Frames, Green, Rustle and Sweet Tea

Archive for 18 November 2010

Alergi Teh

Yeah, it sounds weird, but it happened to me…

Hi Sahabat Blogger, siapa yang suka teh? Mungkin hampir semua mengatakan “Iya saya suka”, tidak ada yang salah, saya juga suka kok 😛 Kali ini saya akan bercerita tentang pengalaman saya kena “alergi” teh! Kok bisa???

Awalnya semenjak saya kuliah di Bogor saya mulai mengenal teh sebagai menu wajib harian. Yeah, sudah budaya orang sunda hampir setiap hari minum teh, mau manis atau tidak, yang penting teh! Makan di warung nasi, teh, makan nasi uduk, teh, sampai jika kita beruntung kita bisa menemukan satu termos berisi teh yang selalu hangat dan standby di dapurnya orang sunda.

Nah, sejak kecil saya tidak dibiasakan minum teh, mungkin sebagian besar masyarakat  jawa tidak menjadikan teh sebagai menu wajib harian. Minum teh kalau ada makanan serupa pisang goreng atau makan besar, atau ketika sedang bertamu. Intinya tidak sesering orang sunda. Mudahan saya tidak salah ya 😛

Saat sibuk di bangku perkuliahan itu, pola makan saya sedikit tidak teratur, makan tidak tepat waktu. Saya juga punya kebiasaan beli teh kemasan dalam botol kaca atau plastik, yang saya sering bawa kemana-mana. Apa lagi yang berlabel “green tea”, rasanya segar sekali setelah meminumnya. Tidak aneh memang karena sedikitnya teh mengandung kafein (lebih rendah dari kopi) yang menstimulus syaraf kita untuk bangun! Hahhahaha… Pokoknya saya sempat addict dengan yang namanya teh! Tea Lover!

Memang semua hal yang berlebihan itu tidak baik. Saya kemudian sering mengalami sakit kepala yang tidak jelas asal-usulnya. Makan sudah, istirahat sudah, hujan juga gak, tapi kenapa saya sering sakit kepala?? bahkan sakit kepala ini juga disertai rasa lemah seperti habis bekerja keras, badan saya seperti tidak ada tenaga, kalau sudah begini saya segera tidur.

“Muka loe kok pucet, prim?? Coba liat bawah mata lu, pucet gak?”

Saya periksa dalam kelopak bawah saya, putih! Pucat sekali…teman saya bilang: Itu ANEMIA! Kok bisa?

Saya kemudian pergi ke dokter, memeriksa apa sebenarnya yang terjadi. Dokter bilang saya tidak apa-apa. Tubuh saya normal. Hanya sedikit perlu istirahat dan minum suplemen penambah darah jika perlu. Saya pulang dan pergi ke apotek terdekat, beli vitamin tambah darah dengan inisial: SB*pasti tau lha…

Semenjak itu saya merasa tertolong sekali, setiap saya mulai merasa keliyeng-keliyeng saya langsung minum SB, gak perlu menunggu lama, 10-15 menit saya sudah normal. Tetapi anemia dadakan itu masih sering menjangkit saya, aneh! Di dalam tas saya pasti ada obat SB tersebut buat jaga-jaga maksudnya. Temen cewek saya malah bilang: “Kaya orang lagi haid aja, bawa SB kemana-mana” 😀

Suatu hari temen cewek saya bilang:

“Loe suka anemia prim?”

“Iya, kenapa ya??”

“Loe suka minum teh ya?”

“Eh? emang kenapa? emang ngaruh?

“Iya lha! teh kan ada tanin-nya, mana boleh orang anemia minum teh!”

 

Saya seperti tersambar petir siang bolong! TANIN? apa pula itu? Jangan-jangan benar apa yang dibilang teman saya itu. Anemia ini karena terlalu banyak minum teh???

Saya pergi ke dokter lagi hanya sekedar konsultasi singkat. Well, kira-kira penjelasannya mirip seperti ini:

Selain rasa nikmat menyegarkan, dalam air teh juga terdapat rasa sepat. Rasa sepat ini timbul karena adanya zat tanin di dalam air teh yang kemudian bereaksi dengan protein mukosa di dalam mulut. Sama halnya bila kita makan buah salak atau jambu biji, kadang-kadang timbul rasa sepat, karena keduanya juga mengandung tanin.

Yang dipermasalahkan dengan adanya tanin dalam air teh bukan rasa sepatnya, tetapi karena sifat zat ini yang dapat mengikat mineral. Barangkali sering kita lihat adanya lapisan tipis di permukaan air teh, bila air yang dipergunakan banyak mengandung mineral (air sadah). Lapisan tipis tersebut sesungguhnya adalah hasil reaksi antara mineral dengan tanin, membentuk tanat. Pabila tanin tersebut bereaksi dengan mineral-mineral dalam makanan, maka mineral tersebut akhirnya tidak dapat digunakan tubuh dan terbuang bersama feses.

Suatu studi yang dilakukan oleh dr.Yona Amitai dari Children’s Hospital Medical Center di Boston, menemukan bahwa anak bayi di Jerusalem yang meminum air teh sebanyak 250 ml per orang per hari, mempunyai kadar besi yang rendah dalam darahya. Disimpulkan bahwa hal ini terjadi karena adanya pengikatan besi oleh tanin dari air teh, sehingga tidak dapat dimanfaatkan lagi oleh tubuh. Ditegaskan bahwa mineral besi yang dapat diikat oleh tanin tersebut adalah apa yang disebut non heme iron, yaitu yang berasal dari serealia, sayuran atau buah-buahan. Sedangkan yang berasal dari daging adalah heme iron, yang dapat segera digunakan oleh tubuh. Mengingat bahwa umumnya di Indonesia konsumsi daging masih sangat rendah, terutama pada golongan kurang mampu, maka pengaruh konsumsi air teh pada bayi/anak patut diwaspadai sebagai salah satu penyebab anemi gizi yang masih merupakan salah satu maslah gizi nasional. (Sumber: http://ipb.ac.id)

Kesimpulan: Teh mengandung TANIN, tanin mengikat zat besi, zat besi dibutukan tubuh membentuk hemoglobin, kekurangan hemoglobin berarti anemia!

Saya mulai kilas balik, ternyata benar, setiap saya pusing, saya minum teh, dan kondisi saya semakin drop. Parahnya lagi saya sudah sangat sensitif dengan tanin! Sedikit saya minum teh, saya segera minum SB untuk mengimbangi teror tanin tersebut. Jika tidak, jalan saya seperti mau roboh persis gejala darah rendah akut. Siapa sangka saya yang seger buger begini “kalah” sama minuman ringan bernama teh! Saya sempat stress karena mau tidak mau saya akhirnya harus STOP MINUM TEH!

Teman-teman dekat saya sudah tahu kalau saya “alergi” teh, mereka seperti sudah hafal slogan “Jauhkan Prima dari Teh!

Satu kali saya ingin sekali minum teh, saya beli satu kotak kecil teh di minimarket, teman di sebelah saya menyindir: “Mau bunuh diri loe???” 😀 saya pun meletakkan lagi teh itu. Duh, ini rasanya jadi pecandu yang mau sembuh…

Dan setiap kali saya drop dan tiduran saja di kamar, teman saya bilang: “Loe pasti nge-teh…” Yeah, mereka benar. Saya yang tadinya dapat penghargaan “Penggemar Teh” berubah menjadi “Penggemar SB”, ntah sudah berapa kali saya bolak-balik apotek hanya untuk beli SB. It’s suck!

Sahabat, 6 bulan saya puasa teh, kondisi saya kemudian menjadi lebih normal, 6 bulan kemudian, saya mulai minum teh dengan kuantitas yang kecil, bisa cuma berapa sedot, sekali dalam satu minggu. Setahun kemudian saya sudah tidak pernah lagi anemia. saya juga tidak se-addict yang dulu dengan teh. Saya minum teh secukupnya.

Sekarang setiap saya melihat botol teh, saya cuma tersenyum mengingat kisah ini.

Apa sahabat juga pernah mengalami atau mendengar hal ini???

 

Salam Sehat!