Frames, Green, Rustle and Sweet Tea

Archive for 14 November 2010

[Film] Grave of The Fireflies

Tada! Happy Sunday Bloggers! Film review time…

Setelah minggu lalu saya membahas film animasi  The Girl Who Leapt Through Time , hari ini lagi-lagi saya akan cerita tentang film, sama-sama animasi, sama-sama diangkat dari sebuah novel. Ntah kenapa animasi atau film yang diangkat dari novel umumnya kualitas ceritanya bisa diacungi jempol. Itulah kenapa saya suka film yang satu ini; realistik.

Grave of The Fireflies yang berarti “Kuburan para Kunang-kunang” ini bukan menceritakan tentang hantu atau misteri, tetapi tentang dua kaka beradik yang berjuang melawan kejamnya hidup pada masa perang dunia II.  Ahli sejarah animasi Ernest Rister menyandingkan film animasi ini dengan film Steven Spielberg: Schindler’s List dan menyatakan:  “It is the most profoundly human animated film I’ve ever seen”. Mantap!

Film hasil adaptasi dari novel semi-autobiografi karya Akiyuki Nosaka ini memang mengambil cerita nyata kehidupannya yang kehilangan adik perempuannya karena kelaparan di jaman perang akhir tahun 1945. See,this is based true story! Film ini diproduksi oleh Studio Ghibli pada tahun 1988, wkakakakakaka…*film lama ternyata, saya masih balita tuh. Studio Ghibli ini memang saya kenal sebagai studio film yang banyak menghasilkan film-film terkenal seperti Spirited Away dan Princess Mononoke, kapan-kapan saya bahas kedua film ini!

Cerita diawali dari serangan pesawat sekutu yang menyerang sebuah kota di Jepang. Bicara sedikit sejarah, pasca serangan Jepang di Pearl Harbor di Hawaii, Amerika menyerang balik dengan melepas bom nuklir yang meluluh-lantahkan dua kota di Jepang, tetapi tidak sampai disitu, Amerika dan sekutunya membabat habis kota-kota di jepang dengan “firebombing” , mereka membakar kota-kota di Jepang yang banyak menimbulkan banyak kematian rakyat sipil, kebakaran, dan kelaparan. Aksi firebombing di Jepang saat itu membuat tanah jepang tak henti-hentinya mengeluarkan asap berbau daging manusia! 😯

Peristiwa ini juga membuat kakak beradik Seita dan Setsuko menjadi yatim piatu. Keduanya kehilangan rumah dan mulai menjalani hidup dengan penuh keprihatinan. Berpindah-pindah tempat tinggal, sampai mencuri untuk hanya sekedar memperoleh makanan mereka lakoni. Seita adalah sosok kakak yang selalu ingin melindungi adik perempuannya, Setsuko yang masih polos dan tidak tahu apa-apa. Dalam kehidupan yang sulit pun mereka sempat masih tersenyum dan merasakan indahnya persaudaraan dan kasih sayang.

Tetapi hidup terkadang terlalu kejam untuk anak-anak seumuran mereka. Bagaimanakah Seita dan Setsuko bertahan hidup dalam kelaparan? Sampai kapan Setsuko menyebut batu adalah sebuah nasi kepal? Sampai kapan Setsuko harus menunggu Seita membelikan sekaleng kembang gula untuknya?

Sebuah film kemanusiaan yang sangat menyentuh saya. Jujur saya sempat berkaca-kaca menonton film ini. Film yang mengakat sebuah hal-hal sederhana, realistis tetapi penuh arti. Film yang menggambarkan bahwa perang bukan hanya sekedar adu kekuatan antar bangsa, tetapi menimbukan banyak tragedi kemanusiaan di baliknya. Film yang menggugah hati kita bahwa hidup di negara merdeka adalah sebuah berkah yang tidak terkira.

Tidak banyak dialog dalam film ini, tetapi justru disitulah saya bisa merasakan betapa pedihnya penderitaan keduanya. Jika anda belum pernah menangis saat menonton film animasi, tontonlah film ini. Tapi jangan lalu menyalahkan saya kalau… 😀

>>The Quotes<<

Setsuko: Why must fireflies die so young?

*

Setsuko: I lost a shoe!
Seita : Don’t worry, I’ll buy you the better ones!

*

Setsuko : Seita. Have one.
[Holds out rocks]
Seita: Setsuko, what?
Setsuko: Rice balls. I made them for you. Here, have one.
[Seita starts crying
Setsuko: You don’t want them?
Seita: Setsuko.
[Cries]

***

Selamat Menonton!

 

PS: ternyata film animasi ini pernah di film-kan (bukan animasi), cek covernya, saya juga baru tahu 😛

>>>Download TORRENT nya di SINI<<<

Sumber: wikipedia and google.