Frames, Green, Rustle and Sweet Tea

Archive for 28 November 2010

Impian Bungkus Sugus

When a dream comes true…

Apa sahabat tahu permen Sugus? Sekitar tahun 1990-2000-an permen lunak ini sangat populer dan banyak variannya. Mulai dari satu rasa, dua rasa, tiga rasa, sampai mix dengan yogurt, kesemuanya rasa buah-buahan. Dulu permen ini bisa ditemukan hampir di semua warung, tetapi sekarang saya sudah jarang melihatnya, mungkin mulai tergeser oleh permen-permen lain.

Saya bukan mau nostalgia dengan permen ini, tetapi saya teringat sebuah cerita masa kecil saya tentang permen sugus. Cerita tentang mimpi yang menjadi nyata. Mimpi Bungkus Sugus! 😀

 

Saya lupa tepatnya mungkin sewaktu saya duduk di bangku SD kelas 4, ada undian permen sugus yang hadiah utamanya jalan-jalan ke Disney Land. Ntah Disney Land yang di negara mana, pokoknya Disney Land. Iklan-iklannya banyak tersebar di majalah anak-anak, terutama Bobo langganan saya.

Memandang iklan undian berhadiah itu berkali-kali membuat saya bertekad kuat mendapatkan hadiah tersebut. Paling tidak dapat hadiah hiburan saya pikir. Undian itu mengharuskan peserta mengirimkan bungkus permen sugus sebanyak 10 buah (kalo tidak salah) dalam amplop, dikirim sebanyak-banyaknya.

Dimulai lah perburuan bungkus permen sugus. Setiap hari saya membeli permen sugus. Tidak sampai di situ, saya juga minta bungkus sugus ke teman, mencari di tempat sampah, sampai minta dibelikan permen sugus satu pack.

 

Awalnya semua berjalan lancar. Bungkus sugus yang mulai banyak saya simpan di bekas kotak sepatu. Hingga kotak itu terlihat penuh saya mulai menata satu demi satu, mengelompokkan 10 bungkus, kemudian mengikat dengan gelang karet, sampai banyak sekali, saya lupa berapa yang pasti saya optimis akan menang 😆 *optimisme anak-anak*

Rupanya gerak-gerik mengumpulkan bungkus sugus ini tercium si mamah. Mamah awalnya diam, cuma tanya buat apa. Hingga suatu hari, mamah minta tolong untuk bantu di dapur tapi saya tidak mengindahkan dengan alasan sibuk. Beberapa kali memang sudah terjadi seperti itu. Si mamah kesal dan semakin kesal saat melihat saya malah sibuk menata bungkus  sugus yang ratusan jumlahnya.

Mamah dengan marah mengambil kotak berisi ratusan bungku sugus tersebut, dan mengancam akan membakar semuanya. Saya sontak menangis dan meraung-raung minta ampun.

“Kamu jadi males gara-gara ngumpulin sugus! Mama gak suka!”

“Tapi mah, hadiahnya Disney Land…” saya mulai terisak-isak.

“Kamu mau kirim semuanya? ada ongkos kirimnya???”

Saya cuma diam. Rumah kami memang jauh di Kalimantan. Semua bungkus sugus itu nanti harus dikirim ke Jakarta. Padahal saya gak punya uang untuk beli perangko sebanyak itu. Saya kembali terisak di dalam kamar. Tiba-tiba dari jendela kamar saya bisa lihat bak sampah di depan rumah sudah mengeluarkan asap.

‘Mah, bungkus sugusnya mana?” saya gugup.

“Sudah habis dibakar!” Jawab mama datar.

 

Kaki saya mendadak lemas. Saya menangis sejadi-jadinya di dalam kamar. Perjuangan saya selama ini sia-sia. Impian Disney Land itu pupus sudah. Jangankan Disney Land, Dufan saja saya belum pernah. Saya sedih, seperti kehilangan semangat hidup. Saya merasa mamah jahat pada saya.

**

 

Kira-kira 4 tahun kemudian saya sudah duduk di bangku SMP. Saya sudah lupa tentang tragedi itu. Siang itu, saya membereskan gudang yang kotor di belakang rumah. Banyak kerdus-kerdus lusuh dan barang yang sudah tidak terpakai. Tiba-tiba saya menemukan kotak sepatu penuh debu yang tidak asing. Kotak Bungkus Sugus!

Saya membukanya. Bungkus-bungkus sugus itu masih rapi terikat dengan gelang karet. Sama seperti terakhir saya melihatnya. Mamah tidak pernah membakarnya, dia menyimpannya dengan sangat baik.

Mata saya nanar, mengingat kenangan masa kecil itu, betapa saya sempat membenci mamah. Dia merebut kotak ini agar saya lebih rajin dan patuh pada orang tua, semua demi kebaikan saya. Saya menutup kotak itu sembari tersenyum, sekarang sudah tidak ada lagi undian sugus. Akhirnya saya putuskan untuk benar-benar membuang kotak itu.

**

 

September 2008, akhirnya saya menginjakkan kaki di Walt Disney World, Florida USA. Taman bermain yang jauh lebih besar dari Disney Land di Los Angles. Sebuah rezeki yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya.

Impian bungkus sugus adalah hal pertama yang saya ingat saat pertama kali menginjak Disney World. Tempat yang pernah membuat saya menangis sewaktu kecil. Tempat yang saya hanya lihat di iklan majalah Bobo. Kini saya benar-benar mewujudkan impian itu. Dream really comes true.

 

Terimakasih Tuhan yang telah mewujudkan impian kecil itu.

Terimakasih bungkus Sugus yang membuat saya berani bermimpi.

Terimakasih Mamah yang mungkin telah berdoa saat dia menyimpan kotak itu

“Nak, semoga kelak kamu akan menginjakkan kakimu di Disney Land”

***

 

Sahabat, mimpi seperti mengulur layang-layang, semakin kuat kita mengulurnya ke atas, semakin dekat dia dengan langit, semakin dekat dia dengan Tuhan.

Advertisements