Frames, Green, Rustle and Sweet Tea

Archive for 27 November 2010

SMP Pacaran?

Kenangan lucu yang tak terlupakan…

Terinspirasi dari tulisan Putri Usagi bertajuk: Cinta Monyet = Cinta Pertama???? , saya jadi berpikir ke masa lalu saat saya sedang duduk di bangku SMP. Ada sebuah cerita lucu seputar pacar-pacaran.

 

Waktu itu saya baru memulai tahun ajaran baru di kelas 2 (kalau sekarang kelas VIII). Kelas baru, teman baru tentunya.

Ada seorang cewek putih cantik, blesteran Indo-Belanda kayanya (soalnya namanya rada bule) nama panggilannya, sebut saja Itink, tipe cewek feminim yang selalu pake cardigans di sekolah. Itink sudah menjadi salah satu cewek populer semenjak kelas 1, selain cantik, nilai akademiknya juga bagus, englishnya jangan ditanya lagi. Setiap geraknya menjadi perhatian anak-anak cowok kelas 2 dan kelas 3. Saya? fiuhhh…saya masih bocah saat itu, yang saya tau saat itu Itink itu cantik dan banyak fans. 😀

Masih kelas satu saja, Itink sudah pacaran dengan anak basket andalan kelas 1 yang tampangnya OK. Saya cuma berguman, wajar saja, cewek cantik pasti pacarnya keren. Mana mungkin melirik saya yang kucel ingusan begini 😀

 

Saya terkadang mencuri pandang saat dia turun dari tangga, yah kok sialnya berapa kali saya kepergok, wkakakakaka… Dasar nasib baik, eh saya malah satu kelas sama Itink di kelas baru ini.

Awalnya kita biasa saja, saya yang emang bakat ngelawak, suka bikin dia ketawa. Dia yang suka menggambar juga ternyata mengagumi gambar-gambar saya yang dia bilang : “Bikin gambaranku jadi jelek”, karena dia selalu membandingkan hasil gambarannya dengan gambar saya. Satu waktu saya pernah menggambar sketsa wajahnya, meskipun gak bagus, tapi lumayan buat dia nyengir kuda. Sebenernya perlakuan saya biasa saja, saya juga berteman baik dengan anak-anak lain. Jadi tidak bisa dikatakan saya sedang pedekate ke dia 😛

Hingga pada suatu siang, setelah selesai istirahat kedua. Tidak ada guru, hanya tugas mencatat.

 

“Prima, duduk disebelahku yuk, sebelah ku kosong..” Teman sebangku Itink hari itu memang izin sakit.

“Gak ah males” Kata saya sambil nyengir kuda.

 

Itink kembali ke bangkunya. 5 menit berlalu, Itink tiba-tiba menghampiri saya dengan membawa tasnya, kemudian duduk dibangku saya! Tepatnya satu bangku dengan saya, DEMPET!

“Tink, buset dah, sempit kali…” saya cemberut.

“Aku mau duduk sini pokoknya” Dasar manja guman saya.

“Tink, gimana aku bisa nyatat kalo sempit begini, sana balik!”

“Gak, gak, gakkkkkkk….” Itink makin genit dengan menggeser pantatnya, mendesak saya. Saya jadi serba salah.

 

Saya beranjak, dari bangku saya, dan mengambil tas, dan pergi ke bangku Itink di depan, duduk di sana. Itink rupanya menyusul, dan duduk disebelah saya lagi. Dia mungkin berpikir duduk satu bangku berdempetan itu adalah hal yang paling nyaman di dunia. 😯 kok bisa???

 

“Mau gak jadi pacar ku?” tanya Itink tanpa basa-basi. “Mau yaaaaa???”

“Kamu gila ya?” jawab saya setengah berbisik.

 

Saya yakin muka saya merah saat itu. Saya berusaha tidak peduli dengan tawaran itu yang dia ucapkan lebih dari 5 kali mungkin.

Saya cepat-cepat kembali ke bangku saya dengan muka ditekuk, mengganggu sekali!

Itink kembali mengikuti saya dengan raungan-raungan genit yang tidak jelas. Dia seperti cewek gila kerasukan setan yang hendak memakan saya. Saya mulai berkeringat akibat ulah aneh cewek satu ini. Saya geram campur malu. Maunya apa sih??

Entah bagaimana awalnya, saya dan Itink malah kejar-kejaran di dalam kelas. Ntah berapa kali saya mengelilingi kelas, lompat bangku, kesandung meja, tetapi Itink tidak menyerah dan masih mengejar saya. Isi kelas yang tadinya tidak memperhatikan, sekarang jadi malah melihat tingkah aneh kita berdua. Saya malu sekali.

“Jangan dekat!!!” teriak saya sambil terengah-engah di pojok kelas.

“Kenapa siiiihhhhh” Itink masih dengan genitnya berjalan mendekati saya.

 

Saat saya berusaha menyeberang ke blok sebelah dengan menaiki bangku teman, tangan Itink sempat meraih lengan baju saya. Saya sempet merasakan benang jahitan seperti putus, tetapi tidak sampai robek. ARRRRRRGGGGGHHHH… saya kesal. saya berlari ke arah bangku saya dan merogoh isi tas. Tepat saat itu Itink berlari di belakang saya dan,

BYUR, BYUR, BYUURRRRR….

Botol minuman saya  sukses menyiram wajah dan bajunya…

“Ja..ja..jangan,…dekat….” Suara saya menjadi lirih. Saya geram, plus gugup, plus takut.

Itink terdiam sejenak.

Saya juga terdiam.

Isi kelas pun senyap seketika.

Dia berjalan pelan ke bangkunya. Saya kembali duduk.

 

Sampai jam pulang sekolah tiba, saya tidak berani melihatnya. Saya dilema dengan langkah saya ambil tadi. Sepertinya saya keterlaluan.

Teman saya dari kelas dua yang lain segera menarik tangan saya menuju belakang sekolah.

“Kamu gila apa???”

“Apa?” tanya saya bingung.

“Satu sekolah sudah tau kalau kamu nyiram Itink pake air! Anak kelas dua dah tau semua!”

“Bu..bukan salahku kok…” bales saya gugup.

 

Hari itu saya mengikuti anjuran teman saya untuk pulang lewat jalan yang lain. Agak jauh, tetapi lebih aman menurutnya. Dari dia saya dapat informasi, bahwa banyak cowok yang mengecam “perlakuan kurang ajar” saya ke Itink. Itink sebenarnya sedang putus dengan pacarnya yang jago basket itu, hanya pacarnya ingin balikan ke dia. Parahnya pacarnya berniat mencegat saya di jalan pulang. Mungkin untuk menggebuki saya. Bikin repot!

 

Malamnya saya memberanikan diri menelepon Itink.

“Siapa ya?” suara Itink terdengar pelan.

“Prima tink… “

“Kenapa prim?”

“Hmmm… maaf ya yang tadi siang…”

(tidak ada suara diseberang sana)

“Aku..aku gak bisa pacaran, aku masih SMP, masih kecil…” lanjut saya.

“Hehhe.. gak apa-apa, aku tadi juga gak serius kok” kata-kata Itink  ini seperti menonjok hati saya.

“Hehe… kita masih teman kan” Kata-kata bego yang hanya ada di film2.

“Pasti” jawab Itink singkat.

 

Saya tidak ingat sisa percakapan kami. Yang pasti kejadian memalukan itu akan saya ingat semumur hidup. Cerita keluguan saya sewaktu SMP yang MENOLAK tawaran pacaran dari seorang cewek. Saya pikir saya masih terlalu kecil untuk pacar-pacaran dan membuat suatu komitmen, meskipun saya akui saya suka Itink. 😀

Setelah kejadian itu, kami berbaikan seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Saya dan Itink menjadi teman dekat kembali, malah lebih dekat dari sebelumnya. Siapa juga yang gak suka dekat sama cewek cantik dan pinter, Hahahahaha…

 

Sahabat, apa sahabat juga mengalami dilema pacaran saat SMP? Apa menurut sahabat tentang pacaran anak SMP jaman sekarang dan jaman dulu?

 

Happy Blogging!

Have a good weekend!