Frames, Green, Rustle and Sweet Tea

Gardening

Kaktus “Captain Hook”

Seperti janji saya di postingan sebelumnya, saya akan ceritakan tentang kaktus yang durinya menyerupai pengait ini.

Kaktus ini tumbuh di sebuah pot di halaman samping rumah saya. Mama sangat benci ke kaktus ini karena seperti yang saya ceritakan, kaktus ini selain punya duri keras yang pendek dan berwarna putih itu, dia punya beberapa duri panjang berwarna gelap di bagian tengah yang ujungnya menyerupai pengait atau kail.

Kail atau pengait ini mudah sekali mengait tangan, kulit, dan benda-benda yang berpori atau berserat seperti kain, benang, bahkan daun tanaman lain. Selain menyebabkan nyeri karena durinya nyangkut, jika kita tidak hati-hati melepaskannya, maka pengait-pengait disebelahnya bisa ikut-ikutan nyangkut! Repot banget!

Lha kok dilalah, kaktus ini sengaja dicuekin, tapi pertumbuhannya gak juga merana, anakannya malah tumbuh banyak seperti kumpulan kue bulat-bulat kecil dan akhirnya membentuk bola besar yang penuh pengait. Sampai akhirnya Mama pernah menyuruh saya untuk membuang kaktus ini, karena lebih banyak menimbulkan mudharat daripada manfaat, hehehehe… tapi berhubung saya ngerasa eman-eman, saya simpan aja di daerah tersembunyi yang jarang dilalui orang, jadi tidak menggangu kan?

Satu hari saya iseng menggunting duri-duri pengait itu, dengan tujuan biar kaktus itu terlihat sedikit “ramah”. Berhasil untuk hari itu aja. Setelahnya duri pengait itu akan tumbuh lagi dan lagi. Saya jadi berpikir, apa sebenarnya manfaat duri pengait itu ya?

Lihat bagaimana benang, daun kering, kerikil dan benda-benda lain bisa tersangkut disana.

**

Suatu hari saya melihat ini

Bangkai apakah itu?

Itu bangkai katak malang yang terjebak oleh duri pengait si kaktus.

**

Dari sedikit observasi akhirnya saya bisa mengambil kesimpulan manfaat dari duri pengait itu. Hipotesis saya kira-kira seperti ini, bisa jadi benar-bisa jadi salah, tapi cukup realistis, imho  :P

  1. Duri pengait kaktus digunakan sebagai perangkap hewan kecil yang singgah pada tubuh kaktus. Contohnya katak malang di atas. Tentu saja semakin gesit sang katak mencoba meloloskan diri, semakin banyak duri pengait yang menangkapnya, sehingga katak tersebut tidak dapat bergerak dan mati pelan-pelan di atasnya. Terus apa untungnya bagi si kaktus? Tentu saja, sari-sari makanan dari tubuh katak akan terurai dan akhirnya diserap oleh kaktus, sehingga kaktus secara tidak langsung mendapat zat hara. Bisa jadi ini kaktus karnivora! *hihihihi.. lebay
  2. Duri itu adalah alat penyebaran populasi kaktus. Satu kali saya tersangkut oleh duri pengait kaktus yang ukurannya kecil, dengan mudahnya si kaktus ikut tercabut dan ikut di tangan saya, saya tentu berusaha mencabut dan melemparkannya ke tempat lain. Nah! Justru dengan teknik “nyangkut” itu, kaktus kecil itu akan mulai berkembang di tempat baru dan membentuk koloni barunya. Jadi, jika ada hewan besar atau manusia yang tidak sengaja tersangkut durinya, si kaktus bisa ikut dan berpindah tempat dan beranak pinak di tempat baru itu. Saya sudah lihat beberapa anakan yang jatuh di tanah disekitar induknya sekarang mulai tumbuh.

Hampir sama dengan teknik penyebaran tanaman “rumput bujang” yang duri-duri lunaknya suka nyangkut di celana atau kaos kaki kalau kita melewatinya. Yang nyangkut itu kan sebenarnya biji-bijinya, dan saat kita melepaskannya, si biji sudah berada di tempat yang jauh dari induknya. Mungkin pembaca ingat cerita tentang pohon “kitiran“? Nah kalau itu teknik penyebarannya dengan cara terbang! :D

**

Sungguh Maha Besar Tuhan yang menciptakan segala hal dengan sebuah alasan dan manfaat, bahkan untuk sebuah duri pengait yang kita kira sebuah “musibah”, ternyata mempunyai tugas mulia bagi si kaktus.

Semoga pengetahuan ini tidak hanya memperluas wawasan kita tentang tanaman, tetapi juga mengandung renungan tentang hikmah sebuah penciptaan.

Salam Kebun!


Weekly Photo Challenge: Round

Round? It could be the easiest theme of Weekly Photo Challenge so far since I have a bunch of photos merely supported this theme. But for some reasons,  I really wanted to take the challenge by capturing new photos I would take this week. Should be easy I thought.

In fact, I didn’t get any good photo in the first 3 days :( What a lame! It had occupied my thought in couple past days, even a busy days couldn’t distract me from this “roundness”. In the middle, kind of admitting it’s quite hard to get “round” photo in (only) a week. It was simple yet sounded easy, but no more.

Thanks God, I found them at last!

Wheel, might be the popular chosen for the theme. I had checked out some of the participant’s and it is! :lol:

On Tuesday, I was in the middle of shooting an high school anniversary parade for documentation purpose. There were some cops along the route since the parade obviously took more than a quarter of the road width, and caused traffic at the moment! :P   I stood on the edges of the road and found a motorcycle of traffic cop parked in the middle of the road. Looks cool! I’ve never been that close with that motorcycle, and suddenly thought to approach and capture it. Hey! Round wheels! I got one! :D

**

I found this cactus beside my house. This is actually my Mom most hated cactus. That’s why my Mom doesn’t look after this cactus very well and just put the pot in any hidden place, somewhat abandoned. Fortunately, this cactus is so vigorous one and used to raise abounding shoots turned them into a “giant thorn ball”.

Can you guess why my Mom hates this cactus terribly? This cactus has so many short-tough white thorns PLUS long-dark thorns like hook worsen it’s performance. If you see carefully, in the middle of every round, you can find “the hooks”. That hooks easily hook your hand, skin, or anything with pores when be touched, surely it’s a bit hurt, and when you start to release the hook  carelessly, I guarantee another hook already caught you! My Mom simply said: Annoying cactus!

In the next post, I will tell you about this special cactus, those special hooks and the reason I found behind why they have hooks! Hmm, It’s interesting!

Happy Blogging!

PS: Mulai besok internet sudah lancar lagi! Cihuy!


Torenia yang Rajin Berbunga

Masih ingat dengan tampilan gambar ini?

Entah siapa, dulu saya pernah ditanya oleh seorang blogger “Prim, kalau mau nanam bunga yang gak repot ngerawatnya dan berbunga banyak apa ya?” Jawabannya salah satu mungkin adalah ini: Torenia! dan seperti janji saya di postingan sebelumnya Pinching Bunga Yuk! saya akan bahas tanaman berbunga ungu yang saya tampilkan gambarnya sekilas di atas :D Yah, jawabannya adalah TORENIA.

 

Cerita sedikit asal muasal tanaman ini ada di rumah saya. Awalnya saya berkunjung ke kantor teman untuk main internet di sana saat sore. Kantor instansi pemerintah yang wifi-nya gratis dan kenceng parah, well, tiba-tiba diantara rimbunnya rumput dan semak belukar di bagian belakang gedung, saya ngeliat bunga-bunga kecil warna ungu dan pink. Dasar saya yang emang bakat ngutil, eh maksudnya mungut tanaman liar, saya belasak-belasak ke daerah rerumputan itu… Lho kok ada torenia!? Liar, kurus, daunnya kuning, pokoknya merana sekali kondisinya, dan tersebar menjadi beberapa spot.

Tanpa basa-basi saya bilang ke temen saya, boleh saya ambil gak tanaman itu?, dia bilang: Bukannya itu gulma ya? wkakakakaka… sembari mulai nyongkel-nyongkel tanaman itu pake piso dapur, saya berkata dalam ati: Gundulmu gulma, ini tanaman hias, dan berharga sekali! Kemudian saya simpan di kantong kresek kasih air dikit dan bawa pulang.

Sampai rumah saya, saya potong seluruh tangkainya kurang lebih setengah! Heheheh, sadis emang, karena melihat kondisi tanaman yang “kurang gizi” itu, saya pangkas tangkai, bunga dan daunnya, dengan harapan, cabang baru akan tumbuh dengan daun yang lebih sehat! dan akhirnya sebulan mereka sudah tumbuh segar plus berbunga TANPA HENTI! :D Mama sempet bilang: “Itu bunga yang ungu beli minta di mana? kok bagus?” dengan bangganya saya jawab: “cuma mungut di semak-semak”

Beruntungnya saya. Seminggu setelah saya pungut si torenia dari kejamnya alam liar, halaman tempat saya memungut torenia itu telah bersih-sih tanpa ada rumput sedikitpun. Wak! asli kaget! kata temen: Iya, kapan itu, ada tukang yang disuruh bersihin halaman.., jadi sekarang bersih… rumput, semak, dan sisa torenia itu telah habis! Fiuhh… hampir aja saya kalah start! :P

 

OK, langsung aja saya cerita tentang tanaman berbunga cantik ini.

Torenia adalah jenis tanaman ground-cover yang menyebar dengan cepat karena dapat berkembang dengan geragih (itu lho batang yang rebah, kemudian tumbuh akar dan menjalar ke samping). Mereka masih satu saudara dengan Snapdragons, pasti kalo pecinta bunga potong tau. Bunganya kecil, banyak dan berwarna, dari warna ungu, biru, putih, pink, dengan kombinasi kuning di bagian dalam petalnya. Ukuran tanamannya tidak terlalu tinggi, hanya sekitar 20-30 cm, sangat cocok untuk mengisi taman atau ditanam di pot untuk sekedar penghias meja.

Torenia memerlukan dua hal penting dalam pertumbuhannya: Sinar matahari dan zat hara. Tanaman ini berbunga dengan rajin pada kondisi cerah, jadi letakkan pada tempat full-sun atau dengan sedikit bayangan. Untuk hara, silahkan memberikan pupuk kandang atau pupuk apa saja. Torenia akan memberikan respon cepat, daunnya akan lebat dan bunganya akan semakin ramai. Mereka bukan penyuka air banyak atau becek, jadi siramlah setelah mereka melalui satu hari yang panas. Oh iya, ini bukan tanaman dataran tinggi, di tempat sejuk dan panas torenia bisa tumbuh, kebayang aja kalimantan panasnya gimana, dan mereka tumbuh dengan gembira di sini. Intinya, perawatan tanaman ini super gampang! Cocok bagi sahabat yang sibuk tetapi senang melihat tanaman rajin berbunga.

Ini adalah kuncup-kuncup torenia yang akan segera mekar. Bersyukurlah negeri kita mendapat sinar matahari sepanjang tahun yang membuat bunga ini akan terus berbunga sepanjang tahun! :D

 

 

Jika sudah layu, bunga ini akan membentuk Buah yang didalamnya mengandung banyak biji-biji kecil.

 

 

Biji torenia dalam buah. hehehehe, ini saya buka paksa.. :P

 

 

Ini adalah contoh buah yang sudah tua, dan pecah, entah bijinya pergi kemana, hehehehe… Biji torenia adalah biji yang tumbuh dengan lambat, jadi saya lebih suka memperbanyak dan memisahkan dengan memotong tangkainya (geragih) daripada menunggu bijinya tumbuh.

 

 

Nah ini contohnya. Saya akan potong di bagian putih itu, dan memisahkannya pada pot lain sehingga membentuk tanaman baru. Hampir mirip dengan strawberry kan? Saya rasa ini gampang sekali, semua pasti sudah tahu :)

 

Sejauh ini saya belum menemukan penyakit aneh yang merusak tanaman, kecuali hama yang satu ini.

Pak belalang ini rupanya yang membuat pola-pola pada daun torenia. Tapi tak apalah, selama masih dalam batas kewajaran… kecuali mereka membuat daun torenia menjadi botak, dah itu baru deh saya akan bertindak :D

 

Nah, sampai di sini dulu info berkebun kali ini. Semoga bisa menambah pengetahuan sahabat semua dan menambah list tanaman buat di halaman rumah kita. Kalau ada tanaman yang perawatannya gampang, kenapa harus milih yang repot!

 

Salam Kebun!

 

 


Pinching Bunga yuk!

Wah, lama sudah gak posting tentang berkebun, semoga bisa terus semangat  ngutak-ngatik taneman.. :)

Hari minggu ini, cuaca lagi cerah di rumah… ngapain yah? saya ambil gunting tua punya si mamah. Sebenarnya itu gunting buat kain, tetapi karena dah usang, si mamah ngijinin saya buat pake berkebun. Hore! hari ini pinching bunga!

 

Mungkin sebagian besar dari kita berpikir bahwa munculnya bunga seperti klimaks dari menanam tanaman berbunga. Ya iya lha, apa lagi yang ditunggu selain kemunculan si bunga yang berwarna indah itu? Tetapi terkadang kita juga perlu melihat kondisi tanaman itu saat berbunga. Tidak selamanya bunga itu muncul pada saat yang tepat!

OK, begini teorinya. Bunga adalah modifikasi daun yang terbentuk sebagai alat perkembangbiakan, pada umumnya bunga akan berubah menjadi buah. Ibaratnya manusia, pasti akan “berat” banget saat mengandung. Sama halnya dengan tanaman, saat berbunga, energi dan segala nutrisi terfokus pada bunga, apalagi saat bunga sudah dibuahi dan menjadi buah, perkembangan buah seperti menjadi penyedot utama nutrisi tanaman sama halnya janin dalam perut ibu yang perlu dikasih nutrisi terbaik, ya kan?

 

Munculnya bunga secara alami dipengaruhi oleh nutrisi dalam tanah dan kondisi cuaca (suhu, cahaya, kelembaban, dsb). Terkadang saat tanaman masih berukuran kecil, karena satu dan lain hal, tanaman sudah berbunga, lebat lagi! Padahal daun masih sedikit, cabang masih bisa diitung jari, lha si taneman sudah berbunga banyak. Cantik memang, tetapi belum cukup umur! Jadi dengan sangat terpaksa, saya akan aborsi bunga-bunga itu alias pangkas! Kejam memang, tetapi ini untuk kebaikan bersama… :D

 

Kali ini saya memangkas bunga dan bakal bunga Lantan camara yang saya baru tanam di halaman, daun-daunya masih sangat sedikit, tetapi bunganya tiba-tiba rajin bermunculan.

Saya pinching (potek/pangkas ringan) semua bentuk bunga dan calon bunga. Dengan harapan, pertumbuhan bunga akan terpusat apda pembentukan cabang dan daun sehingga tanaman menjadi rimbun daunnya kemudian baru berbunga dengan lebih lebat. Jadi lebih indah kan? Pengorbanan di awal ini untuk mendapatkan hasil lebih baik di kemudian hari.

Ini adalah contoh Lantana camara yang rajin saya pangkas bunganya. Sekarang sudah mulai lebat dan saya masih perlu memangkasnya sampai daunnya benar-benar lebat dan ukurannya sudah cukup cantik jika berbunga kelak.

 

Jadi, jika sahabat mempunya tanaman kecil yang berbunga, tidak ada salahnya memangkas bunganya sekarang. Karena penampilan bunga dengan daun atau badan yang terlampau kecil akan terlihat tidak segar dan memberatkan tugas si tanaman sindiri. Jadi jangan ragu untuk memangkas bunga! :D Tapi jangan tiba-tiba pangkas bunga tetangga lho ya… :lol:

 

Kapan-kapan saya akan tulis bagaimana memangkas/pruning cabang tanaman untuk meningkatkan jumlah cabang atau membentuk badan tanaman! :)

 

Oh iya, masih ingat dengan stek tanaman saya, di postingan ini: Easy Cutting sebulan yang lalu? saya mencoba stek Pseudarentemum jessica dan Lantana camara. Sekarang mereka sudah siap dipindahkan!

 

Meskipun stek Lantana camara gak berhasil 100%, tetapi masih oke lha. Sedangkan si jessica 100% berhasil. Sekarang tinggal cari tempat dimana saya akan pindahkan tanaman ini. :)

 

Hmmm… satu lagi, tanaman yang saya tanaman dengan geragihnya, dapat minta di kantor teman sekarang sudah berbunga! Seneng nya! Sebulan aja sudah pada rame bunganya!

Coba tebak apa nama tanaman ini? Next posting tentang gardening saya akan bahas tanaman ini dan bagaimana saya menanamnya, Okeh! :D

 

Salam Kebun!


Easy Cutting

Sahabat,

Rasanya sudah lama tidak memposting artikel berkebun. Nah, kebetulan tadi pagi, saya dapat moment yang saya pikir bisa diposting di blog. Tentang membuat stek (cutting) tanaman semak  dengan mudah.

 

Jadi, awalnya saya memang berniat memangkas beberapa tanaman yang mulai terlihat amburadul di halaman rumah, intinya memang sudah sebulan lebih beberapa tanaman tidak tersentuh karena kesibukan di sana -sini, jadi wajarlah tanaman harus segera dirapikan. Mama juga meminta saya memangkas habis Pseudarentemum jessica di depan rumah yang sudah terlalu besar dan tua. Jadilah pagi tadi acara saya bersih-bersih halaman. Anyway, musim hujan seperti saat ini adalah waktu yang tepat untuk memangkas tanaman dan menanam tanaman :)

 

Selama memangkas tanaman saya juga sempat terpikir untuk membuat taman baru di halaman, karena beberapa spot terlihat kosong dan menunggu diolah. Tetapi satu masalah muncul. Saya tidak punya cukup banyak tanaman untuk membuat suatu taman. Nah terus bagaimana? Kalau memindahkan tanaman di pot, Mama bisa mencak-mencak, kalau membeli, duit pas-pasan. Satu-satunya cara adalah perbanyakan. Stek adalah perbanyakan paling mudah!

pseuderanthemum jessica

Lantana camara

 

Saya mengambil beberapa sisa potongan dari tanaman yang dipangkas. Ada dua jenis : Lantana camara dan Pseudarentemum jessica. Kedua jenis semak ini adalah dua tanaman yang relatif mudah distek. kenapa saya bilang mudah? soalnya saya sudah pernah melakukannya sebelumnya dan berhasil, hahahaha… Jujur, ada beberapa tanaman yang sangat sulit di stek meskipun sudah menggunakan bantuan hormon… hmmm… saya sampai pernah stress! lupakan saja itu :P

Berhubung di rumah semua pot sudah terpakai, dan ribet kalau harus pergi membeli dulu. Jadi saya berinisiatif menggunakan tempat bekas, jadilah container sayur bekas kulkas yang rusak saya ambil dan saya bolongin bawahnya, hahahaah… kemudian saya isi tanah bercampur pupuk kandang dari kotoran sapi. Siap dijadikan tempat menyemai stek.

Ini penampakannya.

Stek siap ditanam

Lantana camara cutting

pseuderanthemum jessica cutting

 

Untuk membuat cutting, kita cukup memotong bagian tangkai tanaman sepanjang 3 buku atau lebih. Pastikan memotong bagian atasnya (bagian atas tanaman yang muda), dan menyisakan sekitar 3-5 daun saja. Dalam gambar saya menggunakan teknik memotong daun setengah. Hal ini untuk mengurangi jumlah penguapan berlebihan sehingga daun tanaman bisa berkonsentrasi saat pembentukan akar, kemudian pembentukan tunas baru.

 

Ambillah bagian tanaman yang semi-woody, atau woody, hmm.. berkayu atau setengah berkayu. Karena sebagian besar tanaman semak jarang berhasil distek dengan menggunakan bagian batang yang masih muda dan lunak (biasanya bagian ujung teratas yang ada daun muda), maka dari itu saya selalu memotong bagian atas itu.

 

Satu lagi, buang semua daun yang berada di bagian bawah dari stek, juga buah dan bunga (jika ada). Stek adalah upaya kita menumbuhkan akar dan tunas baru. Adanya buah dan bunga akan membuat berat kerja tanaman.

 

Gunakan gunting yang tajam agar saat memotong bagian bawah tidak menimbulkan potongan yang “rusak”, sehingga meminimalisir infeksi penyakit. Jika punya hormon akar / rootone (biasanya dalam bentuk tepung putih), kita bisa menambahkan. Tetapi untuk tanaman ini, saya rasa tidak perlu, karena kemungkinan besar pasti berhasil *sombong :D

 

Setelah itu siram teratur, letakkan pada tempat terang dan naung, dan tunggu beberapa minggu. Jika kita menemukan tunas baru pada tangkai, artinya akar tanaman sudah muncul dan stek kita berhasil!

Penampakan akhir

dari kiri ke kanan: Lantana camara bunga putih, P. jessica, dan lantana camara bunga kuning.

Mudah kan… Nanti jika berhasil saya akan perlihatkan hasilnya!  Selamat mencoba!

 

Salam Kebun!

PS: Info tentang stek sansevieria ada di sini


Retardan: Rahasia Bunga Komersial

Sahabat,

Pernakah sahabat membeli tanaman pot berbunga di florist atau supermarket? Pastinya tanaman sedang dalam keadaan berbunga penuh, berdaun lebat, cantik dan sempurna bukan?

 

Apakah sahabat kemudian menyadari bahwa kecantikan tersebut tidak bertahan lama? Misalnya setelah satu bulan tanaman berubah menjadi kurus, tumbuh tinggi, tidak karuan, dan tanpa bunga? Atau setelah bunga rontok, tanaman tidak lagi berbunga? Sahabat merasa tertipu? :mrgreen:

 

Jangan terburu-buru menyalahkan diri sendiri atau orang lain dengan kondisi ini. Ini hanya gejala umum untuk hampir semua tanaman bunga komersial. Tentu saja tanaman tersebut mendapat perlakuan rahasia dari tempat asalnya. Apakah itu?

 

 

Tanaman berbunga yang dirawat di nursery atau greenhouse pada umumnya di rawat dengan pupuk yang sangat intensif. Kontrol ketersediann pupuk memastikan aliran pupuk ke dalam tanaman cukup setiap harinya. Bahkan pada greenhouse besar, pengairan pada tanaman juga mengandung pupuk atau zat hara dalam jumlah kecil. Jadi bisa dikatakan pemupukan terjadi di setiap penyiraman, setiap hari. Tidak heran tanaman tumbuh dengan optimal dan sehat.

Tidak hanya itu, rahasia umum yang paling ekstrim yang dilakukan adalah pemberian ZPT (Zat pengatur Tumbuh), atau PGR (Plant Growth Regulator), atau bahasa sederhananya, Hormon. Umumnya hormon yang digunakan adalah hormon sintetik dengan kosentrasi tertentu sesuai tujuan pemberian hormon.

Hormon tumbuhan menurut wikipedia adalah  sekumpulan bahan kimia/senyawa yang mampu mengendalikan pertumbuhan, perkembangan, dan pergerakan tumbuhan. Hormon ini banyak jenisnya. Salah satu hormon yang umum digunakan untuk tanaman hais dan bunga adalah asam absisat (ABA), yang sifatnya sebagai retardan atau penghambat pertumbuhan.

 

Retardan di pasaran berasal dari golongan paclobutrazol dan uniconazol. Tentu saja merk dagang yang dijual juga beragam dengan kosentrasi dan kombinasi dengan hormon lain atau pestisida yang kemudian menghasilkan efek “menghambat” pertumbuhan pada tanaman.

Kok “menghambat pertumbuhan”?

Karena efek hormon ini menyebabkan tanaman tumbuh lebih kerdil, lebat dan kompak (karena jarak buku daun menjadi sempit), dan tentu saja mempercepat masuknya fase generatif atau pembungaan, yang membuat tanaman bisa berbunga dengan umur yang dini secara serentak dan banyak! Inilah senjata sesungguhnya para petani bunga pot.

 

Cara aplikasi retardan ini umunya disiram pada akar (drenching), atau spray pada daun. Aplikasi dapat dilakukan sekali atau lebih, tergantung pada teknik dan hasil yang diinginkan. Penggunaan retardan sebaiknya merujuk pada kosentrasi tertentu sesaui aturan, karena pemberian yang berlebihan akan membuat tanaman menjadi tidak tumbuh sama sekali, daun kecil, seperti tanaman sakit. Jika sudah begini umumnya tanaman akan dibuang karena sudah tidak menarik lagi.

 

Coba lihat contoh bagaimana efek retardan pada tanaman berikut. Foto diambil dari koleksi dan experiment saya sendiri :D


Bunga dahlia kerdil dengan jumlah bunga yang sangat banyak

 


Bunga Daisy ini juga mempunyai bunga kompak dengan bantuan PGR/retardant.

 


Salah satu bunga yang “lolos” dari pemberian PGR, tumbuh dengan normal (tinggi)

 


Tanaman Telekan, Lantana camara, tanpa PGR (kiri) dan dengan PGR (kanan)

 


Bunga sepatu (Hibiscus rosa-sinensis), tanpa PGR (kiri) dan dengan PGR (kanan), terkadang efek yang dihasilkan tidak sesuai harapan, justru membuat tanaman tampak seperti sakit.

 


Bunga sepatu (Hibiscus rosa-sinensis), tanpa PGR (kanan) dan dengan PGR (kiri)

 


Bunga Jathropa tanpa PGR (kiri) dan dengan PGR (kanan)

 


Tanaman semak (Eugenia oleina), tanpa PGR (kiri) dan dengan PGR (kanan)

 

Bunga Kaca Piring (Gardenia jasminoides), anpa PGR (kanan) dan dengan PGR (kiri)

 

 

Semua bunga ini telah tersentuh oleh PGR! *Narsis bentar  :mrgreen:

 

 

Pengaruh dari retardan pada umumnya akan hilang setelah beberapa minggu tergantung “kekuatan” retardan dan jenis tanaman. Jika pengaruh sudah hilang, maka tumbuhan akan tumbuh seperti biasa, hal ini mengakibatkan bentuk yang tadinya kompak menjadi tidak karuan. Sahabat akan lihat bagaimana bentuk tanaman sahabat yang sebenarnya! Hahahahahah… :mrgreen:

Hanya satu saran saya, tetap siram dan berikan pupuk. Lakukan pemangkasan jika nampak “kusut”, dan rawatlah secara normal. Tanaman anda akan berbunga secara normal tergantung pada kondisi lingkungan dan perawatan, bukan karena pengaruh hormon.

 

Memang pada dasarnya ini ibarat penipuan konsumen, tetapi kenyataannya banyak konsumen yang hanya butuh penampilan sesaat, seperti untuk tujuan pernikahan, hotel, dan event-event penting lain. Tetapi umumnya bagi ibu-ibu dan pecinta tanaman di rumah, sebagian besar akan merasa “sakit hati” karena tanamannya berubah menjadi “tidak secantik dahulu”.

Oh iya, jangan langsung percaya jika ada yang menawarkan tanaman kerdil dengan bunga atau buah yang lebat. Ada dua kemungkinan, tanaman itu memang kerdil secara genetik (umumnya harga sedikit mahal), atau kerdil karena pengaruh hormon sesaat. Terkesima boleh, tetapi tetaplah menjadi konsumen yang cerdas :D

 

Salam Kebun!


Si Cantik yang Penuh Racun

Gardening time!!!

 

Siapa yang tidak senang jika berada di antara bunga-bunga dan tanaman hias dalam taman. Keindahan dan keasriannya mampu membuat perasaan menjadi relax dan bahagia. Tidak salah banyak orang yang mau meluangkan waktu untuk pergi ke taman atau kebun raya, bahkan meluangkan uang untuk membuat taman yang indah di halaman rumah.

 

Jangan senang dulu, apakah sahabat tahu bahwa beberapa bunga dan tanaman hias juga menyimpan racun yang berbahaya, bahkan bisa menyebabkan kematian? Kasus keracunan karena tanaman hias beracun memang sangat jarang terjadi, tetapi tidak ada salahnya jika sahabat tahu siapa saja para “tersangka” agar dapat melakukan pencegahan.

 

Kali ini saya merangkum dari hasil presentasi teman-teman saya masih ketika duduk di bangku kuliah, dan ditambah dengan bacaan dari berbagi sumber mengenai para “tersangka” ini. Tanaman–tanaman ini saya pilih berdasarkan tingginya popularitasnya di lingkungan kita. Perhatikan, apakah sahabat mengenali salah satunya?

 

Dieffenbachia


Kita menyebutnya Daun Bahagia. Tanaman ini sangat popular di Indonesia, tidak hanya karena mudah perawatannya, tetapi juga karena mudah dikembangbiakkan. Siapa sangka tanaman ini jika tertelan daun atau cairan tubuhnya dapat menyebabkan diare dan radang yang perih pada daerah pencernaan seperti bibir, mulut dan kerongkongan. Pada jumlah besar bahkan dapat menyebabkan kesulitan bernafas dan kematian. Selain tertelan, getah tanaman ini dapat menyebabkan iritasi pada kulit.

 

Kandungan kalsium oksalat dalam tanaman ini yang ternyata memicu reaksi tersebut. Konon hasil gerusan tanaman ini dijadikan racun pada panah suku–suku di Afrika. Di negara maju, mereka sudah jarang menempakan tanaman indoor ini di sekitar rumah dan perkantoran yang sering di lalui anak-anak. Mungkin mereka takut anak-anak mengira tanaman ini adalah bayam! :D

 

Oh iya, sahabat kenal dengan saudara jauh tanaman ini, Aglaonema? Meskipun tidak sedasyat si daun bahagia, tanaman ini juga tergolong beracun. Nah Lho!

 

Anthurium


Hohohohoo…. Siapa yang tidak kenal gelombang cinta? Tanaman-tanaman dalam grup ini hampir sama dengan Dieffenbachia, mengandung kalsium oksalat yang menyebakan gangguan mulut dan saluran pencernaan. Plus, adanya enzim yang menyebabkan alergi, air liur berlebih, rasa gatal dan panas. Meskipun racunnya dalam kategori sedang, tanaman ini menyebabkan gagal ginjal pada kucing dan hewan peliharaan.

 

So, kita cukup mengagumi daunnya ya, tidak perlu sampai dimakan, atau jadi pakan hewan kesayangan. :lol:

 

Brunflesia


Saya tidak tahu nama lokal tanaman ini, tapi saya pernah bekerja dengan tanaman ini, mulai dari angkut, pangkas, sampai memupuk. Tanaman ini memiliki keunikan yaitu warna bunga yang akan berubah seiring waktu, saat bunga mekar, warnanya akan ungu, kemudian akan memudar menjadi pink, hingga berubah menjadi putih. Saya dulu berpikir bahwa bunga ini memiliki 3 warna bunga :mrgreen: Jika bunganya bermekaran akan menghasilkan bau yang harum semerbak, hampir mirip dengan melati, tetapi sedikit berbeda.

Seluruh bagian tanaman ini mengandung racun, terutama pada buahnya. Meskipun masih dalam kategori racun sedang, gejala racun tanaman ini menyebabkan gangguan saraf motorik.

 

 

 

Lantana


Kita menyebutnya tahi ayam, tembelekan, atau telekan. Mungkin karena bau tanaman ini yang tajam dan khas. Tanaman ini pada dasarnya adalah gulma bagi orang agronomi, tetapi adalah tanaman hias bagi orang hortikultura :D Tanaman ini memiliki banyak variasi warna, bahkan sudah ada jenis hybrida-nya.

Siapa sangka tanaman yang kini banyak menjadi tanaman lanskap ini menyimpan racun kategori berat yaitu jenis triterpenes. Daunnya sendiri dapat menyebabkan iritasi dah gatal-gatal. Jika tertelan, terutama buahnya yang masih mentah, maka akan menyebabkan meningkatnya sensitivitas kulit terhadap matahari, kerusakan hati, muntah, diare, pembesaran pupil, dehidrasi dan lemah. Kasus Lantana ini banyak menimpa ternak-ternak di Australia, maka dari itu tanaman ini diberantas dengan serius dari daerah peternakan.

 

Mirabilis


Ini dia bunga pukul empat! Pasti pernah melihat tanaman ini. Dulu sewaktu kecil saya sering bermain dengan bijinya. Bijinya berwarna hitam dan di dalamnya terdapat zat seperti tepung, lalu saya bermain dengan dioleskan ke muka seperti bedak :lol:

Tanaman kategorei racun sedang ini mengandung racun pada akar dan biji! Apabila tertelan maka akan menyebabkan sakit perut, mual, muntah, diare. Bersentuhan dengan akarnya akan menimbulkan gatal-gatal.

 

Nerium

Bunga Mentega, orang sunda menyebutnya kere atau jure. Mungkin adalah satu tanaman paling beracun di dunia, sehingga beberapa orang menyebutnya Tumbuhan dari neraka :shock:  Tanaman ini banyak tumbuh di daerah tropis, khususnya digunakan sebagai tanaman pinggir jalan, karena bunganya yang indah dan mekar serempak.

 

Bunga mentega mengandung racun di seluruh bagian tubuhnya. Racunnya tergolong sangat tinggi hingga para ahli menggambarkan bahwa cukup satu daun dari Nerium untuk mematikan seorang anak-anak atau bayi! Banyak kasus keracunan tanaman ini dilaporkan di seluruh dunia, tetapi tidak sampai pada kasus kematian.

 

Racun paling penting dalam bunga Nerium oleander adalah oleandrin dan nerrine yang berhubungan dengan glikosid jantung terkosentrasi pada getah putihnya. Getah ini jika terkena kulit dapat menyebabkan kulit mati rasa, radang dan alergi. Sedangkan jika tertelan akan menimbulkan gejala sakit pada organ pencernaan, seperti muntah, perut sakit, diare yang disertai pendarahan, dan gejala pada organ jantung, seperti debar jantung tidak teratur bahkan pada kasus ekstrim korban mengalami sirkulasi darah tidak teratur, pucat dan kedinginan. Kasus lain menyebutkan keracunan bisa menimbulkan gangguan saraf pusat dan hilang kesadaran.

 

Nah, sahabat apa sahabat mengenal tanaman-tanaman di atas? Masih banyak tanaman hias beracun lain, tetapi ini dulu ya :D

 

Penanggulangan keracunan akibat tanaman sebaiknya dilakukan sesegera mungkin setelah gejala tampak untuk mengurangi akibat buruk yang lebih jauh. Jika iritasi terjadi pada kulit, maka segera bilas dengan air yang mengalir segera, jauhkan dari paparan sinar matahari dan garukan. Jika gejala semakin parah dan sakit, segera bawa ke paramedis.

Jika tertelan, maka sebaiknya minum banyak air, atau jika baru terjadi dan memungkinkan sebaiknya dimuntahkan untuk mengeluarkan racunnya. Minum zat penawar racun seperti air kelapa, susu dan pil arang. Jika kondisi semakin parah, sebaiknya segera larikan ke rumah sakit. Jika terjadi pada hewan ternak atau kesayangan, sebaiknya segera bawa ke dokter hewan.

 

Bunga dan tanaman hias memang banyak manfaatnya bagi manusia, tetapi kita harus tetap bijak dalam penggunaannya. Letakkan tanaman-tanaman beracun jauh dari jangkauan anak-anak, dan tentunya awasi gerak-gerik anak dan hewan kesayangan kita saat bermain dengan tanaman. Untuk mengurangi resiko iritasi dan alergi pada kulit, sebaiknya gunakan sarung tangan saat berkebun, dan tentu saja membersihkan diri sebelum makan dan minum.

 

Tentu saja sahabat tidak perlu menjadi parno atau kemudian memangkas semua tanaman di halaman, sekali lagi, ini hanya pengetahuan, selalu bijak dan berhati-hati adalah modal utama untuk keselamatan di semua bidang bukan?

 

Salam Kebun!

 

Gambar: Om google dan koleksi pribadi


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 62 other followers