Frames, Green, Rustle and Sweet Tea

Archive for 30 November 2010

Degradasi HP (Part 2)

Tulisan ini adalah kelanjutan dari Degradasi HP (part 1). Silahkan membaca bagian pertama jika belum. 😀

Sahabat, setelah saya tinggal di US, keadaan ternyata jauh dari yang saya bayangkan. Di sana penggunaan hp tidak sebebas di Indonesia, di mana kita bisa seenak jidat ganti nomor dan ganti hp. Di sana beberapa provider mengharuskan kita untuk melakukan kontrak tahunan untuk paket pasca bayar atau untuk pra bayar mereka umumnya menjual paket nomor dan hp sekaligus. Registrasi nomor pun juga cukup ribet, tidak semudah di Indonesia.

Setelah melalui pemikiran panjang dan obrolan dengan teman, akhirnya saya mengambil paket prabayar yang dibayar di muka setiap bulan, paket ini juga mengharuskan kita membeli hp dengan nomor yang sudah terinjeksi/terkunci permanen pada hp. Provider itu bernama Metro PCS. Menurut saya biayanya relatif murah meriah.

Itu penampakan fisik hp-nya. Tidak diketahui apa merknya. 😆

Setelah saya pindah state, ternyata  mau tidak mau saya harus mengganti nomor dengan provider lain, karena provider sebelumnya tidak menjangkau state yang dimaksud. Providernya lebih lebih terkenal : AT&T

Ini penampakan hp, yang  barusan diketahui sebagai Samsung B289.

Kedua hp diatas punya kesamaan yaitu murah meriah dan gak  neko-neko fiturnya. Saya bahkan tidak pernah menggunakan internet dengan hp ini, selain tidak tahu settingannya saya juga takut biayanya mahal.

Kehidupan per-handphone-an di US ternyata tidak sedasyat di Indonesia, di mana orang berlomba-lomba memiliki hp dengan bajet luar biasa dan fitur yang paling terbaru. Di sana masyarkat tidak terlalu excited menggunakan hp yang wah, bagi mereka yang penting call, sms, and gprs. Gprs digunakan hanya untuk melihat berita utama dan prakiraan cuaca hari ini. That’s all 😀 Mereka gak terlalu excited dengan ringtone super heboh, wallpaper yang tak berhenti beranimasi, apalagi chat! Kata mereka ribet kalo di hp, mereka prefer menggunakan PC.

Di sana mereka juga tidak terlalu memperhatikan merk hp, jika ditanya apa beda Nokia dan Samsung? Mereka menjawab: keduanya bagus. atau: Samsung lebih murah. Mereka tidak membicarakan fitur atau trend saat ini. 😀

Saat saya perlihatkan hp yang saya bawa dari Indonesia (w830i dan K850i), mereka tertegun tidak tahu. Mereka bilang pasti hp saya itu sangat mahal dengan fitur yg super rumit 😀 Di US orang-orang tidak mempermasalahkan kecanggihan hp, tapi mereka akan ribut kalau tiba-tiba mereka tidak bisa ditelepon karena habis pulsa (fyi, terima panggilan dan sms saja bayar). :mrgreen:

Memang saya akui hp-hp semacam Iphone dan BB sangat banyak di sana, tetapi siapa yang membeli? hanya orang-orang dengan kelebihan uang yang membeli hp-hp itu. Kebanyakan masyarakat di sana lebih concern kepada bagaimana agar hp-nya selalu berisi pulsa. Karena biaya panggilan sangat mahal jika dibandingkan dengan di Indonesia, mereka tidak sempat berpikir untuk “bergaya”. Isi pulsa saja megap-megap 😀

Sepulangnya dari US, saya kembali  membawa dua hp saya, tentu saja keduanya masih mulus, karena memang tidak pernah dipakai di sana. Hp dari US? Yang satu sudah saya berikan teman di sana, satu lagi mungkin sudah mati secara automatis akibat out of region.

Dengan ringan saya menjual K850i saya. Harganya sudah terjun bebas dari pertama saya beli. Toh saya tidak membutuhkannya lagi. Mau telepon saya punya W830i, mau moto saya punya kamera, mau video saya punya camcorder, denger musik pun saya punya mp3 player. Satu hp saja cukup.

Beberapa bulan kemudian hp kesayangan saya W830i tiba-tiba mati total (Sekarang sudah OK, dah saya berikan ke adik saya). Saya beranjak ke toko hp dan membeli hp sederhana Nokia 2323. Fiturnya tidak banyak, hanya call, sms, dan gprs. Bisa cek email sudah cukup bagi saya. Sampai sekarang saya masih menggunakan hp yang saya beli dengan harga 450 ribu itu. Murah dan memenuhi kebutuhan saya.

Semakin hari saya semakin sadar bahwa kesederhanaan yang pernah saya alami di US memberikan banyak pengaruh pola pikir saya sekarang. Saya tidak tergiur dengan tawaran teman-teman saya untuk ganti hp, rasanya masa-masa “tergiur” itu sudah lewat bagi saya. Selain berhemat saya juga berpikir apa saya benar-benar  membutuhkan semua fitur canggih itu? Tidak penting apa hp-nya, tetapi yang terpenting apa fungsinya sudah berjalan dengan baik, apa ada pulsa di dalamnya, apa saya bisa cek email saat jauh dari laptop. Itu saja.

Saya tidak malu saat teman melihat hp saya yang cupu ini, saat mereka berkata sekarang sudah jamannya Andr**d, dan lain sebagainya. Bagi saya kesederhanaan masyarakat amerika membuat saya jauh dari pikiran mengejar trend, fitur super canggih, atau malah sekedar gengsi. Itu semua membuat saya jauh lebih tenang dari segi hati dan pikiran. Dengan hp sederhana ini saya tidak perlu sibuk memperindah tampilan system, mencari aplikasi canggih, atau sibuk membalas Messenger, saya juga gak rugi banyak kalau hp saya ilang dicopet :mrgreen:

Ah! Saya senang menjadi sederhana. Gak capek. Gak repot. Gak stress. Yang penting call, sms, gprs.

Itu mungkin yang pelajaran hidup yang penting bagi saya. Bagaimana dengan sahabat?

 

Happy Blogging!

***

PS: Today, I’d like to wish  my lovely sister, Ega Nauli Adisti, Happy Birthday and Happy Sweet 17! 😀

All I wish always the best for you, and I am going to miss having dinner together here with mom, dad, and our little brother. Please take care and keep the best of you. We’re missing you 🙂


Degradasi HP (Part 1)

I had stopped thinking all about those gadget! it’s much better.

Terinspirasi dari sahabat blogger Rama dalam tulisan: Sejarah Handphone Anda Pertama Kali Sampai Sekarang. Saya teringat hp-hp yang pernah simpang siur dalam kehidupan saya 6 tahun terakhir. Ternyata di balik pergantian hp-hp tersebut terdapat pelajaran hidup bagi saya, yaitu hidup sederhana.

 

Kira-kira beberapa bulan setelah saya duduk di bangku kuliah di Bogor saya mulai merasa bahwa saya butuh hp. Teman-teman di kelas sebagian besar sudah memiliki hp, sedangkan saya sendiri yang berasal dari kampung tidak mengenal benda ajaib itu 😀 Didorong oleh kebutuhan komunikasi dan bisikan teman-teman saya akhirnya menabung dan saya membeli handphone pertama saya, Nokia 6610.

Hp ini waktu itu sudah lumayan middle class, karena sudah dibekali layar warna dan suara polyphonic. Gaya euy akhirnya punya hp, bagus lagi! :mrgreen:

Perkembangan hp jaman itu cukup pesat. Saya mulai melirik hp lain yang kelihatan lebih lengkap fiturnya. Saya pun tukar tambah hp saya itu dengan Nokia N-Gage. Hp gamers ini benar-benar membuat hari-hari saya disibukkan dengan bermain game, semua game saya pasang dan hampir semua saya tamatkan.

Tidak lama, muncul N-Gage QD. Versi baru dari hp gamers ini memanjakan pecintanya dengan memaksimalkan fungsi layar, kecepatan kerja, keypad navigator yang lebih empuk dan bentuknya yang lebih nyaman. Saya tergiur! Ya saya pun mengganti hp saya lagi.

Sahabat, semenjak saya makin gila bermain game saya merasakan waktu saya terbuang dengan percuma, saya lupa waktu dan lupa belajar. Nilai ujian saya sedikit banyak turun. Saya sadar saya harus menghentikan kebiasaan buruk ini. saya menjual hp ini, dan membeli hape dengan sangat ceroboh. Sony Ericsson P800.

Ini adalah hp dengan umur paling pendek bagi saya, 5 hari! Bukan karena rusak atau hilang. Hp ini membuat saya stress dengan fungsi touchscreennya yang menurut saya ribet untuk orang seperti saya yang pecicilan. Too complex! Saya pun mengembalikannya dan membeli hp middle class berkamera lumayan SE K500i.

Dari hp inilah saya mulai merasa saya suka PHOTO! Saya mulai suka memotret dan merekam video.  Tidak lama hp ini hilang di copet di terminal Bubulak! 😀 Naas nian nasib saya. Di saat saya tidak punya uang saya membeli hp murah meriah untuk sementara. Nokia 6510. hp monokrom pertama saya! :mrgreen:

Tentu saja nafsu untuk berburu hp berkamera handal tidak berhenti begitu saja. Saat tabungan saya sudah cukup, saya segera membeli hp dengan kamera yang keren saat itu SE K750i.

Hobby foto-foto akhirnya berkembang pesat dengan hp ini. Saya juga mulai iseng-iseng belajar cara flash dan mengoprek software hp ini. Gila! saat itu saya sampai bisa mengubah software hp ini menjadi hp type lain, dengan suara keras, kamera super focus, dan tampilan beranimasi yang ajaib. Ilegal prosedur ini saya kuasai dengan begitu mudah, tetapi membuat saya sibuk sendiri dengan dunia gadget, setiap hari selalu berpikir bagaimana dengan ini, bagaimana dengan itu. Saya kan harusnya focus di kuliah!

Tuhan memang tau apa yang saya butuhkan. Sahabat, hp kesayangan saya ini akhirnya hilang di kampus, ntah bagimana caranya. Tuhan seperti mau bilang: “Stop sibuk dengan hp, back to study!”

SE W830i ini yang akhirnya menemani saya setelah kehilangan hp untuk kedua kalinya. Saya menyukainya karena kualitas suara yang memukau. Ini hp yang paling saya sayang dia antara hp-hp yang lain. Kepergian saya ke US membuat saya berpikir bahwa saya membutuhkan dua hp. Tidak tanggung-tanggung saya membeli Sang Jawara hp berkamera SE K850i dengan kamera 5 MPix!

Dengan berbekal dua hp keren ini (SE w830i dan K850i) saya terbang ke US untuk magang selama setahun.

 

Apa yang terjadi setelah itu?

Apakah perjalanan hp saya akan semakin gemerlap atau sebaliknya?

Apa yang membuat semuanya berubah drastis?

Pelajaran hidup apa yang saya peroleh?

 

Cari tahu jawabannya di Degradasi HP (part 2)!

 

Happy Blogging!