Frames, Green, Rustle and Sweet Tea

Archive for 5 November 2010

Pelajaran Hidup di Stasiun

Sahabat blogger, seringkali kita mendapat pengalaman yang kaya akan pelajaran hidup di dalamnya. Baik kita menyadari langsung maupun menyadari setelahnya, bahwa ada sebuah pelajaran hidup yang penting yang baru saja terjadi. Kali ini saya akan bercerita sedikit pengalaman saya saat masih tinggal di Bogor. Dua pengalaman ini kebetulan sama-sama terjadi di dekat Stasiun Kereta di kota Bogor.

Pagi itu sekitar pukul 8.30, saya tampak terburu-buru menaiki angkot jurusan Parung-Bogor yang menuju Bogor. Duh, saya janji dengan teman akan ada di Stasiun Bogor pukul 9. Apa sempat? Mana lagi angkot yang saya naiki sedang ngetem pula. Saya pun meraih hp, dan segera mengirim sms ke nomor teman saya itu, memberitahukan bahwa saya akan sedikit telat, sekitar pukul 9.30 *telat kok 30 menit! 😀

 

Angkot pun berjalan, tidak ada penumpang lain ternyata selain saya*fiuhh… sia-sia si abang rupanya menanti penumpang lain. Selang tak berapa lama, naik seorang ibu-ibu sedikit tua naik di bangku depan samping supir, saya taksir umurnya sudah 50 tahun ke atas, tetapi masih terlihat bugar.

 

“Pak, ini nanti bisa turun dekat stasiun ya?” tanya saya yang memang belum pernah naik trayek angkot ini sebelumnya.

“Iya nanti sambung naik angkot 10, sebentar langsung di depan stasiun”

Tiba-tba si ibu tua tadi menoleh ke arah saya, “Ibu juga mau ke stasiun, nanti sama-sama saja”

Wah, saya sumringah mendengar tawaran si Ibu. Tidak perlu lagi khawatir tersasar, saya pikir.

Si Ibu dengan semangat menjelaskan bahwa dulu trayek angkot ini melaui depan stasiun, tetapi sekarang  ada sedikit perubahan, sehingga harus sambung angkot lain, meskipun sebenarnya jaraknya tanggung, jalan kaki terlalu jauh, naik angkot terlalu dekat.

 

Agak lama, angkot mulai menaikkan beberapa penumpang lain. Saya merogoh kantong kecil di dalam tas, tempat saya menaruh uang seribuan, maksud hati ingin menyiapkan ongkos dari awal. Habis! Saya mulai merogoh kantong-kantong lain, siapa tahu ada uang tercecer, tidak ada! Saya kemudian merogoh dompet. Yah, hanya ada 2 lembar uang 100ribu. Mana mungkin membayar ongkos 3000 dengan uang 100 ribu. Saya cek lagi, saya malah menemukan beberapa lembar mata uang asing, lebih-lebih gak berguna ! hahahahaha… Saya cek recehan yang ada, total cuma 1300, mana cukup ??? Ya sudah lha, pasang tampang lugu saja dan serahkan uang 100 ribu itu sebagai ongkos, begitu rencana saya.

 

Angkot akhirnya tiba di pertigaan suatu pasar di daerah Merdeka.

“Stasiun turun di sini!”  kata abang angkot, saya sesuai rencana menyerahkan satu lembar uang 100 ribu.

“Yang bener aja bos, pagi-pagi gini, saya aja belom pegang uang.” tepat seperti dugaan saya.

Duh, saya bingung! Angkot tidak bisa terlalu lama berhenti, lalu lintas di sekitar pasar ini sangat padat. Di saat-saat riweh seperti itu, saya nekat minta pertolongan ke Ibu tua yang tadi duduk di depan.

“Ibu permisi, boleh saya pinjam dulu 3000, nanti saya kembalikan di stasiun”

“oh iya, iya” Ibu tua itu segera mengeluarkan dompet lagi dan membayar 3000 sebagai ongkos saya tanpa ragu-ragu.

Kamipun berjalan menaiki angkot 10 bersama-sama. Saya pun tidak henti mengucap terimakasih ke Ibu tua tersebut.

“Iya, gak apa-apa” katanya sambil tersenyum. Kamipun naik angkot 10 menuju stasiun.

 

Duh ! Lagi-lagi saya berpikir, lalu ongkos angkot ini bagaimana ? apa saya harus minta tolong si Ibu lagi ???

“Ibu, saya pinjam 1000 lagi ya ?” Pinta saya dengan malu-malu *padahal saya yakin wajah saya sudah merah dari awal. Saya berpikir cukup 1000 rupiah dan ditambah uang receh 1000 rupiah akan cukup untuk ongkos angkot kali ini sebesar 2000.

“Tidak usah, nanti biar sekalian dengan ongkos saya”

Wah! Lagi-lagi saya cuma mengucap terimakasih.

“Mau kemana dik?” tanya ibu ramah.

“Mau ke Jakarta bu, janjian sama teman di stasiun.”

“Saya juga mau ke Jakarta” kata si ibu antusias.

 

Angkot pun sampai di depan stasiun. Seperti yang dijanjikan, si Ibu membayar ongkos saya. Jadi total utang saya 5000, pikir saya. Saya masuk ke aula loket stasiun yang sangat ramai, si Ibu mulai melihat-lihat jadwal keberangkatan. Saya mencoba menelepon teman saya berkali-kali, tetapi tidak di angkat!

“Ibu, saya mau beli minum dulu, nanti kembaliannya saya akan bayar Ibu 5000. Ibu tunggu di sini dulu ya.”

Wajah ibu berubah kalut dan bingung.

“Aduh, saya buru-buru dik, kereta sudah mau berangkat , gak apa-apa, saya ikhlaskan ya, gak usah dipikirin, hanya uang sedikit, ya? Si Ibu memandang saya sambil menepuk lengan saya.

Saya diam, kemudian berbalik dan berlari ke luar, saya menuju ke kaki lima penjual minuman. Saya ingat saya membeli NuGreentea, sambil terburu-buru, saya bahkan tidak menghitung kembalian uang 100 ribu itu. Si abang seperti sudah biasa melayani pembeli yang sedang terburu-buru, seperti takut ditinggal kereta. Saya kembali ke aula loket.

 

Mata saya meyapu isi ruangan yang dipenuhi orang. Tidak ada! Kemana Ibu itu? Saya pun seperti anak ayam kehilangan induk. Tanpa sadar saya tiba-tiba menerobos masuk pintu masuk.

“Beli karci dulu dik!” petugas stasiun tiba-tiba mencegah saya masuk.

Mata saya menoleh kanan kiri, berputar, ibu itu sudah tidak ada, benar-benar tidak ada! Bersamaan dengan itu gerbong kereta api AC-Ekonomi pun mulai bergerak. Akh! Saya terlambat! Ibu itu pasti sudah di dalam. Saya hanya memandang gebong kereta yang menjauh dan berteriak dalam hati IBUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUU….. hahhahahha…lebay!

Saya diam sejenak, mengatur nafas saya yang terengah-engah, sambil memandang uang 5 ribu di tangan. Ya Tuhan, saya bahkan tidak tahu nama Ibu itu. Siapa dia? Apa dia adalah malaikat yang Tuhan kirimkan untuk menolong saya?

“Ibu, terimakasih..” bisik saya lirih.

**

Yah, sahabat blogger, bisa banyangkan jika tidak ada pertolongan dari si Ibu, mungkin saya akan repot lari-lari cari kembalian  di tengah pasar. Benar-benar pertolongan Tuhan tidak pernah disangka-sangka datangnya. Saya pun teringat kisah saya yang lain, jauh sebelum kisah di atas terjadi. Kisah yang jauh lebih unik dan masih di seputar kawasan stasiun.

**

Saat itu saya masih duduk di tingkat satu, baru satu bulan saya ada di Bogor sebagai mahasiswa. Waku itu saya ingat hari Jumat. Asrama putera berubah sepi di akhir pekan, karena sebagian besar mahasiswa  jabodetabek pulang ke rumah masing-masing. Sedangkan saya, rumah saya jauh di jawa timur, hanya bisa diam di asrama sampai liburan panjang tiba. Untuk mengusir kesepian, saya beranikan diri untuk pergi ke pusat kota bogor, sekedar jalan-jalan.

 

Ini adalah pertama kalinya saya pergi sendirian. Berbekal informasi seputar trayek angkot dari teman, dalam waktu satu jam,  sampailah saya di daerah Merdeka, daerah pusat perbelanjaan yang cukup ramai di sekitar stasiun.

Tepat saat saya turun, dan membayar ongkos, saya tersadar restleting ransel saya terbuka! Damn! Seperti yang saya takutkan, dompet saya sudah lenyap. Saya kecopetan! Saya jujur shock, sempat menyalahkan diri sendiri, mengapa begitu ceroboh. Dunia tiba-tiba serasa gelap, panas matahari sore itu serasa tidak lagi menyengat seperti yang seharusnya. Kepala saya berputar, bingung apa yang harus saya lakukan.

 

Saya merogoh kantong celana, 700 rupiah tersisa. Saya masih tidak punya hp saat itu, kalaupun ke wartel, nomor siapa yang saya mau hubungi, saya tidak hafal. Dengan uang 700 rupiah, tidak mungkin kembali ke Darmaga (tempat saya kuliah). Kemana saya harus pergi? Masa harus berjalan kaki berkilo-kilo?

Ya Tuhan, tolong saya. Saya tidak tahu mau minta tolong kemana lagi. Saya seorang anak desa yang tersesat di kota yang masih asing, tanpa hp, tanpa uang, tanpa ingatan apa-apa selain jalan pulang. Saya mungkin memang terlihat lugu saat itu, tidak heran saya menjadi incaran para copet, mereka seperti bisa membaca bahwa saya adalah pendatang. Makanya jangan sok berani jalan sendirian kalau masih baru, hujat saya pada diri sendiri.

Saya masih berdiri di pertigaan itu, pertigaan super sibuk karena adanya stasiun di dekatnya. Orang ramai lalu lalang di sekitar saya, sibuk dengan urusan masing-masing. Saya terdiam sekitar 5 menit, menguras otak sambil berdoa. Tuhan berikan saya keajaiban.

 

“Prim, ngapain lu bengong?? Gaya lu jalan-jalan sendirian!”

Saya terkaget dengan suara yang tidak asing itu, saya sempat bingung dari mana asal suara itu.

Budi! Teman asrama yang kamarnya bersebelahan dengan kamar saya, sedang berada di angkot, duduk di sebelah supir angkot yang sedang melintas perlahan. Saya langsung ingat, Budi pulang ke Cirebon hari ini.

“Bud! Bud!” saya menghambur ke arah angkot tersebut dengan mimik tidak karu-karuan.

“Bud, tolongin gue, gue kecopetan!” terang saya sambil mengikuti gerak angkot

“Apa? Pak,pak stop! Stop!” budi menyuruh sopir angkot tersebut berhenti.

“Kok bisa sih prim????” si Budi yang masih duduk di angkot segera merogoh dompetnya, dan mengeluarkan uang 50 ribu.

“Nih, pulang lu! Kagak usah kemana-mana, langsung pulang ya” Si Budi sepintas jadi seperti emak-emak yang nasehatin anaknya. Uang 50 ribu itu dia pinjamkan ke saya tanpa pikir panjang.

“Ok pak, jalan…” Budi berkata pada si sopir angkot, seolah-olah angkot tersebut adalah angkot miliknya.

Saya pun kembali ke asrama dengan rasa penuh syukur, pertemuan dengan Budi yang tidak lebih dari 15 detik tersebut mengubah nasib saya sore itu. Terimakasih Budi. Terimakasih Tuhan. Pertolongan yang tidak pernah akan saya lupakan seumur hidup.

***

 

Well, sahabat blogger, kira-kira begitulah kisah sederhana yang penuh pelajaran hidup. Tuhan tidak akan menguji suatu mahluk di luar batas kemampuan mahlukNya. Dia yang mentakdirkan saya mendapat kesulitan, namun Dia pulalah yang  memberikan pertolongan tanpa saya duga asal dan bentuknya. Sungguh Tuhan tidak pernah tidur dan Maha mengetahui kesulitan mahkluk-mahlukNya.

 

Semoga nasihat dari kisah ini bisa meringankan saudara-saudara kita yang sedang ditimpa cobaan dan kesulitan. Amin.

(Photo: ruang8jurnalbogor.wordpress.com)


Sansevieria Cutting

Hallo sahabat bloggers! Sudah lama rasanya saya tidak menulis tentang tanaman. Kali ini saya sedikit berbagi ilmu tentang satu tanaman yaitu: Sansevieria.

Pernah mendengar nama tanaman ini? Bagaimana dengan nama lokalnya, Lidah Mertua? Saya yakin anda tahu. Tanaman jenis sukulen ini sering ditemukan di berbagai tempat di Indonesia. Tidak hanya gampang perawatannya, tanaman ini juga tahan banting dengan berbagai kondisi lingkungan, terutama panas dan kering. Tidak heran anda sering menemukannya di tepi jalan, di taman dan halaman perkantoran, atau bahkan di pot-pot kecil di kedai penjual tanaman hias indoor.

Tanaman yang umumnya diperbanyak dengan pemisahan anakan atau rhizome ini beberapa tahun yang lalu sempat menjadi trend karena bentuk species-speciesnya yang unik dan sifatnya sebagai tanaman anti-pollutant, yang berarti tanaman ini sangat cocok di tanam di perkotaan atau tempat berpolusi tinggi karena dapat menyerap racun yang tersebar di udara. Nice plant yet useful!

Di daerah perkotaan tanaman ini mungkin agak sedikit sulit ditemukan, terutama species atau varietas tertentu yang memang tergolong mahal. Tapi kita tetap bisa menemukan di nurseri atau penjual tanaman hias di sekeliling kita. Jika seadainya kita ingin menanam tanaman ini di satu pot saja, tidak akan menjadi masalah jika kita hanya membeli 1 pot berisi satu tanaman, bagaimana jika kita ingin menanamnya di taman atau menanam di banyak pot sedangkan dana yang tersedia terbatas? [dalam kasus ini tanaman yang kita beli adalah berjenis langka dan mahal]

Yup, perbanyakan adalah jawabannya! Tapi berapa lama kita akan menunggu induk tanaman memiliki anakan? Saya sendiri tidak dapat memberikan gambaran berapa lama. Tergantung pula pada kesuburan tanah dan perawatannya. Ssttt..ternyata kita bisa memperbanyak tanaman ini dengan stek daun!

Kelebihan stek daun pada tanaman ini adalah kita bisa memperbanyak 3-5 unit dari satu daun panjang. Kelemahannya adalah pertumbuhannya tidak secepat pemisahan anakan, dan hasil anakan stek daun bisa berubah, atau tidak serupa dengan induknya (warna dan motif), dalam kasus tanaman hias ini bisa menjadi kejutan menarik atau malah bencana bagi mereka yang menginginkan keseragaman. Well, itu terserah anda. Bagi saya tidak masalah jika kita mencoba memperbanyak dengan stek daun, selagi menunggu indukan mempunyai anakan, ya kan?

Cara membuat stek daun pada Sansevieria;

  • Potong satu ruas daun paling terluar pada bagian terbawah [mendekati akar].
  • Potong satu ruas daun tersebut menjadi 3-5 ruas, tergantung panjang ruas, satu potongan kira-kira sepanjang 10-15 cm. Tandai bagian atas/bawahnya dengan marker.
  • Biarkan di tempat kering dan sejuk selama 1 minggu, bagian terpotongnya akan sedikit mengering
  • Setelah satu minggu, tancapkan pada media tanam, pastikan media berdrainase baik dan selalu lembab.  Jangan sampai tertukar antara bagian atas dan bawah.
  • Kurang lebih setelah 3 minggu, stek daun tersebut akan berakar, setelah akar mulai banyak, anda bisa memindahkannya di masing-masing pot.

**

Gampang kan!

Lihat saya pernah mencobanya dengan dua jenis sansevieria, dan berhasil!

Stek daun sudah berakar dan belum berakar

Akar stek daun berumur 4 minggu

Stek daun berumur 1.5 bulan

Bagian putih tersebut adalah calon daun baru

 

Selamat mencoba! Salam Kebun! 😀