Frames, Green, Rustle and Sweet Tea

Archive for 13 November 2010

Aku Kuat

Tuhan hari ini aku ingin mengaku, bahwa aku tidak setegar apa yang aku katakan… (Yesterday’s status on FB)

 

Sahabat Blogger, kemarin menjadi hari yang tidak terlalu meyenangkan bagi saya. Berawal dari kegiatan chat di skype oleh seseorang yang penting bagi saya dan masa depan saya. Inti dari percakapan itu bahwa dia tidak bisa menjamin apakah saya bisa benar-benear bekerja di tempat itu. Saya jujur sangat kecewa. Dengan kata lain saya 80% failed.

 

Sejenak berbaring di kamar yang sempit ini, laptop saya masih memperdengarkan lagu-lagu lama. Saya berpikir satu lagi ujian menimpa hidup saya, Saya Kuat begitu kata hati saya.

 

Tidak berapa lama, saya mendapat kabar bahwa seorang sahabat akan segera terbang ke US minggu depan untuk jangka waktu yang lama. *deg! Rasanya sedih tidak sempat berpamitan dan bersua sebelum kepergiannya. Ah, mengapa begitu cepat! Satu demi satu sahabat pergi menggapai impian masing-masing, sedangkan saya masih terbaring sendiri di kamar ini. Sendiri. Tanpa pekerjaan.

 

Saya Kuat kata saya lagi.

 

“Prim, rasanya HRD menginginkan orang yang mau bekerja dalam jangka waktu lama, karena ini bukan masalah jual barang, ini masalah jasa, dan mereka membutuhkan tanggung jawab moral..”

Satu lagi kalimat terngiang di telinga saya… Apakah dilema seperti ini akan selalu menghantui saya. Menunggu sesuatu yang lain tanpa kepastian.. sampai kapan?

Saya Kuat.

 

Seorang sahabat mengajak chatting, tetapi semua semangat yang diucapkan lewat tulisan-tulisan semakin membuat hati saya sakit. “Semangat Prim ! jangan sedih ya… ” Damn! Saya semakin labil. Saya segera berpamitan dari dunia chat dan memutuskan untuk tidur sejenak. Saya lelah.

 

Tuhan, saya mengaku saya tidak sekuat yang saya ucapkan. Mohon segera kirimkan ribuan balok es agar hati ini menjadi kaku dan setegar batu karang. Saya pun tak lama tertidur dalam doa.

 

Sebelum tidur pikiran saya terbang melayang jauh ke masa lalu, kenapa saya masih selemah yang dulu. Tidak sekuat apa yang saya ucapkan. Tidak sekuat yang orang lain kira.

**

 

Saya mengingatnya sebagai “Tragedi Kebun Jeruk

 

Sore itu adalah hari terakhir seorang pemuda bekerja di negeri seberang. Rasanya begitu berat meninggalkan tempat di mana dia sudah terbiasa. Tetapi hidup terus berjalan dan waktu tidak menunggu siapapun. Pemuda itu tetap harus maju ke depan.

 

Masih ada beberapa hari ke depan untuknya berpamitan. Tetapi memakai baju kerja dan kelelahan hari ini rasanya akan menjadi hal terakhir yang patut dia ingat. Saya pasti bisa, hadapi dengan senyumanSaya Kuat.

 

Pemuda itu berjalan ke pelataran parkir mobil, menyalakan mesin, dan melaju pulang. Ini sore terakhir. Semua ingatan di tempat ini akan berakhir dengan tanda titik, bukan koma.

Gedung ini

Jalanan ini

Pertigaan ini

 

Seperti biasa, Pemuda itu nyalakan musik bernada riang “Horrreyyy!” Dia selalu riang saat pulang kerja, itung-itung menghilangkan rasa lelah.

Perjalan pulang berlanjut. Pemandangan – pemandangan ini yang akan dia rindukan.

Mata pemuda itu diam-diam memandang tempat ini dengan penuh kasih. Jalanan ini yang dia lewati setiap hari selama setahun, tanpa lelah. Segera akan hilang.

Saat melalui kebun jeruk, ntah kenapa pemuda itu tidak bisa lagi mendegar lagu riang yang sedang dimainkan. Tidak terasa air matanya menetes. Dia mengusapnya, kemudian dia kencangkan volume lagu. Lebih keras lagi.

 

“Saya Kuat”

 

Di antara deru mesin dan lagu.

Setir mobil menjadi tidak stabil. Dia parkirkan mobil di pinggir jalan sepi itu.

Dia terdiam sejenak. Kepalanya bersandar pada stir.

Terisak.

Pemuda itu pun menangis sejadi-jadinya. Konyol seperti anak kecil.

 

Angin lembut di awal musim dingin itu menemani isakan seorang pemuda yang terduduk di bangku mobil. Sinar keemasan  matahari sore tidak mampu mengeringkan butiran air matanya. Samar-samar aroma jeruk menemani badannya lunglai bersandar. Sudah lebih dari 5 menit berlalu. Beberapa mobil berlalu seperti biasa. Mereka tidak tahu bahwa seorang pemuda sedang menangis di dalamnya.

Dia merasa malu pada dirinya sendiri. Dia tidak sekuat yang dia ucapkan.

Mobil pemuda itu kemudian beranjak pelan ke arah danau Apopka, tempat dia biasa melepas penat sepulang kerja.

 

Ini menjadi pertemuan terakhirnya dengan danau itu. Wajahnya menyapa danau itu dengan senyuman dan mata nanar. Di langit segerombolan burung-burung dari utara tampaknya mulai meninggalkan tanah yang mulai mendingin itu. Semilir angin senja menimbukan riak kecil di danau itu. “Kita akan bertemu lagi suatu hari nanti” pemuda itu berbisik.

Senja merayap di ufuk barat. Pemuda itu pulang dan mengambil gambar dirinya dan danau kesayangannya  melalui pantulan kaca mobilnya.

Dia sadar bahwa air mata memang tidak akan mengubah apa-apa. Ia hanya manusia yang dengan keterbatasannya, mencoba setegar batu karang, meskipun akhirnya dia hanyalah seonggok daging lemah yang hanya bisa berdoa.

 

“Aku Kuat”

***