar-benar hilang, meskipun satu rumah sudah saya periksa. Hasilnya NOL. Saya juga sudah tanya ke teman-teman saya, siapa tahu tertinggal di rumah mereka. Ternyata tidak ada juga. Jadi sejak itu saya merelakan topi itu.

Ternyata sore kamarin, seorang tetangga menggunakan topi saya itu. Saya shock! Setelah melakukan dialog dengan si tetangga, topi itu ternyata sudah ada di rumah di bawa oleh ponakannya yang masih TK. Halah! ternyata adik kecil yang suka main ke rumah saya itu diam-diam membawa topi saya pulang. Akhirnya topi itu dikembalikan ke saya. Sang pemilik aslinya. Hore! 😀

Ini dia penampakan topinya:

 


Topi ini penuh kenangan bagi saya. Brandnya : Peter Grimm, terkenal gak ya? hahahahah…. kalau di websitenya harganya 45 USD, tetapi waktu itu ada diskon besar, saya cuma beli 10 USD! 😀

Topi ini saya beli di New York, saat saya akan meninggalkan Amerika. Saya awalnya tidak memperhatikan brand, yang saya lihat saya suka modelnya, dan murah pula, jadi saya segera comot, eh ukurannya pun pas di kepala saya yang agak besar 😛

Semenjak itu, topi ini adalah sahabat saya kalau saya pergi kemana-mana, kalau saya tidak bawa topi ini, berarti saya lupa atau tidak sengaja tertinggal. Topi ini seperti menjadi saksi perjalanan hidup saya ke Bali, Brunei, Bogor, Jakarta, dan kini ke Kalimantan…

Ini buktinya… Nah ini bagian narsisnya! 😀


Saat menemani saya hunting photo…

 

 


Ciawi Bogor, topinya sedang saya pegang 😛

 

 


Di Kebun Raya Bogor

 

 


Di Cifor, Bogor

 

 


Di Waduk Jatiluhur, Purwakarta

 

 


Istiqlal, Jakarta

 

 


Kepulauan Seribu, Jakarta

 

 


Brunei National Day, Bandar Seri Begawan

 

 


Wisata Kampong Air, Brunei

 

 


Kota Tua Jakarta, Jakarta

 

Nah Sahabat,

apa sahabat juga punya benda yang selalu sahabat bawa kemana-mana?

Yang rasanya ada yang kurang jika tidak membawa benda itu…


Happy Blogging!


Trie

Puluhan tahun silam, hiduplah gadis kecil bernama Trie. Trie adalah anak bungsu dari tiga bersaudara. Kakak pertamanya seorang perempuan bernama Eka, kakak keduanya seorang laki-laki bernama Dwi. Ibu mereka adalah seorang pedagang, sedangkan ayahnya adalah pegawai di suatu pabrik nasional. Kehidupan mereka cukup sederhana. Mereka tinggal di rumah sederhana tempat para karyawan pabrik tinggal.

 

Trie adalah gadis manis yang murah hati dan penurut. Sebenarnya dia rajin dan cekatan dalam bekerja, hanya saja pembawaannya sebagai anak bungsu membuat dominasi Eka, kakaknya, dalam mengurus kegiatan rumah tangga, sedangkan Dwi seperti anak laki-laki lain, senang bermain di luar. Maka Trie lebih senang manghabiskan waktunya di luar bermain dengan teman-temannya.

 

Eka tipikal kakak yang galak dan pemarah. Dia senang membentak dan egois. Dia kadang berbuat tidak adil kepada Trie. Sedangkan ibu mereka terlalu sibuk dengan pekerjaan. Malah cenderung tidak memperhatikan perkembangan Trie,  semua prihatian lebih tertuju kepada kakak tertua, Eka dan Dwi sebagai kakak laki-laki.

 

Jika malam tiba Trie harus berbagi kasur dengan Eka. Eka selalu tidur awal, dan memberi batas kasur dengan guling. Tentu saja bagian Trie sangat sempit, kadang Trie secara tidak sadar masuk ke wilayah tidur Eka. Itu membuat Eka geram dan menendang Trie hingga jatuh di kasur. Dari situlah Trie belajar untuk tidur dengan tenang dan tak banyak bergerak.

 

Satu kali, Trie lapar sepulang bermain dari luar, dia melihat Eka sedang mengulek sambal untuk nasi goreng. Trie mengatakan bahwa dia senang jika Eka mau berbagi dengannya, seraya ikut membereskan isi dapur. Tetapi Eka malah emosi dan menjadi galak, dia bilang Trie hanya mau enaknya saja, pulang jika hanya lapar. Tiba-tiba sambal nasi goreng itu dilumurkan ke muka Trie. Sontak Trie kaget dan menangis. Dwi datang menghibur Trie yang sedang kepedihan. Dari situlah Trie menjadi suka menahan keinginan, dan takut akan meminta. Dia akhirnya senang belajar untuk melakukannya sendiri, tanpa harus banyak bicara.

 

Trie anak yang suka menggambar. Ibunya pernah memarahinya karena pensilnya sering habis atau hilang. Cap sebagai anak boros dan ceroboh sempat melekat padanya. Selama ini Trie diam-diam menggambar pada satu kertas, kemudian menghapusnya, menggambar, menghapusnya lagi, niatnya hanya satu yaitu menghemat kertas, tetapi sayang dia tidak bisa menghemat pensilnya.

 

Ibunya mengancam tidak akan membelikannya pensil jika habis atau hilang. Sejak itu Trie hanya punya dua pensil, satu pensil tulis dan satu pensil warna merah yang dibelikan ayahnya. Satu hari, Trie kehilangan satu pensil tulisnya yang hanya tinggal sepanjang kelingking. Siang itu dia tidak berani pulang sekolah. Dari jam pulang sekolah dia terus mencari pensil kecil itu di setiap sudut kelas. Di halaman depan, kemudian di taman. Teman-temannya telah pulang dan sempat berkata untuk membeli yang baru. Uang dari mana pikirnya? Dia tidak putus asa, dia tetap mencari.

 

Sore mulai merayap. Trie masih di dalam kelas, diam-diam air matanya menetes. Dia takut kalau pulang ke rumah dan berkata pensilnya hilang, Ibunya akan memarahinya. Trie sudah berjanji akan menjaga pensil itu dan dihemat sampai tahun ajaran baru. Trie akhirnya pulang ke rumah dengan mata sembab. Dia tidak berkata-kata malam itu. Dia hanya bilang pulang bermain dan segera tidur. Lagi-lagi malam itu dia menangis tanpa suara. Iya ingat pensilnya yang hilang.

 

Pensil itu ternyata tidak hilang. Teman Trie tanpa sengaja membawa pensil itu pulang. Trie sangat bahagia menemukan pensil kecilnya. Tak henti-hentinya dia bersyukur, semenjak itu dia menghemat pensil kecil itu, berhenti menggambar dan menggunakannya benar-benar sampai tahun ajaran baru.

 

Eka terkenal sangat bandel di sekolah. Eka dan Trie disekolahkan di sekolah kejuruan untuk anak-anak putri. Guru-guru sangat benci dan dendam terhadap Eka selama ini. Saat Trie masuk sekolah itu, guru-guru kemudian dengan sengaja menghukum Trie dengan tugas berat seperti mengepel dan membersihkan kamar mandi tanpa alasan jelas. Mungkin sebagai pembalasan dendam ke Eka yang diberikan melalui Trie, adiknya. Trie yang rajin dan baik hati tidak pernah mengeluh.

 

Seringkali Eka menyuruh Trie mengerjakan tugas rumahnya seperti menggambar dan menjahit. Trie yang penurut hanya bisa mengiyakan, Trie sering mengorbankan waktu tidurnya untuk mengerjakan PR-nya sendiri dan PR Eka. Di akhir tahun Eka tidak pernah lulus dari sekolah itu, dia berhenti. Sedangkan Trie menjadi anak kesayangan guru-guru. Bahkan dia sempat mendapat beasiswa supersemar, dan direncanakan oleh sekolah untuk melanjutkan sekolah tinggi di Yogyakarta. Tetapi nasib berkata lain, Trie akhirnya memilih menikah. Impian untuk sekolah tinggi itu dia pupuskan.

 

Tahun-tahun berlalu. Hidupnya sudah lebih bahagia bersama suami dan kehadiran si kecil. Si kecil tumbuh menjadi anak yang sehat dan membanggakan.

 

Saat si kecil kehabisan pensil tulisnya, Trie membelikan dua pensil sekaligus. Trie berkata, simpan pensil satunya, siapa tahu nanti hilang.


Saat si kecil ingin menggambar, Trie membelikannya satu set pensil warna. Trie selalu mengatakan jangan pernah berhenti menggambar.


Saat si kecil ingin nasi goreng, Trie mengajaknya ikut serta memasak. Trie berkata Ayo bantu mama memasak!


Saat si kecil mendapat PR, Trie mengarahkannya untuk tekun dalam bekerja. Trie berkata kerjakan tugasmu dengan penuh kemandirian, bantu teman jika mereka membutuhkan.


Saat si kecil punya adik, Trie mengajarinya untuk berbagi dan menyayangi adik-adiknya. Trie berkata, adikmu adalah saudaramu di masa tua kelak, jangan pernah ragu untuk berbagi.


Saat si kecil kini tumbuh besar, Trie terus menyemangati untuk sekolah yang tinggi dan memberikan kebebasan mengambil keputusan.

 

Hingga Si kecil kini beranjak remaja Trie tidak pernah mengeluhkan masa kecilnya. Jika ditanya dia memilih untuk diam dan tersenyum.

 

Ibu selalu memberikan yang terbaik kepada anak-anaknya. Jauh lebih baik dari yang kita perkirakan, jauh lebih baik dari masa kecilnya sendiri.

 

 

Teruntuk Mama tersayang, Trie Ervianti.

Selamat Hari Ibu